• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada bab ini, penulis akan menguraikan jawaban atas rumusan masalah yang telah dipertanyakan pada bab sebelumnya, yaitu hadis-hadis yang berbicara mengenai larangan mencukur alis bagi wanita. Dalam penelusuran hadis mengenai tema tersebut, penulis menggunakan cara takhrij yakni dengan takhrij al-hadits bi al lafazh, penggalan lafal yang dapat ditelusuri adalah

نعل

dan data

yang disajikan oleh kitab al-mu‟jam lewat penelusuran dengan lafal tersebut terdapat 15 hadis, diantaranya ialah Imam Bukhari dalam kitab hadisnya Shahih Bukhari, terdapat 5 hadis, yaitu nomor hadis 4886 pada

ريسفتلا باتك

, nomor

hadis 5931 pada bab

ِنْسُحْلِل ِتاَجِّلَفَ تُملا

, nomor hadis 5939 bab

ِتاَصِّمَنَ تُملا,

nomor

hadis 5943 bab

ِةَلْوُصْوَملا

, nomor hadis 5948 bab

ِةَمِشْوَ تْسُملا.

Imam Muslim dalam

kitab hadisnya Shahih Muslim, terdapat 1 hadis yakni hadis nomor 120 bab

ميرحت ةصمنتملاو ةصمانلاو ةمشوتسملاو ةمشاولاو ةلصوتسملاو ةلصاولا لعف تاريغلاو تاجلفتملاو

للها قلخ

, Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abu Dawud terdapat 2 hadis yakni

hadis nomor 4169 dan 4170 bab

رعشلا ةلص يف,

selanjutnya dari At-Tirmidzi pada

32

kitabnya Sunan at-Tirmidzi terdapat 1 hadis yaitu nomor hadis 2782, pada bab

ام ِةَمِشْوَ تْسُمْلاَو ِةَمِشاَولاَو ِةَلِصْوَ تْسملاَو ِةَلِصَولا يف ءاج.

An-Nasa‟i dalam kitabnya Sunan an-Nasa‟I terdapat 5 hadis, 2 hadis pada

ةنيزلا باتك

bab

ُتاَصِّمَنَ تُملا

yaitu hadis

nomor 5099 dan 5101, serta 3 hadis pada bab

ُتاَجِّلَفَ تُملا

yaitu hadis nomor 5107,

5108, dan 5109. Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah terdapat 1 hadis yaitu nomor hadis 1989, pada bab

ةمشاولا و ةلصاولا.

1

Setelah penulis merujuk pada kitab asli, ada beberapa hadis yang isi hadis (matan)nya sama dan hanya redaksi sanadnya saja yang berbeda. Sehingga pada penjelasan berikutnya penulis tidak mencantumkan kelimabelas hadis di atas, namun penulis hanya mencantumkan beberapa hadis saja.

A. Teks Hadis dan Terjemah

1. Hadis mencukur alis dalam kitab Shahih Bukhari

وَّللا ُدْبَع َلاَق َةَمَقْلَع ْنَع َميِىاَرْ بِإ ْنَع ٍروُصْنَم ْنَع ٌريِرَج اَنَ ثَّدَح ُناَمْثُع اَنَ ثَّدَح ُوَّللا َنَعَل

ىَلاَعَ ت ِوَّللا َقْلَخ ِتاَرِّ يَغُمْلا ِنْسُحْلِل ِتاَجِّلَفَ تُمْلاَو ِتاَصِّمَنَ تُمْلاَو ِتاَمِشْوَ تْسُمْلاَو ِتاَمِشاَوْلا يِلاَم ِوَّللا ِباَتِك يِف َوُىَو َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ُّيِبَّنلا َنَعَل ْنَم ُنَعْلَأ َلَ

ُلوُسَّرلا ْمُكاَتآ اَمَو {

} ُهوُذُخَف

Telah menceritakan kepada kami Utsman telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah, Abdullah

1 Arnold John Wensinck, Mu‟jam al-Mufahras Li Alfazh al-Hadits al-Nabawi, (Leiden:

Maktabah Barbal, 1936), Jilid 6, h. 123.

