• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KEDUDUKAN KREDITOR SEPARATIS TERKAIT UPAH

A. Hak Kreditor Separatis Sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi

Hak kreditor separatis adalah hak yang didapat kredior pemegang hak jaminan yang kedudukannya sangat kuat, maksudnya hak kreditor separatis kedudukannya tidak dapat dikalahkan oleh kreditor-kreditor lainnya yang bukan kreditor pemegang hak jaminan. Kreditor separatis kedudukannya juga lebih tinggi dari kreditor istimewa berdasarkan sifat piutangnya.175

Menurut setiawan, hak separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum kepada kreditor pemegang hak jaminan, bahwa barang jaminan (agunan) yang dibebani dengan hak jaminan (hak agunan) tidak termasuk harta pailit.176 sedangkan menurut Sri Soedewi, hak kreditor separatis para pemegang Gadai dan pemegang Hipotik dapat melaksanakan haknya dengan cepat dan mudah, tidak terpengaruh dengan adanya kepailitan.177

Hak kreditor separatis merupakan hak yang lahir dari hukum jaminan yang timbul dari adanya perjanjian yang dilakukan oleh debitor dan kreditor yang dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak jaminan kebendaan yang dimiliki oleh kreditor pemegang jaminan kebendaan tersebut memberikan

175Ivida Dewi Amrih Suci dan Herowati Poesoko, Op. Cit., hlm. 171.

176Ibid., hlm. 93.

177Ibid

kewenangan bagi kreditor tersebut untuk menjual secara lelang kebendaan yang di jaminkan kepadanya dan untuk selanjutnya memperoleh pelunasan secara mendahulu dari kreditor-kreditor lainnya dari hasil penjualan benda yang dijaminkan kepadanya tersebut.178

Hak-hak jaminan kebendaan yang memberikan hak menjual sendiri secara lelang dan untuk memperoleh pelunasan secara mendahulu terdiri dari:

1. Gadai yang diatur dalam Bab XX buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata untuk kebendaan bergerak, dengan cara melepaskan kebendaan yang dijaminkan tersebut dari penguasaan pihak yang memberikan jaminan kebendaan berupa Gadai tersebut.

2. Hipotek yang diatur dalam bab XXI Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menurut Pasal 314 Kitab Undang-Undang Hukum Dangang berlaku untuk kapal laut yang memiliki ukuran sekurang-kurangnya dua puluh meter kubik isi kotor, yang dapat didaftarakan di syahbandar Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, dan yang dengan pendaftaran tersebut memiliki kebangsaan sebagai kapal Indonesia. Terhadap kapal-kapal demikian yang terdaftar di syahbandar oleh Pasal 1314 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang selanjutnya diperlakukan sebagai kebendaan yang tidak bergerak.

Sementara itu yang tidak terdaftar dianggap sebagai benda bergerak sehingga padanya berlaku Pasal 1977 KUH Perdata.

3. Hak Tanggungan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 yang mengatur mengenai peminjaman atas hak-hak tanah tertentu berikut kebendaan yang dianggap melekat dan diperuntukan untuk dipergunakan secara bersama-sama dengan bidang tanah yang diatasnya terdapat hak-hak atas tanah yang dapat dijaminkan dengan Hak Tanggungan.

4. Jaminan Fidusia yang diatur di dalam Undang-Undang No. 42 tahun 1999.

Undang-Undang No 42 Tahun 1999 ini tidak memberikan rumusan positif mengenai kebendaan yang dapat dijaminkan secara fidusia. Dari ketentuan Pasal 3 UU Jaminan Fidusia, yang menetapkan bahwa Jaminan Fidusia tidak berlaku terhadap

a. Hak Tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan, sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan jaminan atas benda-benda tersebut wajib didaftar. Namun demikian

178Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op. Cit., hlm. 199.

bangunan di atas tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, dapat dijadikan objek Jaminan Fidusia.

b. Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20 (dua puluh) M3atau lebih

c. Hipotek atas pesawat terbang, dan d. Gadai.179

Maka jelaslah bahwa Jaminan Fidusia meliputi seluruh kebendaan yang tidak dapat dijaminkan dengan tiga jenis jaminan kebendaan tersebut di atas. Dengan demikian antara Fidusia dan Hak Tanggungan, Hipotek dan Gadai tidak akan berbenturan karena sudah memiliki kaplingnya sendiri-sendiri.

