• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA ( Pongo pygmaeus abelii Lesson, 1827 ) YANG DIKEMBANGKAN DI STASIUN KARANTINA

MEDAN DAN DI STASIUN REINRODUKSI JAMBI

Yosia WSB Ginting

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

(2)

Matius 10 : 29 – 31

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh kecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi diluar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

(3)

RINGKASAN

Yosia WSB Ginting (E03400045). Studi Reintroduksi Orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii Lesson, 1827) Yang Dikembangkan Di Stasiun Karantina Medan Dan Di Stasiun Reintroduksi Jambi. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS dan Drh. Erna Suzanna, MSc.F

Orangutan merupakan salah satu primata yang kini paling terancam keberadaannya di dunia. Permasalahan yang dihadapi orangutan adalah perusakan terhadap habitatnya yang terbatas dan tingginya perburuan orangutan di habitat alaminya. Untuk mengatasi kepunahan orangutan maka saat ini dikembangkan suatu bentuk konsep penyelamatan yang disebut reintroduksi. Konsep reintroduksi ini merupakan suatu rancangan yang baru dikembangkan dalam rangka upaya penyelamatan orangutan dari kepunahan. Sehingga perlu diketahui bagaimana tingkat keberhasilan dari reintroduksi ini yaitu dengan melakukan proses pemantauan terhadap orangutan yang sudah diliarkan.

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui tahapan kegiatan reintroduksi orangutan sumatera dan untuk mengetahui kegiatan pemantauan dan penilaian pasca reintroduksi dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan reintroduksi orangutan sumatera dan sekaligus mempelajari kriteria dalam penentuan tingkat keberhasilan reintroduksi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tahapan pelaksanaan reintroduksi satwa khususnya orangutan sumatera ke habitat alaminya.

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2004 sampai Maret 2005 di dua lokasi yaitu di Stasiun Karantina Orangutan Sumatera yang terletak di Medan dan di Stasiun Reintroduksi yang terletak di Jambi. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dan sekunder yaitu dengan observasi lapang, studi literatur dan wawancara langsung dengan pihak pengelola.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, reintroduksi orangutan sumatera dibagi ke dalam empat tahapan yaitu 1) Masa karantina; 2) Pengangkutan; 3) Masa adaptasi dan 4) Pelepasan ke alam. Selama penelitian berlangsung dilakukan pengamatan secara rutin terhadap 8 individu orangutan. Dari tahun 2003 sampai saat ini jumlah orangutan yang sudah dilepaskan ke habitat alami sebanyak 40 individu. Pada penelitian ini pemantauan secara rutin hanya dilakukan terhadap 8 individu orangutan. Dari ke- 8 individu orangutan yang diamati, hanya 5 individu yang mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya sedangkan 1 individu hilang dari pemantauan, 1 individu dibawa kembali ke kandang adaptasi dikarenakan tidak mampu untuk mencari makanannya sendiri dan 1 individu yang diamati mengalami kematian setelah enam bulan dilepaskan ke habitat alaminya.

Pada penelitian ini, ada lima parameter yang dianggap dapat digunakan dalam penilaian tingkat keberhasilan reintroduksi orangutan sumatera yaitu 1) memiliki aktifitas makan tinggi (> 47%); 2) memiliki pengetahuan pakan alami yang baik (minimal 25 jenis) (Orangutan Conservation and Reintroduction Workshop, 19 – 22 Juni 2002); 3) memiliki kemampuan membuat sarang tidur; 4) memiliki kemampuan memanjat pohon yang baik dan 5) mampu berkembangbiak. Berdasarkan ke – 5 parameter tersebut maka dari ke – 40 individu orangutan yang

(4)

sudah dilepaskan alam hanya 26 individu (65 %) yang sudah dapat dipastikan mampu bertahan di lingkungan barunya.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan reintroduksi orangutan sumatera ini adalah tingginya biaya operasional untuk membiayai kebutuhan pakan orangutan selama masa adaptasi dan adanya konflik yang terjadi dengan penduduk lokal dikarenakan areal reintroduksi ini berdekatan langsung dengan pemukiman masyarakat lokal.

(5)

STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA (Pongo pygmaeus abelii Lesson,1827) YANG DIKEMBANGKAN DI STASIUN KARANTINA

MEDAN DAN DI STASIUN REINTRODUKSI JAMBI

YOSIA WSB GINTING

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYAHUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Balikpapan, Kalimantan Timur pada tanggal 18 Oktober 1982. Penulis merupakan anak Pertama dari dua bersaudara dari keluaraga Bapak Ir. Rura Silindung Ginting Munthe dan Ibu dr. Juwita Br Sembiring Meliala.

Pendidikan SD, SMP dan SMA ditempuh di Yayasan Perguruan Swasta Kristen Immanuel Medan. Tahun 2000 penulis lulus dari SMA Swasta Kristen Immanuel Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Penulis memilih Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di Jawa Tengah (KPH Banyumas Barat – KPH Banyumas Timur Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah dan KPH Ngawi Perum Perhutani Unit II Jawa Timur) pada Juli – Agustus 2003 dan melakukan Praktek Kerja Lapang di HPHTI Topa Pulp Lestari Tbk , Toba Samosir Sumatera Utara pada Januari – Februari 2004.

(8)

PRAKATA

Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kasih dan karuniaNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2004 ialah STUDI REINTRODUKSI ORANGUTAN SUMATERA (Pongo pygmaeus abelii Lesson,1827) YANG DIKEMBANGKAN DI STASIUN KARANTINA MEDAN DAN DI STASIUN REINTRODUKSI JAMBI. Terima kasih pula saya ucapkan kepada pihak – pihak yang telah banyak membantu proses penyelesaian skripsi ini antara lain adalah :

1. Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS, selaku pembimbing pertama yang telah membimbing saya dalam penulisan dan penyempurnaan skripsi ini.

2. Drh. Erna Suzanna, MSc.F, selaku pembimbing kedua yang telah membimbing saya dalam penulisan dan penyempurnaan skripsi ini.

3. Ir. I Ketut N. Pandit, MS, selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Dra. Nining Puspaningsih, M.Si, selaku dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan yang telah memberi masukan dan kritikan untuk penyempurnaan skripsi ini.

4. Orang Tuaku. Bapak Ir. RS. Ginting Munthe dan Ibunda dr. J. Sembiring Meliala yang dengan kesabarannya dan kesetiannya terus memberiku dorongan dan doa untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Adikku, Yehezkiel Wirawahyunta dan sepupuku Carola Sembiring, Chevinta Sembiring dan Chandra Sembiring.

6. Ir. Awen Supratna, selaku Kepala Balai KSDA Sumatera Utara I yang telah membantu saya dalam mengeluarkan surat izin penelitian di stasiun karantina.

7. Ir Suherry dan Ian Singleton, Ph.D, selaku Direktur Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) dan staf karantina yaitu bang Asril dan bang Wardi yang telah membimbing saya selama berada di stasiun karantina.

(9)

8. Ir. Maraden Purba, MM.,selaku Kepala Balai KSDA Jambi yang telah membantu saya dalam melakukan surat ijin penelitan di stasiun reintroduksi orangutan Muara Tebo, Jambi.

9. Dr. Peter Pratje, selaku Manajer Proyek Frakfurt Zoological Society (FZS), Juana Betti Rican T, Spd dan Krismanko Padang, SH yang telah memberikan ijin dan membantu saya dalam melaksanakan penelitian. 10. Bang Isa, SSi yang telah membantu dan mengajariku mengambil data

selama berada di lapangan dan teman – temanku di Sungai Pengian yang telah menemaniku selama berada di lapangan.

11. Teman – teman KSH angkatan 37. Terima kasih untuk kebersamaannya selama di bangku kuliah.

12. Teman – teman di Sinabung Villa : Bang Edo, Bang Joy, Bang Dennis, Budi Sitepu, Edu Ginting, Andi, Andri, Pirdolin, Budi Surbakti, Disa, Budi Ginting dan Agung).

13. Pengurus Permata GBKP Bogor periode 2003 – 2005 dan periode 2005 – 2007.

14. Teman – temanku di Bidang Pembinaan : Bremin Sembiring, Mila, Laura, Erika Surbakti, Tetty, Putri, Elpita, Jani, Leli.

15. Morintara Putri Surbakti yang menjadi teman di waktu suka dan duka. Terima kasih untuk canda tawa, doa dan dukungannya.

16. Teman – teman Guru Sekolah Minggu dan seluruh Permata GBKP Bogor yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

17. Keluarga Besar GBKP Runggun Bogor, yang menjadi orangtua selama aku di Bogor.

Bogor, Desember 2005 Yosia WSB Ginting

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR... viii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan Penelitian ... 3 C. Manfaat Penelitian... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

A. Bioekologi Orangutan... 3

1. Klasifikasi... 4

2. Morfologi ... 5

B. Penyebaran Orangutan Sumatera... 7

C. Habitat Orangutan... 7 D. Perilaku Orangutan... 11 1. Aktifitas Harian... 11 2. Perilaku Makan ... 12 3. Perilaku Bersarang ... 13 E. Sistim Pemeliharaan... 15

1. Sistim pengandangan dalam bangunan yang tertutup ( indoor enclosures )... 15

2. Sistim pengandangan dalam alam terbuka ( outdoor enclosure ) 16 F. Konservasi Orangutan... 16

G. Translokasi : Introduksi dan Reintroduksi ... 18

H. Karantina Primata ... 20

(11)

