• Tidak ada hasil yang ditemukan

Guru adalah orang yang bertanggung jawab atas perkembangan anak didik, tugas ini meripakan sepenuhnya menjadi tugas orang tua, namun karena keterbatasan pengetahuan tidak mungkin di jaman sekarang orang tua dapat melaksanakan tugas tersebut sepenuhnya, untuk itu di butuhkan seorang guru. Guru ialah pendidik yang mengajar di kelas, guru merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam hal pendidikan di samping orangtua, sebagai pendidik pertama dan utama, pengaruh orangtua dalam pendidikan anak amatlah berat, untuk itu diperlukan seorang pendidik yang merupakan titik sentral dari pendidikan,

ujung tombak dari keteladanan yang harus memiliki sifat-sifat yang baik yang harus ditunjukan kepada muridnya, memberikan gagasan kreatif yang selalu di tunggu, dan menjadi contoh teladan bagi murid-muridnya, dapat mempengaruhi murid tentang tujuan pembelajaran agar siswa dapat lebih meningkatkan hasil pembelajaran dan materi yang diajarkan, apalagi bagi guru pendidikan agama Islam, yang mengajarkan kepada siswa dengan metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu dengan mengajarkan cara mencintai Nabi mereka, mencintai keluarga mereka dan membaca AlQur’an. Jadi pendekatan yang persuasif telah diajarkan Rasulullah kepada kita semua, untuk melengkapi berbagai metode pengajaran yang lainya.

a. Sifat guru dalam pandangan Islam

Al Abrasy (1974:31) menyebutkan bahwa sifat guru dalam agama Islam seharusnya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

a. Zuhud tidak mengutamakan materi, mengajar dilakukan semata-mata untuk mencari keRidhoan Allah SWT b. Bersih tubuhnya, jadi penampilan lahiriyahnya

menyenangkan

c. Bersih jiwanya tidak mempunyai dosa besar d. Tidak ria, ria menghilangkan sifat keikhlasan e. Tidak memendam rasa dengki dan iri hati f. Tidak menyenangi permusuhan

g. Ikhlas dalam melaksanakan tugas h. Sesuai perbutan dengan perkataan i. Tidak malu mengakui ketidaktahuan j. Bijaksana

k. Tegas dalam perkataan dan perbuatan, tetapi tidak kasar l. Rendah hati

n. Pemaaf

o. Sabar, tidak marah karena hal-hal kecil p. Berkepribadian

q. Tidak merasa rendah diri

r. Bersifat mengayomi, mampu mencintai anak murid seperti mencintai anak sendiri

s. Mengetahui karakter murid, mencangkup pembawaan, kebiasaan, perasaan dan pemikiran.

Sedangkam menurut Imam Al Ghozali guru harus memiliki kompetensi personal religius dan kompetensi profesional religius. Kompetensi pesonal religius meliputi:

a. Kasih sayang kepada pserta didik seperti kepada anak sendiri. b. Peneladan pribadi Rasulullah

c. Bersifat obyektif

d. Bersifat luwes dan bijaksana dalam menghadapi peserta didik e. Bersedia mengamalkan ilmunya.

Kompetensi propesional religus yaitu menyajikan pelajaran sesuai kemampuan peserta didik.

b. Tugas guru dalam Islam

Tugas guru ialah mendidik, mendidik adalah tugas yang amat luas, mendidik dilakukan dalam bentuk mengajar, memberikan dorongn, memuji, menghukum, memberi contoh, mengajak, membiasakan dan lain-lain. Gambaran tugas guru.

TABEL 1.2

p = Lingkaran pendidikan

P1 = Mendidik dengan cara memberi dorongan P2 = Mendidik dengan cara memberi contoh P3 = Mendidik dengan cara memuji

P4 = Mendidik dengan cara membiasakan P5 = Mendidik dengan cara lain

P6 = Mendidik dengan cara mengajar

Tugas pendidik yang paling besar adalah mengajar, walapun tugas-tugas yang lainpun tidak kalah pentingya , tugas-tugas guru merupakan syarat syarat menjadi guru, yaitu guru harus selalu mengembangkan keahlianya, mengetahui karakter muridnya, guru harus mengamalkan ilmunya jangan berbuat yang berlawanan dengan ilmu yang diajarkanya, dalam mendidik seorang guru harus mengupakan kemanpuan seoptimal mungkin , agar mampu mengembangkan potensi yang ada pada anak didiknya, sesuai tujuan pembelajaran dengan berbagai upaya yang harus dilakukanya.

c. Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam

mengandung unsur penanaman Iman, pengamalan ajaran Islam, tidak hanya memandang pendidikan untuk hidup materi saja melainkan ada keyakinan-keyakinan yang harus di tanamkan seperti hal-hal yang ghaib. Ilmu yang sangat luas karena mennyangkut kehidupan di dunia dan akhirat, dengan menanamkan benih-benih amalia yang akan dipetik di dalam

kehidupan akhirat. Ada tiga aspek yang terkandung dalm pendidikan agama Islam yaitu : pertama, membentuk anak didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya semata, kedua bernilai edukatif yang mengacu pada petunjuk Al Qur-an, ketiga, memotivasi dan kedisiplinan sesuai ajaran Al Qur-an yang di sebut pahala dan siska.

