• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCALONAN MANTAN NARAPIDANA SEBAGAI KEPALA DAERAH A. Tinjauan Umum Kepala Daerah

B. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)

1. Hak Mantan Narapidana

Dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM) sebenarnya dapat dilacak secara teologis lewat hubungan manusia, sebagai mahluk dengan penciptanya. Tidak ada manusia yang lebih tinggi daripada manusia lainnya. Hanya satu yang mutlak, yakni Tuhan Yang Maha Esa, keberadaannya sebagai prima facie, berkonsekuensi pada kerelatifan pengetahuan manusia.48

Setiap hak ditetapkan secara objektif maupun subjektif. Objektif maksudnya hak diberikan pada seseorang karena memang menjadi miliknya. Subjektif artunya, penetapan hak berhubungan dengan yang dimilikinya. Ia menjadi tuan dari apa yang

46 Musyafiatun, Fiqih Siyasah Tentang Pencalonan Mantan Narapidan Korupsi, h. 20

47Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu‟lu‟ wal Marjan. (Surabaya, PT Bina Ilmu, 2006), h.1072

48 Jimly Asshidiqie, Hukum Tata Negara & Pilar-pilar Demokrasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h.199

dimilikinya. Penetapan hak ini, juga berhubungan erat dengan urusan hukum dan bernegara. Hak ditetapkan secara objektif karena demikan adalah hukum kodratnya, sebagai manifestasi keadilan, dan ditetapkan secara subjektif sebagai konsekuensi dari penetapan hukum kodrat. Belakangan, hak yang ditetapkan secara subjektif ini, dikenal dengan istilah hak sipil dan warga negara.49

Hukum kodrat, dalam pandangan Aquinas adalah partisipasi mahluk rasional di dalam hukum abadi. Hukum yang disebutkan belakangan inilah yang paling utama dan menjadi asas dan keadilan hukum buatan manusia. Aquinas menyatakan, hukum positif yang tidak diturunkan dari hukum abadi tidak dapat mencerminkan keadilan.50

Dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 (1) menjelaskan makna Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan.51

Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri atas 106 pasal, secara rinci dibagi menjadi hak hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak wanita, hak anak, kewajiban dasar manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, pembatasan dan larangan.52

a. Hak Politik Mantan Narapidana

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan pesta demokrasi dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat, yang memberikan kesempatan kepada seluruh

49E. Sumaryono, Etika Hukum, Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, (Yogyajarta: Kanisius, 2002), h. 79-80

50E. Sumaryono, Etika Hukum, Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, h. 96

51Undang-undang (UU) Tentang Hak Asasi Manusia, No. 39/1999, cet, Buku Biru, Jakarta, Januari: 2014

52Undang-undang (UU) Tentang Hak Asasi Manusia, No. 39/1999, cet, Buku Biru, Jakarta, Januari: 2014

warga negara untuk memilih wakil pemimpinnya secara demokratis demi peningkatan kesejahteraan. Sebagai landasan bagi penyelanggara Pemilu, Pasal 23E ayat (1) UUD 1945 mengamantkan agar pemilu diselenggarakan lebih berkualitas dengan mengikutsertakan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas prinsip demokrasi, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil melalui suatu perundang-undangan.

Penyelenggaraan Pemilu dalam demokrasi dilakukan untuk mengisi jabatan politik baik legislatif maupun eksekutif. Jabatan politik merupakan jabatan yang paling terbuka. Dengan karakter yang terbuka ini, jabatan politik dapat diperebutkan oleh setiap warga negara tanpa melihat kualifikasi apapun dari orang tersebut. Satu-satunya syarat yang dapat menghantarkan dirinya untuk menduduki jabatan politik ini dukungan politik itu sendiri, baik dukungan politik dari wakil rakyat, birokrat yang lebih tinggi, maupun dari masyarakat.53

