BAB II AKIBAT HUKUM ATAS PELAKSANAAN PEMBERIAN
E. Akibat Hukum Atas Pelaksanaan Pemberian Wakaf Atas
2. Hak Dan Kewajiban Nadzir Dalam Fiqih Islam
Didalam ilmu fiqih Islam diajarkan tatacara atau ketentuan melaksanakan ibadah atau mengamalkan dari ajaran agama islam. Dan ada 4 (empat) mahzab yang diakui serta ajaran pengamalan fiqih islam berkembang dan dipakai hingga sekarang oleh umat islam. tentang wakaf. Berikut ini pendapat 4 (empat) mahzab tentang wakaf:
a. MenurutMahzabImam Syafi’i, wakaf yaitu menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap kekalnya barang tersebut tetapi sudah terputus dari penguasaannya dan dibelanjakan pada hal-hal yang dibolehkan agama.
Mahzab Imam Syafi’i sangat menekankan wakaf pada fixed aset (harta tetap), sehingga menjadikannya syarat sah wakaf. Menurut Mahzab Imam Syafi’i dibolehkannya wakaf barang bergerak karena keabadian ada pada setiap barang sesuai dengan jenisnya. Maka sesuatu yang tidak bisa dijamin keabadiannya maka makna keabadiannya diukur berdasarkan daya tahan barangnya. Sedangkan mengenai wakaf tunai alasannya karena dinilai bendanya tidak bisa kekal ketika dimanfaatkan, selain itu jika berdasarkan
’urf, maka wakaf uang hanya berlaku diwilayah-wilayah tertentu.
b. Menurut Mahzab Imam Hanafi, wakaf yaitu Menahan benda atas nama wakif, sedangkan yang disedekahkan adalah manfaatnya. Menurut madzab Imam Hanafi, barang bergerak boleh diwakafkan apabila menyatu dengan tanah dan juga barang-barang bergerak yang dinyatakan dalam hadits seperti senjata dan kuda untuk tujuan jihad. Mutaqaddimin dari ulama madzab Imam Hanafi, membolehkan wakaf uang sebagai pengecualian atas dasar istihsan bi al’urfi.
Sedangkan untuk alasan dibolehkannya benda bergerak dengan syarat menyatu dengan tanah belum dapat ditemukan secara pasti.
c. Menurut Mahzab Imam Maliki, wakaf yaitu menjadikan manfaat harta milik walaupun dengan cara sewa atau bagi hasil diberikan kepada yang berhak dengan berjangka sesuai dengan yang diinginkansiwakif. Dalam Mahzab
Imam maliki telah membuka luas kesempatan untuk memberikan wakaf dalam jenis aset apapun, baik aset tetap, aset bergerak maupun aset yang paling likuit yaitu uang tunai atau yang disebut wakaf tunai. Bahkan dalam Mahzab Imam Maliki memperlebar lagi wakaf pada benda bergerak seperti wakaf susu pada sapi atau wakaf buah pada pohon.
d. Menurut Mahzab Imam Hambali, wakaf yaitu pembatasan terhadap pemilik harta secara mutlak untuk membelanjakan hartanya yang bermanfaat dengan tetap barangnya tetapi terputus dalam penguasaannya yang mana hasilnya dibelanjakan kepada hal-hal yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Nadzir berasal dari kata kerja bahasa Arab nadzara yandzurunadzaran yang mempunyai arti, menjaga, memelihara, mengelola dan mengawasi. Adapun Nadzir adalah isim fa’il dari kata Nadzir yang kemudian dapat diartikan dalam bahasa Indonesia dengan pengawas (penjaga). Sedangkan Nadzir wakaf atau biasa disebut Nadzir adalah orang yang diberi tugas untuk mengelola wakaf. Secara istilah Nadzir adalah orang atau sekelompok orang dan badan hukum yang diserahi tugas oleh Waqif (orang yang berwaqaf) mengelola wakaf. Dalam berbagai kitab fiqih Nadzir disebut juga mutawalli, orang yang mendapat kuasa mengurus dan mengelola wakaf.
Dari pengertian Nadzir yang telah dikemukakan, tampak dalam perwakafan, Nadzir memegang peranan yang sangat penting. Walaupun para mujtahid tidak menjadikan Nadzir sebagai salah satu rukun wakaf, namun para ulama sepakat bahwa wakif harus menunjuk Nadzir wakaf (pengawas wakaf) baik Nadzir tersebut wakif sendiri,
mauquf alaihnya.112
Dari pengertian Nazhir yang telah dikemukakan di atas, nampak bahwa dalam perwakafan, Nazhir memegang peranan yang sangat penting. Agar harta itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan dapat berlangsung terus-menerus, maka harta itu harus dijaga, dipelihara, jika mungkin dikembangkan.113
Tanggung jawab nadzir yang merupakan kewajiban nadzir adalah mengelola, mengawasi, memperbaiki, dan mempertahankan harta wakaf dari gugatan orang lain.
