BAB I Norma-Norma Umum Penahanan
E. Hak Atas Bantuan Hukum dan Akses Kepada Advokat
Bantuan hukum dari advokat sangat penting dan mendasar untuk mempertahankan hak asasi orang-orang yang menjalani penahanan prapersidangan. Keberadaan advokat akan menjamin kebebasan pengadilan dari tekanan yang tidak layak, agar penahanan yang tidak sah dapat diputuskan dengan baik berdasarkan hukum yang berlaku.302 Hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari pengacara dijamin sebab terkait dengan pelaksanaan hak atas persidangan yang adil. Hak ini harus diberikan segera setelah penahanan dilakukan.
ICCPR menyatakan, dalam setiap penentuan tuduhan atas kejahatan terhadap seseorang, maka dia berhak atas jaminan-ja i a i i al de ga persa aa se ara pe uh, yaitu: … u tuk di eri
waktu dan fasilitas yang memadai untuk menyiapkan pembelaannya dan untuk menghubungi pengacara yang dipilihnya sendiri; … d u tuk diadili de ga kehadira ya da u tuk e ela
dirinya secara langsung atau melalui pembela yang dipilihnya sendiri; untuk diberitahu akan hak ini
300
Pasal 75 huruf g UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
301
Lihat Pasal 43 Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang Manajeman Penyidikan Tindak Pidana.
302
Pentingnya hak ini ditegaskan dalam Pasal 14 Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. Selain itu, Peraturan Standar Minimum juga menjamin para tahanan berupa hak mendapatkan akses kepada advokat pada awal proses peradilan pidana. Tiga perangkat standar yakni Pedoman tentang Peran Penuntut Umum (UN Guidelines on the Role of Prosecutors), Prinsip-prinsip Dasar tentang Peran Advokat (UN Basic Principles on the Roleof Lawyers)dan Prinsip-prinsip Dasar tentang Kebebasan Pengadilan (UN Basic Principles on the Independence of the Judiciary) juga memberikan penekanan yang sama, untuk turut membantu mempertahankan perlindungan hak-hak individu dalam tahanan.
10
jika ia tidak mempunyai pembela; untuk diberikan pembela demi kepentingan keadilan dan tanpa membayar jika ia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membayarnya; (e) untuk memeriksa atau meminta agar diperiksanya saksi saksi yang memberatkan dirinya dan meminta untuk dihadirkan saksi-saksi yang meringankan dengan syarat-syarat yang sama dengan saksi yang memberatkan;303
Dalam peraturan standar minimum, dinyatakan bahwa untuk tujuan pembelaannya, tahanan yang belum diadili harus diijinkan untuk meminta bantuan hukum cuma-cuma bila bantuan tersebut tersedia dan untuk menerima kunjungan dari penasihat hukumnya dengan maksud untuk pembelaannya, dan untuk mempersiapkan serta memberikan intruksi rahasia kepadanya.
Demi terlaksananya tujuan-tujuan tersebut, tahanan juga harus diberikan alat tulis bila memintanya. Wawancara antara tahanan dan penasihat hukumnya dapat dilakukan di bawah pengawasan, namun tidak dapat didengar oleh polisi atau petugas tahanan.304
Dalam prinsip mengenai penahanan, orang yang ditahan berhak untuk mendapatkan bantuan dari penasihat hukum, diberitahu mengenai haknya oleh aparat yang berwenang segera setelah penangkapan dilakukan, dan harus disediakan fasilitas yang memadai untuk menjalankannya.305 Apabila orang yang ditahan tidak memiliki penasihat hukum yang dipilihnya sendiri, maka dia berhak mendapatkan penasihat hukum yang ditunjuk oleh pengadilan atau aparat lain dalam semua kasus yang memerlukannya. Hal itu dilakukan demi kepentingan keadilan dan secara cuma-cuma jika ia tidak mampu membayarnya.306
Dalam prinsip mengenai pengacara, pemerintah harus menjamin bahwa semua orang yang ditangkap atau ditahan, baik dengan atau tanpa tuduhan harus mendapatkan akses yang cepat kepada pengacara, tidak lebih dari 48 jam dari waktu penangkapan atau penahanan.
