• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Hak dan Kewajiban Konsumen menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 adalah sebagai berikut :

a. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa;

b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e. Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur secara tidak diskriminatif;

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Adapun mengenai kewajiban konsumen dijelaskan dalam Pasal 5, yakni :

a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;

b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindugan konsumen secara patut.37

2. Hak dan Kewajiban Konsumen Menurut Ordonasi Pengangkutan Udara Tahun 1939

Hak konsumen/penumpang yang tertuang dalam OPU 1939 adalah Seorang penumpang dalam perjanjian angkutan udara tentunya mempunyai hak untuk diangkut ke tempat tujuan dengan pesawat udara yang telah

37

Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 4.

ditunjuk atau dimaksudkan dalam perjanjian angkutan udara yang bersangkutan. Di samping itu juga penumpang atau ahli warisnya berhak untuk menuntut ganti rugi atas kerugian yang dideritanya sebagai akibat adanya kecelakaan penerbangan atas pesawat udara yang bersangkutan. Selain itu hak-hak penumpang lainnya adalah menerima dokumen yang menyatakannya sebagai penumpang, mendapatkan pelayanan yang baik, memperoleh keamanan dan keselamatan selama dalam proses pengangkutan dan lain-lain.

Adapun kewajiban Konsumen/penumpang sebagai salah satu pihak dalam perjanjian angkutan udara maka penumpang memiliki kewajiban-kewajiban sebagai berikut :

a. Membayar uang angkutan, kecuali ditentukan sebaliknya;

b. Mengindahkan petunjuk-petunjuk dari pengangkut udara atau dari pegawai-pegawainya yang berwenang untuk itu;

c. Menunjukan tiketnya kepada pegawai-pegawai pengakut udara setiap saat apabila diminta;

d. Tunduk kepada peraturan-peraturan pengangkut udara mengenai syarat-syarat umum perjanjian angkutan muatan udara yang disetujuinya;

e. Memberitahukan kepada pengangkut udara tentang barang-barang berbahaya atau barang-barang terlarang yang dibawa naik sebagai bagasi

tercatat atau sebagai bagasi tangan, termasuk pula barang-barang terlarang yang ada pada dirinya.38

3. Hak dan Kewajiban Penumpang Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009

Hak penumpang menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, antara lain:

a. Pasal 118 ayat (1) huruf e yaitu melayani calon penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku, agama, ras, antargolongan, serta strata ekonomi dan sosial;

b. Pasal 140 ayat (2) yaitu badan usaha angkutan udara niaga wajib memberikan pelayanan yang layak terhadap setiap pengguna jasa angkutan udara sesuai dengan perjanjian pengangkutan yang disepakati

c. Pasal 134 ayat (1), (2), dan (3) yaitu mendapatkan pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus bagi penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak dibawah umur 12 tahun dan/atau orang sakit;

d. Pasal 141 ayat (1) yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat;

38

e. Pasal 144 yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah, atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat berada dalam pengawasan pengangkut;

f. Pasal 145 yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengirim kargo karena kargo yang dikirim hilang, musnah atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama kargo berada dalam pengawasan pengangkut;

g. Pasal 147 ayat (1) dan (2) yaitu, pengangkut bertanggung jawab atas tidak terangkutnya penumpang, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan alasan kapasitas pesawat udara. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memberikan kompensasi kepada penumpang berupa mengalihkan ke penerbangan lain tanpa membayar biaya tambahan atau memberikan konsumsi, akomodasi, dan biaya transportasi apabila tidak ada penerbangan lain ke tempat tujuan.

h. Pasal 151 ayat (1) yaitu pengangkut wajib menyerahkan tiket kepada penumpang perseorangan atau penumpang kolektif

i. Pasal 151 ayat (2) yaitu tiket penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat :

1) Nomor, tempat, dan tanggal penerbitan; 2) Nama penumpang dan nama pengangkut;

4) Nomor penerbangan;

5) Tempat pendaratan yang direncanakan antara tempat pemberangkatan dan tempat tujuan, apabila ada;dan

6) Pernyataan bahwa pengangkut tunduk pada ketentuan dalam undang-undang ini.

j. Pasal 152 ayat (1) yaitu pengangkut harus menyerahkan pas masuk pesawat udara;

k. Pasal 153 ayat (1) yaitu pengangkut wajib menyerahkan tanda pengenal bagasi;

l. Penumpang, pemilik bagasi kabin, pemilik bagasi tercatat, pengirim kargo, dan/atau ahli waris penumpang yang menderita kerugian sebagaimana diatur dalam Pasal 141, Pasal 143, Psal 144, Pasal 145 dan Psal 173 dapat mengajukan gugatan terhadap pengangkut di pengadilan negeri di wilayah Indonesia dengan menggunakan hukum Indonesia diatur dalam Pasal 176;

m. Pasal 179 yaitu pengangkut wajib mengasuransikan tanggung jawabnya terhadap penumpang dan kargo yang diangkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141, Pasal 143 Pasal 144, Pasal 145, dan Pasal 146.39 Kewajiban Penumpang antara lain yaitu :

a. Tiket yang digunakan adalah benar-benar milik penumpang dan dibuktikan degan dokumen identitas diri yang sah. (diatur dalam

39

Pasal 151 ayat (3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan;

b. Menjaga barang-barang yang dibawah pegawasannya; c. Melaporkan jenis-jenis barang bawaannya;

d. Dilarang membawa barang yang dapat membahayakan pesawat dan/atau orang lain;

e. Dilarang membawa barang pecah belah, berharga seperti perhiasan, uang, dokumen penting, perangkat elektronik dalam bagasi;

f. Bersedia diperikasa oleh sistem keamanan bandara dan otoritas yang berwenang; dan

g. Check in (melaporkan tiket untuk mendapatkan pas masuk pesawat udara)

dan boarding dalam batas waktu yang ditentukan maskapai

penerbangan.

Apabila penumpang tidak melaksanakan kewajibannya itu, maka sebagai konsekuensinya pengakut udara berhak untuk membatalkan perjanjian angkutan udara itu. Disamping itu juga apabila penumpang yang melalikan kewajibannya itu kemudian menimbulkan kerugian sebagai akibat perbuatannya itu, maka ia sebagai penumpang harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

4. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Hak pelaku usaha sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 adalah sebagai berikut :

a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang dipergunakan;

b. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perudang-undangan. Adapun dalam Pasal 7 diatur kewajiban pelaku usaha sebagai berikut :

a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasaan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau jasa diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

g. Memberi kompensasi ganti rugi dan/ atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

5. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Menurut Ordonasi Pengangkutan Udara Tahun 1939

Hak pelaku usaha/pengangkut secara umum adalah menerima pembayaran ongkos angkutan dari penumpang atau pengirim barang atau jasa angkutan yang telah diberikan. Namun dalam Ordonasi Pengangkutan Udara 1939 hak pengangkut adalah :

a. Pada pasal 7 ayat (1), Setiap pengangkut barang berhak untuk meminta kepada pengirim untuk membuat dan memberikan surat yang dinamakan "surat muatan udara". Setiap pengirim berhak untuk meminta kepada pengangkut agar menerima surat tersebut;

b. Pasal 9, Bila ada beberapa barang, pengangkut berhak meminta kepada pengirim untuk membuat beberapa surat muatan udara;

c. Pasal 17 ayat (1), Bila penerima tidak datang, bila ia menolak untuk menerima barang-barang atau untuk membayar apa yang harus dibayarya, atau bila barang-barang tersebut disita, pengangkut wajib menyimpan barang-barang itu di tempat yang cocok atas beban dan kerugian yang berhak. Dan pada ayat (2) Pengangkut wajib memberitahukan kepada pengirim, dan dalam hal ada penyitaan, juga kepada penerima, secepat-cepatnya dengan telegram atau telepon, atas beban yang berhak tentang penyimpanan itu dan sebab-sebabnya.

Selain hak-hak yang diatur dalam OPU 1939, masih ada hak-hak lain dari pengangkut seperti hak untuk menolak pelaksanaan atau mengangkut penumpang yang tidak jelas identitasnya. Hal tersebut dapat ditemukan dalam tiket peawat yang menyatakan bahwa hak pengangkut untuk menyerahkan penyelenggaraan atau pelaksanaan perjanjian angkutan kepada perusahaan penerbangan lain, serta merubah tempat-tempat pemberhentian yang telah disetujui.

Adapun Kewajiban Pelaku Usaha menurut OPU 1939 adalah sebagai berikut :

a. Pasal 8 ayat (3), pengangkut harus menandatangani surat muatan udara segera setelah barang-barang diterimanya;

b. Pasal 16 ayat (2), bila barang telah tiba di pelabuhan udara tujuan, pengangkut berkewajiban untuk memberitahu kepada penerima barang kecuali bila ada perjanjian sebaliknya;

c. Pasal 17 ayat (1), bila penerima tidak datang, bila ia menolak untuk menerima barang-barang atau membayar apa yang harus dibayarnya, atau bila barang-barang tersebut disita, pengangkut wajib menyimpan barang-barang tersebut ditempat yang cocok atas beban dan kerugian yang berhak;

d. Pasal 17 ayat (2), pengangkut wajib memberitahukan kepada pengirim, dan dalam hal ada penyitaan, juga kepada penerima, secepat-cepatnya dengan telegram atau telepon atas beban yang berhak tentang penyimpanan itu dan sebab-sebabnya.

