• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak-Hak Istri yang Telah Diceraikan Karena Li’an

BAB III. AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DISEBABKAN LI’AN

B. Hak-Hak Istri yang Telah Diceraikan Karena Li’an

Menurut hukum yang berlaku setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban, hak kewajiban ini dilindungi oleh hukum.206 Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut.207Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan kedalamannya.Kekuasaan yang demikian itu yang disebut sebagai hak.208 Disamping itu hak tidak hanya mengandung unsur perlindungan dan kepentingan, melainkan terdapat juga unsur kehendak.209

Didalam perkawinan yang berakhir dengan perceraian melekat didalamnya akibat-akibat bagi masing-masing pihak, begitu pula hak-hak, dimana dalam perceraian terdapat hak-hak tertentu. Baik istri suami maupun anak didalam percerain memiliki hak tertentu yang tidak dapat dipisahkan dan harus dilindungi.Istri yang

206

R.Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2013), hal., 228. 207

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum ,Cet. ke-6, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hal., 53.

208

Ibid

209

diceraikan oleh suami memiliki hak-hak nya begitu juga istri yang diceraikan oleh suami melalui li’an .

Dalam Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tentang Perkawinan menjelaskan bahwa (1) harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, (2) Harta bawaan masing–masing suami dan istri dan harata benda yang diperoleh masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.210

Dalam hal perceraian karena li’an memiliki beberapa akibat yang berbeda dari percerai talak secara umum. Karena li’an merupakan cara penyelesaian lain dalam perkara perceraian talak dengan alasan istri berbuat zina, yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur ikrar talak biasa.

Dalam pasal 35 ayat (1) tersebut dijelaskan bahwa harta yang diperoleh selama perkawinan merupakan hak suami dan istri, dengan demikian baik pihak suami maupun istri memiliki hak yang sama terhadap harta bersama. Dalam Pasal 35 ayat (2) dijelaskan baha Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri yang mereka peroleh baik berupa hadiah atau warisan adalah hak masing-masing pihak, dalam hal ini tidak terdapat hak istri atas hadiah ataupun warisan suami dan sebaliknya.

211

210

Lihat Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Hak-hak istri setelah terjadi perceraian selain masalah pembagian harta bersama dan kembalinya harta bawaan, terdapat hak-hak tertentu yang berbeda dari perceraian talak.

211

Istri yang dili’an oleh suaminya memiliki hak atas maharnya, sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar r.a , yang artinya :

Rasulullah SAW, bersabda kepada dua orangyang melakukan li’an , “Hanya Allah juga yang menetapkan perhitunganmu pada hari kiamat nanti karena salah seorang dari kamu ada yang berdusta , tetapi tidak ada jalan bagimu untuk menuntut istrimu”. Sang suami bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana dengan harta saya ya Rasulullah ?” , Rasulullah menjawab , “Kamu tidak dapat menuntut hartamu lagi, kalau kamu benar dalam tuduhanmu terhadapnya, hartamu merupakan mahar atas kehormatannya yang telah kamu lakukan dengan jalan halal. Dan jika kamu berdusta , hartamu itu lebih jauh lagi darimu”.212

Berdasarkan hadist Rasulullah SAW dengan adanya perceraian melalui cara

li’an istri berhak atas mahar yang telah diberikan oleh suaminya, dan suami tidak dapat meminta kembali hak yang telah diberikan olehnya kepada pihak istri, baik setengah dari mahar tersebut ataupun seluruhnya. Dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan tidak diatur masalah mahar. Sedangkan dalam dalam Kompilasi Hukum Islam mahar diatur dalam Pasal 30-38 Kompilasi Hukum Islam menurut Yahya Harahap pengaturan mahar dalam Kompilasi Hukum Islam bertujuan untuk menertibkan masalah mahar, menetapkan kepastian bahwa bukan rukun nikah , menetapkan etis mahar atas asas kesederhanaan dan kemudahan bukan didasarkan tinggi hati, dan menyeragamkan konspsi yuridis dan etik mahar agar terbina ketertiban dan persepsiyang sama di kalangan masyarakat dan aparat penegak hukum.213