Selain itu, semua orang yang ditangkap dan ditahan harus diberikan kesempatan waktu dan fasilitas yang memadai untuk dikunjungi dan berhubungan serta berkonsultasi dengan pengacara tanpa penundaan, intersepsi atau sensor serta dalam kerahasiaan yang penuh. Konsultasi tersebut dapat dilakukan di bawah pengawasan tetapi tanpa didengar penegak hukum.307
Komite HAM PBB telah mengakui bahwa hak atas pengacara berarti hak atas pengacara yang efektif. Orang yang memberikan perwakilan hukum harus mempunyai kemampuan untuk mewakili tersangka.308 Penasihat hukum juga harus sepenuhnya mewakili kepentingan orang tersebut dan membantu demi kepentingan orang tersebut.309
Komite HAM PBB juga menekankan bahwa hak seseorang untuk memilih pengacara harus diberikan segera saat penahanan dilakukan. Komite HAM PBB tidak mengakui sistem suatu negara yang mengizinkan seorang tersangka teroris hanya mendapatkan pengacara yang ditunjuk oleh negara selama 5 hari pertama penahanan.310 Meski Pasal 14 ayat (3) huruf (d) ICCPR tidak menjamin hak untuk memilih pengacara sendiri, Komite HAM PBB menyatakan pasal tersebut mewajibkan negara
303
Lihat Pasal 14 ayat (3) ICCPR.
304
Lihat Peraturan Standar Minimum, Peraturan 93.
305
Lihat Prinsip-prinsip Mengenai Penahanan, Prinsip 17 ayat (1).
306
Lihat Ibid, Prinsip 17 ayat (2).
307
Lihat Prinsip-prinsip Mengenai Pengacara, Prinsip 7.
308
Lihat kasus Elena Beatriz Vasilskisv vs. Uruguay (80/1980) (31 Maret 1983).
309
Lihat Miguel Angel Estrella vs. Uruguay (74/1980) tanggal 29 Maret 1983.
310
11
untuk mengambil tindakan untuk menjamin bahwa pengacara yang ditunjuk memberikan perwakilan yang efektif bagi tertuduh.311
Praktik di Kawasan
Dalam praktik perlindungan HAM di Amerika, hak atas pengacara diartikan bahwa tertuduh harus diizinkan untuk mendapatkan bantuan hukum saat dia ditahan pertama kali. Pengertian ini merujuk pada penjelasan Komisi Inter-Amerika ketika memeriksa undang-undang yang mencegah tahanan untuk mendapatkan pengacara selama masa penahanan administratif dan penyelidikan. Komisi HAM Inter-Amerika melihat bahwa bukti yang menentukan mungkin diperoleh selama masa penahanan awal ini, dan menyatakan absennya bantuan hukum pada fase ini dapat dianggap secara serius melanggar hak atas pembelaan.312 Menjamin akses kepada pengacara juga mencegah kemungkinan pelanggaran HAM mendasar lainnya. Selanjutnya, pengacara harus diizinkan untuk hadir ketika tertuduh memberikan pernyataan, diinterogasi atau menandatangani pernyataan.313
Sementara di kawasan Eropa, dalam menfasirkan hak atas pengacara yang ditegaskan oleh Konvensi Eropa, Komisi Eropa menyatakan bahwa tidak cukup bagi negara untuk menunjuk pengacara bagi tertuduh yang miskin. Komisi Eropa menegaskan, negara juga harus menyediakan pengacara yang efektif dan berkewajiban untuk memastikan bahwa pengacara yang ditunjuk menjalankan tugasnya. Apabila perlu, aparat harus mengawasi pengacara yang ditunjuk menggantinya atau memaksanya menjalankan tugasnya dengan baik.314
Dalam suatu kasus di Pengadilan HAM Eropa, pengadilan dalam negeri telah menolak untuk mengganti penasihat hukum yang ditunjuk oleh pengadilan terdapat laporan dari tertuduh bahwa pengacara tersebut tidak menjalankan tugasnya. Pengadilan HAM Eropa menyatakan bahwa dengan tidak mengganti pengacara yang ditunjuk tersebut, negara telah mengingkari hak tertuduh atas penasihat hukum yang efektif.315 Akan tetapi, biasanya penasihat hukum yang ditunjuk tidak diawasi dengan ketat oleh pengadilan.316
Pengadilan HAM Eropa menyatakan bahwa penunjukan pengacara diharuskan oleh kepentingan keadilan apabila keahlian diperlukan untuk menjalankan pembelaan yang memadai.317 Apabila penunjukkan pengacara diperlukan, tertuduh harus memberikan pernyataan tentang pengacara yang dipilihnya.318 Hak atas pengacara mencakup hak untuk berkonsultasi dengan pengacara tanpa diawasi oleh petugas tempat penahanan. Hak ini berlaku bagi kunjungan pribadi dan bagi korespodensi antara tahanan dan pengacara.319
Dalam beberapa kasus, Komisi Eropa menyatakan bahwa hak atas fasilitas yang memadai untuk menyiapkan pembelaan berimplikasi pada hak atas akses yang sewajarnya terhadap berkas-berkas penuntut umum.320 Para tertuduh mempunyai hak atas semua informasi yang relevan yang dimiliki oleh penuntut umum sehingga dapat membantu mereka untuk membebaskan diri
311
Lihat Palu Kelly vs. Jamaica (253/1987) 8 April tahun 1991.
312
Lihat OAS, Annual Report of the Inter American Commision non Human Rights (OEA/Ser.L/V/II.68, rev 1).
313
Lihat OAS, Report on the situation of human rights in the republic of Guatemala (OEA/Ser.L/V/II.6, doc 47 rev 1).
314
Lihat aplikasi No. 9127/80 tanggal 6 Oktober 1981, Digest of Case Law vol. 2, hal. 846.
315
Lihat kasus Artico. Pengadilan menyatakan bahwa nominasi belaka tidak menjamin bantuan yang efektif, karena Pengacara yang ditunjuk untuk tujuan bantuan hukum mungkin saja meninggal, jatuh sakit secara serius dicegah untuk waktu yang berkepanjangan dari bersikap atau melailaikan tugasnya. Apabila mereka diberitahukan mengenai situasi tersebut, aparat-aparat tersebut harus mengganti atau memaksa orang tersebut memenuhi kewajibannya.
316
Lihat kasus Kamsinski, Digest of Case Law vol. 2, hal. 168.
317
Lihat kasus Artico, Digest of Case Law vol. 2, hal. 18.
318
Lihat kasus Packelli, Digest of Case Law vol. 2, hal. 15.
319
Lihat kasus Schonenberger and Durmaz, juga S v. Swiss.
320
12 dari tuduhan atau mengurangi hukuman mereka.321
Merujuk pada instrumen-instrumen internasional HAM di atas, serta praktik di sejumlah kawasan, akses kepada pengacara harus diberikan pada kesempatan yang paling awal setelah seseorang dituduh melakukan suatu tindak kejahatan.
Tempat-tempat penahanan sering membuat para tahanan hanya dapat menemui pengacara mereka pada pagi hari atau siang hari, ketika banyak pengacara hatus menghadiri sidang atau menanganai kasus lain.
Oleh karena itu, pengelola tempat-tempat penahanan harus mempertimbangkan untuk mengizinkan tahanan menerima kunjungan pengacara setelah hari sidang atau pada hari-hari ketika tidak ada sidang untuk memudahkan hubungan para tahanan dengan pengacara mereka.322
Tempat-tempat penahanan harus membuat ruangan khusus bagi kunjungan-kunjungan pengacara yang terpisah dengan ruang kunjungan umum. Ruangan-ruangan ini harus harus menjamin kebebasan pribadi dan kontak muka serta sarana yang memadai untuk bekerja (meja dengan bangku-bangku).323
Apabila tahanan prapersidangan tidak fasih dalam bahasa negara yang menahannya dan pengacaranya tidak fasih dalam bahasa tahanan tersebut (khususnya bila pengacara tersebut ditunjuk oleh pengadilan), maka negara harus melindungi hak-hak tertuduh untuk menyiapkan pembelaannya dan untuk mendapatkan perwakilan yang memadai dengan berusaha menyediakan penerjemah dalam setiap kunjungan antara tahanan dengan pengacaranya.
