Qur'an Hadis
KEGIATAN PENUTUP
2) Hadis Hasan
hadis yang diriwayatkannya diakui sebagai hadis yang sahih. Sekalipun demikian, ternyata ketika itu, dibuat definisi hadis sahih secara tegas. Namun setelah para ulama mengadakan penelitian mengenai cara-cara ditempuh oleh keduanya untuk menetapkan suatu hadis yang bisa dijadikan hujjah, diperoleh suatu gambaran mengenai kriteria hadis sahih menurut keduanya. Kriteria-kriteria dimaksud adalah: (1) rangkaian perawinya dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir; (2) para perawinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal tsiqqat, dalam arti 'adildan dhabit; (3) hadisnya terhindardari 'illat (cacat) dan syadz (janggal); dan (4) para perawinya yang terdekat dalam sanad harus sezaman.Hanya saja antara keduanya terjadi perbedaan pendapat mengenai persambungan sanad. Menurut Bukhari, sanad hadis dikatakan bersambung apabila antara perawi yang terdekat itu pernah bertemu, sekalipun hanya satu kali. Jadi tidak cukup hanya sezaman
(al-mu'asharah). Sedangkan menurut Muslim, apabila antara perawi yang terdekat
hidup sezaman sudah dikategorikan bersambung.Disamping itu, persyaratan yang telah disepakati sebagaimana di atas, ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa Bukhari juga menetapkan syarat "terjadinya periwayatan harus dengan cara Al-Sama'".81 Hal ini menunjukan bahwa bahwa persyaratan hadis sahih yang ditetapkan oleh Imam Bukhari lebih ketat daripada persyaratan yang ditetapkan oleh Muslim (Munzier Suparta, 2002 : 128).
Definisi yang lebih ringkas dinyatakan oleh Al-Suyuthi. Meneurutnya, hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dabit, tidak syaz dan tidak ber' illat.
Selanjutnya Ajjaj Al-Khathib memberi pengertian hadis sahih lebih rinci, yang merupakan hasil kajian terhadap beberapa pengertian yang diajukan para ulama ahli hadis yang hidup pada masa sebelumya. Menurutnya, hadis shahih adalah hadis yang bersambung sanadnya dengan riwayat yang dapat dipercaya dari yang bisa dipercaya dari awal sanad hingga akhir sanad dengan tanpa ada cela dan cacatnya.
Jika dianalisa, terdapat beberapa persamaan dalam mendefinisikan hadis shahih, yaitu : sandnya bersambung, perowinya adil, perowinya, dlabit, tidak syad (janggal) dan tidak ada illat (cacat) baik dalam sanad maupun matannya.
2) Hadis Hasan
Hasan artinya baik. Menurut lughah (bahasa) memiliki arti sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sedangkan menurut istilah, para ulama berbeda pendapat dalam men-defmisikan hadis hasan ini. Perbedaan pendapat ini terjadi disebabkan di antara mereka ada yang menggolongkan hadis hasan sebagai hadis yang menduduki posisi di antara hadis sahih dan hadis dha'if, yang dapat dijadikan hujjah. Memang menurut sejarah ulama yang mula-mula memunculkan istilah "Hasan" bagi suatu jenis hadis yang berdiri sendiri adalah Imam Al-Tirmidzi. Untuk lebih jelasnya di bawah ini dikemukakan beberapa defi-nisi Hadis Hasan.
Ibnu Taimiyah menguraikan batasan hadis hasan yang diberikan Al-Tirmidzi sekaligus merangkum polemik tentang peristilahan yang sering dipakai Al-Tirmidzi. Hadis hasan menurut Al-Tirmidzi adalah (dalam redaksi Ibn Taymiyah), yaitu :
hadis yang diriwayatkan dari dua arah (jalur), dan para perawi-nya tidak tertuduh dusta, tidak raengandung syadz yang menya-lahi hadis-hadis shahih.Jadi yang dimaksud syadz versi Al-Tirmidz! adalah perawi yang meriwayatkan hadis tersebut berlawanan dengan orang yang lebih hafal daripadanya atau lebih banyak jumlahnya.
Jika dianalisa definisi tersebut di atas dipandang tidak mani' dan tidak jami'.
Tidak mani', sebab hadis sahih — yang rawinya selamat dari tuduhan dusta dan ma'nanya bersih dari kejanggalan — dapat tercakup dalam definisi tersebut; dan tidak jami' karena (misal-nya) hadis gharib walaupun bernilai hasan pada hakikatnya tidak dapat dimasukkan ke dalam definisi tersebut, karena dalam definisi itu disyaratkan harus mempunyai jalan datangnya berita (sanad) dari beberapa tempat.