Kemudian perlu diketahui juga penegakan Hak Asasi Manusia, khususnya hak politik bagi mantan narapidana, bukan semata-mata kepentingan manusia sendiri, dalam arti sempit, yang lebih penting dari itu adalah diakuinya dan dihormatinya human dignty martabat kemanusiaan setiap manusia, tanpa membedakan strata sosial, status sosial, status politik, status hukum, etnik, agama, keyakinan politik, budaya, ras, golongan dan sejenisnya.54

Setiap warga negara yang telah menjalani masa hukuman (pidana penjara) berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap sama artinya dengan warga negara lainnya yang dilahirkan dalam keadaan bersih, bebas, berharkat, dan bermartabat serta sederajat dimata hukum.

b. Partisipasi Mantan Narapidana dalam Pemilukada

Ikut sertanya mantan narapidan dalam Pemilukada serentak akan membuat kegaduhan di masyarakat, pasalnya terlibatnya mantan terpidana korupsi dalam

53Yeni Handayani, “Hak Mantan Narapidana Sebagai Pejabat Publik dalam Perspektif Hak Asasi Manusia”, Rechts Vinding Online, (13 Oktober 2014).

54Akhmad Nikhrawi Hamdi, Hak Eks Narapidana Menjadi Anggota Legislatif, Fisip, Jurnal as-Siyasah Universitas Islam Kalimantan MAB, Banjarmasin, vol. 1 No. 1. 2016, h. 31

pemilukada akan berdampak kurang baik bagi calon Kepala Daerah atau masyrakat. Calon Kepala Daerah yang memiliki catatan hukum hitam dalam hukum, termasuk melakukan korupsi atau tindak kejahatan akan diragukan integritasnya oleh masyarakat. Seperti dikutip harian Kompas,sejumlah terpidana perkara korupsi yang baru dibebaskan kurang dari satu tahun lalu mendaftar untuk mengikuti Pilkada serentak yang digelar pada Desember 2015. Antara lain terjadi di Semarang dan Sulawesi Utara. Di Semarang Jawa Tengah, satu dari tiga pasangan calon yang mendaftar mengikuti Pilkada serentak adalah pasangan mantan Walikota Semarang, Soemarmo HS dan Zuber Safawi. Mereka diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Kebangkitan Bangsa. Soemarmo menjabat sebagai Walikota Semarang pada priode 2010-2012. 55

Berdasarkan putusan Pengadilan Tindak Pidan Korupsi, dia bersama Seketari Daerah Kota Semarang dinyatakan terbukti menyuap anggota DPRD Kota Semarang untuk meloloskan beberapa program dalam APBD dan dihukum 1,5 tahun penjara. Mahkamah Agung lalu memperberat hukumannya menjadi 3 tahun penjara dan denda 50 juta. Soemarmo menyelaisaikan hukumannya pada September 2014

Sistem politik demokrasi dipilih karena demokrasi memberikan posisi penting bagi rakyat. Rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam menentukan kebijakan negara melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih melali pemeilihan umum. Teori demokrasi konstitusional tida dapat lepas dari konsep demokrasi dan nomokrasi, karena kedua konsep tersebut saling berkonvergensi sehingga memunculkan konsep negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) dan negara demokrasi berdasarkan hukum (constitutional democratic) atau yang disebut sebagai negara demokrasi konstitusional (constitutional democratce state).56

55 Nadia Ambarani, “KPK Anggap Mantan Terpidana yang Ikut Pilkada Kurang Dipercaya Rakyat, dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/0730/11374921/KPK..Anggap.Mantan.Terpidana.yang.Ikut.Pilkada.Kurang.

Dipercaya.rakyat) diakses pada 5 Mei 2020

56 Bisarandi dkk, ”Komparasi Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pemilu di Beberapa Negara Penganut Demorasi”, Jurnal Konstitusi, Vol. 9, Nomor 3, 2012, h. 538

Dokumen terkait