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 25

A. Stasiun Karantina Orangutan Sumatera ... 25

1. Kondisi Fisik... 25

1.1 Letak dan Luas ... 25

1.2 Aksesibilitas dan Fasilitas Karantina ... 25

1.3 Kondisi Iklim ... 25

1.4 Topografi Lapangan ... 26

2. Kondisi Biotik... 26

2.1 Flora... 26

2.2 Fauna ... 27

B. Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera... 27

1. Kondisi Fisik... 27

1.1 Letak dan Luas ... 27

1.2 Aksesibilitas dan Fasilitas... 29

1.3 Kondisi iklim ... 29

1.4 Topografi lapangan... 29

2. Kondisi Biotik... 30

2.1 Flora... 30

2.2 Fauna darat... 30

2.3 Biota perairan (Nekton/ikan) ... 30

3. Sosial, Ekonomi dan Masyarakat... 31

IV. METODOLOGI PENELITIAN... 33

A. Waktu dan Tempat ... 33

B. Alat dan Bahan... 33

1. Alat... 33

2. Bahan... 33

C. Jenis Data yang Dikumpulkan... 34

1. Data Primer... 34

2. Data Sekunder... 35

D. Metoda Pengambilan Data ... 36

(12)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN... 38

A. Tahapan Proses Reintroduksi ... 38

A.1 Manajemen Orangutan Selama Masa Karantina... 40

1. Fasilitas dan Jumlah Tenaga Kerja di Karantina ... 40

2. Sistem Pemeliharaan Orangutan di Stasiun Karantina... 41

2.1 Kandang Pemeliharaan... 42

2.2 Pembersihan Kandang Pemeliharaan ... 42

2.3 Jumlah dan Asal Orangutan yang di Rehabilitasi ... 42

2.4 Lama Pemeliharaan di Karantina... 43

2.5 Jenis dan Jumlah Pakan ... 44

2.6 Perlakuan Khusus... 44

2.7 Pembentukan Kelompok dan Proses Sosialisasi Orangutan 46 3. Sistim Perawatan Orangutan di Stasiun Karantina ... 47

3.1 Pengambilan Sampel Kotoran/Faeces ... 47

3.2 Pengambilan Sampel Darah... 48

3.3 Pemeriksaan Radiologi ... 49

3.4 Pemeriksaan Kulit ... 49

3.5 Pemberian Microchip ... 49

3.6 Otopsi ... 49

3.7 Pembiusan... 49

3.8 Syarat Kesehatan Sebelum di Reintroduksi... 50

4. Aktifitas Orangutan Selama di Rehabilitasi ... 51

4.1 Aktifitas makan ... 51

4.2 Aktifitas minum ... 51

4.3 Aktifitas bergelayut dan memanjat ... 51

4.4 Aktifitas bermain... 52

4.5 Aktifitas istirahat dan tidur ... 52

4.6 Aktifitas membuat sarang... 52

4.7 Aktifitas berjalan... 52

A.2 Manajemen Pengangkutan Orangutan Dari Karantina Ke Lokasi Reintroduksi... 52

(13)

1.1 Kandang Angkut ... 53

1.2 Jenis Alat Angkut... 53

1.3 Prosedur Pemindahan dari Kandang Sosialisasi ke Kandang Transport... 54

1.4 Prosedur Pengangkutan... 54

1.5 Biaya Pengangkutan... 56

2. Tahapan Pengangkutan ... 56

2.1 Jumlah Orangutan Yang Diangkut... 57

2.2 Tindakan Selama Pengangkutan ... 57

2.3 Permasalahan Dalam Pengangkutan ... 58

A.3 Manajemen Orangutan di Stasiun Reintroduksi (Adaptasi) Sebelum Dilepaskan ke Alam ... 58

1. Latar Belakang dan Syarat Pemilihan Areal Reintroduksi... 58

2. Kondisi dan Potensi Habitat ... 59

3. Sistim Pemeliharaan Orangutan di Stasiun Adaptasi... 61

3.1 Kandang adaptasi ... 61

3.2 Pemberian pakan ... 62

3.3 Pembersihan kandang pemeliharaan ... 62

A.4 Manajemen Pelepasan Orangutan ke Alam... 62

1. Waktu pelepasan ... 62

2. Proses pelepasan ... 63

3. Pemantauan (Monitoring)... 64

4. Identifikasi jenis – jenis tumbuhan yang dimakan orangutan .. 65

5. Upaya perlindungan terhadap orangutan yang sudah diliarkan 66 B. Kriteria Penilaian dalam Penentuan Tingkat Keberhasilan Reintroduksi Orangutan Sumatera ... 67

B.1 Kriteria penilaian tingkat keberhasilan reintroduksi... 67

B.2 Evaluasi tingkat survival orangutan sumatera B.2.1 Evaluasi terhadap 8 individu yang diikuti secara rutin .... 69

B.2.2 Evaluasi terhadap tingkat survival keseluruhan orangutan sumatera yang sudah diliarkan... 74

(14)

C. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Reintroduksi

Orangutan Sumatera ... 75

VI. SIMPULAN DAN SARAN ... 78

A. Simpulan... 78

B. Saran... 78

DAFTAR PUSTAKA... 79

LAMPIRAN ... 81

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Peta penyebaran orangutan sumatera... 8

2. Peta habitat orangutan sumatera ... 10

3. Peta lokasi reintroduksi orangutan sumatera... 28

4. Kerangka Tahapan Proses Reintroduksi Orangutan Sumatera ... 39

5. Grafik persentase aktifitas makan orangutan di alam ... 69

6. Grafik komposisi jenis tumbuhan yang dimakan orangutan di alam... 70

7. Grafik persentase aktifitas bergerak orangutan di alam... 71

8. Grafik persentase aktifitas istirahat orangutan di alam ... 72

9. Grafik perbandingan aktifitas makan, aktifitas bergerak dan aktifitas istirahat orangutan di alam ... 73

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Data iklim di areal studi ... 29

2. Data individu orangutan yang diamati ... 33

3. Ruang lingkup pengamatan parameter tahapan pra - reintroduksi ... 34

4. Ruang lingkup pengamatan parameter tahapan reintroduksi ... 35

5. Ruang lingkup pengamatan paramerter tahapan pasca reintroduiksi.... 35

6. Daftar jenis dan jumlah obat sesuai dengan berat badan orangutan ... 51

7. Surat dan dokumentasi pengangkutan... 55

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Struktur vegetasi hutan di sekitar Stasiun Reintroduksi Orangutan

Sumatera... 81 2. Jenis – jenis satwa yang ditemukan di Lokasi Reintroduksi Orangutan Sumatera... 82 3. Tally sheet pengamatan aktifitas harian orangutan... 85 4. Daftar pertanyaan kepada pengelola ... 86 5. Daftar Orangutan yang masuk ke Stasiun Karantina Orangutan

Batumbelin – Sibolangit... 88 6. Komposisi jenis pohon di kelompok hutan sungai Mangatal Bukit

Tigapuluh... 91 7. Komposisi jenis pohon di kelompok hutan sungai Pekundangan Bukit Tigapuluh... 95 8. Daftar individu orangutan yang masuk ke Stasiun Reintroduksi Muara Tebo – Jambi... 99 9. Jenis – jenis tanaman hutan yang dimakan orangutan di lokasi

reintroduksi... 101 10. Evaluasi terhadap tingkat survival orangutan di Jambi... 105

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman jenis primata yang tinggi, salah satunya adalah orangutan (Pongo pygmaeus). Orangutan merupakan salah satu primata yang kini paling terancam di dunia. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan status orangutan sebagai endangered species atau jenis dalam keadaan genting. Pada tahun 1993, diperkirakan jumlah orangutan Indonesia dan Malaysia telah menurun 30 – 50 % dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sementara habitatnya telah menyusut sebanyak 80 % dalam kurun waktu 20 tahun terakhir (Primack et al., 1998). Indonesia memiliki dua subspesies orangutan yaitu orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus). Berdasarkan data yang ada beserta konsensus yang dikembangkan oleh para ahli diduga bahwa di pulau Kalimantan terdapat 19.000 – 30.000 orangutan (P.p pygmaeus ), sementara konspesifik orangutan di Sumatera ( P.p abelii ) berjumlah antara 7.000 sampai 11.000 individu (Tilson et al., 1993 dalam Primack et al., 1998 ). Namun berdasarkan data terakhir, populasi orangutan sumatera berkisar 7334 individu (Pre – PHVA Meeting, Jakarta 13 – 15 Agustus 2003). Bila dibandingkan antara kedua subspesies ini, maka subspesies orangutan sumatera lebih terancam kepunahannya dibandingkan subspesies orangutan kalimantan. Di Sumatera, permasalahan yang dihadapi orangutan adalah penyebarannya yang sangat terbatas dan populasinya yang menurun dengan cepat karena habitatnya banyak dirusak. Habitat yang hilang bagi orangutan sumatera lebih dari 64 % atau dari 89.000 km2 menjadi 2.000 km2 (Supriatna, 2000). Selain rusaknya habitat, laju kepunahan orangutan yang tinggi juga disebabkan oleh tingginya perburuan orangutan di habitat alaminya. Perburuan yang tinggi ini disebabkan banyaknya permintaan orangutan karena semakin banyaknya orang yang memiliki hobi memelihara satwa langka khususnya orangutan. Apabila tidak ada usaha mencegah maka dalam waktu yang tidak lama

(19)

orangutan akan punah. Untuk mengatasi hal tersebut sudah banyak usaha yang dilakukan dalam rangka menyelamatkan orangutan dari kepunahan.

Usaha penyelamatan orangutan yang dilakukan selama ini adalah rehabilitasi. Tujuan awal dari rehabilitasi adalah untuk menyiapkan seekor orangutan yang pernah ditangkap memiliki mental dan fisik untuk hidup dalam kondisi liar dan tidak tergantung pada pemeliharaan manusia namun yang terjadi adalah kontak dengan pengunjung secara teratur dan pemberian makanan secara manual membuat tujuan ini tidak mungkin dicapai (Meijaard et al., 2001). Sebagai gantinya dikembangkan suatu rancangan baru dalam rangka penyelamatan orangutan yaitu reintroduksi. Konsep dari reintroduksi ini adalah orangutan yang disita dikumpulkan dalam fasilitas karantina terpisah selama tidak lebih dari enam bulan untuk direhabilitasi, termasuk sosialisasi setelah karantina selesai. Orangutan rehabilitan dilepas dalam kelompok yang dipilih secara hati – hati, dalam habitat yang cocok dimana tidak terdapat orangutan liar ; setelah dilepaskan kelompok ini diberi makan setiap hari selama diperlukan (Meijaard et al., 2001). Selama di karantina pola perilaku dan tingkat kesehatan orangutan harus benar – benar diperhatikan. Tujuannya ialah ketika orangutan dilepaskan ke habitat alaminya, orangutan dapat bertahan hidup sehingga populasinya dapat bertahan bahkan bertambah. Upaya reintroduksi ini sudah dilakukan mulai tahun 2002 sampai sekarang yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Sumatran Orang Utan Conservation Programm ( SOCP ) dan Frankfurt Zoological Society ( FZS ). Bila usaha reintroduksi ini berhasil maka kepunahan orangutan dapat kita cegah. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah belum diketahuinya tingkat keberhasilan pelaksanaan reintroduksi ini, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai reintroduksi orangutan sumatera.

