BAB IV KEDUDUKAN KREDITOR SEPARATIS TERKAIT UPAH
B. Kedudukuan Kreditor Separatis Terkait Upah Pekerja Setelah
Pasal 1132 KUH Perdata menjelaskan bahwa diantara kreditor terdapat kreditor yang haknya berdasarkan alasan yang sah harus didahulukan seperti kreditor pemegang jaminan kebendaan.188 Selain kreditor separatis dalam kepalilitan terdapat golongan kreditor yang mempunyai hak istimewa atau hak didahulukan yang dilekatkan pada barang tertentu yang salah satunya berupa upah pekerja. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1139 dan Pasal 1149 KUH Perdata dan adanya utang harta pailit maka penentuan hak kreditor atas utang harta pailit menjadi cukup rumit.189
Dalam hal kepailitan yang menjadi permasalahan adalah apabila kreditor separatis bertemu dengan upah pekerja. Permasalahan tersebut adalah mengenai kedudukan kreditor, yaitu dalam hal terjadi kepailitan kreditor mana yang mempunyai
188 Titik Tejaningsih, Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor separatis Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit, FH UII Press, Yogyakarta 2016, hlm. 128. (untuk selanjutnya disebut Titik Tejaningsih 2)
189Ibid.
hak preferensi dalam memperoleh pelunasan piutangnya terlebih dahulu. Perbedaan kedudukan di antara kreditor separatis dan upah pekerja merupakan permasalahan serius yang harus dicari jalan keluarnya agar tidak ada lagi perbedaan pendapat mengenai kedudukan hak preferensi masing-masing kreditor tersebut, karena UU kepailitan dan UU Ketenagakerjaan masing-masing menyatakan merekalah yang harus didahulukan. Dalam hal ini hukum harus dapat menjadi alat untuk menciptakan keadilan dan kepastian hukum bagi kreditor, yang pada akhirnya hukum dapat mendorong pemulihan ekonomi, dengan tujuan untuk menciptakan stabilitas, prediktabilitas dan keadilan dalam hukum negara.190 Namun dalam pelaksanaannya kreditor separatis mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan upah pekerja.
Setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 ketentuan mengenai kedudukan kreditor separatis terkait dengan upah pekerja kini telah berebeda dengan ketentuan yang diatur sebelumnya. hal tersebut telah merubah praktik kepailitan selama ini di mana sebelum keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 dalam hal terjadi kepailitan kreditor separatis dalam memperoleh pelunasan piutangnya lebih di dahulukan dari pada upah pekerja.
Namun Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya Nomor 67/PUU-XI/2013 telah melakukan suatu terobosan hukum (rule breaking through).191 Dalam hal ini
190Sunarmi, Prinsip Keseimbangan dalam Hukum Kepailitan di Indonesia Edisi 2, Sofmedia, Jakarta, 2010, hlm. 14. (untuk selanjutnya disebut Sunarmi 3)
191Titik Tejaningsih 1, Op. Cit., hlm. 20
ketentuan yang secara limitatif telah di atur berdasarkan UU Kepailitan kini telah berbeda dengan ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan Putusan Mahkamah konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 dalam hal terjadinya kepailitan kini upah pekerja memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada kreditor separatis. Namun hal tersebut hanya berlaku untuk upah pekerja saja, mengenai tagihan pekerja berupah hak-hak lainnya seperti uang pesangon kreditor separatis masih memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada pekerja. Hal ini sebagaimana yang terdapat dapat dalam amar putusannya yang telah membuat dua norma baru yang menyatakan pembayaran upah pekerja buruh yang terhutang didahulukan atas semua jenis kreditor termasuk pada tagihan kreditor separatis, tagihan Negara, kantor lelang dan badan umum yang dibentuk pemerintah.
Sedangkan pembayaran hak-hak pekerja buruh lainnya didahulukan atas semua jenis tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang dan badan umum yang dibentuk pemerintah kecuali terhadap tagihan kreditor separatis.