Pemahaman yang dimaksud dengan hak kreditor separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum kepada kreditor pemegang hak jaminan untuk tetap dapat melaksanakan hak-hak eksekusinya meskipun debitor telah dinyatakan pailit.

Tentunya untuk memberikan perlindungan kepada kreditor mana kala debitor pailit.

Menurut Herowati Poesoko eksekusi dapat dikategorikan dalam arti sempit dan arti luas, pengertian eksekusi dalam arti sempit adalah pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Sedangkan eksekusi dalam arti luas adalah pelaksanaan pemenuhan hak berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau berdasarkan akta bertitel eksekutorial dengan atau tanpa fiat pengadilan atau secara parate executie atau penjualan di bawah tangan.180

179Ibid

180 Herowati Poesoko, Parate Executie Obyek Hak Tanggungan, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, 2007, hlm. 130.

Kekuatan hak kreditor separatis pemegang Gadai dan Hipotik menurut KUH Perdata dapat dimaknai sebagai kreditor yang terkuat yang lebih di utamakan dari kreditor lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1134 KUH Perdata .

UU Kepailitan telah memberikan hak separatis terhadap kreditor pemegang hak jaminan kebendaan sebagaimana yang di atur dalam Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan yang menyatakan setiap kreditor pemegang Gadai, Jaminan Fidusia, Hak Tanggungan, Hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.

Hal tersebut juga telah sejalan berdasarkan ketentuan Pasal di bawah ini:

Pasal 21 UU Hak Tanggungan menyatakan, “Apabila pemberi Hak Tanggungan dinyatakan pailit, pemegang hak tanggungan tetap berwenang melakukan segala hak yang diperolehnya menurut ketentuan Undang-Undang ini”.181

Berdasarkan penjelasan Pasal 21 UU Hak Tanggungan menyatakan, ketentuan ini lebih memantapkan kedudukan diutamakan pemegang Hak Tanggungan dengan mengecualikan berlakunya akibat kepailitan pemberi Hak Tanggungan terhadap obyek Hak Tanggungan.

Pasal 27 UU Jaminan Fidusia menyatakan:

(1) Penerima Fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditor lainnya

(2) Hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah hak penerima Fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang yang menjadi obyek Jaminan Fidusia

(3) Hak yang didahulukan dari peneriman Fidusia tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia.182

181Lihat Pasal 21 UU Hak Tanggungan.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa UU Kepailitan, UU Fidusia, UU Hak Tanggungan telah menjamin kedudukan kreditor separatis yang tidak terpengaruh karna adanya kepailitan dan memberikan hak eksekusi kepada kreditor separatis untuk menjual benda jaminan debitor yang telah pailit untuk mengambil pelunasan piutangnya secara mendahulu dari hasil penjualan tersebut.

Dalam mengambil pelunasan piutangnya, kreditor separatis dapat melakukannya baik melalui parate executie, titel eksekutorial maupun penjualan di bawah tangan.

Sebagaimana menurut subekti parate executie adalah “menjalankan sendiri atau mengambil sendiri apa yang menjadi haknya, dalam arti tanpa perantara hakim, yang ditujukan atas sesuatu barang jaminan untuk selanjutnya menjual sendiri barang tersebut183 agar dengan mudah dapat memperoleh hak-haknya kembali dari hasil penjual benda jaminan debitor pailit.

Perlindungan atas hak eksekutorial kreditor separatis telah ada sejak periode Stb. 1905 Nomor 217 Jo. Stb. 1906 Nomor 348 tentang Faillissementsverordening, sebagaimana di maksud dalam Pasal 56 ayat (1) dan (3) FV. Pengaturan tersebut masih tetap diikuti dalam Perpu Nomor 1 Tahun 1998, UU Nomor 4 Tahun 1998, maupun UU Nomor 37 Tahun 2004. Dari sini nampak jelas para pembentuk UU kepailitan memberikan penghormatan yang cukup tinggi terhadap eksistensi hukum jaminan, khususnya hak eksekutorial kreditor separatis.184

182Lihat Pasal 27 UU Jaminan Fidusia.

