• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Setiap Orang Mendapatkan Pekerjaan dan Penghidupan Yang Layak

C. Pengelolaan Perusahaan Yang Baik Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Tenaga Kerja

4. Hak Setiap Orang Mendapatkan Pekerjaan dan Penghidupan Yang Layak

Pekerjaan dan penghidupan yang layak merupakan hak bagi setiap warga negara yang terkandung secara implisit, baik pada Pembukaan UUD 1945 maupun pada Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 yang mengatur tentang kedudukan hukum tiap

warga negara.238 Hal inilah yang menurut Soetrisno PH., merupakan bagian dari cita- cita positif Pancasila.239 Dengan demikian, pekerjaan dan penghidupan yang layak wajib disediakan oleh Pemerintah, karena merupakan hak bagi setiap warga negara sebagai perintah Pasal 27 ayat (2) UUD 1945. Ketentuan tersebut memuat pengakuan dan jaminan bagi semua orang untuk mendapatkan pekerjaan dan mencapai tingkat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Timbul pertanyaan dari frase “penghidupan yang layak” yang terdapat pada

Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, yaitu : Apa ukuran layak bagi masyarakat Indonesia? Ukuran layak bagi masyarakat Indonesia, atau dengan kata lain disebut standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) adalah dasar penetapan upah minimum. Komponen KHL merupakan komponen-komponen pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang dibutuhkan seorang pekerja lajang selama satu bulan. KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak baik secara fisik, non-fisik dan sosial, untuk kebutuhan 1 (satu) bulan. Sejak Undang-

238

Andi Mappetahang Fatwa, Potret Konstitusi Pa sca Amandemen UUD 1945, (Jakarta : Kompas, 2009), hal. xii.

239

Demokrasi ekonomi yang menjadi dasar dan tujuan untuk tercapainya masyarakat yang adil dan makmur material dan spiritual berdasarkan Pancasila mempunyai cita-cita positif dan negatif sebagai berikut : 1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan (Pasal 33 ayat (1) UUD 1945); 2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara (Pasal 33 ayat (2) UUD 1945); 3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat (Pasal 33 ayat (3) UUD 1945); 4) Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara dipergunakan dengan permufakatan lembaga-lembaga Perwakilan Rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga Perwakilan Rakyat pula (Pasal 23 ayat (1) s/d (5) UUD 1945); 5) Warga Negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat (2) UUD 1945); 6) Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat (Penafsiran Analogi Pasal 6 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960); 7) Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara diperkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas tidak merugikan kepentingan umum (Tersirat dalam Pembukaan UUD 1945); 8) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara (Pasal 34 UUD 1945). Sumber : Komentar terhadap ciri-ciri positif dan negatif tersebut dapat dilihat dalam Soetrisno PH., Dasar-Dasar Ilmu Negara, BPFE, UGM, 1981, Bab III.

Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (selanjutnya disebut UU Ketenagakerjaan) dikeluarkan, Pemerintah menetapkan standar KHL sebagai dasar dalam penetapan upah minimum yang diatur dalam Pasal 88 ayat (4), yang

menyatakan bahwa : “Pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud

dalam ayat (3) huruf a berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan

memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi”.

Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terdapat istilah Kajian Hidup Layak Lajang (KHL) yang dihitung menurut komponen kebutuhan hidup. Setiap tahun dewan pengupahan daerah yang terdiri dari komponen pemerintah, pengusaha dan pekerja serta ahli dari akademisi diturunkan untuk mensurvei harga di pasar dan memberikan pendapat mengenai angka Upah Minimum yang layak.

Peraturan mengenai KHL diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pembahasan lebih dalam mengenai ketentuan KHL diatur dalam keputusan menteri. Adapun keputusan menteri dimaksud adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. PER-17/MEN/VIII/2005 tentang Komponen dan Pentahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (PERMEN 17/2005). Namun, PERMEN 17/2005 tersebut direvisi oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (PERMEN 13/2012). Jumlah jenis kebutuhan yang semula 46 jenis dalam PERMEN No. 17 Tahun 2005 menjadi 60 jenis KHL dalam PERMEN 13/2012.