212

Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhim Al Mundziri, Op.Cit, hal., 495-496. 213

Abd.Shomad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam hukum Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hal., 307-308

Dalam tata cara pelaksanaan li’an , dituntut kedua belah pihak yakni pihak suami wajib mengangkat sumpah sebanyak lima kali sebagi pengganti dari empat orang saksi yang tidak dapat dihadirkannya untuk membuktikan tuduhan perzinaan atas pihak istri, dan untuk penolakan terahadap tuduhan suami, istri wajib mengangkat sumpah sebanyak lima kali, apabila istri tidak mengangkat sumpah sebagai penolakan atas tuduhan suami terhadapnya, maka percerain tersebut jatuh kepada perceraian talak karena zina dan bukan li’an. Dengan adanya penolakan yang dilakukan oleh istri terhadap tuduhan perzinaan yang dilakukan oleh suami terhadapnya dapat menjaga nama baik istri tidak sampai tercemar dalam pergaulan dan masyarakat.214

214

A.Fuad Said, Op.Cit.,hal., 132.

Dengan pengangkatan sumpah yang dilakukan oleh pihak istri terhadap tuduhan zina yang dilakukan oleh pihak suami dapat melindungi istri dari pencemaran nama baik, karena terjadinya li’an memiliki dua kemungkinan yaitu bisa saja suami menuduh istrinya berzina dalam keadaan tuduhan palsu atau berbohong dan sebaliknya bisa saja istrinya benar telah melakukan zina ataupun benar penolakan atas dirinya yang dingkapkannya di hadapan sidang pengadilan bahwa benar dia tidak melakukan perbuatan zina. Tuduhan zina berpengaruh buruk karena dapat meruntuhkan martabat melenyapkan harga diri orang yang tertuduh dalam hal ini istri yang dituduh oleh suaminya dalam hal tuduhan zina , tuduhan zina dapat membuat aib bagi istri, keluarga dan anak apabila istri sedang hamil dan suami melakukan

penolakan terhadap anak yang dikandung ataupun yang telah dilahirkan oleh istrinya.215

Dengan adanya sumpah balasan atau sumpah li’an yang dilakukan istri atas tuduhan zina yang ditujukan suami terhadap dirinya dan pihak istri melakukan sumpah balasan atau sumpah li’an sebagai penolakan atas tuduhan suami yang telah terlebih dahulu mengangkat sumpah li’an terhadapnya, istri dalam hal ini dapat melakukan sumpah balasan dikarenakan suami tidak dapat menghadirkan empat orang saksi atas tuduhan zina yang ditujukannya terhadap pihak istri. Dengan adanya sumpah balasan yang dilakukan pihak istri terhadap tuduhan suami, maka pihak istri terbebas dari had zina.

Imam Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa jika istri tidak ingin mengucap sumpah li’an maka ia harus dijatuhkan had zina.216 Abu Hanifah berpendapat bahwa istri tidak dihukum namun ditahan hingga dia mau mengucapkan sumpah li’an atau mengaku telah berbuat zina. Jika istri membenarkan tuduhan suami terhadapnya , maka istri wajib dijatuhkan hukuman had . Ibnu Rusyd mengatakan bahwa dalam hal ini pendapat Abu Hanifah lebih tepat.217

Berkaitan dengan teori keadilan memandang hak-hak istri, dimana keadilan merupakan hak seseorang sebagaimana mestinya tanpa memebeda-bedakan dan

215

Sulaiman bin Ahmad bin Yahya Al-Faifi, Op.Cit. hal., 574. 216

Ibid. hal., 572 217

bertindak terhadap yang salah sebatas kesalahannya.218

Dokumen terkait