Tidak semua ahli hadis sejalan dengan batasan yang diberikan Al-Tirmidzi ini, sebagaimana contoh yang diajukannya adalah bentuk ketidakkonsistenan Al-Tirmidzi. Seperti penggunaan istilah hadis "Hasan Gharib" Jalan menetapkan suatu hadis. artinya hadis tersebut yang diriwayatkan melalui satu jalur (gharib) bisa disebut hadis Hasan. Ini yang menjadi persoalan.
Permasalahan seperti itu menjadi polemik di kalangan ulama Ladis. Dan para ulama berusaha memberikan penjelasan yang bermacam-macam. Di antaranya Ibnu Taymiyah yang memberikan penjelasan, bahwasanya hadis tersebut disebut gharib, karena pada Thabaqat tabi'i hanya diriwayatkan oleh satu orang/satujalur. Akan tetapi hadis tersebut diriwayatkan juga melalui jalur lain,
maka bisa disebut hadis hasan karena sebab banyaknya periwayatan tersebut, meskipun pada dasarnya adalah gharib.
Begitu juga dengan bentuk penetapan "Shahih Hasan Gharib". Kadang diriwayatkan dengan sanad yang shahih gharib, kemudian (hadis tersebut) diriwayatkan dari rawi tersebut dengan jalur yang shahih dan juga jalur lain, maka kemudian ia menjadi hadis hasan bersamaan dengan shahih gharib. Hakikat hadis hasan adalah banyaknya periwayatan dan para perawi tersebut tidak tertuduh bohong.
Jika jalur periwayatan kedua-duanya sama-sama sahih maka ia adalah hadis shahih murni. Sementara bila salah sa-tunya tidak diketahui kesahihannya maka ia menjadi hadis hasan. Kadangkala sanadnya gharib dan tidak terdapat riwayat lain maka itu menjadi hasan matannya, karena ada yang me-riwayatkannya dari dua jalur. Misalnya dalam suatu bab sering dikatakan "diriwayatkan dari fulan dan fulan" kemudian dijelas-kan bahwa matannya itu hasan meskipun sanadnya gharib. Jika dikatakan bahwa kualitas suatu hadis adalah shahih, kemudian telah ditetapkan bahwa metode periwayatannya sahih, dan dalam riwayat kualitasnya periwayatannya hasan, maka dalam hadis tersebut telah berkumpul dua sifat, yakni hasan dan shahih.Suatu hadis dikatakan gharib bila hanya ada dalam satu riwayat dan sanadnya hanya diketahui dari hadis tersebut (tidak ada yang lain). Jika jalur periwayatannya sahih maka itu disebut shahih gharib. Begitu juga ketika suatu hadis diterangkan sebagai hadis gharib hasan kemudian ia menjadi hadis hasan. (Munzier Suparta, 2002 : 143).
Sementara itu Ibnu Hajar mendefinisikan bahwa hadis hasan adalah khabar Ahad yang dinukilkan melalui perawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya dengan tanpa ber'illat dan syadz disebut Hadis Sahih, namun bila kekuatan ingatannya kurang kokoh (sempurna) disebut hasan li- dzatihi.
Berdasarkan definisi tersebut , dapat difahami bahwa hadis hasan menurut Ibnu Hajar adalah Hadis yang telah memenuhi lima persyaratan hadis shahih
sebagaimana disebutkan terdahulu, hanya saja bedanya, pada hadis sahih daya inga.an perawinya sempurna, sedang pada hadis hasan daya ingatan perawinya kurang sempurna. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa hadis hasan menurut Ibn Hajar adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, (tetapi) tidak begitu kuat daya ingatannya, bersam-bung-sambung sanadnya, dan tidak terdapat 'illat sertakejanggal-an pada matannya. Dengan demikian, hadis hasan ini menempati posisi di antara hadis shahih dan hadis dha'if.
Al-Tirmidzi sebagai ahli hadis yang memunculkan istilah hadis hasan ini, karena ia melihat banyak jenis hadis dha'if (yang sebenarnya tidak terlalu dha'if). Sementara itu dari sisi sanad dan matannya hampir mendekati sahih (tapi tidak termasuk hadis sahih), dan dapat dijadikan hujjah. la tidak ingin menya-makannya dengan hadis dha'if dan juga tidak ingin menyebut-nya dengan hadis sahih. Maka dari itu, disebutnyalah dengan hadis hasan. Dengan kata lain, hadis hasan yang dimunculkan-nya adalah nama lain dari hadis dha'if yang dapat dijadikan hujjah. Kesimpulannya, hadis hasan hampir sama dengan hadis sahih, hanya saja terdapat perbedaan dalam soal ingatan perawi. Pada Hadis Shahih, ingatan atau daya hafalannya sangat sempurna (tam-dlabith), sedangkan pada hadis hasan, hafalan rawinya kurang sempurna (qalil-dhabith).