33

mengatakan; "Allah melaknat orang yang mentato dan orang yang meminta ditato, orang yang mencukur habis alis dan merenggangkan gigi untuk kecantikan dengan merubah ciptaan Allah Ta'ala, kenapa saya tidak melaknat orang yang dilaknat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sementara dalam kitabullah telah termaktub Dan sesuatu yang datang dari rasul, maka ambillah (QS Al Hasyr; 7)."

2. Hadis mencukur alis dari kitab Ṣaḥiḥ Muslim

ُنْب ُقَحْسِإ اَنَ ثَّدَح

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan 'Utsman bin Abu Syaibah; Dan lafazh ini miliknya Ishaq; Telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari 'Alqamah dari 'Abdullah ia berkata; "Allah telah mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah." Ternyata ucapan 'Abdullah bin Mas'ud itu sampai kepada seorang wanita dari Bani Asad yang biasa dipanggil Ummu Ya'qub yang pada saat itu sedang membaca Al Qur'an. Kemudian wanita itu datang kepada Ibnu Mas'ud sambil berkata; 'Hai 'Abdullah, apakah benar berita yang sampai kepadaku bahwasanya kamu mengutuk orang-orang yang minta dicabut bulu mata wajahnya dan orang yang merenggangkan giginya demi kecantikan dan merubah ciptaan Allah? ' Abdullah bin Mas'ud menjawab; 'Bagaimana aku tidak akan mengutuk orang-orang yang dikutuk oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan hal itu ada dalam Al Qur'an? ' Wanita itu membantah; 'Aku sudah membaca semua ayat yang ada di antara sampul mushaf, tetapi aku tidak menemukannya.' Ibnu Mas'ud; 'Apabila kamu benar-benar membacanya,

34

niscaya kamu pasti akan menemukannya. Allah subhanahu wata'ala telah berfirman dalam Al Qur'an: 'Apa yang disampaikan Rasul kepadamu terimalah dan apa yang dilarang untukmu tinggalkanlah.' (Qs. Al Hasyr (59): 7). Wanita itu berkata; 'Aku melihat apa yang kamu bicarakan ada pada istrimu sekarang.' Ibnu Mas'ud menjawab; 'Pergi dan lihatlah ia sekarang! ' Lalu wanita itu pergi ke rumah 'Abdullah bin Mas'ud untuk menemui istrinya. Namun, ia tidak melihat sesuatu pun pada dirinya. Akhirnya ia pergi menemui Ibnu Mas'ud dan berkata;

'Benar, aku memang tidak melihat sesuatu pun pada diri istrimu.' Ibnu Mas'ud pun berkata; 'Ketahuilah, jika ia melakukan hal apa yang aku katakan itu, tentunya aku tidak akan menggaulinya lagi.'

3. Hadis mencukur alis dari Kitab Sunan Abu Daud

ُناَمْثُعَو ىَسيِع ُنْب ُدَّمَحُم اَنَ ثَّدَح

Abu Syaibah secara makna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah ia berkata, "Allah melaknat wanita yang mentato dan wanita yang minta untuk ditato." Muhammad menyebutkan, "dan wanita yang meyambung rambut." Utsman menyebutkan, "dan wanita yang mencukur bulu alis." Dan keduanya sepakat dengan penyebutan, "dan mengikir gigi untuk kecantikan dengan merubah ciptaan Allah Azza Wa Jalla.

ا ْنَع ٍرْبَج ِنْب ِدِىاَجُم ْنَع ٍحِلاَص ِنْب َناَبَأ ْنَع َةَماَسُأ ْنَع ٍبْىَو ُنْبا اَنَ ثَّدَح ِحْرَّسلا ُنْبا اَنَ ثَّدَح

menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Usamah dari Aban bin Shalih dari Mujahid bin Jabr dari Ibnu Abbas ia berkata, "Telah dilaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta untuk disambung rambutnya, wanita yang mencabut alis dan wanita yang minta dicabut alisnya, wanita yang mentato dan wanita yang minta antuk ditato, tanpa ada penyakit."