6. Hak dan Kewajiban Pengangkut menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.

Hak Pengangkut menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, antara lain :

a. Pasal 142 ayat (1) yaitu dapat menolak untuk mengangkut calon penumpang yang sakit, kecuali orang tersebut dapat menyerahkan surat keterangan dokter kepada pengangkut yang menyatakan bahwa orang tersebut diizinkan dapat diangkut dengan pesawat udara;

b. Pasal 164 ayat (2) yaitu menjual kargo yang telah melebihi batas waktu dan hasilnya digunakan untuk pembayaran biaya yang timbul akibat kargo yang tidak diambil oleh penerima;

c. Pasal 177 yaitu menolak gugatan kerugian oleh penumpang atau pengirim barang setelah dalam jangka waktu 2 tahun terhitung mulai tanggal seharusnya kargo dan bagasi tersebut tiba ditempat tujuan; d. Pasal 185 yaitu menuntut pihak ketiga yang mengakibatkan timbulnya

kerugian terhadap penumpang, pengirim, atau penerima kargo yang menjadi tanggung jawab pengangkut.

Kewajiban Pengangkut Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, antara lain :

a. Pasal 118 ayat (1) huruf f yaitu melayani calon penumpang secara adil b. Pasal 140 ayat (2) yaitu badan usaha angkutan udara niaga wajib

memberikan pelayanan yang layak terhadap setiap pengguna jasa angkutan udara sesuai dengan perjanjian pengangkutan yang disepakati c. Pasal 134 ayat (1), (2), dan (3) yaitu mendapatkan pelayanan berupa

perlakuan dan fasilitas khusus bagi penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak dibawah umur 12 tahun dan/atau orang sakit;

d. Pasal 141 ayat (1) yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat;

e. Pasal 144 yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah, atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat berada dalam pengawasan pengangkut;

f. Pasal 145 yaitu pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengirim kargo karena kargo yang dikirim hilang, musnah atau rusak yang diakibatkan oloeh kegiatan angkutan udara selama kargo berada dalam pengawasan pengangkut;

g. Pasal 147 ayat (1) dan (2) yaitu, pengangkut bertanggung jawab atas tidak terangkutnya penumpang, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan alasan kapasitas pesawat udara. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memberikan kompensasi kepada penumpang berupa mengalihkan ke penerbangan lain tanpa membayar biaya tambahan atau memberikan konsumsi, akomodasi, dan biaya transportasi apabila tidak ada penerbangan lain ke tempat tujuan. h. Pasal 151 ayat (1) yaitu pengangkut wajib menyerahkan tiket kepada

penumpang perseorangan atau penumpang kolektif

i. Pasal 151 ayat (2) yaitu tiket penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat :

1. Nomor, tempat, dan tanggal penerbitan; 2. Nama penumpang dan nama pengangkut;

3. Tempat, tanggal, waktu pemberangkatan, dan tujuan pendaratan; 4. Nomor penerbangan;

5. Tempat pendaratan yang direncanakan antara tempat pemberangktan dan tempat tujuan, apabila ada; dan

6. Pernyataan bahwa pengangkut tunduk pada ketentuan dalam undang-undang ini.

j. Pasal 152 ayat (1) yaitu pengangkut harus menyerahkan pas masuk pesawat udara;

k. Pasal 153 ayat (1) yaitu pengangkut wajib menyerahkan tanda pengenal bagasi;

l. Pasal 158 yaitu memberi prioritas pengiriman dokumen penting yang bersifat segera serta kargo yang memuat barang mudah rusak dan/atau cepat busuk (perishable goods).

m. Pasal 162 yaitu pengangkut wajib segera memberi tahu penerima kargo pada kesempatan pertama bahwa kargo telah tiba dan segera diambil.

Adapun Hak dan Kewajiban pengangkut berdasarkan tiket atau syarat dan ketentuan maskapai penerbangan pada umumnya, yaitu:

a. Pengangkut berhak untuk menolak pengembalian uang pada saat permohonan dibuat setelah lebih dari validitas tanggal kadaluarsa dari tiket atau pada pengambilalihan lainnya;

b. Pengangkut tidak akan memberikan ganti rugi atas kehilangan tiket penumpang baik dalam bentuk uang atau penggantian tiket baru;

c. Pengangkut berhak untuk memerikasa apakah tiket benar dipakai oleh orang yang berhak dan menolak mengangkut yang identitasnya tidak sesuai dengan tiket;

d. Pengangkut tidak bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan oleh pembatalan dan/atau keterlambatan pengangkutan ini, termasuk segala keterlambatan dating penumpang dan/atau keterlambatan penyerahan bagasi;

e. Pengangkut dapat meninggalkan penumpang apabila penumpang tidak tepat waktu;

f. Bagasi tercatat hanya akan diserahkan pada penumpang bila teket bagasinya dikembalikan kepada pengangkut;

