• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadis pada Masa Sahabat

Dalam dokumen ILMU HADIS SISWA edited januari 2015 (Halaman 37-40)

MARI MEMAHAMI

B. Hadis pada Masa Sahabat

Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, para sahabat tidak dapat lagi mendengar sabda-sabdanya, tidak bisa lagi melihat perbuatan-perbuatannya dan hal-ihwalnya secara langsung. Untuk mengenangnya dan melestarikan ajaran-ajarannya, periwayatan hadis mulai berkembang dari para sahabat kepada kaum muslimin lainnya. Para sahabat yang diibaratkan laksana meneguk air yang jernih yang langsung dari sumbernya, mereka berkomitmen untuk tidak mendustakan Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah orang-orang pilihan yang rela mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga untuk dakwah Islam.

Periode perkembangan hadis pada masa ini dikenal dengan zaman al-Tasabbut wa

al-Iqlāl min ar-Riwāyah, yakni periode membatasi hadis dan menyedikitkan riwayat yang terjadi diperkirakan antara tahun 12-40-an H. Hal ini dilakukan karena para sahabat pada periode ini lebih berkonsentrasi terhadap pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an.

Hal ini sangat nampak dilakukan oleh para sahabat besar khususnya adalah Khulafā ar-

Rāsyidūn (Abū Bakar as-Ṣiddīq, ‘Umar bin al-Khat ̣t ̣hāb, ‘Usmān bin Affān, dan ‘Ali bin Abi Ṭālib ra.). Sebagai akibatnya, periwayatan hadis kurang mendapat perhatian, bahkan mereka berusaha untuk selalu bersikap hati-hati dan membatasi dalam meriwayatkan hadis.

Kehati-hatian dan pembatasan dalam meriwayatkan hadis yang dilakukan oleh para sahabat ini lebih disebabkan adanya kekhawatiran akan terjadinya kekeliruan dalam meriwayatkan hadis. Karena hadis menduduki posisi kedua setelah Al-Qur’an dalam Islam, ia harus selalu dijaga keotentikannya sebagaimana penjagaan terhadap Al-Qur’an.

Oleh sebab itu, para sahabat khususnya Khulafā ar-Rāsyidūn dan para sahabat lainnya

berusaha keras untuk memperketat periwayatan hadis. Para sahabat menyampaikan dan menjaga hadis dengan hati-hati supaya tidak terjadi kesalahan dengan cara tidak meriwayatkan kecuali pada saat dibutuhkan melalui penelitian yang mendalam.

Perhatikan perbedaan kondisi hadis pada masa Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq, ‘Umar bin al-Khatthāb, ‘Usmān bin Affān, dan ‘Ali bin Abi Ṭālib ra. dengan membaca materi di

bawah ini!

1. Masa Abū Bakar aṣ-Ṣiddīq ra.

Sikap hati-hati terhadap periwayatan hadis ditunjukkan oleh khalifah pertama, Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq. Khalifah pertama ini menunjukkan perhatian yang serius dalam memelihara hadis. Abū Bakar mengambil kebijakan mempeketat periwayatan hadis agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang munaik.

Sikap ketat dan kehati-hatian Abū Bakar tersebut juga ditunjukkan dengan tindakan

konkret, yakni dengan membakar catatan-catatan hadis yang beliau miliki. Hal ini

sebagaimana dinyatakan oleh ‘Aisyah, putri Abū Bakar, bahwa Abū Bakar telah membakar catatan yang berisi sekitar lima ratus hadis. Tindakan Abū Bakar tersebut lebih

dilatarbelakangi oleh kekhawatiran beliau berbuat salah dalam meriwayatkan hadis. Di

lain kesempatan, Abū Bakar juga tidak serta merta menerima begitu saja riwayat suatu

hadis, sebelum meneliti terlebih dahulu periwayatannya.

Untuk membuktikan suatu hadis benar-benar berasal dari Rasulullah, beliau meminta kepada periwayat hadis untuk mendatangkan saksi. Sebagai konsekuensi

sikap kehati-hatian Abū Bakar ini, hadis-hadis yang diriwayatkan beliau relatif sedikit

jumlahnya meskipun beliau merupakan sahabat Nabi yang paling dekat dan akrab dengan Nabi Saw. Selain itu, ada beberapa hal yang menyebabkan sedikitnya riwayat dari Abu

Bakar antara lain; pertama, beliau selalu sibuk ketika menjabat sebagai khalifah; kedua,

kebutuhan akan hadis tidak sebanyak pada zaman sesudahnya; dan ketiga, jarak antara

meninggalnya beliau dengan meninggalnya Nabi Muhammad Saw. sangat singkat. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa aktivitas periwayatan hadis pada

masa khalifah Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq ra. masih sangat terbatas dan belum menonjol. Pada

masa ini pula umat Islam dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang sangat menyita waktu, seperti adanya berbagai pemberontakan yang dapat merongrong kewibawaan

pemerintahan sepeninggal Rasulullah Saw. Namun akhirnya, keseṃuanya itu dapat diatasi oleh Abū Bakar dengan baik.