Upaya merupakan cara usaha untuk melakukan sesuatu agar mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Dalam hal ini guru dan siswa harus berupaya meningkatkan hasil belajar, sejauh mana seorang guru dan siswa dapat berkomunikasi dengan baik di dalam pembelajaran dan pengajaran, dengan mengupayakan pedekatan secara persuasif, antara guru dan siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran aqidak dan Akhlak.

Meningkatkan menurut kamus besar bahasa Indonesia meningkatkan berasal dari kata tingkat yang mendapatkan awalan me -dan akhiran-an yang artinya sama dengan kenaikan, yaitu suatu cara atau usaha perbuatan yang dilakukan untuk meningkatkan suatu keinginan, tinggi rendahnya kedudukan.20 3. Aqidah Ahklak

Aqidah berasal dari kata „aqid yang berarti mengingikat. Menurut bahasa aqidah merupakan perbuatan hati yaitu, kepercayaan hati dan pembenaranya terhadap sesuatu atau sesuatu yang dipercayai hati.21

Ada beberapa pengertian lain dari kata aqidah, bentuk masdar dari kata

“aqada, ya‟qidu, ‟aqdan ‟aqidatan”, yang berarti simpulan, ikatan, sangkutan,

20

Kamus KBBI, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hlm. 1198

21 Sutrisna Sumadi, Rafi’udin, Pedoman Pendidikan, Aqidah Remaja, (Jakarta: Pustaka Quantum, 2002), hlm. 31

perjanjian dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan, dan keyakinan.22

Dalam hal ini adalah aqidah Islamiyah yang meripakan pokok ajaran Islam, yang meliputi enam perkara yang di sebut dengan Rukun iman, yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada Malaikat- malaikat Allah, percaya pada kitab-kitab Allah, percaya pada Nabi-Nabi Allah, percaya pada hari qiyamat dan percaya pada takdi Allah(baik atau buruk) hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang di Riwayatkan oleh Imam Muslm, yang artinya:

Diriwayatkan dari Umar Ibnu Khottob r.a. beliau berkata : Pada suatu hari ketika Rasulullah S.A.W. berada bersama kaum muslimin, datang seorang laki-laki kemudian bertanya kepada baginda Wahai Rasulullah beritahulah aku tentang iman, lalu Baginda bersabda: kamu hendaklah percaya pada Allah, para Malikat, semua Kitab yang di turunkan, para Rasul,, hari Akhir,dan percaya pada takdir, baik dan buruk semua dari Allah.” (HR. Muslim).23

Kepercayaan manusia pada sesuatu kekuatan besar merupakan fitrah manusia, seperti yang dilakukan pada manusia primitif yang belum mengenal Tuhan, agama Islam sejak awal penyebarannya telah melakukan dengan pendekatan secara persuasif yang dilakukan oleh Rasulullah dengan mengajak dan memberikan teladan yang sangat baik hingga dihormati oleh kawan dan di segani lawan, prinsif pendekatan dengan mengajak telah

22

Muhaimin, dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Ilsam, (Bandung: Prenada, 2007), hlm. 259

23

membuktikan ke Agungan suri tauladan yang dicontohkan Rasulullah saw dalam Al-Qur-an, Q.S Al-Ahzab:21

.

285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah kembali.".24

a. Aspek-aspek Aqidah meliputi

- Meyakini adanya Allah dengan pembuktian adanya Adanya Allah SWT, Sifat-sifat dan Nama-nama Allah SWT, bahwa tidak ada yang lain yang patut di sembah hanya Allah SWT.

- Meyakini adanya Malaikat- malaikat Allah SWT, dengan mengetahui sifat-sifatnya, nama-namanya dan tugas-tugasnya.

- Meyakini adanya kitab-kitab Allah, dengan mengetahui nama-nama kitab-kitabNya serta shuhufnya, dan mengetahui pokok-pokok ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitabnya, dan mengetahui kedudukan serta keistimewaan Al-Qur-an dari kitab-kitab sebelumnya. Meyakini adanya para Rasul, dengan mengetahui nama-nama Rasul, fungsi dan tugas para Rasul, kekhususan Risalah yang di bawa oleh Nabi Muhammada SAW, dan mengetahui adanya buah iman kepada Rasulullah.

