• Tidak ada hasil yang ditemukan

Habitat Orangutan

Dalam dokumen STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA (Halaman 25-33)

Berdasarkan luas distribusi disimpulkan orangutan dapat beradaptasi pada berbagai tipe primer dari hutan rawa, hutan dataran rendah/hutan Dipterocarpaceae sampai ke hutan pegunungan dengan batas ketinggian 1800 m dpl (Rijksen, 1978). Orangutan terutama hidup di dataran rendah, dan kepadatan tertinggi terdapat diantara ketinggian permukaan laut sampai sekitar 200-400 m (Payne 1988 ; van Schailk dan Azwar 1991). Namun di Sumatera, orangutan kadang ditemukan di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 1500 m (Gambar 2).

Berdasarkan tinjauan pustaka yang tersedia, dan dari data survei orangutan dari berbagai lokasi di Sumatera dan Kalimantan, orangutan diketahui lebih umum terdapat di dekat sungai-sungai kecil atau besar dan di dekat rawa-rawa: kepadatan tertinggi terdapat di petak-petak hutan (alluvial) kecil di lembah-lembah sungai, dan di hutan-hutan gambut (pasang surut) di dekat rawa-rawa, atau di antara sungai-sungai. Kecil sekali kemungkinan seseorang dapat menjumpai orangutan pada jarak yang lebih jauh dari 10-15 km dari anak sungai atau rawa yang perairannya terbuka. Alasan utama orangutan lebih menyukai lingkungan ini hampir pasti karena di dekat sungai lebih banyak pohon buah yang disukai, tetapi mungkin juga karena sungai-sungai besar dan kecil merupakan tanda-tanda geografis yang terbaik untuk mengetahui arah keberadaannya. Berdasarkan hasil penelitian Rijksen (1978) di Ketambe bahwa karakteristik habitat orangutan di daerah tersebut adalah tidak adanya dominasi dari satu jenis pohon atau vegetasi. Stratifikasi hutan terutama terdiri dari strata B atau C, dan pada lantai hutan terutama ditumbuhi herba.

Menurut Meijaard et al (2001), habitat yang optimal bagi orangutan paling sedikit mencakup dua tipe lahan utama yaitu tepi sungai dan dataran tinggi kering yang berdekatan. Tepi sungai mungkin berupa dataran banjir, rawa atau lemah alluvial, dataran tinggi biasanya adalah kaki bukit. Kedua tipe habitat ini tentunya harus cukup luas, dan dalam jarak yang dapat dijangkau, yaitu kurang dari 5 km. Habitat orangutan yang baik biasanya berupa mosaik petak-petak hutan kecil dengan tingkat tumbuhan berkayu yang berbeda, beberapa diantaranya mempunyai kerapatan jenis pohon buah yang sangat tinggi ( > 20 % dari semua pohon).

D. Perilaku Orangutan 1. Aktifitas Harian

Orangutan merupakan satwa arboreal. Di pohon pergerakkannya dilakukan dengan bergantungan dari satu dahan ke dahan yang lain. Pada saat di dahan mereka bergerak dengan menggunakan ke empat anggota tubuhnya. Jarang sekali turun ke tanah , hanya pada saat memakan rayap, mereka sering turun ke lantai hutan. Daerah jelajah orangutan sumatera antara 200 – 1000 ha, dan jelajah harian berkisar antara 800 – 1200 m. Di sore hari menjelang tidur, selalu membuat sarang untuk tidur. Bagi induk yang diikuti anaknya, anaknya biasanya belajar membuat sarang sendiri dalam satu pohon dengan induknya. Namun bila malam tiba, ikut bergabung dengan induknya (Supriatna, 2000).

Aktifitas harian orangutan dipengaruh oleh musim buah. Pada saat tidak musim buah, orangutan menghabiskan waktunya untuk berjalan dan waktu untuk makan hanya sedikit (Mackkinnon, 1974 dalam Rijksen 1978). MacKinnon juga menemukan perbedaan pola aktifitas harian orangutan sumatera pada saat hari kering dan hari basah. Pada saat hari kering waktunya lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat daripada aktifitas makan dan berjalan. Pada saat hari kering orangutan menghabiskan waktunya untuk istirahat sampai tengah hari.