(20)

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ialah :

1. Untuk mengetahui tahapan kegiatan reintroduksi orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii).

2. Untuk mengetahui kegiatan pemantauan dan penilaian pasca reintroduksi dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan reintroduksi orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus abelii)

3. Mempelajari kriteria dalam penentuan tingkat keberhasilan reintroduksi

C. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini ialah dapat memberikan informasi mengenai tahapan pelaksanaan reintroduksi satwa khususnya orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii) ke habitat alami dalam rangka mendukung usaha konservasi.

(21)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bioekologi Orangutan 1. Klasifikasi

Primata pada awalnya dibagi secara sederhana ke dalam tiga kelompok besar yaitu Lemur, Kera dan Monyet. Dalam perkembangannya kebutuhan untuk mendiskripsikan secara tepat bangsa primata ini membutuhkan semacam metode pengklasifikasian yang lebih rumit (Sanderson, 1957 dalam Sujarno, 2000).

Orangutan termasuk ke dalam anggota primata dan merupakan salah satu jenis kera besar yang masih hidup sampai saat ini. Kegiatan pengklasifikasian yang didasarkan pada perbandingan anatomi dan imunologi memberikan petunjuk bahwa orangutan bersama-sama dengan dua kera besar lainnya yaitu simpanse dan gorila merupakan kerabat bangsa manusia yang paling dekat dalam dunia hewan (Napier dan Napier, 1985 dalam Sujarno, 2000). Perkataan orangutan berasal dari bahasa melayu yang berarti manusia yang hidup di dalam hutan (Galdikas, 1984 dalam Sujarno 2000). Penggunaan istilah orangutan dalam bahasa ilmiah pertama kali dilakukan oleh Tulp pada tahun 1941 dan disusul Poirier pada tahun 1964. Linnaeus pada tahun 1760 memberi nama orangutan dengan nama Pongo pygmaeus. Selanjutnya orangutan (Pongo pygmaeus) dibagi ke dalam dua subspesies yaitu orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus). Dalam perkembangan terakhir, kedua orangutan dinyatakan berbeda subspesies (Chemnick dan Ryder, 1994 dalam Sujarno 2000).

Klasifikasi orangutan menurut E. Poirier (1964) dalam Groves (1972) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Subkingdom : Metazoa Pylum : Chordata Subpylum : Vertebrata Klas : Mamalia

(22)

Ordo : Primata Subordo : Primata Famili : Pongidae Genus : Pongo

Spesies : Pongo pygmaeus Linnaeus

Subspesies : Pongo pygmaeus abelii Lesson, 1827 Pongo pygmaeus pygmaeus Linnaeus, 1760

2. Morfologi

Secara morfologi, orangutan sumatera dan kalimantan sangat serupa sekalipun individu kedua subspecies ini kerapkali dapat dibedakan dengan dasar warna bulunya (Napier dan Napier, 1967). Orangutan sumatera (Pongo pigmaeus abelii) biasanya berwarna lebih pucat khasnya “ginger”(jahe). Perbedaan ini bukannya sifat yang mantap tetapi dapat digunakan sebagai penuntun kasar. Orangutan sumatera kadang-kadang mempunyai bulu putih pada mukanya. Bulu orangutan sumatera biasanya lebih lembut dan lemas, sedang bulu orangutan kalimantan kasar dan jarang-jarang. Selain itu ukuran tubuh orangutan sumatera lebih besar dari orangutan kalimantan.

Menurut Supriatna (2000), rambut orangutan sumatera lebih terang bila dibandingkan orangutan kalimantan. Warna rambut coklat kekuningan, dan umumnya rambut agak tebal atau panjang. Seperti halnya orangutan kalimantan, anak yang baru lahir mempunyai kulit muka dan tubuh berwarna pucat, dan rambutnya coklat sangat muda. Menginjak dewasa warnanya akan berubah sesuai dengan perkembangan umur. Jantan dewasa ukuran tubuhnya dua kali lebih besar daripada betina yaitu sekitar 125-150 cm. Berat tubuh jantan di alam berkisar antara 50-90 kg, sedangkan orangutan peliharaan dapat mencapai 150- an kg. Berat tubuh betina pada orang utan liar berkisar antara 30-50 kg, dan dapat mencapai 70-an kg. Pada jantan mempunyai kantong suara, yang berfungsi mengeluarkan seruan panjang.

(23)

Perbedaan bentuk morfologi dan perilaku orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii) berdasarkan kelas umur dan jenis kelamin menurut Rijksen (1978) sebagai berikut :

a. Bayi (infant). Umur 0 – 2,5 tahun dengan berat antara 2 – 6 kg.

Bayi orangutan memiliki warna bulu yang terang pada sekitar matanya sedangkan bagian mulut dan muka memiliki warna yang gelap. Memiliki bulu yang panjang di sekitar muka. Bayi orangutan selalu digendong oleh induknya dan bergantung sepenuhnya kepada induknya untuk makan. Bayi orangutan tidur di sarang bersama dengan induknya.

b. Anak (juvenile). Umur 2,5 – 5 tahun dengan berat antara 6 – 15 kg.

Warna bulu anak orangutan tidak jauh berbeda dengan bayi orangutan. Anak orangutan masih bergantung kepada induknya tetapi sudah mampu mencari makanan sendiri. Anak orangutan suka bermain sendiri atau bersama dengan anak orangutan lainnya. Awalnya anak orangutan masih tidur bersama dengan induknya tetapi setelah itu anak orangutan sudah bisa membuat sarangnya sendiri, dimana sarangnya dibangun dekat dengan sarang induknya.

c. Remaja (adolescent). Umur 5 – 8 tahun dengan berat antara 15 – 30 kg. Orangutan remaja masih memiliki bulu yang panjang di sekitar mukanya. Awalnya wajah orangutan remaja memiliki warna yang terang tetapi kemudian akan berubah menjadi lebih gelap, pada masa remaja ini sangat sulit untuk membedakan orangutan jantan dan betina. Perilaku seksual orangutan sudah mulai kelihatan, senang bermain dengan orangutan remaja lainnya dan sudah melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya secara berkelompok.

d. Jantan setengah dewasa (subadult male). Umur 8 – 13/15 tahun dengan berat antara 30 – 50 kg.

Warna wajah orangutan sudah gelap. Janggut sudah mulai tumbuh dan bulu di sekitar muka tidak panjang lagi. Pada kelas umur ini, alat kelamin sudah lengkap, sudah dewasa secara seksual, dan selalu menghindari perjumpaan dengan orangutan jantan dewasa.

(24)

e. Betina dewasa (adult female). Umur 8+ tahun dengan berat antara 30 – 50 kg. Orangutan betina dewasa sudah memiliki janggut dan sangat sulit membedakannya dengan orangutan betina setengah dewasa . Orangutan betina dewasa biasanya selalu diikuti oleh anak – anaknya.

f. Jantan dewasa (adult male). Umur 13/15+ tahun dengan berat antara 50–90 kg.

Orangutan jantan dewasa memiliki ukuran tubuh sangat besar, memiliki bantalan pipi, kantung leher, berjanggut dan memiliki bulu yang panjang dan lebat, hidup soliter dan sering mengeluarkan seruan panjang (long call) (Mackkinnon, 1971 ).

B. Penyebaran Orangutan Sumatera

Menurut publikasi pada tahun 1930-an, ada pendapat umum bahwa kisaran distribusi orangutan tipe Sumatera di pulau ini terbatas di utara khatulistiwa, atau di utara Danau Toba, dan terutama di Suaka Margasatwa G. Leuser. Saat ini populasi telah terpecah menjadi empat subpopulasi utama : (1) subpopulasi di dekat Aceh, di sebelah barat S. Alas dan S.Wampu; (2) subpopulasi di hutan lindung Dolok Sembelin dan Batu Ardan di Kabupaten Dairi dan kawasan hutan yang bersambungan di sebelah timur S. Alas, membentang disepanjang kaki-kaki bukit pesisir barat dan menurus sampai ke pantai Sibolga; (3) subpopulasi Tapanuli bagian tenggara diantara S.Asahan dan S. Barumun, dan (4) subpopulasi di Anggolia, Angkola, dan Pasaman, semuanya di sepanjang bagian barat kaki Bukit Barisan, dari hilir S. Batang Toru membentang ke arah selatan diantara Padang Sindempuan dan daerah sekitar Pariaman di Propinsi Sumatera Barat, sekitar 50 km di sebelah utara Padang ( Meijaard et al., 2001).

Menurut Supriatna (2000), orangutan Sumatera terbatas sebarannya, hanya dapat dijumpai di Sumatera bagian utara sampai ke Aceh. Dari hasil survei terbaru, orangutan sumatera diperkirakan ada di Sumatera Barat dan Riau bagian utara dan sampai ke daerah hutan di Aceh Utara (Gambar 1)

(25)

C. Habitat Orangutan

Berdasarkan luas distribusi disimpulkan orangutan dapat beradaptasi pada berbagai tipe primer dari hutan rawa, hutan dataran rendah/hutan Dipterocarpaceae sampai ke hutan pegunungan dengan batas ketinggian 1800 m dpl (Rijksen, 1978). Orangutan terutama hidup di dataran rendah, dan kepadatan tertinggi terdapat diantara ketinggian permukaan laut sampai sekitar 200-400 m (Payne 1988 ; van Schailk dan Azwar 1991). Namun di Sumatera, orangutan kadang ditemukan di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 1500 m (Gambar 2).