- Meyakini akan datangnya hari kiamat,dengan melihat tanda-tanda adanya hari kiamat, dalil yang berkenaan dengan hari kiamat, mengetahi peristiwa-peristiwa setelah hari kiamat dengan dalil yang menyebutkanya, serta mengambil hikmah dari menyakini adanya hari kiamat.

24

- Meyakini adanya qadha dan qadar,dan takdir, memahami maksudnya, ikhtiyar dan berdo’a serta hubunganya dengan takdir, tawakkal dan berserah diri, mengetahui adanya peringatan tentang takdir, serta pengaruhnya dalam kehidupan manusia.

- Tujuan aqidah Islam adalah untuk memupuk dan mengembangkan potensi-potensi keTuhanan yang ada sejak lahir, dimana manusia sudah mempunyai sifat ketuhanan sejak di alam roh, sebagaimana FirmanNya dalam surat ( Al-A’raf : 172-173).

Jadi jelaslah bahwa aqidah adalah kepercayaan yang telah ada sejak manusia di alam kandungan, dam aqidah Islam merupakan fitrah manusia. Aqidah merupakan

sesuatu yang harus dibarengi dengan akhlak, sebab aqidah tanpa akhlaka tempat akan sia-sia.

b. Pengertian akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa arab “khuluq”, jamaknya khuluqun”, menurut lughot di artikan sebagai budi pekerti, perangai Ahlak tasawuf nilai-nilai ahlak/budi pekerti dalam, tingkah laku, atau tabiat. Dalam buku pemikiran pendidikan Islam Prof.Dr.H.Abuddin Nata menambainya dengan karakter, secara istilah akhlak berarti sifat yang melekat pada seseorang dan menjadi identitasnya. Kata akhlak di artikan secara luas artinya moral atau etika yang sering di pakai dalam bahasa Indonesia, sebab ahlak meliputi aspek-aspek kejiwaan dari tingkah laku lahiriyah dan bathiniyah seseorang, ahlak merupakan sikap mental yang mendorong berbuat tanpa di pikir dan pertimbangan, Rosulullah SAW sendiri di utus untuk menyempurnakan Akhlak, seperti tertera dalam Aq Qur-an Surat Al Qalam[68] : 4.

Artinya : “Dan sesungguhnya kamu berbudi pekerti yang agung.”

- Dan hadist Nabi yang di riwayatkan oleh Imam Ahmad

Artinya: “sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.”

- Dan dalam hadis lain Rasulullah SAW berabda:

Artinya: ”Demi Tuhan yang nyawaku berada ditangan-Nya, tidaklah masuk surga kecali orang-orang yang baik akhlaknya”

- Dan dalam hadist lain dari Mu’az Bin Jabal Rasulullah SAW bersabda:

Artinya : “sesungguhnyaAllah Ta‟alamengelilingi Islam dengan budi pekerti muliadan amalan-amalan yang baik”.

Akhlak menurut Imam Ghozali mempunyai tiga di mensi

- Dimensi diri, yakni seorang dengan Tuhan-Nya seperti ibadah dan sholat. - Dimensi sosial, yakni masyarakat, pemerintah, dan pergaulanya dengan

sesama.

- Dimensi metafisis, yakni aqidah dan pegangan dasarnya

Artinya: “Definisi akhlak menurut Imam Al Ghazali, “Akhlak adalah suatu sikap (bay‟ah) yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang darinya lahir dari perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara‟ maka ia di sebut akhlak yang baik,dan jika yang lahir darinya perbuatan tercela,maka sikap tersebut di sebut akhlak yang tercela”.

Antara aqidah dan akhlak secara implementasinya tak dapat dipisahkan dari pribadi seorang muslim, akhlak seseorang akan menentukan kepribadianya yang memberi batasan baik dan buruk, terpuji dan tercela, perkataan maupun perbuatan manusia, baik secara lahir maupun bathin. Aqidah dan akhlak akan mengatur kehidupan manusia dengan Allah SWT serta manusia dengan manusia.

Akhlak terbagi dua yaitu akhlak mahmudah (akhlak yang baik) dan akhlak

mazmumah (akhlak yang buruk), dasar akhlak bagi muslim jelas adalah AlQuran dan Hadist, dengan melaksanakan apa yang telah diajarkan Rosulullah hendaklah seorang guru dapan lebih meningkatkan pendekatan secara persuasif kepada siswa, agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran aqidah dan akhlak kepada siswa.

Dokumen terkait