Lebih dari 47 % aktivitas harian orangutan adalah makan, 40 % untuk istirahat, 12 % untuk aktivitas menjelajah dan sisanya untuk aktivitas sosial dan kegiatan lainnya. Segera setelah mereka meninggalkan sarang tidur, dini hari, orangutan bergerak menuju pohon pakan terdekat. Dalam sehari orangutan menjelajah 0,5 – 2 km. Dalam melakukan pergerakan orangutan menggunakan keempat anggota badannya. Kakinya mampu berfungsi sebagai tangan, terutama ketika melakukan gerakan quadrumanous scrambling, branchiate. Bentuk pergerakan orangutan dibedakan atas quadrumanous scrambling, branchiate, quadrupedal/walking tree sway dan climbing (Rijksen, 1978)

Bentuk quadrumanous scrambling menempati 50 % dari waktu jelajahnya. Orangutan hampir tidak pernah turun ke tanah. Mereka menggunakan lapisan antara 15 – 25 m di atas tanah (hampir 70 % dari waktunya), 20 % dari waktunya menggunakan lapisan 25 m keatas dan kurang 10 % dibawah ketinggian 15 m. Sistim komunikasi orangutan berlangsung dengan menggunakan suara (vocal

communication) dan pergerakan atau perbuatan (attractive communication). Dengan kehadiran manusia, orangutan banyak membuat bunyi dan reaksi lain, seperti bunyi kecupan “ kiss hot “ dan “ kiss squeak “, merengut dengan wajah menyelidik, menjerit, menggoncang-goncangkan serta banyak mematahkan dahan – dahan dan melemparkannya ke arah manusia. Reaksi ini terjadi juga bila ada gangguan dari makhluk lain selain manusia. (Djojosudharmo, 1978 dan Sinaga, 1992 dalam Pardede 2000)

Orangutan liar minimal sekali dalam sehari membuat sarang untuk tidur. Orangutan selalu menempatkan sarang di pinggir sungai pada ketinggian 20 – 40 m di atas tanah. Beberapa jenis pohon tempat tidur orangutan antara lain damar laut (Shorea materialis), kayu kuning (Eugenia sp), kayu merah (Eugenia sp), keranji (Dialium platysepalum), semantok (Shorea multiflora), baja barus (Rhodamnia sp ), kecing batu (Quercus spicata) dan ponggas (Mangifera sp ).

Pada umumnya pola aktifitas harian orangutan sumatera dibedakan menjadi dua. Aktifitas di pagi hari, dua jam sampai tiga jam setelah orangutan meninggalkan sarang tempat tidurnya dan aktifitas sore hari sekitar pukul tiga sore. Aktifitas makan lebih banyak dilakukan di pagi hari, aktifitas berjalan lebih banyak dilakukan pada sore hari dan aktifitas beristirahat lebih banyak dihabiskan pada tengah hari (Rijksen 1978). Dari ketiga aktifitas harian ini, aktifitas yang paling mendominasi adalah aktifitas makan 45,9 %, sedangkan aktifitas istirahat sebesar 39,2 % (Rodman ,1977 dalam Maple, 1980 dalam Sujarno, 2000).

2. Perilaku Makan

Aktifitas makan ialah waktu yang dipakai seekor orangutan untuk menggapai, mengolah, mengekstraksi, memegang-megang, mengunyah dan menelan makanan pada satu sumber makanan. Dalam hal memakan rayap, waktu ini meliputi saat-saat seekor orangutan menggali tanah dengan merobek-robek bagian luarnya. Pergerakan di dalam sumber makanan juga dihitung. Pakan orangutan sumatera sangat bervariasi. Mereka memakan berbagai bagian dari tumbuhan , seperti daun muda, bunga, buah dan biji, kambium dan beberapa tumbuhan dihisap getahnya. Selain itu orangutan sumatera juga mengkonsumsi beberapa jenis serangga atau telur burung. Orangutan sumatera memakan lebih dari 200 jenis tumbuhan yang berbeda (Supriatna , 2000).