Pasal 10 ayat (1) huruf a UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan, “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.192 Dari penjelasan pasal 10 ayat (1) huruf a UU No. 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi atas perubahan UU No. 24 Tahun 2003 menyatakan, putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, yakni putusan Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh
192Lihat Pasal 10 ayat (1) a UU Mahkamah Konstitusi
kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. Sifat final dalam putusan Mahkamah Konstitusi dalam Undang-Undang ini mencakup pula kekuatan hukum mengikat (final and binding). Akibat hukum yang ditimbulkan pasca dijatuhkannya putusan Mahkamah Konstitusi harus dipatuhi.193 Dengan demikian dapat diketahui bahwa pengaturan mengenai kedudukan kreditor separatis dan upah pekerja harus berjalan sesuai dengan ketentuan putusan Mahkamah Konstitusi.
Setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 maka dapat diketahui tingkatan kreditor dalam memperoleh pelunasan piutangnya kini telah berbeda dengan tingkatan sebelumnya. Hal tersebut tampak berdasarkan urutan peringkat sebagai berikut:
1. Upah pekerja (dasar hukum Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan, Pasal 39 ayat (2) UU Kepailitan dan Putusan Mahkamah Konstitusi No.
67/PUU-XI/2013 (kreditor prefren))
2. Utang pajak (kedudukan utang pajak lebih tinggi dibandingkan kreditor separatis dalam hal yang mengeksekusi benda jaminan adalah kurator.
Dan sebaliknya kedudukan utang pajak berada di bawah kreditor separatis dalam hal yang mengeksekusi benda jaminan adalah kreditor separatis sendiri dalam masa insolvensi (dasar hukum Pasal 55 ayat (1) UU
193 Syarat-Syarat Penetapan Perpu oleh Presiden, melalui
http://www.hukumonline.com/berita/diakses tanggal 19 Juli 2017 Pukul 21.00 Wib.
kepailitan, Pasal 1137 KUH Perdata Jo Pasal 21 UU KUP dan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 (kreditor preferen)) 3. Kreditor separatis, pemegang Gadai, Jaminan Fidusia, Hak Tanggungan,
Hipotek dan hak agunan atas kebendaan lainnya (dasar hukum Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan Jo Pasal 1134 KUH Perdata)
4. Biaya kepailitan dan fee kurator (mengenai biaya kepailitan dan fee kurator kedudukannya terhadap kreditor separatis bergantung pada siapa yang menjual benda jaminan. Apabila yang menjual benda jaminan adalah kreditor separatis, maka kedudukan kreditor separatis lebih tinggi dari pada biaya kepailitan dan fee kurator. Namun apabila yang menjual benda jaminan adalah kurator maka kedudukan biaya kepailitan dan fee kurator lebih tinggi dari pada kreditor separatis. (dasar hukum Pasal 18 ayat (5) dan Pasal 191 UU Kepailitan))
5. Kreditor preferen Privilege khusus (kecuali pada angka 1 dan 4 kedudukannya di peringkat paling atas dari segala jenis kreditor, merupakan golongan kreditor yang memiliki kedudukan yang paling tinggi (dasar hukum Pasal 21 ayat (3) UU KUP dan Pasal 1139 angka 1 dan 4 KUH Perdata))
6. Kreditor preferen privilege umum (kecuali pada angka 1 kedudukannya di peringkat paling atas dari segala jenis kreditor, kecuali terhadap kreditor preferen privilege khusus pada angka 1 dan 4 (dasar hukum Pasal 21 ayat (3) UU KUP dan Pasal 1149 angka 1 KUH Perdata))
7. Kreditor konkuren.
Berdasarkan tingkatan kreditor tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa kini kreditor separatis memiliki kedudukan di bawah upah pekerja. Tidak hanya kedudukan kreditor separatis, kedudukan utang pajak yang dulunya lebih tinggi dari pada upah pekerja yang sudah secara jelas dan tegas di atur dalam UU KUP kini telah memiliki kedudukan di bawah upah pekerja. Hal ini disebabkan Negara masi memiliki sumber penghasilan yang lain, sedangkan bagi pekerja upah merupakan satu-satunya penghasilan untuk mempertahankan hidup dan keluarganya.
Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan yang memberikan kedudukan yang diutamakan dan terpisah terhadap kreditor separatis dalam memperoleh pelunasan piutangnya setelah keluarnya Putusan Mahkmah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 kini hal tersebut tidak berlaku terhadap tagihan kreditor preferen berupa upah pekerja.
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan Deni Purba SH, LL.M, ACIArb selaku kurator di Medan, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat mengenai kedudukan kreditor separatis dan upah pekerja. Menurut Deni Purba, ketentuan yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan yang memberikan kedudukan yang terpisah terhadap kreditor separatis untuk dapat mengeksekusi haknya terlebih dahulu dalam memperoleh pelunasan piutangnya yang juga lebih didahulukan terhadap upah pekerja kini setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 hal tersebut masi berlaku bagi kreditor separatis.
Dalam hal ini kreditor separatis tetap mempunyai hak yang diutamakan dibandingkan upah pekerja sepanjang kreditor separatis dapat mengeksekusi haknya berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) dalam masa insolvensi selama 2 (dua) bulan seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Sebab benda jaminan yang dieksekusi kreditor separatis tersebut tidak termasuk dalam proses kepailitan. Karena akan berbahaya apabila kreditor separatis tidak mendapat hak-haknya, maka akan timbul ketidakpastian hukum di dalam hukum jaminan yang ada.194
Berdasarkan ketentuan Pasal 59 ayat (2) setelah lewat jangka waktu insolvensi maka kuratorlah yang berhak menjual benda jaminan kreditor separatis tanpa mengurangi haknya atas hasil penjualan benda jaminan tersebut. Dalam hal ini Deni Purba menyatakan apabila yang menjual benda jaminan adalah kurator maka benda jaminan tersebut termasuk dalam proses kepailitan, maka dalam memperoleh pelunasan piutangnya di antara kreditor separatis dan upah pekerja, dalam hal ini upah pekerja memiliki kedudukan yang diutamakan dalam memperoleh pelunasan piutangnya dibandingkan kreditor separatis. bahkan apabila hasil penjualan benda jaminan itu hanya cukup untuk melunasi piutang upah pekerja, maka kreditor separatis dapat saja tidak mendapatkan tagihannya sedikitpun karena memiliki kedudukan di bawah upah pekerja.
Sebelum membayar tagihan setiap kreditor kurator terlebih dahulu menyusun daftar pembagian dengan persetujuan hakim pengawas dan dituangkan dalam
194Hasil Wawancara dengan Deni Purba, Kurator di Kota Medan, Tanggal 22 Maret 2017, Pukul 10.00 Wib.
penetapan hakim pengawas yang untuk selanjutnya diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Apabila terjadi perselisihan diantara kreditor separatis dan pekerja mengenai pelunasan piutang di antara para pihak yang dilakukan oleh kurator, maupun apabila terjadi perbedaan antara putusan Mahkamah Konstitusi dan UU menurut Deni Purba maka para pihak baik kreditor separatis maupun pekerja tetap dapat melakukan keberatan melalui renvoi prosedur yang dilakukan baik pada Pengadilan Niaga maupun pada tingkat kasasi ke Mahkamah Agung yang putusannya bersifat final dan mengikat.195 Renvoi prosedur merupakan upaya hukum untuk menyatakan keberatan atau koreksi atas perhitungan tagihan yang dilakukan oleh kurator.196
Dalam hal ini penulis tetap mengacu pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 yang apabila dilihat dari amar putusannya Mahkamah Konstitusi sudah secara tegas menyatakan bahwa upah pekerja yang terhutang lebih didahulukan pembayarannya dari pada kreditor separatis. Dan hal tersebut juga telah dijalankan berdasarkan praktik kepailitan yang ada. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kasus kepailitan CV. Joyo Mulyo, Budi Sudjatmiko Susilo, Inggrid Dianita Soesilo yang beralamat di jalan Sawunggali I Nomor 5, Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo yang telah dinyatakan pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 37/Pailit/2012/PN.Niaga.Sby tanggal 4 Februari 2013. Berdasarkan daftar pembagian
195 Hasil Wawancara dengan Deni Purba, Kurator di Kota Medan, Tanggal 22 Maret 2017, Pukul 10.00 Wib.
196 Direktorat Jenderal Pajak Renvoi Kurator Batavia, melalui http://www.hukumonline.com/berita/diakses tanggal 22 Maret 2017 Pukul 19.30 Wib.