(26)
(27)

Berdasarkan tinjauan pustaka yang tersedia, dan dari data survei orangutan dari berbagai lokasi di Sumatera dan Kalimantan, orangutan diketahui lebih umum terdapat di dekat sungai-sungai kecil atau besar dan di dekat rawa-rawa: kepadatan tertinggi terdapat di petak-petak hutan (alluvial) kecil di lembah-lembah sungai, dan di hutan-hutan gambut (pasang surut) di dekat rawa-rawa, atau di antara sungai-sungai. Kecil sekali kemungkinan seseorang dapat menjumpai orangutan pada jarak yang lebih jauh dari 10-15 km dari anak sungai atau rawa yang perairannya terbuka. Alasan utama orangutan lebih menyukai lingkungan ini hampir pasti karena di dekat sungai lebih banyak pohon buah yang disukai, tetapi mungkin juga karena sungai-sungai besar dan kecil merupakan tanda-tanda geografis yang terbaik untuk mengetahui arah keberadaannya. Berdasarkan hasil penelitian Rijksen (1978) di Ketambe bahwa karakteristik habitat orangutan di daerah tersebut adalah tidak adanya dominasi dari satu jenis pohon atau vegetasi. Stratifikasi hutan terutama terdiri dari strata B atau C, dan pada lantai hutan terutama ditumbuhi herba.

Menurut Meijaard et al (2001), habitat yang optimal bagi orangutan paling sedikit mencakup dua tipe lahan utama yaitu tepi sungai dan dataran tinggi kering yang berdekatan. Tepi sungai mungkin berupa dataran banjir, rawa atau lemah alluvial, dataran tinggi biasanya adalah kaki bukit. Kedua tipe habitat ini tentunya harus cukup luas, dan dalam jarak yang dapat dijangkau, yaitu kurang dari 5 km. Habitat orangutan yang baik biasanya berupa mosaik petak-petak hutan kecil dengan tingkat tumbuhan berkayu yang berbeda, beberapa diantaranya mempunyai kerapatan jenis pohon buah yang sangat tinggi ( > 20 % dari semua pohon).

(28)
(29)

D. Perilaku Orangutan 1. Aktifitas Harian

Orangutan merupakan satwa arboreal. Di pohon pergerakkannya dilakukan dengan bergantungan dari satu dahan ke dahan yang lain. Pada saat di dahan mereka bergerak dengan menggunakan ke empat anggota tubuhnya. Jarang sekali turun ke tanah , hanya pada saat memakan rayap, mereka sering turun ke lantai hutan. Daerah jelajah orangutan sumatera antara 200 – 1000 ha, dan jelajah harian berkisar antara 800 – 1200 m. Di sore hari menjelang tidur, selalu membuat sarang untuk tidur. Bagi induk yang diikuti anaknya, anaknya biasanya belajar membuat sarang sendiri dalam satu pohon dengan induknya. Namun bila malam tiba, ikut bergabung dengan induknya (Supriatna, 2000).

Aktifitas harian orangutan dipengaruh oleh musim buah. Pada saat tidak musim buah, orangutan menghabiskan waktunya untuk berjalan dan waktu untuk makan hanya sedikit (Mackkinnon, 1974 dalam Rijksen 1978). MacKinnon juga menemukan perbedaan pola aktifitas harian orangutan sumatera pada saat hari kering dan hari basah. Pada saat hari kering waktunya lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat daripada aktifitas makan dan berjalan. Pada saat hari kering orangutan menghabiskan waktunya untuk istirahat sampai tengah hari.

Lebih dari 47 % aktivitas harian orangutan adalah makan, 40 % untuk istirahat, 12 % untuk aktivitas menjelajah dan sisanya untuk aktivitas sosial dan kegiatan lainnya. Segera setelah mereka meninggalkan sarang tidur, dini hari, orangutan bergerak menuju pohon pakan terdekat. Dalam sehari orangutan menjelajah 0,5 – 2 km. Dalam melakukan pergerakan orangutan menggunakan keempat anggota badannya. Kakinya mampu berfungsi sebagai tangan, terutama ketika melakukan gerakan quadrumanous scrambling, branchiate. Bentuk pergerakan orangutan dibedakan atas quadrumanous scrambling, branchiate, quadrupedal/walking tree sway dan climbing (Rijksen, 1978)

Bentuk quadrumanous scrambling menempati 50 % dari waktu jelajahnya. Orangutan hampir tidak pernah turun ke tanah. Mereka menggunakan lapisan antara 15 – 25 m di atas tanah (hampir 70 % dari waktunya), 20 % dari waktunya menggunakan lapisan 25 m keatas dan kurang 10 % dibawah ketinggian 15 m. Sistim komunikasi orangutan berlangsung dengan menggunakan suara (vocal

(30)

communication) dan pergerakan atau perbuatan (attractive communication). Dengan kehadiran manusia, orangutan banyak membuat bunyi dan reaksi lain, seperti bunyi kecupan “ kiss hot “ dan “ kiss squeak “, merengut dengan wajah menyelidik, menjerit, menggoncang-goncangkan serta banyak mematahkan dahan – dahan dan melemparkannya ke arah manusia. Reaksi ini terjadi juga bila ada gangguan dari makhluk lain selain manusia. (Djojosudharmo, 1978 dan Sinaga, 1992 dalam Pardede 2000)

Orangutan liar minimal sekali dalam sehari membuat sarang untuk tidur. Orangutan selalu menempatkan sarang di pinggir sungai pada ketinggian 20 – 40 m di atas tanah. Beberapa jenis pohon tempat tidur orangutan antara lain damar laut (Shorea materialis), kayu kuning (Eugenia sp), kayu merah (Eugenia sp), keranji (Dialium platysepalum), semantok (Shorea multiflora), baja barus (Rhodamnia sp ), kecing batu (Quercus spicata) dan ponggas (Mangifera sp ).

Pada umumnya pola aktifitas harian orangutan sumatera dibedakan menjadi dua. Aktifitas di pagi hari, dua jam sampai tiga jam setelah orangutan meninggalkan sarang tempat tidurnya dan aktifitas sore hari sekitar pukul tiga sore. Aktifitas makan lebih banyak dilakukan di pagi hari, aktifitas berjalan lebih banyak dilakukan pada sore hari dan aktifitas beristirahat lebih banyak dihabiskan pada tengah hari (Rijksen 1978). Dari ketiga aktifitas harian ini, aktifitas yang paling mendominasi adalah aktifitas makan 45,9 %, sedangkan aktifitas istirahat sebesar 39,2 % (Rodman ,1977 dalam Maple, 1980 dalam Sujarno, 2000).

2. Perilaku Makan

Aktifitas makan ialah waktu yang dipakai seekor orangutan untuk menggapai, mengolah, mengekstraksi, memegang-megang, mengunyah dan menelan makanan pada satu sumber makanan. Dalam hal memakan rayap, waktu ini meliputi saat-saat seekor orangutan menggali tanah dengan merobek-robek bagian luarnya. Pergerakan di dalam sumber makanan juga dihitung. Pakan orangutan sumatera sangat bervariasi. Mereka memakan berbagai bagian dari tumbuhan , seperti daun muda, bunga, buah dan biji, kambium dan beberapa tumbuhan dihisap getahnya. Selain itu orangutan sumatera juga mengkonsumsi beberapa jenis serangga atau telur burung. Orangutan sumatera memakan lebih dari 200 jenis tumbuhan yang berbeda (Supriatna , 2000).

(31)

Makanan pokok orangutan adalah buah. Berdasarkan data yang ada, komposisi persentase waktu makan dan jenis makanan orangutan adalah buah (60 %), daun (25 %), kulit batang (15 %), serangga (10 %) dan lain-lain (2 %). Orangutan sangat menyukai madu. Untuk melindungi mukanya dari serangan lebah orangutan mengambil ranting berdaun untuk menutup mukanya. Kesimpulannya, orangutan adalah satwa tipe pengumpul atau pencari makanan yang oportunis yaitu memakan apa saja yang dapat diperolehnya. Dari hasil penelitian di wilayah Ketambe, orangutan sumatera memakan 92 macam buah, 13 macam daun, 22 macam tanaman contohnya anggrek, 2 jenis akar tanaman dan 2 jenis jamur epifit serta 17 jenis serangga dan telur burung. Di dalam melakukan aktivitas makannya, orangutan umumnya memilih jenis pakan yang paling disukainya. Pada saat musim buah, orangutan dapat dengan leluasa memilih pakan yang disukainya. Tetapi pada saat tidak musim buah orangutan memakan apa saja yang dijumpainya (Meijaard et al., 2001).

3. Perilaku Bersarang

Orangutan membangun paling tidak satu sarang perhari untuk beristirahat dan tidur di malam hari (Maple, 1980 dalam Sujarno 2000), atau 1,8 sarang per hari berdasarkan perhitungan Rijksen (1978) dengan sebaran 0-6. Umur satwa juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perilaku bersarang. Rijksen (1978) mengemukakan bahwa orangutan muda cenderung membangun sarang dalam jumlah banyak atau bermain sarang setiap hari. Di samping itu sarang juga berfungsi sebagai tempat untuk kawin, melahirkan anak, mengasuh anak sampai siap disapih (Galdikas, 1984 dalam Sujarno, 2000).

Dalam membangun sarangnya, orangutan memilih tempat yang menguntungkan dengan mempertimbangkan letak pohon berbuah terdekat dan topografi daerah sehingga tempat bersarang terdistribusi secara acak. Orangutan mencari lokasi bersarang pada tempat-tempat yang dikenalinya, baik untuk digunakan sendiri maupun untuk bersama-sama, dengan mempertimbangkan hubungan antara posisi sarang dan keuntungan yang diperoleh (Mackkinnon, 1974). Umumnya orangutan membangun sarang pada tempat-tempat yang dapat memberikan pandangan lebih luas ke sebagian besar areal hutan (Rijksen, 1978).