2. Masa ‘Umar bin al-Khattāb ra.

Sikap dan tindakan hati-hati Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq menginspirasi tindakan yang dilakukan oleh khalifah kedua, ‘Umar bin al-Khat ̣t ̣āb. ‘Umar dalam hal ini juga terkenal

sebagai orang yang sangat berhati-hati dalam meriwayatkan suatu hadis. Beliau tidak mau menerima suatu riwayat apabila tidak disaksikan oleh sahabat yang lain.

setidak-tidaknya periwayat berani disumpah. Sikap kehati-hatian Umar yang seolah-olah melarang sahabat lain untuk memperbanyak periwayatan hadis ini harus ditafsiri bahwa selain kaum muslimin harus berhati-hati dalam meriwayatkan hadis, juga supaya perhatian mereka terhadap Al-Qur’an tidak terganggu. Hal ini tentunya dapat dipahami karena memang pada saat itu, naskah Al-Qur’an masih sangat terbatas jumlahnya dan belum menyebar ke daerah-daerah kekuasaan Islam. Sehingga dikhawatirkan umat Islam yang baru memeluk Islam saat itu tidak bisa membedakan antara Al-Qur’an dan hadis.

Meskipun demikian, pada masa khalifah ‘Umar ini periwayatan hadis juga telah banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Yang tentunya, dalam periwayatan tersebut tetap menggunakan prinsip kehati-hatian. Sikap hati-hati yang dilakukan ‘Umar ini di samping untuk menghindarkan kekeliruan dalam meriwayatkan hadis juga dapat menghalangi orang yang tidak bertanggung jawab melakukan pemalsuan pemalsuan hadis.

3. Masa ‘Usmān bin Affān r.a.

Pada masa kekhalifahan ‘Usmān bin Affān, periwayatan hadis tetap dilakukan dengan

cara yang sama dengan dua khalifah pendahulunya. Sikap hati-hati dalam menyampaikan

dan menerima periwayatan hadis selalu dipegang oleh ‘Usmān bin Affān. Hanya saja, usaha yang dilakukan oleh ‘Uśmān bin Affān tidak setegas yang dilakukan oleh ‘Umar bin al-Khat ̣t ̣āb ra. Sikap kehati-hatian ‘Usmān ini dapat dilihat, misalnya, pada saat

beliau berkhutbah, di mana beliau meminta kepada para sahabat untuk tidak banyak

meriwayatkan hadis yang mereka tidak pernah mendengar hadis tersebut pada masa Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq ra dan ‘Umar bin al-Khat ̣t ̣āb ra. Dengan pernyataan ini, ‘Uśmān ingin

menunjukkan bahwa dalam persoalan periwayatan hadis dirinya ingin juga bersikap hati-hati seperti yang dilakukan oleh khalifah pendahulunya.

Sikap kehati-hatian yang dilakukan ‘Uśmān ini tentunya juga berpengaruh kepada

banyak sedikitnya beliau meriwayatkan hadis. Ahmad bin Hambal misalnya,

meriwayatkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Umān bin Affān ini tidak lebih dari

empat puluh buah hadis. Itupun banyak matan hadis yang terulang karena perbedaan

sanad. Atau dengan kata lain, jumlah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Uśmān bin Affān

tidak sebanyak jumlah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar

Walaupun ‘Uśmān dalam khutbahnya menyerukan umat Islam untuk berhati- hati

dalam meriwayatkan hadis, pada zaman ini kegiatan umat Islam dalam meriwayatkan hadis telah lebih banyak jika dibandingkan dengan kegiatan periwayatan hadis pada

zaman dua khalifah sebelumnya. Hal ini disebabkan karena selain pribadi ‘Uśmān yang

tidak sekeras ‘Umar, juga karena semakin luasnya wilayah Islam sehingga mengakibatkan bertambahnya kesulitan pengendalian periwayatan hadis secara ketat.

4. Masa ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a.

Sikap kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis tetap menjadi prinsip utama yang

dipegang oleh ‘Alī bin Abī Ṭālib Artinya, ‘Ali tetap berhati-hati dalam meriwayatkan

hadis bahkan beliau baru bersedia menerima suatu riwayat apabila periwayat hadis tersebut mengucapkan sumpah bahwa hadis yang disampaikan tersebut benar-benar berasal dari Nabi Muhammad Saw. Hanya saja, terhadap orang-orang yang benar-benar dipercayainya ‘Ali tidak memintanya untuk bersumpah. Dengan kata lain, fungsi sumpah dalam periwayatan hadis bagi ‘Ali tidaklah menjadi syarat mutlak keabsahan periwayatan

suatu hadis. ‘Alī bin Abī Ṭālib termasuk sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadis

nabi. Hadis yang beliau riwayatkan selain dalam bentuk lisan, juga dalam bentuk tulisan (catatan).

Hadis yang diriwayatkan Ali dalam bentuk tulisan berkisar tentang hukuman denda (diyat); pembebasan orang Islam yang ditawan orang kair; dan larangan melakukan

hukuman qiṣāṣterhadap orang Islam yang membunuh orang kair.

Ditinjau dari kebijakan pemerintah, kehati-hatian dalam kegiatan periwayatan hadis

pada masa ‘Alī bin Abī Ṭālib sama dengan periode sebelumnya. Akan tetapi situasi umat Islam pada masa ‘Alī bin Abī Ṭālib telah berbeda dengan situasi pada masa sebelumnya.

Pertentangan politik umat Islam pada masa ini semakin menajam. Peperangan antara pendukung ‘Ali dan Mu’awiyah telah terjadi. Hal ini tentunya memberikan kontribusi negatif dalam periwayatan hadis. Kepentingan politik telah mendorong pihak-pihak tertentu melakukan pemalsuan hadis. Sehingga tidak semua periwayatan hadis dapat dipercaya.

Setelah anda membaca sejarah hadis pada masa Abū Bakar as ̣-Ṣiddīq, ‘Umar bin al-Khatthāb, ‘Uśmān bin Affān, dan ‘Alī bin Abī Ṭālib, sekarang bandingkan!

Dalam dokumen ILMU HADIS SISWA edited januari 2015 (Halaman 37-40)