yang dibuat oleh tim kurator yang telah disahkan oleh hakim pengawas tanggal 7 Mei 2015 sebagaimana dituangkan kedalam penetapan hakim pengawas Nomor 37/Pailit/2012/PN.Niaga.Sby tanggal 7 Mei 2015, dan berdasarkan putusan renvoi prosedur baik pada tingkat pengadilan niaga maupun pada tingkat kasasi di mahkamah agung, di mana setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 dalam hal terjadi kepailitan kini upah pekerja telah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada kreditor separatis dan telah memperoleh pelunasan piutangnya mendahului dari pada kreditor separatis.
Dalam pelaksanaannya berdasarkan hasil wawancara dan praktik yang ada sebelumnya, apabila terdapat keberatan atas daftar pembagian tagihan kreditor walaupun telah dilakukan sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi, masih saja dapat dilakukan upaya hukum berupa renvoi prosedur, dan majelis hakim masi dapat mengenyampingkan ketentuan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dengan memberikan bagian dari hasil penjualan jaminan yang dimiliki kreditor separatis kepada pekerja untuk memenuhi rasa keadilan.
Salah satu asas yang terkandung di dalam UU Kepailitan merupakan asas keadilan. asas ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran tagihannya tanpa memperdulikan kreditor lainnya.197Dengan kata lain, apabila putusan Mahkamah Konstitusi diterapkan secara mutlak sehingga kreditor separatis tidak mendapatkan haknya sedikitpun dari benda
197Aco Nur, Hukum Kepailitan, Perbuatan Melawan Hukum Oleh Debitor, PT. Pilar Yuris Ultima, Jakarta, 2015, hlm. 86.
jaminan yang dimilik yang diakibatkan boedel pailit yang sangat terbatas, dan keadaan insolvensi yang sangat parah dengan demikian hal tersebut juga dapat melanggar asas keadilan. Maka dalam hal ini sangat diperlukannya peran hakim dalam menentukan bagian kreditor dengan memperhatikan asas keadilan.
Dalam kepailitan berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 tersebut telah menimbulkan beberapa dampak baik positif maupun negatif.
Apabila dilihat dari sisi kepentingan kreditor separatis putusan tersebut akan berdampak negatif terhadap kreditor separatis. hal tersebut disebabkan hak yang dimiliki oleh kreditor separatis untuk mendapatkan pelunasan piutangnya berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) kini telah berbeda dengan ketentuan sebelumnya, karena dalam hal ini upah pekerja memiliki hak mendahului dibandingkan kreditor separatis.
kreditor separatis merupakan kreditor yang memiliki jaminan utang kebendaan (hak jaminan) seperti pemegang Hak Tanggungan, Hipotik, Gadai, Fidusia dan lain-lain.198Pada dasarnya hak jaminan yang dimiliki kreditor separatis tersebut di maksudkan untuk memberikan suatu perlindungan terhadap kreditor separatis manakala debitor jatuh pailit agar dengan mudah kreditor separatis dapat mengambil pelunasan piutangnya dari benda jaminan yang di miliki berdasarkan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan. Namun Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut telah menyebabkan berkurangnya perlindungan yang dimiliki kreditor separatis. Dalam hal ini kreditor separatis merupakan pihak yang paling dirugikan atas Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.
198 Munir Fuady 2, Op. Cit., hlm. 97
Apabila dilihat dari sisi kepentingan kurator, putusan Mahkamah Konstitusi tersebut telah memberikan dampak yang positif bagi kurator. Putusan tersebut mempermudahkan kurator dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal ini kurator tidak perlu berdebat lagi dengan pekerja, kreditor separatis maupun petugas pajak.
Apabila dilihat dari sisi kepentingan pekerja putusan Mahkamah konstitusi tersebut telah memberikan dampak yang positif. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut pembayaran tagihan Negara dan kreditor separatis tidak lagi menjadi yang utama ketika pekerja mengajukan tagihan pembayaran upah.