183 R. Subekti, Pelaksanaan Perikatan, Eksekusi Riil dan Uang Paksa; Dalam Penemuan Hukumdan Pemecahan Masalah Hukum, Jakarta, Proyek Pengembangan Teknis Yustisial, MARI, 1990, hlm. 69

184Yulius Setiarto, Hak Eksekutorial Kreditor Separatis, melalui http://www.hukumonline.com/berita/diakses tanggal 16 Januari 2017 Pukul 21.00 Wib.

Sebelum keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013, dalam hal terjadi kepailitan, kreditor separatis dapat memperoleh pelunasan piutangnya terlebih dahulu dari hasil penjualan benda jaminan debitor pailit dibandingkan dengan upah pekerja. Dalam hal ini kreditor separatis akan mendapatkan haknya sesuai dengan jumlah hasil penjualan benda jaminan debitor pailit setelah di kurangi biaya-biaya hak istimewa yang tingkatannya berada di atas kreditor separatis. Artinya dalam hal kepailitan apabila kreditor separatis bertemu dengan kreditor preferen berupa upah pekerja, kreditor separatis tetap mendapatkan haknya tanpa di kurangi dengan tagihan upah pekerja, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan kasus renvoi prosedur di bawah ini :

PT. Uni Enlarge Industry Indonesia (untuk selanjutnya disebut PT. UEII) selaku debitor pailit adalah Perseroan Terbatas berbadan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia yang berkedudukan di kawasan Berikat Nusantara yang beralamat di jalan Jawa Raya 13 Block A.07, Cakung Celincing. PT. UEII merupakan suatu Perseroan Terbatas yang menjalankan kegiatan produksi dibidang garment khusus untuk pembuatan baju wanita dan anak-anak.

PT. Bank Chinatrust Indonesia (untuk selanjutnya disebut PT. Bank CTI) selaku kreditor separatis, berkedudukan di Tamara Centre 17th Jalan Jendral Sudirman Kav.24 Jakarta 12920.

PT. UEII telah dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst pada tanggal 26 Agustus 2009. Atas putusan pailit tersebut PT. Bank CTI selaku kredior separatis

melakukan upaya hukum kasasi pada tanggal 3 September 2009 yang mana permohonan kasasi yang dimohonkan PT. Bank CTI tersebut ditolak berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 711 K/Pdt.Sus/2009 pada tanggal 17 Maret 2010.

Dalam hal ini PT. UEII telah dinayatkan pailit dengan segala akibat hukumnya dan telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

Dalam hal kepailitan tersebut PT. Bank CTI selaku kreditor separatis mempunyai hak eksekusi berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan pada saat berakhirnya masa stay yaitu sejak dimulainya keadaan insolvensi selama 2 (dua) bulan berdasarkan penetapan hakim pengawas Nomor 02/HP/X/2009 Jo.

Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst yang terhitung sejak tanggal 19 Oktober 2009 sampai dengan tanggal 19 Desember 2009. Pada saat seminggu terakhir sebelum berakhirnya masa insolvensi yaitu pada tanggal 11 Desember 2009 PT. Bank CTI telah berhasil melakukan lelang eksekusi melalui PT. Balai lelang Star terhadap benda jaminan PT. UEII (dalam pailit) berupa 2 (dua) bidang tanah yang telah dibebani Hak Tanggungan sejumlah Rp. 13.150.000.000 (tiga belas milyar seratus lima puluh satu juta rupiah) yang telah dikurangi dengan biaya lelang dan pajak pengashilan (PPh) sehingga berjumlah Rp. 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah).

Berdasarkan hasil penjualan lelang eksekusi yang dilakukan PT. Bank CTI selaku kreditor separatis pada tanggal 11 Desember 2009 tersebut pekerja PT UEII meminta sejumlah 75% dari hasil lelang eksekusi Hak Tanggungan tersebut untuk membayar upah buruh yang terhutang sejak bulan Agustus 2009. Dalam hal ini tim

kurator meminta 50 % dari hasil lelang PT. Bank CTI untuk menjembatani permintaan pekerja PT. UEII melalui surat Nomor 092/UEII/Kurator/EHP tertanggal 29 Desember 2009.