g. Bila penumpang pada saat penerimaan bagasi tidak mengajukan protes maka dianggap bagasi itu telah diterima dalam keadaan lengkap dan baik;

h. Ganti rugi atas kehilangan dan kerusakan bagasi ditetapkan sejumlah maksimum Rp. 20.000,- per kilogram;

i. Pengangkut tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan barang pecah belah, cepat busuk dan binatang hidup jika diangkut sebagai bagasi; j. Pengangku tidak bertanggung jawab terhadap uang, perhiasan,

dokumen-dokumen serta surat-surat berharga atau sejenisnya jika dimasukkan kedalam bagasi;

k. Penumpang yang namanya tercantum dalam tiket dipertanggungjawabkan pada PT. Kerugian Jasa Raharja;

l. Penumpang dapat membawa 20 kg bagasi tanpa dikenakan biaya tambahan;

m. Penumpang dapat membawa 1 tas tangan wanita, buku saku, atau dompet uang, satu baju mantel atau selimut, satu alat potret kecil dan/atau alat untuk melihat jauh, perlengkapan bayi, satu payung atau tongkat untuk berjalan, sejumlah buku bacaan, satu kursi roda dan alat bantu lain untuk penumpang yang tidak dapat berjalan sendiri. Semua alat-alat tersebut bebas dari biaya bagasi.

n. Penumpang dilarang membawa barang yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.40

Adapun beberapa aspek perlindungan konsumen pada transportasi udara adalah :

a. Aspek Keselamatan Penerbangan

Tujuan utama kegiatan penerbangan komersil adalah keselamatan penerbangan. Aspek ini berkaitan erat dengan perlindungan konsumen terhadap pengguna jasa transportasi udara niaga, dalam konteks ini maka semua perusahaan penerbangan wajib untuk mengantisipasi

segala kemungkinan yang dapat mencelakakan penumpangnya, oleh karena itu setiap perusahaan penerbangan komersil dituntut untuk menyediakan armada pesawatnya yang handal dan dalam keadaan layak terbang.

Keselamatan penerbangan berkaitan erat dengan fisik pesawat terbang serta aspek pemeliharaan sehingga terpenuhi persyaratan teknik penerbangan, selain itu aspek keselamatan penerbangan

40

jugaberkenaan erat dengan faktor sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan penerbangan. Keselamatan penerbangan merupakan hasil keseluruhan dari kombinasi berbagai faktor, yaitu faktor pesawat udara, personil, sarana penerbangan, operasi penerbangan dan badan-badan pengatur penerbangan.41

b. Aspek Keamanan Penerbangan

Keamanan penerbangan maksudnya adalah aman dari berbagai gangguan, baik secara teknis maupun gangguan dari perampokan, perampasan, dan serangan teroris. Dalam aspek keamanan ini perusahaan penerbangan wajib menjamin keamanan selama melakukan penerbangan. c. Aspek Kenyamanan Selama Penerbangan

Dalam aspek kenyamanan dalam penerbangan, terkandung makna bahwa keseimbangan hak dan kewajiban diantara para pihak, baik pengangkut maupun penumpang.

d. Aspek Pengajuan Klaim

Dalam kegiatan penerbangan sering kali terjadi resiko kecelakaan yang menimbulkan kerugian bagi penumpang, sehubungan dengan hal tersebut diperlukan perlindungan konsumen bagi penumpang, yaitu adanya prosedur penyelesaian atau pengajuan klaim yang mudah, cepat dan memuaskan. Prosedur yang mudah berarti bahwa penumpang atau ahli warisnya yang sudah jelas haknya, tidak perlu menempuh prosedur yang berbelit dan rumit dalam merealisasikan hak-haknya.

41

Sedangkan prosedur yang murah berarti para penumpang atau ahli waris yang mengalami kecelakaan tidak perlu mengeluarkan biaya-biaya yang mahal untuk menyelesaikan ganti rugi. Penyelesaian sengketa yang cepat mengandung makna bahwa prosedurnya tidak memakai waktu yang lama, dalam kaitan ini dapat menggunakan penyelesaian sengketa diluar pengadilan, sebab biasanya penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan memakan waktu yang lama.

e. Aspek Perlindungan melalui Asuransi

Pada umunya perusahaan penerbangan mengasuransikan dirinya terhadap resiko-resiko yang kemungkinan akan timbul dalam penyelenggaraan kegiatan penerbangannya, antara lain mengasuransikan resiko tangung jawab terhadap penumpang. Di samping asuransi yang ditutup oleh perusahaan penerbangan tersebut, di Indonesia dikenal juga Asuransi Wajib Jasa Raharja. Dalam asuransi ini yang membayar adalah penumpang sendiri, sedangkan perusahaan penerbangan hanyalah bertindak sebagai pemungut saja.42

42

BAB III

KEDUDUKAN PENGANGKUT UDARA DALAM PENGANGKUTAN BAGASI