Mahkamah Konstitusi memposisikan pembayaran upah pekerja lebih diutamakan dari semua jenis tagihan.199 Dengan kata lain pekerja merupakan pihak yang paling diuntungkan berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 meskipun kedudukan kreditor separatis telah dijamin berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan yang mempunyai hak mendahului dari pada kreditor lainnya, namun apabila kreditor separatis bertemu dengan upah pekerja ketentuan tersebut tidak berlaku terhadap upah pekerja. Dalam hal ini kreditor separatis mempunyai kedudukan di bawah upah pekerja. Dalam memperoleh pelunasan piutangnya setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi kini upah pekerja mempunyai hak mendahului dari pada kreditor separatis. Namun apabila terdapat keberatan atas tagihan yang diterima di
199 Juanda Pangaribuan, MK Pastikan Hak Pekerja dalam Kepailitan, melalui http://www.hukumonline.com/berita/diakses tanggal 19 Maret 2017 Pukul 21.00 Wib.
antara kreditor separatis dan pekerja dalam memperoleh pelunasan piutangnya walaupun telah dilakukan sesuai dengan ketentuan Putusan Mahkamah konstitusi, maka masih dapat dilakukan upaya hukum berupa renvoi prosedur atas keberatan tersebut dan majelis hakimlah yang menentukan putusan keberatan tersebut sesuai dengan asas keadilan, baik pada tingkat Pengadilan Niaga maupun kasasi di Mahkamah Agung yang putusannya bersifat final dan mengikat. Dalam hal ini Putusan Mahkamah Konstitus Nomor 67/PUU-XI/2013 dapat dijadikan bahan acuan bagi majelis hakim dalam memutus perkara renvoi prosedur tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan kedudukan kreditor separatis dalam kepailitan perusahaan memiliki kedudukan yang diutamakan dalam memperoleh pelunasan piutangnya. Kreditor separatis dapat menjual dan memperoleh pelunasan piutangnya terlebih dahulu dari hasil penjualan benda jaminan debitor pailit dari pada kreditor lainnya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Namun walaupun kreditor separatis mempunyai kedudukan yang diutamakan dalam memperoleh pelunasan piutangnya berdasarkan ketentuan Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan, namun berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (1) UU Kepailitan kreditor separatis tetap tunduk pada ketentuan penagguhan eksekusi selama 90 (sembilan puluh hari). Dan berdasarkan ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Kepailitan kreditor separatis hanya memiliki batasan waktu selama 2 (dua) bulan untuk mengeksekusi haknya dalam memperoleh pelunasan piutangnya. Dalam hal ini maka dapat diketahui Walaupun UU Kepailitan telah menjamin kedudukan kreditor separatis tetapi di satu sisi UU Kepailitan belum sepenuhnya menjamin kedudukan kreditor separatis dan belum sejalan dengan ketentuan hukum jaminan yang berlaku.
2. Dasar pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 dalam hal ini Mahkamah berpendapat meskipun antara kreditor
separatis dan pekerja dasar hukumnya sama-sama berupa perjanjian, namun apabila dilihat dari aspek lain berupa aspek subjek hukum, aspek objek dan aspek risiko terdapat perbedaan yang signifikan di antara kreditor separatis dan upah pekerja. Dari segi aspek subjek hukum dalam hal ini Mahkamah berpendapat secara sosial ekomonis kedudukan pekerja lebih lemah dari pada pengusaha/kreditor separatis. Dari segi objek perjanjian jaminan kebendaan yang menjadi objeknya adalah properti sedangkan perjanjian kerja yang menjadi objek adalah tenaga sehingga memiliki perbedaan yang mendasar. Menurut Mahkamah kepentingan manusia terhadap diri dan kehidupannya adalah lebih penting dan prioritas dibandingkan kepentingan manusia terhadap properti. Dari segi aspek risiko Mahkamah berpendapat risiko merupakan hal yang wajar bagi pengusaha/kreditor separatis dalam pengelolaan usaha, serta pekerja berhak untuk mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja sebagaimana yang di datur dalam Pasal 28D ayat 2 UUD 1945 maka hak pekerja untuk mendapatkan upah merupakan hak konstitusional yang harus dilindungi dan atas dasar pertimbangan hukum tersebut Mahkamah Konstitusi mengabul sebagian permohonan para pemohon.