Berdasarkan hak-hak menurut hukum yang telah dijabarkan dalam standar internasional, aparat penegak hukum harus memberitahukan kepada para tahanan mengenai hak-hak di atas. Selain itu, tidak ada tahanan yang dapat dihukum atau diberikan sanksi karena memberikan informasi kepada tahanan lain mengenai hak-hak tersebut di atas. Seorang tahanan juga tidak dapat dihukum karena menuntut hak-hak tersebut baik atas nama sendiri atau orang lain.
E.2. Jaminan hak atas bantuan Hukum dan akses kepada advokat
Dalam sistem peradilan pidana, kehadiran advokat menjadi titik penting untuk melindungi hak tersangka dan terdakwa guna mendapatkan peradilan yang adil. Karena itu, bantuan hukum dinyatakan sebagai hak konstitusional warga negara untuk mendapatkan akses terhadap keadilan. Pasal 35 UU No. 14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa bantuan hukum adalah hak bagi setiap orang yang tersangkut perkara. Dalam sistem peradilan pidana, Pasal 36 UU Kekuasaan Kehakiman secara tegas menyatakan bahwa bantuan hukum terhadap tersangka diberikan sejak saat penangkapan dan penahanan.
Ketentuan di atas ditegaskan kembali di dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dan UU No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
321
Lihat Guy Jespers v. Belgia No. 8403/78.
322
Lihat S Casale dan Plotnikoff, Regimes for Remand Prisoners (Prison Reform Trust 1990), hal. 20.
323
13
Semua peraturan perundang-undangan di atas mencantumkan hak atas bantuan hukum kepada orang yang terlibat perkara hukum dan merupakan kewajiban dari setiap pengadilan untuk membuat pos bantuan hukum.324
Secara khusus bantuan hukum diatur dalam KUHAP pada Bab XVII tentang Bantuan. Hak tersangka dan terdakwa mengenai bantuan hukum diatur Pasal 54-57, dan Pasal 59-62 KUHAP. Khusus untuk masyarakat miskin atau yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih atau yang diancam dengan pidana mati, KUHAP telah mengatur secara khusus hak atas bantuan hukum ini dalam Pasal 56.
Ketentuan di atas ditindaklanjuti melalui Instruksi Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.24-UM.06.02 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Golongan Masyarakat yang Kurang Mampu. Instruksi ini menjadi landasan lahirnya pos bantuan hukum atas inisiatif masyarakat yang ada di pengadilan, untuk mendapat dana dari negara dan pengelolaan dana tersebut dilakukan oleh pengadilan negeri setempat.
Khusus untuk anak yang terlibat tindak pidana, Pasal 51 dan Pasal 52 UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak telah menjamin hak dari setiap anak yang diduga terlibat dalam tindak pidana untuk mendapatkan bantuan hukum sejak ditangkap atau ditahan dan di setiap tingkat pemeriksaan. Ketentuan ini diperkuat dengan hadirnya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan dalam Pasla 17 UU Perlindungan Anak bahwa setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku, dengan tujuan membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.
Kemudian Pasal 18 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan, setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sementara UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, khususnya dalam Pasal 22 ayat (1) menekankan bahwa setiap advokat wajib memberikan bantuan hukum kepada masyarakat miskin.325
UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum juga menjamin dan memenuhi hak bagi Penerima Bantuan Hukum untuk mendapatkan akses keadilan dan mewujudkan hak konstitusional segala warga negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum.326 Melalui UU Bantuan Hukum, orang miskin atau kelompok orang miskin yang tidak dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri dapat menerima bantuan hukum yang meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha negara baik litigasi maupun nonlitigasi327.
324
Mandat undang-undang tersebut kemudian ditindaklanjuti MA dengan keluarnya Surat Edaran MA No. 10 Tahun 2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum. Melalui SEMA tersebut di setiap Pengadilan Umum, Agama dan Tata Usaha Negara akan diaktifkan kembali pos bantuan hukum. SEMA ini kemudian tidak lagi berlaku sejak diberlakukannya UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum
325
Ketentuan ini ditindaklanjuti dengan keluarnya PP No. 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma, dan keluarnya Peraturan PERADI No. 1 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma.
326
Lihat Pasal 3 huruf b dan c UU No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.
327
14