(32)

Menurut Mackkinnon (1974), konsentrasi sarang terutama berada pada punggung bukit sebelah barat. Posisi ini dipilih untuk menghindari panas matahari, sebagai pelindung dari angin malam, dan memperluas jangkauan pandangan. Faktor penentu lainnya adalah keberadaan sarang-sarang orangutan lainnya (Rijksen, 1978). Tinggi sarang bergantung pada struktur hutan pada tempat tertentu, dan umumnya berkisar antara 13-15 meter (Rijksen, 1978)

Kegiatan pembuatan sarang membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 menit. Tahapan dalam pembuatan sarang diterangkan oleh Rijksen (1978) dalam sebagai berikut :

a. Rimming (Melingkarkan). Dahan dilekukkan secara horizontal untuk membentuk lingkaran sarang dan ditahan dengan cara melekukkan dahan lain.

b. Hanging (Menggantung). Dahan dilekukkan masuk ke dalam sarang untuk membentuk mangkuk sarang

c. Pillaring (Menopang). Dahan dilekukkan ke bawah sarang untuk menopang lingkaran sarang dan memberikan kekuatan ekstra.

d. Loose (Melepaskan). Beberapa dahan diputuskan dari pohon dan diletakkan ke dalam dasar sarang sebagai alas atau di atas sarang sebagai atap. Patahan dahan diperoleh dari vegetasi yang ada disekitarnya, bahkan sampai 15 meter jaraknya dari tempat bersarang.

Lama bertahan (relative permanent) sarang bervariasi, paling tidak berdasarkan variabel – variabel yang dikemukakan oleh Rijksen (1978) yaitu teknik konstruksi, berat dan ukuran orangutan, suasana hati (mood) saat membangun sarang, lokasi dan karakteristik pohon, cuaca, kemungkinan dihancurkan oleh orangutan atau kera lain saat mencari serangga. Sarang orangutan tetap terlihat 2,5 bulan dengan variasi antara dua minggu sampai satu tahun (Rijksen, 1978). Orangutan berada di sarang untuk tidur di malam hari antara jam 18.00 – 19.00 dan meninggalkan sarang pada pukul 05.45 (Michael dan Crook, 1973 dalam Sujarno 2000). Orangutan cenderung akan tidur lebih awal pada cuaca yang buruk (Mackkinnon, 1974).

(33)

E. Sistim Pemeliharaan

Untuk memelihara satwa primata tidak semudah memelihara satwa lainnya. Satwa ini memerlukan penanganan yang khusus karena satwa ini mudah menularkan penyakitnya kepada manusia dan timbal balik, manusia menularkan penyakitnya kepada orangutan. Pada dasarnya sistim pengandangan primata dibagi atas dua bagian (Bismark,1984) yakni :

1. Sistem pengandangan dalam bangunan yang tertutup (indoor enclosures). Pada sistem ini, satwa ditempatkan dalam bangunan yang tertutup, sehingga sama sekali tidak terpengaruh cuaca dan lingkungan luar. Udara yang disedot masuk dan keluar ruangan harus menggunakan sistem tertentu, dengan demikian dapat membatasi bibit penyakit yang akan membahayakan hewan dan manusia. Sistim tertutup ini diperlengkapi dengan air-conditioning dan heater untuk menjaga agar temperatur tidak berfluktuasi terlalu banyak . Selain itu ruangan dilengkapi dengan alat pengatur kelembaban udara. Kelembaban udara yang dianjurkan adalah 40 – 70 % dengan fluktuasi seminim mungkin. Temperatur dan kelembaban udara yang tidak terlalu besar fluktuasinya sangat diperlukan untuk memperkecil terjadinya penyakit pernafasan dan pencernaan yang disebabkan stres.

Sistim tertutup ini biasanya digunakan untuk mengkarantinakan satwa primata dan juga dalam berbagai macam riset yang mensyaratkan satwa tersebut dikandangkan secara individual atau berkelompok, dimana tidak terdapat kemungkinan kontaminasi dari luar atau sebaliknya satwa menularkan penyakit ke luar. Sistim tertutup ini dibagi atas dua bagian :

a. Sistim kandang satu persatu (individual cage)

Pada sisitim ini satwa dikandangkan satu persatu. Ukuran kandang yang dipergunakan disesuaikan dengan berat badan satwa.

b. Sistim kelompok (gang cage)

Dalam sistim ini, satwa ditempatkan dalam satu kandang yang cukup besar dan dapat menampung cukup satwa. Sistim ini sudah tidak dipakai lagi untuk satwa yang belum lepas karantina. Pada umumnya sistim ini sekarang dipakai untuk percobaan reproduksi, uji obat atau tingkah laku.

(34)

2. Sistim pengandangan dalam alam terbuka (outdoor enclosures)

Tujuan sistim pengandangan ini ialah agar satwa ditempatkan pada satu bangunan/kandang di udara terbuka. Sistim ini biasanya dipakai untuk mengembangbiakkan satwa tersebut. Secara lebih terperinci sistim ini dibagi atas lima bagian, yaitu

a. Sistim setengah tertutup (semi closed)

Satwa ditempatkan dalam satu kandang yang setengah terbuka. Udara dapat keluar masuk dengan bebas. Sinar mataharipun dapat masuk ke dalam ruangan ini. Apabila cuaca buruk maka satwa dapat berlindung pada bagian yang tertutup. b. Sistim terbuka dengan disediakan tempat berteduh (Open corral with

rainshed)

Pada sistem ini, satwa ditempatkan dalam suatu daerah yang luas (minimum 2,5 acre) tanpa adanya penghalang yang permanen. Di dalam kandang hanya dibuatkan beberapa panggung dan tonggak kayu untuk satwa berlindung dari hujan, terik matahari dan untuk bermain-main.

c. Sistim terbuka setengah bebas (semi free ranging)

Pada prinsipnya sama dengan sistim terbuka tetapi arealnya lebih luas. Makanan sepenuhnya tergantung pada manusia.

d. Sistim terbuka setengah alam (semi natural free ranging)

Pada sistim ini satwa ditempatkan pada daerah yang luas dimana makanan dari satwa sebagian didapat dari alam.

e. Sistim pemeliharaan di alam bebas ( natural free ranging )

Pada sistim ini satwa dilepaskan di alam bebas dimana ketergantungan satwa pada manusia sama sekali tidak ada. Seluruh makanan berasal dari alam bebas. Manusia hanya memonitor pertumbuhan populasi tersebut dan akan mengurangi jumlahnya apabila populasinya dianggap sudah terlalu padat.

F. Konservasi Orangutan

Perusakan habitat dan perburuan liar merupakan ancaman serius bagi kelestarian orangutan di habitat aslinya. Gatra (Mei 2004) menyebutkan seorang pedagang satwa illegal di Semarang mampu mendatangkan setiap bulannya 20 ekor orangutan. Ini menunjukkan bagaimana terancamnya kehidupan orangutan.

(35)

Ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies ini diakui ditingkat nasional dan internasional. Di Sumatera, masalah konservasi orangutan adalah penyebarannya yang sangat terbatas dan populasinya yang menurun dengan cepat dikarenakan habitatnya banyak yang dirusak. Habitat yang hilang bagi orangutan lebih dari 64 % atau dari 89.000 km2 menjadi 23.000 km2. Jumlah populasi saat ini diperkirakan anatara 3000 – 5000 ekor saja (Supriatna, 2000). Taman Nasional Gunung Leuser merupakan kawasan lindung yang menjadi habitat utama orangutan sumatera. Semenjak tahun 1931, orangutan sudah dilindungi undang-undang, berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar 1931 No. 233 dan kemudian terbit SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No. 301/Kpts – II/1991 dan Undang – undang No. 5 tahun 1990. IUCN memasukkan status orangutan sebagai Endangered Species atau jenis dalam keadaan genting dan Konvensi Perdagangan Internasional bagi Spesies Langka (CITES) telah melarang perdagangan orangutan dan memasukkan spesies ini de dalam daftar Appendix I pada tahun 1975.

Dalam upaya penyelamatan orangutan semenjak tahun 1960 – an telah dilakukan rehabilitasi program orangutan dengan tujuan utama untuk penambahan (restocking) populasi serta meningkatkan kualitas hidup orangutan. Rehabilitasi dilakukan di daerah sebaran orangutan kalimantan, yaitu Bako (Sarawak Selatan), Sepilok (Sabah) dan Tanjung Puting (Kalteng, Indonesia). Pada tahun 1970 – an di Sumatera ditetapkan Stasiun Ketambe dan Bahorok. Semenjak tahun 1980 – an di Sumatera telah diupayakan pengembalian ke alam sebanyak 180 individu, sementara upaya serupa di Tanjung Puting melibatkan 70 ekor (Primack et al., 1998)). Saat ini, di Sumatera Utara sedang dilaksanakan kampanye penyelamatan orangutan Sumatra yang dilakukan oleh LSM yang peduli dengan kelangsungan hidup orangutan Sumatera bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA). Upaya yang dilakukan ialah penyitaan orangutan yang dipelihara oleh masyarakat. Orangutan yang disita tersebut ditempatkan dan dirawat di dalam karantina yang berlokasi di desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Propinsi Sumatera Utara. Di karantina ini orangutan dirawat sekitar 3 – 4 bulan sebelum dilepas ke habitat alaminya yang terletak di daerah Jambi Dalam pelaksanaannya, orangutan di rehabilitasi dengan prosedur

(36)

berikut. Ketika tiba di lokasi pelepasan, satwa dimasukkan ke dalam kandang karantina dan dilakukan perawatan kesehatan. Kemudian orangutan dilepas agar memperoleh kesempatan belajar mencari pakan secara mandiri, dan belajar bersosialisasi secara alami. Walaupun pada awalnya disediakan pakan di lokasi rehabilitasi namun bagi individu – individu yang telah menunjukkan kemajuan, penyediaan pakan oleh manusia akan dikurangi secara bertahap (Primack et al., 1998)