3. Kedudukan kreditor separatis terkait upah pekerja setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 memiliki kedudukan di bawah upah pekerja. Dalam arti upah pekerja mendapatkan pelunasan piutangnya terlebih dahulu dari pada kreditor separatis. Hal ini merupakan suatu terobosan hukum (rule breaking through) dari ketentuan yang telah di atur oleh UU
Kepailitan dan hukum jaminan yang berlaku. Sehingga jelaslah apabila terjadi kepailitan kini upah pekerja memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada kreditor separatis. Namun apabila terdapat keberatan atas jumlah tagihan yang didapat kreditor separatis maupun pekerja, maka masih dapat dilakukan upaya hukum berupa renvoi prosedur yang ketentuannya terdapat pada putusan majelis hakim yang bersifat final dan mengikat yang dilakukan sesuai dengan asas keadilan.
B. Saran
1. Diperlukanya kepastian hukum mengenai kedudukan kreditor separatis terkait dengan upah pekerja dalam kepailitan agar tidak terjadinya suatu benturan norma di antara Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan dan Pasal 95 ayat (4) UU ketenagakerjaan dengan melakukan revisi terhadap UU bersangkutan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan permasalahan dan ketidakpastian hukum.
2. Sebaiknya dilakukan jalan keluar win-win solition tanpa ada yang dirugikan dengan membuat peraturan dalam hukum jaminan terhadap perusahaan, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum mengenai batasan maksimal dalam menjaminkan asetnya kepada kreditor dengan maksud apabila terjadi kepailitan masi terdapat harta pailit untuk melakukan pembayaran terhadap para kreditor, khususnya upah pekerja. Dan dengan membangun lembaga penjaminan sosial yang mewajibkan perusahaan untuk membayar premi untuk
menjamin hak pekerja/buruh dalam kepailitan sehingga dapat mengakomodir hak pekerja dalam memperoleh pelunasan piutangnya.
3. Sebaiknya pemerintah dan legislatif dalam membuat suatu peraturan perundang-undangan harus lebih cermat dan teliti agar tidak memuat suatu ketentuan yang tidak jelas dan saling bertentangan di antara Undang-Undang yang satu dengan Undang-Undang yang lainnya agar tidak adanya suatu benturan norma dan tidak adanya perbedaan penafsiran dalam pelaksanaannya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Algra, N. E., Inleiding tot Het Netherlands Privaatrecht, Tjeenk Willink, Groningen, 1974.
Ali, Acmad, Menguak Tabir Hukum, Chandra Pratama, Jakarta, 1996.
---,Menguak Tabir Hukum, Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002.
Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009.
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
Asikin, Zainal, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Peesada, Jakarta 1994.
Bruggink, J.J. H. Refleksi Tentang Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
Chand, Hari, Modern Jurisprudence, Internasional law book Review, kuala lumpur, 1994
Darmadiharjo, Darji dan shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995
Elijana, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Kepailitan, Makalah dalam seminar Undang-Undang Kepailitamn di Jakarta, Juni, 1998.
Fuady, Munir, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
---, Hukum Pailit dalam Teori Dan Praktek, Citra Aditya bakti, bandung 2014.
Gautama, Sudargo, Komentar atas Peraturan Baru Untuk Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998
Harahap, M. Yahya, Pembahasan, Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Sinar Grafika, Jakarta, 2006
Hartanto, Andy, Hukum Jaminan dan Kepailitan, Hak Kreditor Separatis dalam Pembagian Hasil Penjualan Benda Jaminan Debitor Pailit, LaksBang Justitia, Surabaya, 2015.
Hartini, Rahayu Hukum Kepailitan, Edisi revisi, Unit Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2008.
Hoff, Jerry, Indonesia Bankruptcy law, Tatanusa, Jakarta, 1999.
HS, Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis BW, Sinar Grafika, Jakarta, 2001.
Husni, Lalu Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi, Rajawali
Husni, Lalu Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi, Rajawali