Adapun penambahan jenis KHL dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2012, yaitu240 : 1. “Ikat pinggang; 2. Kaos kaki; 3. Deodorant 100 ml/g; 4. Seterika 250 watt;

5. Rice Cooker ukuran ½ liter; 6. Celana pendek;

7. Pisau dapur;

8. Semir dan sikat sepatu; 9. Rak piring portable plastik;

10.Sabun cuci piring (colek) 500 gr per bulan; 11.Gayung plastik ukuran sedang;

12.Sisir;

13.Ballpoint/pensil;

14.Cermin 30x50 cm”.

Selain penambahan 14 jenis baru KHL tersebut, juga terdapat penyesuaian/ penambahan jenis kualitas dan kuantitas KHL serta perubahan jenis kebutuhan. Adapun komponen yang termasuk dalam standar KHL, yaitu241 :

1. Makanan & minuman (11 items); 2. Sandang (13 items);

3. Perumahan (26 items); 4. Pendidikan (2 items); 5. Kesehatan (5 items); 6. Transportasi (1 items);

7. Rekreasi dan tabungan (2 items).

240

Bandingkan : Lampiran I Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. PER- 17/MEN/VIII/2005 tentang Komponen dan Pentahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

241

Lebih lanjut lihat : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

Selengkapnya mengenai komponen-komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak, sebagai berikut :

Tabel 2.

Komponen-Komponen Standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

No. KOMPONEN KUALITAS/KRITERIA JUMLAH KEBUTUHAN

I MAKANAN DAN MINUMAN

1 Beras Sedang Sedang 10 kg

2 Sumber Protein : a. Daging b. Ikan Segar c. Telur Ayam Sedang Baik Telur Ayam Ras

0,75 kg 1,2 kg 1 kg

3 Kacang-kacangan : Tempe/Tahu Baik 4,5 kg

4 Susu Bubuk Sedang 0,9 kg

5 Gula Pasir Sedang 3 kg

6 Minyak Goreng Curah 2 kg

7 Sayuran Baik 7,2 kg

8 Buah-Buahan (setara Pisang/Pepaya) Baik 7,5 kg

9 Karbohidrat lain (setara Tepung Terigu) Sedang 3 kg

10 Teh atau Kopi Celup/Sachet 2 Dus isi 25 = 75 gr

11 Bumbu-Bumbuan Nilai 1 s/d 10 15%

II SANDANG

12 Celana Panjang/Rok/Pakaian Muslim Katun/Sedang 6/12 Potong

13 Celana Pendek Katun/Sedang 2/12 Potong

14 Ikat Pinggang Kulit Sintetis, Polos, Tidak Branded 1/12 Buah

15 Kemeja Lengan Pendek/Blouse Setara Katun 6/12 Potong

16 Kaos Oblong/BH Sedang 6/12 Potong

17 Celana Dalam Sedang 6/12 Potong

18 Sarung/Kain Panjang Sedang 1/12 Helai

19 Sepatu Kulit Sintetis 2/12 Pasang

20 Kaos Kaki Katun, Polyester, Polos, Sedang 4/12 Pasang

21 Perlengkapan Pembersih Sepatu a. Semir Sepatu b. Sikat Sepatu Sedang Sedang 6/12 Buah 1/12 Buah

22 Sandal Jepit Karet 2/12 Pasang

23 Handuk Mandi 100 cm x 60 cm 2/12 Potong

24 Perlengkapan Ibadah a. Sajadah b. Mukena c. Peci, dll. Sedang Sedang Sedang 1/12 Potong 1/12 Potong 1/12 Potong III PERUMAHAN