4. Hadis larangan mencukur alis dari Kitab Sunan an-Nasai

35 menceritakan kepada kami Ali Ibnul Hasan bin Syaqiq ia berkata; telah memberitakan kepada kami Al Husain bin Waqid ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dari Al 'Uryan Ibnul Haitsam dari Qabishah bin Jabir dari Abdullah ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah melaknat para wanita yang mencabut bulu alis, wanita yang membuat tato, dan wanita yang merenggangkan gigi, mereka merubah ciptaan Allah 'azza wajalla."

5. Hadis mencukur alis dari kitab Sunan Ibnu Majah

ِتاَمِشْوَ تْسُمْلاَو ِتاَمِشاَوْلا َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِوَّللا ُلوُسَر َنَعَل َلاَق ِوَّللا ِدْبَع ْنَع

meminta mencukur habis alisnya, yang mengikir (meratakan) gigi untuk kecantikan, dan yang merubah ciptaan Allah, kemudian hal itu sampai kepada seorang perempuan dari Bani Asad yang biasa dipanggil “Ummu Ya‟qub” hingga ia mendatanginya (Ibnu Mas‟ud) dan berkata. “Telah sampai berita darimu bahwasanya kau mengatakan demikian dan

36

demikian.” Ia (Ibnu Mas‟ud0 berkata, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat Rasulullah Saw, dan itu terdapat di kitabullah (Al-Quran).” Ummu Ya‟qub berkata “Sungguh aku membaca al-Quran dan seluruhnya, namun aku tidak menemukannya.” Ia berkata, “Jika engkau benar-benar membacanya, maka kau pasti menemukannya, tidakkah kau membaca, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”? (QS. al-Hasyr [59]:

7) ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw telah melarang itu.” Ia berkata, “Pergilah dan lihatlah.” Maka Ummu Ya‟qub berlalu dan melihat, (namun) ia tidak menemukan apa yang ia maksud. Ia berkata, “Aku tidak melihat apa-apa.” Abdullah berkata, “Kalau saja ia (istriku) seperti yang kau katakan, niscaya ia tidak akan menikah denganku.”2

B. Fiqh al-Hadis

Allah telah menciptakan makhluk sesuai dengan keinginan-Nya. Dia menjadikan manusia dengan bentuk tersendiri, begitu juga dengan binatang. Allah kemudian menjadikan segala ciptaan-Nya tersebut dalam beberapa bentuk dan jenis. Allah menciptakan semua ciptaan-Nya dengan bentuk yang paling baik.

Tentunya, Dia ingin kalau bentuk ciptaan-Nya ini tetap seperti kondisinya semula.

Makhluk merupakan ciptaan Sang Khaliq dan Allah adalah al-Khallāq (Dzat Yang Maha Pencipta). Mengubah ciptaan dari bentuk aslinya walaupun sedikit berarti sama saja telah menyerupai ciptaan Sang Khaliq. Sebagaimana halnya dengan perkara menggambar makhluk bernyawa yang mengandung makna menyerupai ciptaan Allah.3

2 Shahih: At-Ta‟liq, Adab az-Zafaf (114-115), dan Ghayah al-Maram (93)

Muhammad Nashiruddin al-Albani [2], Shahih Sunan Ibnu Majah, Penerjemah Ahmad Taufiq Abdurrahman, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 228.

3 Muhammad bin Syakir asy-Syarif, 40 Hadits Wanita, Bunga Rampai Hadits Fikih dan Akhlak Disertai Penjelasannya, Penerjemah Sarwedi Hasibuan, MA., Muhammad Suhadi, Lc., Umar Mujtahid, Lc., (Jakarta: Ummul Qura, 2013), h. 334.

37

Al-Khattabi berkata, “Hanya saja disebutkan larangan keras sehubungan perkara-perkara ini karena mengandung unsur penipuan dan muslihat.

