BAB III TANGGUNG JAWAB KARGO PT GARUDA INDONESIA
B. Hak dan Kewajiban PT Garuda Indonesia terhadap
Sebagaimana dalam perjanjian pengangkutan terdapat hak dan kewajiban para pihak yang harusdilaksanakan dengan baik. Hak dan kewajibana timbul karena adanya hubungan hukum diantara para pihak.
Berikut ini dijelaskan hak dan kewajiban pengangkut dan penumpang padatransportasi udara
1. Hak Pengangkut
Dalam Ordonansi Pengangkutan Udara menjelaskan pengangkutan antara lain adalah sebagai berikut:
a. Di dalam Pasal 7 ayat (1), disebutkan bahwa pengangkutan berhak untuk meminta kepada pengirim barang atau untuk membuat surat muatan udara. b. Di dalam Pasal 9, disebutkan bahwa pengangkut berhak meminta kepada
pengirim barang untuk membuat surat muatan udara, jika ada beberapa barang.
c. Pengangkut juga berhak menolak pengangkutan penumpang jika ternyata identitas penumpang tidak jelas.
d. Hak penumpang yang dicantumkan dalam tiket penumpang yaitu hak untuk menyelenggarakan angkutan kepada perusahaan pengangkut lain, serta
pengubah tempat-tempat pemberhentian yang telah disetujui, semua tetap ada ditangan pengangkut udara.
e. Hak untuk pembayaran kepada penumpang atau pengirim barang atas barang yang telah diangkutnya serta mengadakan peraturan yang perlu untuk pengangkutan dalam batas-batas yang dicantumkan Undang-Undang.
Kewajiban pengangkutan udara dalam Ordonansi Pengangkutan Udara adalah:
a. Pengangkut harus menandatangani surat muatan udara segera setelah muatan barang-barang diterimanya Pasal 8 ayat (2).
b. Bila pengangkut tidak mungkin melaksanakan perintah-perintah dari pengirim, pengangkut harus segera memberitahukan kepada pengirim Pasal 15 ayat (3).
Undang-Undang No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menjelaskan tentang kewajiban pemegang izin angkutan udara dalam Pasal 118 yakni:
a. Melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak izin diterbitkan dengan mengoperasikan minimal jumlah pesawat udara yang dimiliki dan dikuasai sesuai dengan lingkup usaha atau kegiatannya.
b. Memiliki dan menguasai pesawat udara dengan jumlah tertentu.
c. Mematuhi ketentuan wajib angkut penerbangan sipil, dan ketentuan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
d. Menutup asuransi tanggung jawab pengangkut dengan nilai pertanggungan sebesar santunan penumpang angkutan udara niaga yang dibuktikan dengan perjanjian penutupan asuransi.
e. Melayani calon penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku agama, ras, antar golongan, serta strata ekonomi dan sosial.
f. Menyerahkan laporan kegiatan laporan kegiatan angkutan udara termasuk keterlambatan dan pembatalan penerbangan, setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada Menteri.
g. Menyerahkan laporan kinerja keunangan yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik terdaftar yang sekurang-kurangnya memuat neraca, laporan rugi laba, arus kas, dan rincian biaya, setiap tahun paling lambat akhir bulan April tahun berikutnya kepada Menteri.
h. Melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab atas pemilik badan hukum angkutan udara niaga, domisili badan usaha angkutan udara niaga dan pemilikan pesawat kepada Menteri.
i. Memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan.
Khusus untuk wajib angkut, terdapat dalam Pasal 140 dimana pengangkut wajib:
a. Mengangkut orang dan/atau kargo, dan pos setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan.
b. Memberikan pelayanan yang layak terhadap setiap pengguna jasa angkutan udara sesuai dengan perjanjian pengangkutan yang disepakati, dimana perjanjian ini dibuktikan dengan tiket penumpang dan dokumen muatan.
2. Kewajiban PT. Garuda Indonesia
Pasal 140 UU Penerbangan mengatur tentang kewajiban pengangkut yaitu mengangkut orang dan/atau kargo, dan pos setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan memberikan pelayanan yang layak terhadap setiap pengguna
jasa angkutan udara sesuai dengan perjanjian pengangkutan yang disepakati, dimana perjanjian ini dibuktikan dengan tiket penumpang dan dokumen muatan.
Kewajiban-kewajiban dari pihak PT. Garuda Indonesia antara lain:
1. Menyediakan alat pengangkut yang akan digunakan untuk menyelenggarakan pengangkutan.
2. Menjaga keselamatan orang (penumpang) dan/ atau barang yang diangkutnya. Dengan demikian maka sejak pengangkut menguasai orang (penumpang) dan/ atau barang yang akan diangkut, maka sejak saat itulah pihak pengangkut mulai bertanggung jawab (Pasal 1235 KUHPerdata).
3. Kewajiban yang disebutkan dalam Pasal 470 KUHD yaitu sebagai berikut: a. Mengusahakan pemeliharaan, perlengkapan atau peranakbuahan alat
pengangkutnya;
b. Mengusahakan kesanggupan alat pengangkut itu untuk dipakai menyelenggarakan pengangkutan menurut persetujuan;
c. Memperlakukan dengan baik dan melakukan penjagaan atas muatan yang diangkut.
d. Menyerahkan muatan ditempat tujuan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian25
C. Upaya Hukum Bagi Pengirim Barang Yang Mengalami Kerugian pada
PT. Garuda Indonesia
Upaya hukum yang dapat saudara lakukan ialah dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri terhadap Maskapai Penerbangan tersebut. Sesuai
dengan ketentuanPasal 1365 KUHPerdatayang berbunyi :“Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut” Gugatan dapat diajukan di Pengadilan Negeri atau tempat kantor pusat maskapai tersebut berlokasi. Namun sebelum mengajukan gugatan, ada baiknya terlebih dahulu saudara membuat surat peringatan tertulis ataupun somasi kepada Maskapai tersebut. Jika somasi tidak diindahkan, pengirim mengajukan gugatan hokum kepada Maskapai tersebut. Untuk mendukung gugatan di Pengadilan, harus memiliki bukti-bukti yang kuat yang dapat menunjukan bahwa benar adalah penumpang maskapai tersebut dan keberangkatan saudara mengalami keterlambatan.
Berdasarkan hak-hak pengirim tersebut jelas terlihat bahwa pengirim berhak mendapatkan ganti kerugian dari pelaku usaha apabila pelaku usaha telah melakukan wanprestasi yang dapat merugikan penumpang. Kasus yang terdapat dalam bab sebelumnya menyatakan bahwa PT. Garuda Indonesia telah melakukan wanprestasi berdasarkan Pasal 1243 KUHPerdata, wanprestasi tersebut yaitu : 1. PT. Garuda Indonesia tidak mengkonfirmasi sebagaimana mestinya jika
barang yang dikirimkan oleh penumpang hilang.
2. PT. Garuda Indonesia terlambat melakukan prestasi yaitu membayar ganti kerugian terhadap penumpang.
Jika pengirimhilang barang dan perusahaan tidak mau bertanggung jawab terhadapnya, makahak-hak pengirim kembali adalah melakukan upaya hukum terhadapnya. Namun kebanyakan pengirim tidak mengetahui bahwa hak mereka dilindungi oleh banyak Peraturan Perundang-undangan dan mereka diberikan
kemudahan untuk menuntut hak-haknya tersebut. Upaya-upaya hukum yang dapat dilakukan oleh seorang penumpang barang dalam hal telah terbukti bahwa barang miliknya hilang atau rusak akibat dari kelalaian atau kesalahan dari perusahaan pengiriman barang /perusahaan ekspedisi:
a. Gugatan keperdataan atas perbuatan melawan hukum atau wanprestasi
Pemilik barang dapat melakukan gugatan keperdataan atas hilangnya barang miliknya terkait penyelenggaran pengangkutan barang yang dilakukan oleh suatu perusahaan jasa pengangkutan barang. Dimana gugatan ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian:
1) Gugatan keperdataan atas dasar wanprestasi
Gugatan terkait dengan wanprestasi mempunyai dasar adanya suatu pelanggaran terhadap perjanjian pengangkutan antara Pemilik Barang (Pengirim) dengan Perusahaan Jasa Pengangkutan.