25 Sewa Kamar Dapat menampung jenis KHL Lainnya 1 Bulan

26 Dipan/Tempat Tidur No. 3, Polos 1/48 Buah

a. Kasur Busa b. Bantal Busa Busa Busa 1/48 Buah 2/36 Buah

28 Sprei dan Sarung Bantal Katun 2/12 Set

29 Meja dan Kursi 1 Meja/4 Kursi 1/48 Set

30 Lemari Pakaian Kayu Sedang 1/48 Buah

31 Sapu Ijuk Sedang 2/12 Buah

32 Perlengkapan Makan a. Piring Makan b. Gelas Minum c. Sendok Garpu Polos Polos Sedang 3/12 Buah 3/12 Buah 3/12 Pasang

33 Ceret Alumunium Ukuran 25 cm 1/24 Buah

34 Wajan Alumunium Ukuran 32 cm 1/24 buah

35 Panci Alumunium Ukuran 32 cm 2/12 Buah

36 Sendok Masak Alumunium 1/12 Buah

37 Rice Cooker Ukuran ½ Liter 350 Watt 1/48 Buah

38 Kompor dan Perlengkapannya a. Kompor 1 tungku

b. Selang dan Regulator c. Tabung Gas 3 Kg SNI SNI Pertamina 1/24 Buah 10 Liter 1/60 Buah

39 Gas Elpiji Masing-masing 3 kg 2 Tabung

40 Ember Plastik Isi 20 Liter 2/12 Buah

41 Gayung Plastik Sedang 1/12 Buah

42 Listrik 900 Watt 1 Bulan

43 Bola Lampu Hemat Energi 14 Watt 3/12 Buah

44 Air Bersih Standar PAM 2 m3

45 Sabun Cuci Pakaian Krim/Deterjen 1,5 Kg

46 Sabun Cuci Piring (Colek) 500 gr 1 Buah

47 Seterika 250 Watt 1/48 Buah

48 Rak Portable Plastik Sedang 1/24 Buah

49 Pisau Dapur Sedang 1/36 Buah

50 Cermin 30 x 50 cm 1/36 Buah

IV PENDIDIKAN

51 Bacaan/Radio Tabloid/4 Band 4 Eks atau 1/48 Buah

52 Ballpoint/Pensil Sedang 6/12 Buah

V KESEHATAN 53 Sarana Kesehatan : a. Pasta Gigi b. Sabun Mandi c. Sikat Gigi d. Shampoo

e. Pembalut atau Alat Cukur

80 Gram 80 Gram Produk Lokal Produk Lokal Isi 10 1 Tube 2 Buah 3/12 Buah 1 Botol 100 ml 1 Dus/Set 54 Deodorant 100 ml/g 6/12 Botol

55 Obat Anti Nyamuk Bakar 3 Dus

56 Potong Rambut Di Tukang Cukur/Salon 6/12 Kali

57 Sisir Biasa 2/12 Buah

VI TRANSPORTASI

58 Transportasi Kerja dan Lainnya Angkutan Umum 30 Hari (PP)

VII REKREASI DAN TABUNGAN

59 Rekreasi Daerah Sekitar 2/12 Kali

Sumber : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

Dengan demikian, adapun ukuran hidup layak yang digunakan dalam PERMEN 13/2012 tersebut di atas adalah komponen yang termasuk di dalam Kebutuhan Hidup Layak (KHL) bagi lajang/single atau perorangan.

Adapun mekanisme untuk menentukan penetapan Upah Minimum juga diatur di dalam PERMEN 13/2012 berdasarkan Standar KHL di atas, yaitu242 :

1. “Ketua Dewan Pengupahan Propinsi dan/atau Kabupaten/Kota

membentuk tim survey yang anggotanya terdiri dari unsur tripartit : perwakilan serikat pekerja; pengusaha; pemerintah; dan pihak netral dari akademisi;

2. Standar KHL ditetapkan dalam PERMEN 13/2012, berdasarkan standar tersebut, tim survey Dewan Pengupahan melakukan survey harga untuk menentukan nilai harga KHL yang nantinya akan diserahkan kepada Gubernur Propinsi masing-masing;

3. Survey dilakukan setiap satu bulan sekali dari bulan Januari s/d September, sedangkan untuk bulan Oktober s/d Desember dilakukan prediksi dengan membuat metode least square. Hasil survey tiap bulan tersebut kemudian diambil rata-ratanya untuk mendapat nilai KHL; 4. Nilai KHL ini akan digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan

dalam penetapan upah minimum yang berlaku bagi pekerja/buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun. Upah bagi pekerja dengan masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih dirundingkan secara bipartit antara pekerja atau serikat pekerja dengan pengusaha di perusahaan yang bersangkutan; 5. Berdasarkan nilai harga survey tersebut, Dewan Pengupahan juga

mempertimbangkan faktor lain : produktivitas; pertumbuhan ekonomi; usaha yang paling tidak mampu; kondisi pasar kerja; dan saran/pertimbangan dari Dewan Pengupahan Propinsi/Kabupaten/Kota; 6. Gubernur nantinya akan menetapkan besaran nilai upah minium.

Penetapan Upah Minimum ini dilakukan 60 hari sebelum tanggal berlakunya yaitu setiap tanggal 1 Januari”.

242

Lihat : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

Setelah memperhatikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak (PERMEN 13/2012) tersebut, ternyata penetapan Standar KHL tersebut diperuntukkan bagi 1 (satu) orang lajang/single. Sedangkan, buruh/pekerja ataupun tenaga kerja pastilah berkeluarga, sehingga menyebabkan dirinya menanggung keluarganya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya. Hal ini menyebabkan para tenaga kerja di Indonesia menjadi kurang berkecukupan karena penentuan Standar KHL dihitung berdasarkan kebutuhan hidup lajang. Sedangkan, tenaga kerja mempunyai keluarga untuk dipenuhi kebutuhan hidupnya. Karenanya sering terjadi demonstrasi kenaikan Upah Minimum di setiap kota/kabupaten di Indonesia.

Setiap tahun telah terjadi demo-demo pekerja dengan tuntutan yang menjadi tradisi negara Indonesia. Oleh karena itu, undang-undang tersebut belum dapat menjamin kehidupan yang layak bagi tenaga kerja, karena undang-undang tersebut belum menyentuh arti sebenarnya dari akar masalah mengenai penghidupan yang layak dan diperburuk lagi dengan tidak adanya kepastian hukum di Indonesia yang masih menjadi pertanyaan besar. Pembuat undang-undang belum mewakili hati rakyat. Badan eksekutif, legislatif dan yudikatif di Indonesia masih dalam masa pembelajaran yang tidak pernah habisnya, masalah korupsi, kesadaran rasa malu yang telah hilang, bertambah rusaknya moral bangsa merupakan penyebab dari tidak adanya penghidupan yang layak di dalam undang-undang.

Penjelasan Pasal 88 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa :

“Yang dimaksud dengan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang

layak adalah jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar yang meliputi makanan dan minuman, sandang,

perumahan, pendidian, kesehatan, rekreasi, dan jaminan hari tua”.

Bagaimana mungkin penghidupan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja buruh dan keluarganya dapat tercapai, sementara, Standar KHL ditentukan hanya untuk satu orang pekerja/buruh saja. Ketentuan Pasal 88 Undang- Undang No. 13 Tahun 2003 tersebut perlu dikaji ulang karena menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya secara wajar. Wajar dalam hal ini meliputi makanan dan minuman, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan jaminan hari tua.

Kehidupan yang layak yang dibutuhkan oleh tenaga kerja adalah hidup dan berkehidupan yang dapat memberikan sandang, pangan, dan papan (rumah), merupakan harapan dasarnya, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup merupakan tujuan bukan hanya pada tenaga kerja tetapi pada setiap manusia. Hal ini dapat lebih diperjelas lagi menurut hierarki Maslow. Teori hierarki Maslow adalah teori yang

diungkapkan oleh Abraham Maslow, yang menyatakan bahwa : “Kebutuhan-

kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal

yang memotivasi”.243

Terdapat 5 (lima) tingkat kebutuhan dasar, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.244

Maslow memberi hipotesis bahwa setelah individu memuaskan kebutuhan pada tingkat paling bawah, individu tersebut akan memuaskan kebutuhan pada tingkat yang berikutnya. Jika, pada tingkat tertinggi tetapi kebutuhan dasar tidak terpuaskan, maka individu dapat kembali pada tingkat kebutuhan yang sebelumnya.245 Menurut Maslow, pemuasan berbagai kebutuhan tersebut didorong oleh dua kekuatan yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motivasi perkembangan (growth motivation). Motivasi kekurangan bertujuan untuk mengatasi masalah ketegangan manusia karena berbagai kekurangan yang ada. Sedangkan, motivasi pertumbuhan didasarkan atas kapasitas setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang. Kapasitas tersebut merupakan pembawaan dari setiap manusia.246

Kehidupan yang layak bagi tenaga kerja menjamin tenaga kerja tersebut menjadi sejahtera. Kehidupan layak merupakan dasar dari jenjang untuk mencapai kesejahteraan hidup. Definisi kesejahteraan adalah tercapainya job secure, income

secure, dan social secure. Kesejahteraan dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan

dalam kehidupan sebagai manusia layaknya.

243

Gregory J. Feist, Teori Kepribadian : Theories of Personality, (Jakarta : Salemba Humanika, 2010), hal. 331.

244

Deden Rahmat Hidayat dalam Zaenuddin A. Naufal, Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian Dalam Konseling, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2011), hal. 165-166.

245

Rod Plotnik; Haig Kouyoumdjian, Introduction to Psychology, 10th Edition, Wardsworth, 2014, hal. 332.

246

Hartiah Haroen (Ed.), Teknik Prosedural Keperwatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, (Jakarta : Salemba Humanika, 2008), hal. 2.

Tingkat kesejahteraan tenaga kerja jelas mempengaruhi jalannya perusahaan

karena merupakan dampak „domino‟, dimana apabila tenaga kerja sejahtera, maka

Sense of Belonging(SoB), Sense of Ownership(SoS) dan trust terhadap perusahaan

secara otomatis akan muncul, tenaga-kerja akan bekerja maksimal dan habis-habisan untuk memajukan perusahaan dan tentu saja pihak keluarga tenaga kerja juga akan mendukung maksimal dan bangga terhadap perusahaan. Anak-anak dari tenaga kerja tersebut juga di kemudian hari akan menjadi bangga apabila dapat bekerja seperti orang tua mereka pada perusahaan tempat orang tuanya bekerja.

Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak dan hak atas pengajaran

dijamin oleh UUD 1945 melalui Pasal 27 ayat (2), yang menyatakan bahwa : “Tiap-

tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi

kemanusiaan”.

Pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan247 :

a. “Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi;

b. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah;

c. Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan

d. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya”.

247

Pasal 2 sampai dengan Pasal 4 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Berdasarkan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 2 sampai dengan Pasal 4 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan jelas menggaris- bawahi pekerjaan yang layak dan penghidupan yang layak dijamin oleh undang- undang untuk menuju kepada kesejahteraan. Hak atas pekerjaan yang layak, semestinya seorang buruh mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Lebih jauh lagi, hak atas pekerjaan yang layak ini mencerminkan bahwa buruh bukan barang perasan, tenaga kerja bukan robot yang dipaksakan untuk bekerja hingga di luar batas kemampuan seorang manusia. Misalnya dalam masalah waktu bekerja, telah diberi batas yang menjadi standar kemampuan manusia yaitu buruh hanya bekerja selama 8 (delapan) jam sehari.

Hak atas penghidupan yang layak merupakan cerminan untuk kesejahteraan seorang tenaga kerja. Hak atas penghidupan yang layak juga berkaitan dengan kebutuhan hidup satu orang manusia atau satu keluarga tenaga kerja. Kesejahteraan tenaga kerja berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dengan upah yang diterimanya. Misalnya, di Sumatera Utara, UMP tahun 2014 sebesar Rp. 1.505.850,- naik dari UMP tahun 2013 sebesar Rp. 1.305.000,-.248 Apakah tenaga kerja di Sumatera Utara telah mendapatkan hak-haknya? Buruh/tenaga kerja juga berhak mendapatkan jatah libur satu hari dalam satu minggu, juga buruh wanita mempunyai hak untuk

mendapatkan “cuti haid” dan banyak lagi hak-hak yang lainnya.

Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 di atas, kemudian dipertegas dengan dibentuk dan dikeluarkannya Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

248Harian Waspada, “UMP Sumut 2014 RP. 1.505.850,- (Satu Juta Lima Ratus Lima Ribu Delapan Ratus Lima Puluh Rupiah)”, diterbitkan Jum‟at, 01 November 2013.

Secara garis besar tujuan dari pembentukan undang-undang ini adalah berusaha untuk mengayomi, memanusiakan dan memberi keadilan pada tenaga-kerja. Namun, disinilah letak dilema hukum perburuhan dan tenaga-kerja di Indonesia. Jumhur

Hidayat menyatakan bahwa : “Hukum kita bagus pada konsep tapi tidak bagus pada pelaksanaannya”. Pernyataan Jumhur Hidayat ini mempunyai relevansi dengan

hukum perburuhan dan tenaga kerja yang telah ada.249 Sudah sejauh manakah hukum perburuhan dan tenaga kerja mengayomi, memanusiakan, dan memberi keadilan pada buruh? Negara memang sulit untuk mengatur dan mengintervensi perburuhan karena dasar dari hukum perburuhan adalah hukum privat yaitu hukum yang mengatur hubungan antara satu warga masyarakat dengan warga masyarakat lainnya.

Bentuk dari pengaturan dan intervensi dari pemerintah ini hanya terlihat dalam pembentukkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan sebagai penyelesaian sengketa pada tingkat pengadilan diatur dengan Undang- Undang No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Pada satu sisi buruh adalah bawahan dari majikan, mereka takut untuk membela diri demi haknya karena takut kehilangan pekerjaannya. Hal itu diperparah lagi dengan miskinnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada pada kebanyakan buruh. Jika kita berpijak di alam nyata, jarang ada buruh yang cerdik seperti kecerdikan majikannya atau bahkan melebihi kecerdikan majikannya, yang ada kecerdikan buruh itu berada di bawah kecerdikan majikan. Walaupun Negara berusaha mengintervensi perburuhan dengan memuat hak-hak buruh dalam konstitusi dan peraturan

249Zamzami Tanjung, “Realitas Perburuhan”, diposting 28 Januari 2011, http://zamzamitanjung.blogspot.com/2011/01/realitas-perburuhan.html., diakses Sabtu, 04 April 2015.

perundang-undangan lainnya tetap saja hak-hak tenaga-kerja yang berimplikasi pada terangkatnya harkat serta martabat buruh tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Sekali lagi, adanya regulasi tentang perburuhan dan tenaga kerja hanya bagus pada konsep tetapi tidak nampak pada pelaksanaannya. Negara seidealnya lebih banyak ikut terlibat agar segala regulasi yang dibuatnya dapat berjalan sebagaimana mestinya (dengan semangat otonomi daerah sudah kewajiban pula pemerintahan daerah mengatur masalah perburuhan ini). Bagaimana seidealnya memecahkan segala masalah yang sedikit banyak telah disebut di atas? Pertama, niat baik dari majikan untuk lebih memperhatikan hak-hak buruhnya. Niat baik ini kadang terhapus dengan melihat peluang yang dapat memperkaya dirinya (motif ekonomi). Kedua, peningkatan SDM buruh hingga mampu mengadvokasi dan menuntut hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Ketiga, regulasi perburuhan harus disosialisasikan kepada buruh dan majikan oleh pemerintah, LSM, dan pers.

5. Kesejahteraan Tenaga Kerja Mempengaruhi Stabilitas Hukum