Pada saat ini program rehabilitasi menghadapi berbagai kendala. Termasuk di dalamnya resiko penularan penyakit (dari satwa yang dilepas ke populasi alami) dan karena manusia telah sering berinteraksi dengan satwa peliharaan, maka terdapat pula resiko penularan penyakit manusia melalui satwa peliharaan ke populasi alami. Selain itu, biaya rehabilitasi orangutan sangat tinggi dan bila prosedur yang disarankan para ahli akan diterapkan secara memadai pada tahun 1991, maka diperkirakan biaya rehabilitasi orangutan mencapai $ 1.200 AS per satwa untuk upaya 6 bulan. Kendala yang paling berat adalah tingkat keberhasilan pelepasan tidak diketahui (Sugardjito dan Edi Hendras dalam Primack et al., 1998). Data yang ada dari Kalimantan menunjukkan bahwa satwa lepasan mengalami tingkat mortalitas yang tinggi setelah pelepasan, baik orangutan tersebut dari generasi pertama (satwa yang lahir di alam namun sempat dipelihara oleh manusia), maupun generasi kedua (satwa yang lahir di pusat – pusat rehabilitasi). Tingkat mortalitas yang tinggi ini disebabkan oleh penularan penyakit (dari satwa yang dilepas ke populasi alami) dan karena manusia telah sering berinteraksi dengan satwa peliharaan, maka terdapat pula resiko penularan penyakit manusia melalui satwa peliharaan ke populasi alami (Carrey Yeager dalam Primack et al., 1998 ). Selain upaya rehabilitasi, upaya penegakan hukum yang tegas dan konsisten juga perlu dilaksanakan dalam rangka penyelamatan orangutan.

G. Translokasi : Introduksi dan Reintroduksi

Translokasi adalah pemindahan sekelompok atau seluruh populasi dari satu tempat ke tempat lain yang lebih pantas dan cocok. Translokasi merupakan “ teknik manajemen kehidupan l iar “ dan m enjadi sesuatu yang mungkin dan penting untuk melaksanakan konservasi populasi primata yang habitatnya sudah

(37)

rusak dan terbatas sebagai akibat dari aktivitas manusia (cf. Strum and Southwick, 1986 dalam Bennett et al., 1995 ).Translokasi dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu : (1) introduksi ke dalam areal – areal di luar penyebaran historis dari spesiesnya, dan (2) introduksi kembali (reintroduksi) di dalam selang waktu penyebaran spesiesnya, baik sebagai introduksi – introduksi kembali ke areal – areal dimana spesies itu telah mati, atau translokasi – translokasi untuk meningkatkan populasi yang jumlahnya menurun.

Kegiatan translokasi harus mempertimbangkan tiga keadaan pokok : pertama, jika perkembangan penggunaan lahan akan menghancurkan habitat satwaliar dan translokasi dilihat sebagai suatu cara yang paling layak untuk mencegah penurunan populasi ataupun kehilangan spesies satwaliar yang berharga ; kedua, jika suatu populasi liar tidak mampu untuk hidup dengan baik dan pengelola ingin meningkatkan jumlahnya, dan ketiga, jika pengelola memutuskan untuk memecah suatu populasi dengan tujuan untuk mengurangi resiko kehilangan seluruh populasinya. Strum dan Southwick (1986) dalam Bennett et al., 1995 mengindentifikasi faktor – faktor penting untuk menentukan keberhasilan translokasi yaitu : (1) komposisi dan struktur alami kawasan, (2) karakteristik tempat/lokasi pelepasan, dan (3) prosedur khusus meliputi dalam proses penangkapan, transportasi, pelepasan dan pemantauan/pengawasan. Dengan rekomendasi : (1) translokasi harus mencakup keseluruhan unit sosial yang lengkap, (2) translokasi dilakukan pada satwa yang populasinya semakin dan terus berkurang, dan (3) keberhasilan translokasi sebaiknya dievaluasi dengan menggunakan spesies primata yang populasinya masih banyak. Permasalahan yang sering dialami dalam pelaksanaan proses translokasi adalah mengindentifikasi tempat yang sesuai bagi satwa yang akan diintroduksi.

Reintroduksi adalah merupakan rehabilitasi modern, karena metoda awal rehabilitasi yang dipakai selama ini lebih menambah resiko laten kepunahan daripada mendukung konservasi jenis. Tindakan reintroduksi ini tidak sekedar melepaskan kembali beberapa individu orangutan ke kondisi liar, tetapi juga menyiapkan orangutan yang disita agar menjadi jenis feral (liar), orangutan akan menghuni kawasan hutan habitat yang sesuai dimana orangutan liar tidak ada. Artinya, reintroduksi ini akan memanfaatkan jenis utama yang menarik untuk

(38)

meningkatkan konservasi kawasan hutan basah terpilih secara efektif ( Meijaard et al., 2001 ). Meijaard et al., 2001 mengungkapkan mengenai prinsip – prinsip pelaksanaan reintroduksi, yaitu :

1. Orangutan harus diperiksa secara profesional dalam hal penyakit – penyakit menular, diobati dan dikarantina sepenuhnya sebelum dipertimbangkan untuk direintroduksi. Orangutan berada dikarantina tidak lebih dari enam bulan untuk direhabilitasi, termasuk sosialisasi setelah karantina selesai.

2. Karantina dipisahkan dari reintroduksi (dan sosialisasi).

3. Reintroduksi orangutan bekas tangkapan dilakukan di kawasan dimana jenis orangutan liar lainnya tidak ada lagi ; yang meliputi periode sosialisasi dalam kondisi feral ;

4. Reintroduksi dilakukan di kawasan hutan yang telah diteliti dengan cermat kelestarian habitatnya.

5. Beberapa spesimen dipelihara bersama sebagai sebuah kelompok hingga 20 individu dan kemudian dilepaskan ke dalam kondisi liar ;

6. Seluruh kelompok dibiarkan di lokasi dimana kelompok ini direintroduksi, yaitu, lokasi reintroduksi itu sendiri dibiarkan dan karena banyak orangutan baru maka lokasi baru akan didirikan di lokasi lain ;

7. Kehadiran pengunjung tidak diijinkan pada tahap apa pun sebelum orangutan mampu mandiri sepenuhnya dan berhasil hidup di kawasan liar.

8. Staf penjaga untuk menyediakan dan memantau harus terbukti bebas dari penyakit menular dan melakukan tugasnya berdasarkan kerangka acuan tugas yang ketat dalam hal kontak dekat dengan orangutan dan perilakunya terhadap kelompok umur orangutan yang berbeda.

9. Proses reintroduksi dievaluasi secara teratur oleh suatu badan yang mandiri.

G. Karantina Primata

Setiap satwa primata yang hendak dipakai sebagai model satwa untuk tujuan penelitian harus melalui karantina terlebih dahulu. Setiap satwa yang akan dimasukkan ke dalam karantina dapat dibagi dalam dua tahap kegiatan, yaitu : persiapan ruangan, dan penerimaan satwa (Whitney et al., 1973 dan Sajuthi 1984 dalam Mangapul 1988).

(39)

1. Persiapan ruangan

Semua kandang dan peralatan yang dapat dilepas dikeluarkan dari ruangan. Seluruh bagian ruangan (dinding – dinding , langit – langit, lantai) , dan rak – rak kandang dibersihkan dengan alat semprot bertekanan tinggi. Cairan yang digunakan merupakan kombinasi antara detergen dengan sanitizer Misalnya Synthetic phenolic desinfectans. Setelah itu ruangan tersebut disiram dengan air hangat. Kadang – kadang dapat dibersihkan dengan pembersih yang bertekanan tinggi atau dengan pembersih uap. Setelah itu ruangan disemprot dengan memakai detergen – phenolic desinfectans selama 10 menit atau lebih, yang tergantung pada ukuran ruangan. Setelah penyemprotan maka seluruh permukaan ruangan akan dilapisi oleh residu cairan tersebut.

2. Penerimaan primata

Setelah primata tiba di lokasi karantina, dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan. Pertama – tama dilakukan pembiusan terhadap primata dengan cara penyuntikan, kemudian dilakukan pemeriksaan, meliputi : jenis kelamin, umur satwa, berat badan, kondisi fisik untuk mengetahui apakah ada tulang yang patah, nutrisi dari primata, kebuntingan, luka – luka, abnormalitas anggota tubuh dan ektoparasit, secara fisiologis dilakukan pemeriksaan terhadap bakteri dan parasit, dengan pengujian tinja dan darah. Untuk membunuh ektoparasit, satwa dapat dimandikan dengan larutan iodium atau dibedaki zat yang dapat membunuh parasit.

Karantina bagi orangutan memiliki tujuan untuk melindungi orangutan dari masuknya berbagai jenis penyakit, untuk melindungi pengelola dari masuknya berbagi jenis penyakit (agents zoonotic), meminimalisasi penyebaran penyakit diantara satwa di dalam karantina, dan mengoptimalisasi kesehatan dan kondisi orangutan. Orangutan yang baru datang masuk ke karantina akan diberi perlakuan aklimatisasi yaitu perlakuan agar orangutan bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Selanjutnya dilakukan general check up atau pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kondisi orangutan tersebut, yaitu dengan cara dibius, dan disaat orangutan tidak sadar dilakukan :

a. dimandikan sampai bersih atau hanya di lap saja. b. penimbangan.

(40)

c. pengidentifikasian umur.

d. pemeriksaan apakah terdapat cacat atau luka. e. pengambilan sample darah dan tinja.

f. pemeriksaan kulit untuk melihat ektoparasit, apakah ada kutu atau tidak g. untuk individu betina diperiksa apakah sedang bunting, baru melahirkan atau

sedang laktasi.