Dalam hal ini tim kurator PT. UEII (dalam pailit) telah melakukan pertemuan dengan PT. Bank CTI selaku kreditor separatis yang diwakili oleh kuasa hukumnya Jandri Siadari, SH beserta perwakilan pekerja dari PT. UEII Parulian Sianturi yaitu pada tanggal 11 januari 2010 yang mana dalam pertemuan tersebut tidak terjadi kesepakatan antara PT. Bank CTI dan PT. UEII mengenai pembagian hasil penjualan lelang tersebut. Dalam hal ini PT. Bank CTI menyatakan tidak adanya dasar hukum bagi kreditor separatis untuk memberi atau memberikan sebagian hasil lelang eksekusi kreditor separatis kepada pekerja. PT. Bank CTI menyatakan kalaupun PT.

Bank CTI pernah membagi hasil lelang eksekusi jaminan hal tersebut disebabkan karena nilai tagihannya sudah mencapai 70%-80% dari keselurahan tagihan yang dimiliki. Sedangkan hasil lelang yang kini didapatkan sebesar 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) setelah dikurangi biaya-biaya lainnya dan baru mencapai 20% dari keseluruhan jumlah tagihan sebesar Rp.

50.731.994.811,25,- (lima puluh milyar tujuh ratus tiga puluh satu sembilan ratus sembilan puluh empat ribu delapan ratus sebelas rupiah dua puluh lima sen) sehingga jika dihubungkan dengan hasil lelang tanggal 11 Desember 2009 maka sisa piutang PT. Bank CTI kepada PT. UEII adalah 80% lagi. Dengan alasan terebut Jandri Siadari menyatakan PT. Bank CTI tidak dapat memberikan apapun kepada pekerja.

Dalam ketentuan PT. Bank CTI di atas perwakilan pekerja PT. UEII Parulian Sianturi menanggapi agar PT. Bank CTI agar tidak memandang persoalan tersebut dari segi legal formil semata, namun lebih kepada rasa keadilan terhadap nasib para pekerja. Namun dalam hal ini PT. Bank CTI tetap menolak permintaan pekerja tersebut karena tidak adanya dasar hukum dan kerugian yang dialami PT. Bank CTI sangat besar. Kurator juga berpendapat hasil lelang tersebut juga terbebani utang harta pailit berupa biaya-biaya yang telah dikeluar selama proses pengurusan dan pemberesan atas objek Hak Tanggungann. Dalam hal ini tim kurator meminta 10%

dari nilai eksekusi Hak Tanggungan sebesar Rp. 1.236.100.000. (satu milyar dua ratus tiga puluh enam juta seratus ribu rupiah).

Berdasarkan permasalah tersebut hakim pengawas dalam laporannya tertanggal 9 Pebruari 2010 telah memberikan suatu kebijakan dengan dasar alasan untuk keadilan hukum sebagaimana praktik peradilan yang berlaku berdasarkan surat persetujuan hakim pengawas menyetujui agar hak separatis dari PT. Bank CTI selaku kreditor separatis dari hasil lelang yang dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2009 sebesar Rp. 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) diberikan kepada buruh PT. UEII sebagai kreditor preferen sebesar 20% yaitu sebesar 2.472.200.000. (dua milyar empat ratus tujuh puluh dua juta dua ratus ribu rupiah).

PT. Bank CTI dalam hal ini menyampaikan keberatannya dan bantahan atas surat hakim pengawas kepada hakim pemeriksa perkara Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst tertanggal 9 Februari 2010 pada persetujuan hakim pengawas dengan dasar untuk keadilan agar memberikan sebagian hasil penjualan

lelang tertanggal 11 Desember 2009 yang dilakukan PT. Bank CTI selaku kreditor separatis kepada pekerja PT. UEII selaku kreditor preferen berupa upah pekerja sebesar 20% dari nilai hasil lelang dengan alasan:

1. Buruh tidak mempunyai alas hak untuk mengajukan permohonan pembagian atas hasil penjualan. Berdasarkan ketentuan Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan yang berhak untuk mendapatkan bagian dari hasil penjualan lelang yang dilakukan kreditor separatis adalah kreditor yang lebih tinggi dari kreditor separatis.

2. PT. Bank CTI selaku kreditor separatis mempunyai kedudukan yang lebih tinggi untuk mendapatkan pembayaran dibandingkan dengan kedudukan pekerja sebegai kreditor preferen yang mempunyai kedudukan di bawah kreditor separatis.

