• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak dan Kedudukan Perempuan di dalam Penyelesaian Harta Bersama

Pasal 27 ayat 1 Undang-Udang Dasar 1945 menyebutkan segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Ketentuan ayat tersebut menunjukkan bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan, kedudukan dan hak yang sama di dalam melakukan perbuatan hukum apapun begitu juga di dalam perkawinan. Sebagaimana di jelaskan dalam pasal 1 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkan bahwa harta bersama adalah harta kekayaan dalam perkawinan yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama-sama suami istri tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapa.

Hal tersebut menunjukkan bahwa seorang istri ikut berperan mencari nafkah dan harta bersama dalam perkawinan.

Menurut Sonny113 ketentuan Pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945 mengenai persamaan kedudukan suami istri dalam perkawinan dapat dimaknai dengan menggunakan istilah kesetaraan karena maknya lebih luas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesetaraan berasal dari kata tara yang artinya sama (dalam hal ini tingkatannya, kedudukannya, bandingannya, imbangannya). Adapun setara artinya sejajar (sama tingginya), sama tingkatnya (kedudukannya), sepadan, seimbang.

Kesetaraan atau persamaan merupakan unsur yang paling penting dari keadilan yang berkaitan dengan hubungan antar dua manusia atau lebih karena apabila terjadi perlakuan yang tidak sama antara mereka akan mengakibatkan terjadinya kertidakadilan.

Keadilan adalah suatu nilai (value) untuk menciptakan suatu hubungan yang ideal diantara manusia sebagai individu, sebagai anggota masyarakat dan sebagai bagian dari alam, dengan memberikan kepada manusia tersebut apa yang menjadi hak dan kebebasannya yang sesuai dengan prestasinya dan membebankan sesuai kewajibannya menurut

113 Sonny Dewi Judiasih, Harta Benda Perkawinan, Refika Aditama, Bandung, 2015, hlm.37-38

commit to user

245

hukum dan moral, yang bila perlu harus dipaksakan berlakunya oleh negara dengan memperlakukan secara sama terhadap hal yang sama dan memperlakukan secara berbeda terhadap hal yang berbeda.114

John Rawls menyatakan justice as fairness. Fairness merupakan masalah moralitas sehingga hal ini tidak dapat dipisahkan dengan masalah moral. Oleh karena itu nilai keadilan tidak dapat ditawar-tawar dan harus diwujudkan dalam masyarakat tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya. Ketidakadilan hanya dapat dibenarkan apabila hal tersebut diperlukan untuk menghindari ketidakadilan yang lebih besar dan merupakan kebajikan yang terpenting dalam kehidupan manusia. Terdapat dua prinsip keadilan menurut John Rawls, yaitu:

1. Prinsip kebebasan yang sama (equal liberty) yaitu setiap orang memiliki hak atas kebebasan individual (liberty) yang sama dengan hak orang lainnya.

2. Prinsip kesempatan yang sama (equal opportunity) dalam hal ini ketidakadilan ekonomi dalam masyarakat harus diatur untuk melindungi pihak yang tidak beruntung dengan jalan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang dengan persyaratan yang adil.

Persamaan suami istri di dalam melakukan perbutan hukum dalam hukum perkawinan di Indonesia diakui dengan dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 1963 tanggal 5 September 1963 menyatakan beberapa pasal dari KUHPerdata dinyatakan tidak berlaku lagi, diantaranya pasal 108 dan 110 KUHPerdata tentang wewenang istri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di muka pengadilan tanpa izin atau bantuan suami. Dengan demikian menunjukkan bahwa istri dinyatakan cakap dalam melakukan perbuatan hukum. Sebelum diberlakukan SEMA Nomor 3 Tahun 1963, perempuan yang terikat di dalam perkawinan dianggap tidak cakap melakukan perbuatan hukum sehingga harus dapat izin dan diwakili oleh suaminya (Pasal 1330 KUHPerdata). Pasal 108 sampai 110 KUHPerdata menentukan antara lain:

114 Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, Ghalia, Jakarta, 2007, hlm.101

commit to user

246

1) suami adalah kepala dari persatuan suami-istri dalam perkawinan;

2) suami harus mengurus harta kekayaan dan bertanggung jawab atas segala kealpaan dalam pengurusan itu;

3) suami harus mengurus segala urusan yang berkaitan dengan harta kekayaan milik pribadi istrinya;

4) istri harus tunduk dan patuh terhadap suaminya dan wajib tinggal bersama suaminya dalam satu rumah;

5) sejak perkawinan, maka istri seketika itu juga tidak dapat bertindak sendiri. Kekuasaan suami yang sangat dominan seperti diatas disebut dengan Marital Macht.

Penjelasan umum Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan kedudukan suami baik dalam rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat, sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami dan istri. Undang-Undang Perkawinan menempatkan posisi suami istri yang sejajar dalam pengelolaan rumah tangga sehingga mereka memikul tanggung jawab bersama terhadap segala hal dalam kehidupan keluarga.

Pengelolaan keluarga dalam perkawinan menimbulkan hak dan kewajiban yang sama bagi suami istri dalam memikul kewajiban rumah tangga sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, “Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.”

Pemaparan diatas menunjukkan betapa pentingnya saling memahami antara suami istri dalam rumah tangga di segala kehidupan.