Langkah selanjutnya dilakukan beberapa pemberian obat dan test terhadap penyakit, yaitu

a. pemberian obat untuk membunuh cacing b. diberikan obat untuk menambah zat besi c. diberi antibiotik dalam takaran propilaksis d. dilakukan test tuberculosa

Langkah berikutnya adalah pemberian identitas dengan membuat tato dibagian paha. Kemudian orangutan dimasukkan ke dalam kandang individu untuk dilakukan pemeriksaan harian yang rutin dengan tanpa ada kontak dengan individu lain untuk memastikan bahwa individu tersebut memang sudah bersih dari segala macam penyakit. Bagi individu yang belum terlampau lama dipelihara di rumah atau masih setengah liar, maka tindakan rehabilitasi untuk reintroduksi sebaiknya segera dilakukan , karena jika sudah terlalu tergantung dengan campur tangan manusia maka akan sangat sulit mengembalikannya ke hutan. Pada level ini terjadi kontrol biologi yang menyeluruh, dan lamanya pemeliharaan dalam karantina biasanya 90 hari.

H. Pengangkutan Primata

Salah satu sektor yang cukup penting dalam pengangkutan satwa primata adalah sistim pengangkutan dari karantina ke lokasi reintroduksi. Komponen – komponen dalam pengangkutan primata yaitu :

1. Primata

Primata sebagai makhluk hidup, dalam pengangkutannya membutuhkan perlakuan – perlakuan khusus misalnya keadaan kandang, makanan dan minuman serta perawatan kesehatan selama perjalanan.

(41)

2. Sarana

Pertimbangan dalam penggunaan suatu jenis sarana adalah ketersediaan sarana dan biaya. Sarana disini meliputi alat angkut, kandang untuk mengangkut dan peraturan – peraturan yang menyangkut sistem pengangkutan satwa. Kandang untuk mengangkut satwa dapat dibuat dari kayu, besi/baja. Dalam membuat kandang, ada beberapa ketentuan yang harus dilengkapi dalam pembuatannya, yaitu kandang harus mempunyai ventilasi udara, yang dapat dibuat dari bahan kawat mesh dengan ukuran 1,25 cm. Ventilasi udara dimaksud agar udara yang masuk de dalam kandang dapat menjaga keseimbangan suhu dan kelembaban di dalam kandang, disamping dapat membantu satwa untuk melihat satu dengan yang lainnya, juga ventilasi ini dapat dipakai sebagai lubang untuk memasukkan minuman tambahan selama diperjalanan, selain ventilasi udara, juga dilengkapi dengan tempat makan dan minum (Farris, 1950 dalam Mangapul 1988).

Kandang yang hendak dipakai untuk mengangkut primata, mempunyai beberapa kriteria (Anonimus, 1987 dalam Mangapul 1988) yaitu :

a. Kandang bagian depan harus mempunyai ventilasi udara. Pintu masuk ke kandang dapat ditarik ke atas sehingga dapat melebihi tinggi kandang. Pintu harus cukup aman sehingga tidak mudah untuk dibongkar oleh satwa. Perlengkapan untuk makan dan minum harus selalu ditempatkan pada tempat yang cukup tinggi untuk mencegah primata bergantung pada perlengkapan tersebut.

b. Tempat menampung kotoran primata harus tersedia. Alas kandang harus terbuat dari kawat mesh, sehingga kotoran atau urine yang jatuh dapat langsung ditampung pada tempat yang telah disediakan dibagian paling bawah kandang. Tempat penampungan kotoran sebaiknya mudah diambil dan dimasukkan kembali pada tempatnya semula. Pada tempat penampungan kotoran dan urine ini diberi bahan penyerap misalnya serbuk kayu gergajian yang disebarkan di atas tempat tersebut.

c. Untuk memasukkan makanan dan minuman harus dibuat lubang yang khusus, misalnya pada bagian alas atas atau juga dapat melalui lubang yang khusus, sehingga satwa tidak akan terganggu atau lolos.

(42)

d. Bagian yang berventilasi ditutup dengan karung goni yang mudah dibuka bila akan memasukkan makanan, dan garung goni ini dapat ditembus oleh udara. 3. Perawatan selama pengangkutan

Perawatan selama pengangkutan meliputi makanan, minuman, kebersihan kandang, perlindungan dari terik matahari, angin dan hujan. Perawatan ini dimulai dari awal pengangkutan sampai tujuan akhir pengangkutan.

Setiap satwa yang akan diangkut dari suatu daerah ke daerah lain harus dilengkapi dengan surat – surat dokumentasi tentang kesehatan satwa, disamping surat ijin pengangkut. Yang sangat perlu diperhatikan dalam proses pengangkutan primata adalah keselamatan pengangkutan, karena sering terjadi kematian pada satwa ketika sampai di tujuan akhir pengangkutan (Hutagalung, 1981 dalam Mangapul 1988).

(43)

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Stasiun Karantina Orangutan Sumatera 1. Kondisi Fisik

1.1 Letak dan Luas

Stasiun Karantina Orangutan Sumatera terletak di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Alasan pemilihan lokasi ini dikarenakan daerah ini merupakan hutan alam asli yang dianggap paling baik bagi orangutan dan mudah dicapai dari arah kota Medan. Secara administratif pemerintahan Stasiun Karantina Orangutan Sumatera terletak di Desa Batumbelin Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara. Stasiun karantina ini berada dibawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) I Sumatera Utara. Stasiun Karantina Orangutan Sumatera ini memiliki luas 2 ha. 1.2 Aksesibilitas dan Fasilitas Karantina

Stasiun Karantina Orangutan Sumatera terletak ± 35 km dari kota Medan ke arah Brastagi dan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat dalam waktu ± 1 jam. Stasiun ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk mendukung proses karantina orangutan sebelum dilepaskan ke habitat aslinya. Fasilitas – fasilitas tersebut antara lain : klinik orangutan, kandang isolasi, kandang sosialisasi, gudang penyimpanan buah, ruang generator, tempat pengolahan limbah, septic tank dan kantin.

1.3 Kondisi Iklim

Berdasarkan penggolongan iklim Schmidt dan Ferguson, curah hujan di lokasi kawasan TWA Sibolangit termasuk ke dalam tipe iklim A. Curah hujan rata – rata pertahun adalah 3.000 – 4.000 mm/tahun dengan hari hujan rata – rata 170 hari. Suhu udara maksimum pada siang hari berkisar 22oC – 25oC dan suhu minimum pada malam hari berkisar antara berkisar 13oC – 14oC (Anonymous, 2001).

(44)

1.4 Topografi Lapangan

Stasiun Karantina Orangutan Sumatera yang berada di kawasan TWA Sibolangit terletak pada ketinggian 500 m dpl. Tanah di kawasan ini termasuk jenis andosol dan asosiasi andosol dengan podsolik merah kuning yang tertutup oleh humus tebal sehingga memudahkan air untuk meresap kedalamnya dan menyimpannya sampai titik jenuh daya serap yang kemudian dialirkan ke daerah yang lebih rendah secara gaya tarik bumi. Bahan induk ini berasal dari letusan gunung berapi berupa tuff intermedier.

Ketebalan podsoil rata – rata kawasan ini adalah 30 cm dengan kondisi topografi kawasan bervariasi dengan kemiringan lahan antara 5 % - 10 % dengan bentuk topografi datar, bergelombang sampai curam dan berbukit – bukit. Kondisi topografi ini menyebabkan kawasan ini memiliki tingkat kestabilan tanah yang sangat rentan terhadap longsor.

2. Kondisi Biotik 2.1 Flora

Tumbuhan yang tumbuh di kawasan ini merupakan flora campuran, sebagian merupakan jenis asli dan sebagian dari daerah lain sebagai hasil penanaman oleh Tn. Lorzing. Diperkirakan terdapat sekitar 400 jenis tumbuhan yang keberadaannya belum terindentifikasi seluruhnya, baik dari jenis asli maupun hasil penanaman Tn. J.A. Lorzing (Departemen Kehutanan dan Perkebunan Sumatera Utara, 2001)

Tanaman yang bukan asli daerah ini misalnya Sonokembang (Dalbergia latifolia ), Angsana (Pterocarpus indicus) dan Kelenjar (Samanea

saman Merr). Jenis tanaman asli dari catatan Tn. Lorzing (antara tahun 1914 – 1924 ) meliputi Meranti (Shorea sp.), 30 spesies ficus, 20 jenis Kecing (Quercus sp.), Kenanga (Cananga odorata), Kulit manis (Cinnamomum burmanii), Manggis (Garcinia mangostana) dan Nangka (Arthocarpus sp.)(Departemen Kehutanan dan Perkebunan Sumatera Utara, 2001).

Disamping itu terdapat pula tumbuhan yang merambat seperti Philodendron sp. Adanya tumbuhan ini dikarenakan jumlah curah hujan yang cukup tinggi. Di kawasan ini juga ditemui adanya berbagai jenis tanaman obat – obatan dan

(45)

tanaman hias yang potensial. Data terahir tahun 2000 menunjukkan ada terdapat ± 89 jenis famili dari 44 famili tanaman obat – obatan dan 55 jenis dari 22 famili tanaman hias.

Daya tarik flora yang menonjol di kawasan ini adalah bunga bangkai (Amorphophallus titanium Becc) yang merupakan famili Araceae. Bunga bangkai ini memiliki keindahan pertumbuhan dan memiliki ukuran yang tinggi dan besar. Bunga bangkai ini sering juga disebut dengan suweg raksasa. Bunga ini diamati tumbuh pertama kali pada tahun 1989 dengan ketinggian 150 cm, yang selanjutnya pada tahun 1995 dengan ketinggian 210 cm, dan pada akhir bulan Maret tahun 2003 tumbuh dengan ketinggian 176 cm.