Seseorang dikatakan telah wanprestasi apabila:
a) Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya; b) Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana
dijanjikan;
c) Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;
d) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Perusahaan Pengangkutan melakukan wanprestasi, melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan, mengangkut dan mengirimkan barang yang menjadi tanggungnya tetapi tidak sampai ke tempat tujuannya. Maka, Perusahaan Pengangkutan tersebut diwajibkan untuk memberikan ganti kerugian sesuai dengan ketentuan pasal 1239 KUH Perdata bahwa“Tiap-tiap perikatan
untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya, mendapatkan penyelesaiannya dalam kewajibannya memberikan penggantian biaya, rugi, bunga”.
Dalam hal kapan untuk memberikan gugatan ganti kerugian tersebut, dasar wanprestasi mengacu pada ketentuan pasal 1243 KUH Perdata bahwa“Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya”.
Kedua ketentuan tersebut dapat menjadi dalil-dalil bagi Pemilik barang untuk melakukan gugatan keperdataan terhadap Perusahaan Pengangkutan atas dasar Wanprestasi.
2) Gugatan keperdataan dasar perbuatan melawan hukum
Sebagaiman diketahui bahwa Jika Pekerja suatu Perusahaan Pengangkutan melakukan perbuatan melawan hukum maka Pasal 1367 KUHPerdata adalah landasan utama bagi Pemilik barang untuk melakukan gugatan atas dasar Perbuatan melawan hukum Adapun pertanggungjawaban perbuatan tersebut, dimana seorang majikan (employer) bertanggung jawab secara tidak langsung terhadap perbuatan melawan hukum yang dilakukan pekerjanya (employee) sejauh hal tersebut terjadi dalam konteks pekerjaan. Adapun buyi ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata yang mendukung klaim tersebut adalah sebagai berikut:“Seseorang tidak hanya bertanggung jawab, atas kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan
perbuatan-perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan barang-barang yang berada di bawah pengawasannya.”
b. Pelaporan pidana atas tindakan penggelapan
Jika melihat kronologis terhadap peristiwa yang terjadi maka patut diduga bahwa perbuatan si Sopir (yang merupakan pekerja Perusahaan Pengangkut) merupakan Tindak Pidana Penggelapan dalam Hubungan Kerja. Dan telah memenuhi unsur Pasal 374 KUH Pidana yaitu Penggelapan yang dilakukan dalam hubungan kerja, yang berbunyi:“Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencaharian atau karena mendapat upah untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”Berdasarkan pasal tersebut unsur-unsur tindak pidana penggelapan dalam hubungan kerja ini adalah:
1) Dikuasainya barang karena adanya hubungan kerja; 2) Mendapat upah atas hubungan tersebut
3) Hubungan kerja tersebut merupakan pencaharian salah satu pihak
Maka berdasarkan Pasal 374 KUH Pidana ini, Pemilik barang dapat melaporkan tindakan pidana atas perbuatan penggelapan yang dilakukan oleh Perusahaan Pengangkutan yang bersangkutan.
c. Melaporkan ke Dinas Perhubungan terkait dengan pelanggaran kewajiban Pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban-kewajiban Perusahaan Jasa Pengangkutan sebagaimana tercantum dalam izin usahanya adalah Dinas Perhubungan setempat. Sehingga penumpang atau pemilik barang dapat melaporkan pengabaian tanggung jawab ini kepada Dinas Perhubungan setempat, adapun laporan ini dapat menjadi pertimbangan bagi Dinas Perhubungan untuk
membekukan izin usaha yang dimiliki oleh Perusahaan JasaPengangkutan guna menjalankan kewajibannya berdasarkan peraturan perundang-undangan. Tindakan yang akan dilakukan oleh Dinas Perhubungan terkait hal tersebut meliputi peringatan tertulis selama 3 (kali) yang jika tidak dihiraukan oleh Perusahaan maka Izin Usahanya tersebut dapat dicabut.