Aturan dan penjelasan dalam Undang-Undang Perkawinan diatas sudah memberikan porsi yang setara dan seimbang bagi suami istri dalam kehidupan rumah tangga, hanya saja di dalam prakteknya antara suami istri belum memahami secara mendalam tentang hak dan kewajiban masing-masing sehingga mengakibatkan adanya ketidakadilan dalam kehidupan rumah tangga dilanjutkan apabila mereka berdua mengalami konflik sampai berujung perceraian. Terdapat beberapa hak yang seharusnya menjadi hak masing masing mereka setelah terjadi perceraian

commit to user

247

akan tetapi karena ketidaktahuan atau ketidakadilan sehingga hak tersebut tidak dapat terpenuhi. Menurut Hudi115 menurut saya, istri yang bekerja menjadi TKW apabila bercerai maka pembagian hartanya lebih banyak, karena dia yang bekerja lebih keras.

Sebagaimana dialami oleh Atul116saya tidak memahami harta bersama atau gono gini, yang jelas karena suami saya suka main perempuan lebih baik saya hidup sendiri dan segera bercerai dengan suami. Apa yang terjadi pada atul juga dialami oleh beberapa informan lainnya, 12 informan yang peneliti wawancarai, diantaranya Sebagaimana di jelaskan oleh Imah117 setelah kami sepakat bercerai, saya juga di fitnah sama suami saya, harta bawaan (uang yang saya dapatkan sebelum menikah) dan harta yang saya dapatkan bekerja di Hongkong dia minta bagian, setelah bercerai di pengadilan. Kami mengadakan musyawarah dengan kepala desa sebagai penengahnya, tetapi karena kepala desa masih saudaranya suami saya, kepala desa membantu suami saya, akhirnya saya pasrah dan harta saya semuanya di bagi sama dengan suami saya, kesepakatan tersebut disaksikan keluarga dan kepala desa. Begitu juga yang terjadi pada Tiya118 harapan saya untuk menyelesaikan masalah pembagian harta bersama dengan damai tidak terwujud, kebanyakan aset di tangan suami dan atas nama suami, sehingga saya hanya di beri beberapa aset yang sebenarnya tidak imbang dengan usaha yang telah saya lakukan, peran kepala desa sangat membantu suami saya dan nanti kalau saya bawa ke pengadilan nanti malah butuh waktu, biaya dan tenaga yang lama apalagi suami saya dibantu oleh pengacara.

115 Wawancara dengan Hudi warga Desa Jepara Timur Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap tanggal 24 Agustus 2016

116 Wawancara dengan Atul warga Desa Wirakanan Kecamatan Kandang Haur Kabupaten Indramayu tanggal 28 September 2016

117 Wawancara dengan Imah, informan dari Kabupaten Cilacap tanggal 23 Agustus 2016

118 Wawancara dengan Tiya warga Desa Danasri Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap Tanggal 23 Agustus 2016

commit to user

248

Wina mengalami peristiwa yang sama sebagaimana informan sebelumnya119 Kami sering bertengkar, pada akhirnya suami menceraikan saya. Rumah, mobil dan harta benda lainnya dikuasai suami saya. Akan tetapi saya males berkonflik lagi, biarkan saja saya tidak dapat apa-apa, rejeki ada yang mengatur. Begitu juga yang dialami oleh Dami120 Harta bersama yang menjadi haknya serta hasil jerih payahnya selama dia menjadi TKW dan harta bawaan lainnya, dihabiskan suaminya yang telah kabur bersama wanita lain.

Dari pemaparan diatas menunjukkan bahwa sebagian besar tidak memahami hak-haknya atas harta bersama dan kalaupun ada yang memahami mereka cenderung pasrah menerima keadaan karena tidak mau terjadi konflik berkepanjangan. Sebagian besar harta bersama karena dikuasai oleh suami, maka dominasi suami dalam memanfaatkan dan menguasai harta bersama sangat besar sehingga pada saat terjadinya konflik yang berujung kepada perceraian, suamilah yang menguasai harta bersama tersebut. Para istri yang berkonflik lebih memilih segera menyelesaikan konflik perceraiannya dan memulai hidup kembali meskipun tidak mendapatkan harta bersama yang seharusnya menjadi haknya.

Menurut Rosmi121Bahwa tidak semua istri/suami yang mengajukan gugat cerai atau karena cerai talak, tahu akan hak-haknya seperti harta bersama, hadhanah dan lainnya. Umumnya mereka yang berkonflik hanya menginginkan segera selesai urusan perceraiannya dan apabila terjadi permohonan penyelesaian konflik harta bersama di pengadilan, menurut Diyah122 pada umumnya harta bersamanya dalam jumlah banyak karena penikahan dalam waktu yang sudah lama dan sengketa sudah memuncak tidak dapat lagi diselesaikan dengan jalan kekeluargaan dan saat

119 Wawancara dengan Wina warga Desa Talangsuko Kecamatan Turen Kabupaten Malang Tanggal 03 Agustus 2016

120 Wawancara dengan Dami warga Desa Pringgacala Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu Tanggal 28 September 2016

121 Wawancara dengan Rosmi, Hakim di Pengadilan Agama Indramayu Tanggal 28 September 2016

122 Wawancara dengan Diyah, Hakim Pengadilan Agama Cilacap Tanggal 23 Agustus 2016

commit to user

249

rekonpensi. Rata-rata suami/istri yang mengajukan harta bersama didampingi oleh pengacara karena seringkali suami/istri yang permohonan tidak memahami dan hanya mencatat yang dia tau saja apabila pengacara tidak mendampingi dan menguraikan hak-hak apasaja yang dapat mereka perjuangkan.

Meskipun Undang-Undang Perkawinan menganut asas kesetaraan kedudukan antara suami istri dalam perkawinan yang diikuti oleh Kompilasi Hukum Islam yang juga menganut asas kesetaraan. Hak dan kedudukan suami istri seimbang dan masing-masing berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Akan tetapi di dalam realitanya masyarakat tidak memahami terhadap ketentuan yang ada sehingga ketidakadilan seringkali terjadi.