Apabila seseorang telah di tunjuk menjadi nadzir, maka ia boleh menyewakan dan/atau mengembangkan benda harta wakaf serta membagi-bagikan hasilnya kepada para penerima wakaf. Dalam usaha mengembangkan harta wakaf itu, agar produktif, menurut ulama Mazhab Hanafi, nadzir demikian kata mazhab Hanafi berhak menerima upah yang wajar.114
Dengan demikian nadzir berarti orang yang berhak untuk bertindak atas harta wakaf, baik untuk mengurusnya, memelihara, dan mendistribusikan hasil wakaf kepada orang yang berhak menerimanya, ataupun mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan harta itu tumbuh dengan baik dan kekal. Akan tetapi nadzir tidak bebas dalam melaksanakan tugasnya, ia tetap harus membuat laporan setiap kegiatan yang berkaitan dengan tanah wakaf yang ia kelola. Seorang nadzir berhak mendapatkan bagian dari hasil usaha wakaf produktif yang ia kelola dan kembangkan. Hal ini berdasarkan praktek sahabat Umar Bin Khatab Dan Ali Bin Abu
112 Tahir Azhary, Hukum Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarta: Papas Sinar Sinanti, 2005), hal.
116.
113Panduan Wakaf, (Jakarta: Majelis Wakaf dan ZIS PP. Muhammadiyah, 2010), hal. 25-26.
114M. Hasballah Thaib, Op.cit., hal. 75.
Thalib. Menurut madzhab Hanafi, Maliki dan Imam Ahmad nadzir berhak mendapat upah dari hasil usaha harta wakaf yang telah dikembangkan. Adapun besarnya berbeda satu sama lain sesuai dengan tanggung jawab dan tugas yang diembankan.
Tetap sesuai dengan ketentuan wakif, jika wakif tidak menetapkan, maka ditetapkan oleh hakim atau kesepakatan para pengelola/managemen wakaf yang ada. Sementara madzhab Syafi’i menyatakan bahwa wakif tidak berhak mendapatkan bagian.115
Agar kelestarian harta wakaf tetap terjaga, maka dalam Syariat Islam diberikan hak nadzir sebagai upah atas jerih payahnya dalam pengurusan wakaf.
Dalam menentukan hak bagi nadzir Rasulullah menyatakan sebagai berikut:
“dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoinya keduanya berkata …. Tidaklah berdosa orang yang memelihara harta tersebut memakan dari padanya (harta wakaf) dengan cara patut atau memberi makan saudaranya, tidak untuk menumpuk harta atau memperkaya dirinya (muttafaqun alaih)”.116
Ini artinya bahwa Rasullulah memberikan garisan bahwa nadzir wakaf berhak mendapatkan upah, selama ia melakukan tugasnya dengan baik. Jadi yang dimaksud dengan kata-kata “ma’ruf” dalam hadist diatas adalah yang sesuai dengan kebiasaan.
yang berlaku. Hal seperti diatas dijelaskan kembali oleh Sayid Sabiq, yaitu: “orang yang mengurus harta wakaf boleh memakan sebagian dari hasilnya”.117
Adapun dalam konsep Islam Upah adalah imbalan yang diterima seseorang atas pekerjaannya dalam bentuk imbalan materi di dunia (adil dan layak) dan dalam bentuk imbalan pahala di akherat (imbalan yang lebih baik). Dan penetapan upah
115 Hasil Wawancara dengan H. Bahrum Jamil, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, Pada Tanggal 03 Desember 2015, Pukul 14.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB.
116Abdul Halim, Hukum Perwakafan di Indonesia, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 117.
117Ibid.
dalam Islam di lihat dari dua faktor yaitu adil dan layak. Adil memiliki dua arti, pertama jelas atau transparan, kedua bermakna proporsional. Sedangkan Layak memiliki dua arti juga yaitu cukup pangan, sandang dan papan, yang kedua sesuai dengan pasaran, yang mana dua faktor tersebut sudah memenuhi kebutuhan hidup layak bagi pekerja ataupun buruh. konsep upah menurut Islam sangat besar kaitannya dengan konsep moral dan Islam juga memandang upah bukan hanya sebatas materi (kebendaan atau keduniaan) tetapi menembus batas kehidupan yakni berdimensi pada akhirat yang disebut dengan pahala.118
3. Pelaksanaan Wakaf di Indonesia Dan Penerapan Fiqih Wakaf di Indonesia