Makanan pokok orangutan adalah buah. Berdasarkan data yang ada, komposisi persentase waktu makan dan jenis makanan orangutan adalah buah (60 %), daun (25 %), kulit batang (15 %), serangga (10 %) dan lain-lain (2 %). Orangutan sangat menyukai madu. Untuk melindungi mukanya dari serangan lebah orangutan mengambil ranting berdaun untuk menutup mukanya. Kesimpulannya, orangutan adalah satwa tipe pengumpul atau pencari makanan yang oportunis yaitu memakan apa saja yang dapat diperolehnya. Dari hasil penelitian di wilayah Ketambe, orangutan sumatera memakan 92 macam buah, 13 macam daun, 22 macam tanaman contohnya anggrek, 2 jenis akar tanaman dan 2 jenis jamur epifit serta 17 jenis serangga dan telur burung. Di dalam melakukan aktivitas makannya, orangutan umumnya memilih jenis pakan yang paling disukainya. Pada saat musim buah, orangutan dapat dengan leluasa memilih pakan yang disukainya. Tetapi pada saat tidak musim buah orangutan memakan apa saja yang dijumpainya (Meijaard et al., 2001).

3. Perilaku Bersarang

Orangutan membangun paling tidak satu sarang perhari untuk beristirahat dan tidur di malam hari (Maple, 1980 dalam Sujarno 2000), atau 1,8 sarang per hari berdasarkan perhitungan Rijksen (1978) dengan sebaran 0-6. Umur satwa juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perilaku bersarang. Rijksen (1978) mengemukakan bahwa orangutan muda cenderung membangun sarang dalam jumlah banyak atau bermain sarang setiap hari. Di samping itu sarang juga berfungsi sebagai tempat untuk kawin, melahirkan anak, mengasuh anak sampai siap disapih (Galdikas, 1984 dalam Sujarno, 2000).

Dalam membangun sarangnya, orangutan memilih tempat yang menguntungkan dengan mempertimbangkan letak pohon berbuah terdekat dan topografi daerah sehingga tempat bersarang terdistribusi secara acak. Orangutan mencari lokasi bersarang pada tempat-tempat yang dikenalinya, baik untuk digunakan sendiri maupun untuk bersama-sama, dengan mempertimbangkan hubungan antara posisi sarang dan keuntungan yang diperoleh (Mackkinnon, 1974). Umumnya orangutan membangun sarang pada tempat-tempat yang dapat memberikan pandangan lebih luas ke sebagian besar areal hutan (Rijksen, 1978).

Menurut Mackkinnon (1974), konsentrasi sarang terutama berada pada punggung bukit sebelah barat. Posisi ini dipilih untuk menghindari panas matahari, sebagai pelindung dari angin malam, dan memperluas jangkauan pandangan. Faktor penentu lainnya adalah keberadaan sarang-sarang orangutan lainnya (Rijksen, 1978). Tinggi sarang bergantung pada struktur hutan pada tempat tertentu, dan umumnya berkisar antara 13-15 meter (Rijksen, 1978)

Kegiatan pembuatan sarang membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 menit. Tahapan dalam pembuatan sarang diterangkan oleh Rijksen (1978) dalam sebagai berikut :

a. Rimming (Melingkarkan). Dahan dilekukkan secara horizontal untuk membentuk lingkaran sarang dan ditahan dengan cara melekukkan dahan lain.

b. Hanging (Menggantung). Dahan dilekukkan masuk ke dalam sarang untuk membentuk mangkuk sarang

c. Pillaring (Menopang). Dahan dilekukkan ke bawah sarang untuk menopang lingkaran sarang dan memberikan kekuatan ekstra.

d. Loose (Melepaskan). Beberapa dahan diputuskan dari pohon dan diletakkan ke dalam dasar sarang sebagai alas atau di atas sarang sebagai atap. Patahan dahan diperoleh dari vegetasi yang ada disekitarnya, bahkan sampai 15 meter jaraknya dari tempat bersarang.

Lama bertahan (relative permanent) sarang bervariasi, paling tidak berdasarkan variabel – variabel yang dikemukakan oleh Rijksen (1978) yaitu teknik konstruksi, berat dan ukuran orangutan, suasana hati (mood) saat membangun sarang, lokasi dan karakteristik pohon, cuaca, kemungkinan dihancurkan oleh orangutan atau kera lain saat mencari serangga. Sarang orangutan tetap terlihat 2,5 bulan dengan variasi antara dua minggu sampai satu tahun (Rijksen, 1978). Orangutan berada di sarang untuk tidur di malam hari antara jam 18.00 – 19.00 dan meninggalkan sarang pada pukul 05.45 (Michael dan Crook, 1973 dalam Sujarno 2000). Orangutan cenderung akan tidur lebih awal pada cuaca yang buruk (Mackkinnon, 1974).

Dalam dokumen STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA (Halaman 25-33)