3. Kedudukan kreditor separatis dan pekerja dalam memperoleh bagian pembayaran telah dikuatkan Putusan Mahkamah konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 tertanggal 23 Oktober 2008 yang menyatakan kedudukan pekerja dalam Pasal 95 ayat (4) UU ketenagakerjaan mengenai frasa yang didahulukan harus dibaca bahwa upah buruh tersebut didahulukan akan tetapi dibawah kreditor separatis. yang dijamin dengan Gadai, Jaminan fidusia, Hak Tanggungan , Hipotek, biaya kepailitan dan fee kurator.

4. Pertimbangan hakim pengawas yang mendalilkan kepada asas keadilan hukum merupakan pertimbangan yang tidak berdasarkan hukum karena tidak menjabarkan dan menguraikan arti keadilan.

5. PT. Bank CTI sebagai pemegang Jaminan Fidusia telah berusaha untuk berlaku adil dengan menyerahkan hak atas mesin-mesin yang sedang dalam proses penjualan oleh kurator yang nantinya dipergunakan dan dapat dialokasikan oleh kurator sebagai bagian dari kepentingan buruh.

Dan menyerahkan Fidusia atas hak tagih PT. UEII (dalam pailit) yang sebagian belum berhasil di eksekusi PT. Bank CTI yang selanjutnya diserahkan kepada kurator yang sebagian hasilnya dapat dipergunakan dan dialokasikan oleh kurator untuk kepentingan buruh.

Dalam uraiannya di atas PT. Bank CTI memohon kepada majelis hakim perkara Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst memberikan putusan:

1. Menolak atau setidak-tidaknya tidak dapat menerima surat hakim pengawas tertangal 9 Februari 2010.

2. Menolak atau setidak-tidaknya tidak dapat menerima permohonan pembagian hasil lelang tertanggal 11 Desember 2009 yang diajukan oleh buruh PT. UEII

3. Menyatakan bahwa hasil penjualan lelang tertanggal 11 Desember 2009 yang dilakukan oleh PT. Bank CTI selaku kreditor separatis sebesar Rp.

12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) merupakan hak mutlak sepenuhnya PT. Bank CTI

4. Membebankan biaya perkara menurut ketentuan hukum yang berlaku.185 Berdasarkan permohonan pemohon majelis hakim dalam pertimbangan hukumnya menyatakan:

185Lihat Putusan No. 39/PAILIT/2009/PN.NIAGA.JKT.PST, hlm. 12

Majelis hakim berpendapat bahwa secara hukum pekerja/buruh tidak mempunyai hak untuk meminta sebagian dari hasil penjualan lelang tersebut dikarenakan PT. Bank CTI adalah berstatus kreditor separatis yang telah melakukan lelang eksekusi Hak Tanggungan dalam tenggang waktu masa insolvensi berdasarkan ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Kepailitan dan pekeja/buruh tidak mempunyai hak atas hasil lelang eksekusi karena berdasarkan Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan yang berhak mendapat pembayaran dari hasil penjualan lelang yang dilakukan kreditor separatis adalah kreditor yang kedudukannya lebih tinggi dari pada kreditor separatis.

Secara hukum kedudukan pekerja/buruh sebagai kreditor preferen adalah tidak lebih tinggi dari pada kreditor separatis sebagaimana telah dipertimbangkan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 tertanggal 23 Oktober 2008.

Selain itu majelis hakim dalam pertimbangannya juga menyatakan PT. Bank CTI telah menyatakan di dalam tanggapan atas permohonan pemeriksaan perselisihan yang dikemukakan di persidangan yang dapat dijadikan dasar bagi kurator untuk melaksankannya yaitu kesanggupan untuk menyerahkan seluruh hak tagih terhadap pemegang jaminan fidusia atas mesin yang terdapat di pabrik semarang dan pabrik di jakarta senilai Rp. 2.700.000.000 (dua milyar tujuh ratus juta rupiah) untuk digunakan dan dapat dialokasikan oleh kurator sebagai bagian dari kepentingan pekerja/buruh dan juga terhadap sisa Fidusia senilai US$ 1.624.848.53 (satu juta enam ratus dua puluh empat juta delapan ratus empat puluh delapan dollar amerika point lima puluh tiga sen) yang sebagian di antaranya dapat dipergunakan untuk dialokasikan oleh kurator bagi kepentingan pekerja/buruh.