b) Syarat-Syarat Hadis Hasan
Pada prinsipnya, hadis hasan dengan hadis d shahih memiliki syarat yang sama, kecuali dalam ke-dlabith-annya. Secara rinci syarat-syarat hadis hasan adalah sebagai berikut:
(1) sanadnya bersambung; (2) perawinya 'adil;
(3) hafalan rawinya kurang dhdbit atau qalil dhabith, yakni kualitas ke-dhdbit-annya di bawah ke-dhdbit-an perawi hadis sahih;
(4) tidak terdapat kejanggalan atau syadz; dan (5) tidak ber 'illat.
3)Hadis Dlaif
a) Pengertian Hadis Dlaif
Menurut bahasa, dlaif berarti lemah, sebagai lawan kata dari kuat. Maka sebutan hadis dha 'if, secara bahasa berarti hadis yang lemah atau hadis yang tidak kuat. Dengan kata lain, hadis dlaif adalah hadis yang berbeda dengan hadis shaih dan hasan. Menurut istilah, para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikan hadis dha' if ini. Akan tetapi pada dasarnya, isi dan maksudnya tidak berbeda. Beberapa definisi, di antaranya dapat dilihat di bawah ini.
Al-NawawI mendefinisikan bahwa hadis dlaif adalah hadis yang di dalamnya tidak terpenuhi syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan. Sebuah hadis dipandang sebagai hadis dlaif, jika salah satu syarat saja dari persyaratan hadis shahih atau hadis hasan tidak terpenuhi, lebih-lebih jika yang hilang itu
sampai dua atau tiga syarat, seperti perawinya tidak adil, tidak dhabit, dan terdapat kejanggalan dalam matan. Hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai yang sangat lemah atau hadis dlaif jiddan.
b) Sebab-sebab Tertolaknya Hadis Dla'if
Di atas telah dikemukakan bahwa hadis dlaif termasuk hadis mardud
(ditolak) sebagai hujjah. Para ahli hadis mengemukakan sebab-sebab tertolaknya hadis ini bisa dilihat dari dua jurusan, yaitu dari sisi Sanad dan Matan. Secara rinci, Fatchur Rahman menjelaskan sebagai berikut:
(1) Dari sisi Sanad Hadis
Dari sisi sanad hadis ini diperinci ke dalam dua bagian:
Pertama, Ada kecacatan pada para perawinya baik meliputi keadilannya
maupun kedhabitannya, yang diuraikan dalam 10 macam: (a) Hadis yang rawinya dusta disebut maudhu'
(b) Hadis yang rawinya tertuduh dusta disebut matruk
(c) Rawi yang fasiq, banyak salah, dan lengah dalam menghafal, hadisnya disebut munkar
(d) Rawi yang banyak waham, Hadisnya disebut mu 'allal
(e) Rawi yang menyalahi riwayat yang lebih tsiqqah atau lebih dipercaya, Hadisnya disebut mudraj bila ada penambahan suatu sisipan kata-kata; disebut maqlub bila diputarbalikkan; disebut mudhtharib bila rawinya yang tertukar-tukar; disebut muharraf bila yang tertukar adalah huruf-syakal; dan disebut mushahhaf bila. perubahan itu meliputi titik kata.
(f) Rawi yang tidak diketahui identitasnya, Hadisnya disebut mubham
(g) Rawi yang menganut ajaran bid'ah, Hadisnya disebut hadis Mardud;
(h) Rawi yang tidak baik hafalannya sehingga berbeda atau menyalahi riwayat yang lebih tsiqah, Hadisnya disebut hadis syadz dan mukhtalith.
Kedua, Sanadnya tidak bersambung (munfashil)
Berkaitan dengan terputusnya sanad, maka hadis dlaif dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
(a) Gugur pada sanad pertama. Hadisnya disebut hadis mu 'allaq.
(b) Gugur pada sanad terakhir (sahabat). Hadisnya disebut hadis mursal.
(c) Gugur dua orang rawi atau lebih secara berurutan. Hadisnya disebut hadis mu 'dhal.
(d) Jika rawinya yang digugurkan tidak berturut-turut disebut hadis munqathi'
(Fatchur Rahman, 2002 : 142) (2) Dari sisi Matan Hadis
(a) Hadis Mauquf, yakni hadis dlaif yang hanya sampai pada sahabat;
(b) Hadis Maqthu', yakni hadis dlaif yang disandarkan pada perkataan tabi’in, bukan dari sahabat, apalagi bersumber dari nabi saw.