2.2 Fauna

Jenis Fauna yang sering terlihat di kawasan ini ialah Monyet ekor panjang (Macaca fasicularis), Lutung (Trachypithecus cristata), Babi hutan (Sus sucrofa) dan Kalong (Pteropus vampyrus), sedangkan jenis burung diantaranya adalah Rangkong ( famili Bucerotidae ). Jenis – jenis reptile yang hidup di kawasan ini diantaranya Ular piton (Phyton reticulatus), Kadal (Mabuya multifasciatus), Biawak (Varanus salvator) dan Trenggiling (Manis javanica)

B. Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera 1. Kondisi Fisik

1.1 Letak dan Luas

Lokasi Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera (Gambar 3), terletak di zona penyangga (buffer zone) Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) yang merupakan bekas bagian areal konsesi PT. Dalek Hutani Esa (Eks – HPH) Propinsi Jambi. Saat ini, ada rencana perluasan kawasan Taman Nasional sehingga nantinya kawasan ini akan tercakup di dalam kawasan Taman Nasional.

Secara administratif, Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera ini terletak di dusun Semerantihan, desa Suo – Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Muara Tebo Propinsi Jambi. Luas areal Stasiun Reintroduksi orangutan ini adalah 2 ha dan berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

(46)

Gambar 3. Peta lokasi reintroduksi orangutan sumatera di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (Frankfurt Zoological Society, 2002).

(47)

1.2 Aksesibilitas dan Fasilitas

Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera ini terletak 245 km dari Ibukota Propinsi Jambi dan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat. Fasilitas yang terdapat di lokasi dalam rangka mendukung upaya pelestarian orangutan sumatera antara lain : kandang sosialisasi, klinik, laboratorium, gudang makanan, gedung administrasi/kantor dan base camp.

1.3 Kondisi iklim

Berdasarkan data curah hujan, hari hujan, suhu udara dan kelembababan udara (Tabel 1), maka daerah studi termasuk ke dalam type A (sangat basah). Tabel 1. Data iklim di areal studi

No Bulan C. Hujan (mm) H. Hujan (hari) Suhu Udara (oC) Kelembaban Udara (%) 1. Januari 177 12 26.0 89 2. Pebruari 269 16 25.39 84 3. Maret 251 13 26.2 85 4. April 169 12.5 26.8 85 5. Mei 149 8 26.9 84 6. Juni 105 7 26.5 83 7. Juli 122 9 26.5 82 8. Agustus 139 9 26.1 83 9. September 207 13 26.9 84 10. Oktober 193 13.25 26.3 85 11. November 302 13 26.4 86 12. Desember 361 18 25.7 87

Data sekunder : Dokumen AMDAL PT. Dalek Hutani Esa. 1.4 Topografi Lapangan

Keadaan fisiografi lahan adalah relatif datar sampai berbukit, terletak 70 – 100 m dpl, sebagian besar areal studi terdiri atas areal berhutan yang merupakan batas Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Jenis tanah didominasi oleh podsolik merah kuning yang berasal dari bahan induk batuan endapan dan batuan beku dengan fisiografi pegunungan lipatan.

(48)

Jenis tanah PMK tersebut termasuk peka terhadap erosi dengan tingkat kesuburan tergolong rendah. Laju erosi berada pada tahap sangat ringan hingga ringan. 2. Kondis Biotik

2.1 Flora

Secara makro sistem vegetasi di daerah sekitar lokasi kegiatan merupakan hutan sekunder tua. Pengkajian terhadap struktur vegetasi hutan meliputi keberadaan setiap vegetasi hutan yaitu keberadaan setiap perkembangan pohon penyusun tegakan mulai dari tingkat semai (seedling), tiang, pancang serta pohon. Dari hasil survey di lapangan dan dari informasi pekerja disekitar lokasi Camp Pusat Reintroduksi, ditemukan jenis – jenis tumbuhan untuk tingkat pohon 20 jenis, tingkat tiang 5 jenis dan tingkat semai 5 jenis (Lampiran 1).

2.2 Fauna darat

Jenis – jenis fauna darat yang ditemukan di lokasi penelitian meliputi jenis – jenis satwa liar yang hidup bebas di alam. Berdasarkan hasil pencatatan di lokasi pengamatan dan juga dari informasi penduduk setempat diperoleh sekitar 109 jenis satwa, yang terdiri dari : 32 jenis mamalia, 72 jenis aves, 3 jenis reptilia dan 2 jenis amfibia (Lampiran 2).

Dari keseluruhan satwa yang dapat diindentifikasi, diantaranya terdapat satwa – satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar yaitu SK Mentan No. 66 Kpts/Um/2/1973 dan PP No. 7 tahun 1999. Jenis – jenis satwa tersebut ialah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang madu (Helarctos malayanus), Pelanduk kancil (Tragulus javanicus), Rusa sambar (Cervus unicolor), Owa ungko (Hylobates agilis), Pelanduk napu (Tragulus napu), Rangkong (Buceros sp.) dan Beo (Gracula regiosa) (Frankfurt Zoological Society, 2002).

2.3 Biota Perairan (Nekton/Ikan)

Nekton adalah organisme air yang bisa berenang bebas di dalam air. Di lokasi penelitian dijumpai 9 jenis nekton/ikan yaitu Tapah (Wallago leeri), Seluang (Rasbora sp.), Lais (Kryptopterus limpok), Baung (Mystus memurus), Lele (Clarias batrachus), Tilam (Macrognatus keithi), Sepat siam (Trichogaster

(49)

pectoralis), Gabus (Ophiocephalus striatus) dan udang ( Frankfurt Zoological Society, 2002).

3. Sosial, Ekonomi dan Budaya Masyarakat

Untuk kajian mengenai sosial, ekonomi dan budaya masyarakat diambil dari desa Suo – Suo dan dusun Semerantihan, baik berupa data sekunder maupun data primer. Perlu diinformasikan bahwa jarak yang paling dekat dengan lokasi Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera adalah dusun Semerantihan dengan jarak ± 4 km, sedangkan jarak lokasi Stasiun Reintroduksi dengan desa Suo – Suo ± 15 km. Jumlah penduduk desa Suo – Suo adalah 1.229 jiwa yang terdiri dari 566 laki – laki dan 563 perempuan. Kepadatan penduduk 3 jiwa/km2 dengan luas wilayah 406,25 km2. Bila dilihat dari klasifikasi berdasarkan tingkat umur, 59.43 % penduduk desa Suo – Suo termasuk golongan penduduk dewasa. Ini berarti bahwa jumlah angkatan kerja yang ada mencapai lebih dari 50 %. Mayoritas penduduk beragama Islam (1.126 orang) dan hanya 3 orang yang beragama Katolik (Frankfurt Zoological Society,2002).

Mata pencaharian utama penduduk desa Suo – Suo adalah petani dengan komoditi utama adalah padi sebagai bahan makanan pokok disamping tanaman palawija seperti jagung, ubi, kacang tanah dll. Luas areal pertanian 56 ha, seluruhnya merupakan tanah pertanian ladang. Komoditi tanaman perkebunan berupa karet, kopi dan kelapa. Disamping pertanian dan perkebunan penduduk juga memelihara ternak seperti kerbau, sapi, kambing, ayam dll. Pendapatan perkapita relatif rendah yaitu Rp. 134.000. Fasilitas pendidikan relatif kurang, hanya terdapat 1 SD dan 1 MTS di desa Suo – Suo. Akibat kesulitan ekonomi dan buruknya sarana dan prasarana transportasi ke Ibukota kecamatan maupun kabupaten, mengakibatkan sebagian besar pendidikan anak – anak berkisar SD dan tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP.

Khusus untuk pemukiman yang terdekat yaitu dusun Semerantihan, memiliki jumlah penduduk sebanyak 167 orang yang terdiri dari 40 kepala keluarga. Penduduk yang mendiami dusun ini terdiri dari 2 suku yaitu suku Talang Mamak dan suku Anak Dalam (Kubu). Mata pencaharian mereka adalah mencari getah jerenang di hutan. Suatu hal yang menarik adalah suku Anak

(50)

Dalam yang mulai berdagang dan memisahkan diri dari kelompok suku Talang Mamak yang mereka anggap tidak adil terhadap mereka. Secara ekonomi kelompok suku Anak Dalam relatif lebih maju dan berhasil.

Masalah utama bagi masyarakat di dusun Semerantihan adalah sangat minimnya sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan, sehingga dibidang pendidikan dan kesehatan masih sangat tertinggal. Namun saat ini sudah dilakukan upaya peningkatan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat dengan mendatangkan guru untuk mengajar dan pihak medis untuk memberikan pengobatan kepada masyarakat. Sehingga akhirnya nanti mutu pendidikan dan kesehatan semakin baik dan dusun Semerantihan menjadi dusun yang berkembang dan maju ( Frankfurt Zoological Society, 2002 ).

Gambar

Gambar 2. Peta habitat orangutan sumatera.
Gambar 3. Peta lokasi reintroduksi orangutan sumatera di Taman Nasional Bukit  Tiga Puluh  (Frankfurt Zoological Society, 2002)
Tabel 1. Data iklim di areal studi
Tabel 2. Data individu orangutan yang diamati
+6

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat kesamaan jenis tumbuhan yang juga merupakan salah satu pakan yang disukai oleh orangutan sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser dan orangutan

6 Kasus malaria pada orangutan per spesies dan rata-rata kepadatan Anopheles letifer di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng Kelurahan Tumbang Tahai Kecamatan Bukit

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian tentang jenis cacing parasit yang terdapat pada feses orangutan yang dapat menyebabkan suatu penyakit dan

Adalah simbiosis dimana salah satu organisme hidup dalam organisme lainnya tetapi tidak mempengaruhi secara fisiologik pada organisme yang ditempati (hospes), tetapi

Bukit Lawang adalah salah satu habitat orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berada kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.. Kondisi inilah yang akan dicari

Perilaku Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Akibat Adanya Aktivitas Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung

Jumlah primata pada habitatnya di alam bebas (hutan) merupakan salah satu bentuk kekayaan dan keanekaragaman ( biodiversity ) sumber daya alam hayati, karena itu

Kesimpulan Perilaku harian pada orangutan yang paling tinggi adalah perilaku makan sebesar 49% dengan jenis vegetasi yang paling disukai yaitu pucuk daun sebesar 28% dan untuk posisi