Sekiranya diberi keringanan pada salah satu di antaranya niscaya menjadi wasilah untuk memperbolehkan jenis-jenis penipuan selainnya. Di samping itu perbuatan ini mengandung unsur merubah ciptaan Allah. Itulah yang diisyaratkan dalam hadis Ibnu Mas‟ud dengan perkataannya, “Perempuan-perempuan yang merubah ciptaan Allah.”4

Melakukan pencabutan rambut pada wajah adalah haram kecuali apabila tumbuh jenggot atau kumis pada wanita maka tidak haram untuk menghilangkanya. Adapun larangan tersebut adalah untuk alis dan yang ada di tepi-tepi wajah. Melakukan hal ini termasuk dosa-dosa besar dan haram atas wanita yang melakukannya serta orang yang diperlakukan itu padanya berdasar hadis-hadis di atas, dan karena itu mengubah ciptaan Allah. Ditambahkan lagi dalam tato apabila objeknya adalah sesuatu yang najis maka wajib menghilangkannya dengan memotongnya apabila tidak dikhawatirkan bahwa itu terlarang. Dalam hal ini sama baik laki-laki maupun perempuan.5

Dalam kenyataannya, praktik mengubah ciptaan Allah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menambahkan atau menghilangkan sesuatu dari ciptaan Allah.

Menurut al-Hafizh, kata mutanammishāt merupakan jamak dari kata mutanammishah, tetapi Ibnu Al-Jauzi menyebutkan dengan kata mutanamishah.

4 Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari,terjemah Amiruddin, jilid 28, h.881.

5 Imam an-Nawawi, Syarah Ringkas Riyadhus Shalihin, Penerjemah Thariq Abdul Aziz at-Tamimi, Hamzah Amali, (Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2014), Jilid 2, h. 780.

38

Mutanamishah adalah yang minta dibuatkan nimash, sedangkan namishah adalah yang melakukan hal itu. Nimash adalah menghilangkan bulu-bulu di wajah menggunakan minqasy (alat yang biasa digunakan mengukir). Maka minqasy disebut minmash, karena sebab tersebut. Dikatakan nimash khusus pada perbuatan menghilangkan rambut kedua alis baik meninggikan ataupun meluruskannya. Abu Daud berkata di kitab As-Sunan, “An-Namishah adalah orang mengerik alisnya hingga tipis.6

Berbeda dengan Ibnu al-Atsir mengenai kata al-mutanammishāt beliau berkata “an-namishah adalah wanita yang mencabut atau mencukur bulu mukanya, sedangkan al-mutanammishāh adalah wanita yang memerintahkan orang lain untuk melakukan itu.”7

Menanggapi hadis tentang larangan mencukur alis tersebut, al-Qurthubi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang maksud pelarangannya. Pendapat pertama menyatakan sebab hal itu termasuk penipuan, pendapat kedua menyatakan hal ini termasuk merubah ciptaan Allah sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Mas‟ud dan pendapat ini yang lebih shahih sekaligus mencakup tujuan pendapat pertama. Kemudian riwayat lain menyebutkan bahwa yang terlarang adalah merubah anggota tubuh yang bersifat tetap dan perubahan itu termasuk merubah ciptaan Allah, sedangkan yang tidak bersifat tetap seperti mencelak dan berhias diri bagi wanita hal ini dibolehkan menurut ulama, salah

6 Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, jilid 28, h.871

7 Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad Penerjemah M.

Faishal, Abdul Basyith, Akhmad Affandi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 201.

39

satunya adalah Imam Malik dan yang lainnya. Namun Imam Malik memakruhkan lelaki yang mencelak matanya dan berhias.8

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh dalam bukunya mengatakan bahwa diharamkan bagi wanita muslimah untuk menghilangkan seluruh bulu alis atau sebagian darinya dengan berbagai cara, baik dengan dicukur, dipotong, atau dengan zat yang bisa merontokkanya. Karena perbuatan ini termasuk namsh yang Rasulullah Saw. telah melaknat pelakunya. Karena perbuatan ini termasuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah Swt.9

Dalam kitab syarh Imam Bukhari (Fatḥ al-Bary), Imam Bukhari menyebutkan hadis Ibnu Mas‟ud terdahulu pada bab “Perempuan-perempuan yang Menjarangkan Gigi”, ath-Thabari berkata, “Tidak boleh bagi perempuan merubah fisiknya yang Allah ciptakan atasnya, -baik menambah maupun mengurangi- untuk mendapatkan kecantikan baik untuk suami maupun selainnya.

Seperti perempuan yang bersambung alisnya lalu dicukur di antara keduanya untuk menampakkan keindahan, atau sebaliknya karena hal ini termasuk perbuatan merubah ciptaan Allah.” Dia berkata, “Dikecualikan darinya apa yang menimbulkan mudharat dan gangguan. Seperti orang yang memiliki gigi lebih atau panjang sehingga menghalanginya makan, atau memiliki jari lebih yang mengganggunya atau menyakitinya, maka boleh dihilangkan.10 Serupa dengan ath-Thabari, an-Nawawi juga memberikan pengecualian mengenai dibolehkannya menghilangkan bulu pada wajah, dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim ia

8 Syaikh Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Penerjemah Dudi Rosyadi, Faturrahman, Fachrurazi, Ahmad Khatib, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Jilid 5, h. 932.

9 Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh dkk, Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,jilid 3 terj. Amin bin Yahya Al-Wazan, h.84.

10 Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, jilid 28, h.872.

40

mengatakan dikecualikan mencabut bulu pada wajah wanita, misalnya jenggot atau kumis maka tidak haram dihilangkan bahkan dianjurkan.11

Namun al-Hafizh mengatakan, pernyataannya mesti dikaitkan dengan izin suami atau pengetahuannya, tetapi jika tidak demikian maka dilarang melakukan pengaburan. Sebagian ulama Hambali berkata, “Apabila mencabut bulu wajah termasuk syi‟ar bagi wanita-wanita pelacur, maka tidak boleh dilakukan. Tetapi bila tidak demikian, maka larangan itu sifatnya tanzih.” Berbeda dengan Imam al-„Aini ia lebih mengkhususkan bagi wanita yang sudah menikah untuk mempercantik diri kepada suaminya. Ia mengatakan bahwa boleh mencabut bulu di wajah atau menggunakan obat yang bisa menghilangkan bulu dan mempercantik wajah atas izin suami, kecuali terjadi penyamaran, maka diharamkan. Ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari istrinya, dia masuk menemui Aisyah saat masih muda dan suka kecantikan. Dia berkata, “Perempuan boleh mencabut alisnya untuk suaminya.” Dia berkata, “Hilangkan darimu kotoran semampumu.” An-Nawawi berkata, “dibolehkan berhias dengan apa yang disebutkan, kecuali merontokkan karena masuk kategori mencabut.”12

Berbeda dengan Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dalam bukunya Shahih Fikih Sunnah, ia mengatakan bahwa berhias di depan suami memiliki batasan-batasan tertentu, tidak mutlak. Istri tidak boleh berhias di

11 Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Penerjemah Amir Hamzah, (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2011), h. 215.

12 Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari,terjemah Amiruddin, jilid 28 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 871.

41

hadapan suami dengan perhiasan yang haram, berhias menyerupai laki-laki, merubah ciptaan Tuhan, atau berhias dengan perhiasan-perhiasan wanita kafir.13

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan bahwa QS. an-Nisa ayat 119 dijadikan dasar sementara oleh ulama untuk melarang perubahan bentuk fisik manusia dengan cara apapun. Pendapat ini mereka kuatkan juga dengan firnan Allah dalam QS. ar-Rûm ayat 30 yang menyatakan, “Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah”, serta hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa, “Allah mengutuk pemakai tato dan pembuatnya, dan yang mencabut rambut wajahnya, yang mengatur giginya, yang merubah ciptaan Allah.”14

Ibn „Âsyûr ketika menafsirkan QS. an-Nisa ayat 191 menulis: “Tidak termasuk dalam pengertian mengubah ciptaan Allah, melakukan perubahan yang diizinkan-Nya, tidak juga termasuk dalam larangan ini, perubahan yang bertujuan memperbaiki/memperindah. Bukankah khitan (sunat) termasuk mengubah ciptaan Allah, tetapi karena mempunyai dampak positif terhadap kesehatan maka ia diperbolehkan? Demikian juga mencukur rambut untuk menghindari keruwetan, menggunting kuku untuk memudahkan kerja tangan, melubangi telinga wanita untuk memasang anting demi keindahan. Selanjutnya ulama ini menulis bahwa:

“Adapun riwayat-riwayat yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi Saw., menyangkut larangan menyambung rambut, meluruskan gigi untuk keindahan, maka riwayat-riwayat tersebut memang musykil. Saya duga – tulisnya- larangan

13 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fikih Sunnah Penerjemah: Amru Harahap, Faisal Saleh (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h.80.

14 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, jilid 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h.592.

42

itu bertujuan melarang bersikap atau bersifat seperti sikap atau sifat yang pernah diperagakan oleh wanita-wanita tuna susila ketika itu, atau sikap dan sifat wanita musyrikah. Kalau tidak demikian, pasti larangan tersebut tidak sampai pada tingkat laknat/kutukan terhadap pelaku-pelakunya sebagaimana bunyi hadis yang melarangnya. Kesimpulannya bahwa mengubah ciptaan Allah, baru merupakan dosa apabila berkaitan dengan ketaatan kepada setan, apalagi yang merupakan pertanda dari identitas ajaran setan.15

Sebelum Ibn „Âsyûr, pakar tafsir Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 M.) telah menulis dalam tafsirnya menyangkut kutukan dan larangan pengubahan ciptaan Allah seperti memakai tato, mencukur alis, meluruskan gigi untuk tujuan keindahan bahwa: “Agaknya larangan yang begitu keras ini disebabkan oleh karena mereka melampaui batas dalam melakukan hal tersebut hingga mencapai tingkat pengubahan yang buruk”.16

Dalam kitab „Aunul Ma‟būd, lafadz

ِوَّللا ِباَتِك يِف َوُىَو

(hal itu ada di

dalam kitab Allah), maksudnya yaitu bahwa hal tersebut dilaknat dalam al-Qur‟an.17 Selain itu mengubah ciptaan Allah juga termasuk dosa besar, lafal

َنَعَل

(melaknat) sudah cukup untuk menunjukkan kalau perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebab, para ulama telah menyebutkan bahwa salah satu ciri dosa besar adalah bila pelakunya dilaknat. Termasuk semua cara yang mengarah pada usaha

15 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), jilid 11, h.60.

16 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, h.60.

17 Abu at-Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-Adzim Abadi, „Aunul Ma‟būd Syarah Sunan Abu Daud, h. 226.

43

merubah ciptaan Allah memiliki hukum yang sama. Baik itu dengan cara menghilangkan alis, membuat tato, merenggangkan gigi maupun menyambung rambut.18 yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah.

dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.(QS. al-Hasyr:7).

Ayat ini sebagai bukti atas penjelasan Ibnu Mas‟ud bahwa ia melaknat apa yang dilaknat oleh Rasulullah Saw, dan hal itu terdapat di dalam al-Qur‟an.

Dalam Shahih Muslim dinyatakan: diriwayatkan dari Alqamah, dari Ibnu Mas‟ud, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

ِتاَصِّمَنَ تُمْلاَو ِتاَصِماَّنلاَو ِتاَمِشْوَ تْسُمْلاَو ِتاَمِشاَوْلا ُوَّللا َنَعَل ِوَّللا َقْلَخ ِتاَرِّ يَغُمْلا ِنْسُحْلِل ِتاَجِّلَفَ تُمْلاَو

“Allah melaknat kaum wanita yang mentato dan kaum wanita yang meminta ditato, kaum wanita yang menghilangkan bulu wajah atau alis, dan kaum wanita yang merenggangkan gigi supaya cantik, yang merubah ciptaan Allah.”

18 Muhammad bin Syakir asy-Syarif, 40 Hadits Wanita Bunga Rampai Hadits, Fikih, dan Akhlak, Penerjemah Sarwedi Hasibuan, MA., Muhammad Suhadi, Lc., Umar Mujtahid, Lc., (Jakarta: Ummul Qura, 2013), h. 335.

44

Apa yang beliau sabdakan itu kemudian sampai kepada seorang wanita dari Bani Asad yang disebut Ummu Ya‟qub19, dia kemudian datang kepada Ibnu Mas‟ud dan berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau melaknat orang yang minta dicabut bulu mata wajahnya dan orang yang merenggangkan giginya demi kecantikan dan merubah ciptaan Allah?”. Ibnu Mas‟ud berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan itu ada dalam kitab Allah”. Ummu Ya‟qub berkata,

“Sesungguhnya aku telah membaca apa yang ada di antara lembar-lembar mushaf, namun aku tidak menemukan apa yang engkau katakan itu.” Ibnu Mas‟ud menjawab, “Jika engkau benar-benar membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca “Apayang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”

Ummu Ya‟qub berkata, “Benar.” Aku (Ibnu Mas‟ud) berkata, “Dengan demikian, sesungguhnya Allah telah melarang yang demikian itu.”20 Wanita itu kembali berkata, "Tetapi, sesungguhnya aku menduga kuat, bahwa isteri anda sendiri melakukan hal itu." Abdullah berkata, "Kalau itu anggapanmu, berangkatlah dan lihatlah." Lalu wanita itu pun pergi untuk melihatnya, namun ternyata tidak mendapatkan kebenaran dugaannya sedikit pun. Kemudian Abdullah pun berkata,

"Sekiranya isteriku seperti itu, niscaya aku tidak akan mencampurinya."21

19 Ummu Ya‟qub yang disebutkan dalam hadis ini tidak diketahui namanya dan dia berasal dari bani Asad bin Khuzaimah. Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan ia belum menemukan keterangan lebih jelas tentang biografinya.

20 Syaikh Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi,Jilid 18, Penerjemah Dudi Rosyadi, Faturrahman, Fachrurazi, Ahmad Khatib, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 251.

21 Abi „Abdillah bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardzabah al-Bukhari, Shahih al-Bukhary, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), h. 694.

45

Informasi di atas dapat kita posisikan sebagai penjelas atas kondisi ketika diturunkannya hadis tersebut, sebab penjelasan tersebut berada setelah disampaikannya perkataan Rasulullah Saw tentang laknat terhadap al-wasyimah, al-musytausyimah, an-namishah, al-mutanamishah, dan al-mutafallijat.22

Dalam syarah „Aunul Ma‟būd dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan lafadz

ويتدج و دقل ويتأرق تنك نئل

(Jika kamu membacanya, pasti kamu

akan menemukannya) yaitu jika kamu membacanya sungguh-sungguh, kamu pasti akan mengerti. Kemudian pada lafadz

اوهتنف ونع مكاهن امو هوذخف لوسرلا مك اتا امو

(apa yang diberikan maka ambillah dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah) maksudnya adalah jika para hamba diperintahkan untuk menjauhi larangan Rasul, dan Rasul telah melarang segala sesuatu yang tersebut dalam hadis ini dan yang lain, maka seakan-akan semua larangan Rasul juga tercantum dalam al-Qur‟an. Dan perbuatan mencukur alis ini termasuk hal yang dilarang.23

(apa yang diberikan maka ambillah dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah) maksudnya adalah jika para hamba diperintahkan untuk menjauhi larangan Rasul, dan Rasul telah melarang segala sesuatu yang tersebut dalam hadis ini dan yang lain, maka seakan-akan semua larangan Rasul juga tercantum dalam al-Qur‟an. Dan perbuatan mencukur alis ini termasuk hal yang dilarang.23

Dokumen terkait