Majelis hakim berpendapat meskipun demikian dengan memperhatikan surat dari Pengurus Pusat Konfederasi Nasioanal Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia tertanggal 23 Februari 2010 yang isinya menyatakan mohon putusan yang memihak kepada pekerja/buruh yang ditujukan kepada majelis hakim yang diajukan didepan persidangan. Dalam hal ini majelis hakim mempertimbangkan pula rasa keadilan bagi kedua belah pihak dengan menyatakan PT. Bank CTI selaku kredior separatis tetap harus menyerahkan kepada para pekerja/buruh sebagaian dari hasil lelang Hak Tanggungan yang dilakukan pada tanggal 11 Desember 2009 tersebut meskipun tidak sebesar yang dimohonkan oleh pekerja, oleh kurator dan hakim pengawas yaitu sebesar 12,5% dari Rp. 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) sehingga sebesar Rp. 1.545.125.000 (satu milyar lima ratus empat puluh lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) untuk diserah kepada kurator agar diberikan kepada pekerja/buruh.

Menurut majelis hakim mengenai permintaan kurator menyerahkan 10% dari hasil penjualan lelang eksekusi Rp. 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) yaitu sebesar Rp. 1.236.100.000 (satu milyar dua ratus tiga puluh enam juta seratus ribu rupiah) menurut pendapat majelis hakim tidak berdasar dan harus ditolak.

Berdasarkan pertimbangan di atas Majelis hakim dalam Konklusinya menyatakan:

1. Mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian

2. Menetapkan 12,5% dari 12.361.000.000 (dua belas milyar tiga ratus enam puluh satu juta rupiah) yaitu sebesar Rp. 1.545.125.000 (satu milyar lima

ratus empat puluh lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) dialokasikan untuk pembayaran sebagian hak pekerja/buruh

3. Memerintahkan kepada PT. Bank CTI selaku kreditor separatis agar menyetor uang sejumlah Rp. 1.545.125.000 (satu milyar lima ratus empat puluh lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) ke rekening kurator pada Bank Mandiri Unit KBN Cakung Nomor 1200095023995 a/n PT.

UEII qq Efendi H. Purba.

4. Memerintahkan kepada kurator untuk membagikan sejumlah Rp.

1.545.125.000 (satu milyar lima ratus empat puluh lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) tersebut kepada para pekerja/buruh

5. Membebankan biaya perkara kepada boedel pailit.186

Berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst masing-masing pihak yaitu PT.

Bank CTI sebagai Pemohon Kasasi I/Termohon Kasasi dahulu Termohon dan Efendy H. Purba selaku Tim Kurator PT. UEII sebagai Termohon Kasasi/Pemohon Kasasi II dahulu Pemohon melakukan permohonan kasasi secara lisan masing-masing pada tanggal 9 Maret 2010 dalam Perkara Nomor 339 K/Pdt.Sus/2010.

Dalam Putusannya Nomor 339 K/Pdt.Sus/2010 Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi telah membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 39/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst karena menganggap judex facti telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangannya yang menyatakan:

1. Pekerja/buruh tidak mempunyai hak untuk meminta hasil lelang tersebut mengingat PT. Bank China Trust indonesia bersatus sebagai kreditor separatis yang telah melakukan lelang eksekusi jaminan, sedangkan pekerja berstatus sebagai kreditor preferen tidak lebih tinggi dari kreditor separatis sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008

2. Untuk kepastian hukum, hasil lelang tanggal 11 Desember 2009 yang dilakukan oleh PT. Bank China Trust Indonesia selaku kreditor separatis

186Lihat Putusan No. 39/PAILIT/2009/PN.NIAGA.JKT.PST, hlm. 24.

merupakan hak mutlak sepenuhnya PT. Bank China Trust Indonesia sebagai pemegang Hak Tanggungan.

3. Dengan pertimbangan tersebut permohonan kasasi dari Kurator/pemohon kasasi II/Termohon kasasi/Pemohon tersebut tidak dapat dibenarkan.187 Berdasarkan pertimbangannya tersebut majelis hakim mengadili menyatakan mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon kasasi I/Termohon PT. Bank China Trust Indonesia. Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri

3. Dengan pertimbangan tersebut permohonan kasasi dari Kurator/pemohon kasasi II/Termohon kasasi/Pemohon tersebut tidak dapat dibenarkan.187 Berdasarkan pertimbangannya tersebut majelis hakim mengadili menyatakan mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon kasasi I/Termohon PT. Bank China Trust Indonesia. Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri