• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas due process of law sebagai manifestasi pengakuan hak-hak asasi manusia dalam proses peradilan pidana menjadi asas yang sangat penting dan harus dijunjung tinggi oleh semua pihak terutama bagi lembaga-lembaga penegak hukum. Asas due process of law sebagai asas utama perlindungan hak warga negara melalui

proses hukum yang adil, juga merupakan jaminan atas hak-hak yang dimiliki tersangka atau terdakwa maupun terpidana. Hak warga negara (civil rights) tersebut merupakan hak seseorang untuk membela diri dan menuntut hak-haknya dengan pengakuan asas kebersamaan kedudukannya didalam hukum (equality before the

law) melalui proses hukum yang adil (due process of law) yang dalam hal ini adalah

mekanisme proses peradilan pidana.110

Hak due process of law dalam pelaksanaan tindakan penegakan hukum, bersumber dari cita-cita “negara hukum” yang menjunjung tinggi “supremasi hukum” (the law is supreme) yang menegaskan “kita diperintah oleh hukum” dan “bukan oleh orang” (government of law and not of men).111 Dari asas tersebut, dalam pemeriksaan terhadap tersangka atau terdakwa, setiap institusi pada setiap tingkat pemeriksaan dalam melaksanakan fungsi dan kewenangannya harus berpegang pada ketentuan hukum yang ada, dalam hal ini adalah hukum acara pidana. Oleh karenanya prinsip “perlakuan” dan dengan “cara yang jujur” sebagai konsep due

process of law sebagai wujud perlindungan hukum terhadap tersangka atau terdakwa

dapat terpenuhi.

Asas due process of law dalam KUHAP menurut Mardjono Reksodiputro, tercermin dari sepuluh prinsip perlindungan hak warga negara sebagaimana ditemukan dalam penjelasan KUHAP, yaitu :

1. perlakuan yang sama dimuka hukum, tanpa diskriminasi apapun. 2. praduga tidak bersalah.

3. hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi. 4. hak untuk mendapatkan bantuan hukum.

5. hak kehadiran terdakwa dimuka pengadilan.

110 I Gusti Ketut Ariawan, Op.cit., h. 8-9

6. peradilan yang bebas dilakukan dengan cepat dan sederhana. 7. peradilan yang terbuka untuk umum.

8. pelanggaran atas hak-hak warga negara (penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan) harus didasarkan undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis).

9. kepada seorang tersangka, sejak saat dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberi tahu dakwaan dan dasar hukum apa yang didakwakan kepadanya, juga wajib diberitahu haknya itu, termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasihat hukum.

10. kewajiban pengadilan untuk mengendalikan pelaksanaan putusan-putusannya.112

Negara Republik Indonesia yang dalam konstitusi telah mengikrarkan diri sebagai negara hukum sebagaimana terlihat pada Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang memberikan jaminan persamaan kedudukan dalam hukum bagi setiap warga negaranya, juga merupakan konsekuensi dari suatu negara hukum. Karena sebagai negara hukum menurut Sri Sumantri, harus memenuhi beberapa unsur, yaitu :

1. pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan.

2. adanya jaminan terhadap hak asasi manusia (warga negara). 3. adanya pembagian kekuasaan dalam negara.

4. adanya pengawasan dari badan-badan peradilan.113

Pendapat yang hampir sama juga diutarakan oleh Friedrich Julius Stahl, bahwa suatu negara hukum ditandai oleh adanya empat unsur pokok, yaitu :

1. pengakuan dan perlindungan terhadap HAM. 2. negara didasarkan pada teori Trias Politica.

3. pemerintah didasarkan pada undang-undang (wetmatig bestuur).

4. ada peradilan administrasi negara yang bertugas menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah (onrechmatige

overheidsdaat).114

Dari kedua pendapat diatas menunjukkan arti, bahwa negara mempunyai tanggung jawab atas perlindungan hak-hak warga negara sebagai perwujudan

112 Mien Rukmini, Op.cit., h. 84-85

113 Sri Sumantri, 1992, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, h. 29

penghargaan akan hak asasi manusia. Perwujudan penghargaan hak asasi tersebut apabila terlaksana dengan memberikan posisi yang seimbang, termasuk dalam proses peradilan pidana, akan memberi harapan bagi setiap orang, termasuk dalam hal ini adalah bagi tersangka, terdakwa maupun terpidana dalam mempertahankan hak-haknya secara seimbang pula.

Kesimbangan dalam hidup yang dimiliki oleh setiap orang tersebut merupakan salah satu aspek perlindungan hak asasi manusia. Dalam hal tersebut, dikatakan oleh Djoko Prakoso dan Agus Ismunarso, bahwa pada dasarnya hak asasi manusia ditandai oleh dua ciri. Pertama, kesimbangan antara hak dan kewajiban. Kedua, kesimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan umum (masyarakat). Jadi, perlindungan HAM meliputi dua unsur, yaitu hak asasi perseorangan dan hak asasi masyarakat.115

Nilai keseimbangan tersebut ditinjau dari segi hukum, menurut Barda Nawawi Arief, adalah keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek kemasyarakatan, mengandung makna antara hak-hak perorangan (individual) disatu pihak dan hak-hak kemasyarakatan (sosial) dilain pihak. Dengan perkataan lain, hukum harus merupakan manifestasi dan sekaligus pelindung HAM secara individual dan HAM sebagai satu kesatuan hak komunitas.116

Pendapat di atas dapat dipahami karena pada dasarnya hak asasi manusia seperti dikemukakan Masyhur Effendi, adalah hak asasi / hak kodrat / hak mutlak milik umat manusia, orang per orang, dimiliki umat manusia sejak lahir sampai

115 Djoko Prakoso dan Agus Ismunarso, 1987, Hak Asasi Tersangka dan Peranan Psikologi

Dalam Kontek KUHAP, Bina Aksara, Jakarta, h. 9

116 Barda Nawawi Arief, 1992, ”Perlindungan HAM Dalam Hukum Positif di Indonesia”, dalam, Himpunan Naskah Lokakarya Nasional Tentang Hak-HAM, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Negeri, Jakarta, selanjutnya disebut Barda Nawawi Arief II, h. 89.

meninggal dunia. Dalam pelaksanaannya didampingi kewajiban dan bertanggungjawab.117

Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia setiap warga negara sebagai salah satu unsur negara hukum, dalam proses peradilan pidana menjadi aspek yang fundamental. Oleh karena adanya asas persamaan kedudukan didalam hukum dalam proses peradilan pidana, menjadi tuntutan yang harus diwujudkan. Implementasi dalam proses peradilan pidana di Indonesia, terhadap pihak-pihak yang berhadapan, yaitu terhadap terdakwa disatu pihak dan penuntut umum di pihak yang lain, hakim dituntut bersikap tidak memihak (impartial).

Asas persamaan kedudukan dimuka hukum sejak proses penyidikan sampai dengan pemeriksaan di sidang pengadilan, diharapkan dapat memberikan jaminan kepastian hukum untuk melindungi baik bagi kepentingan negara maupun kepentingan terdakwa, serta lebih jauh tentunya juga bagi kepentingan korban. KUHAP sebagai hukum formil dalam proses peradilan pidana di Indonesia telah merumuskan sejumlah hak bagi terdakwa sebagai pelindung terhadap kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh para pejabat penegak hukum. Hak-hak dimaksud sebagaimana diatur dalam Pasal 50 sampai dengan Pasal 68 KUHAP, yaitu :

1. Hak untuk segera diperiksa dan diajukan ke pengadilan serta diadili (Pasal 50 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) KUHAP).

117 H. A. Masyhur Effendi, 1994, Dimensi Dinamika Hak Asasi Manusia Dalam Hukum

2. Hak untuk mengetahui dengan jelas dan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan dan apa yang didakwakan (Pasal 51 butir a dan butir b KUHAP).

3. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim (Pasal 52 KUHAP).

4. Hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1) KUHAP).

5. Hak untuk mendapat bantuan hukum pada setiap tingkat pemeriksaan (Pasal 54 KUHAP).

6. Hak untuk mendapat nasihat hukum dari penasihat hukum yang ditunjuk oleh pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan bagi tersangka atau terdakwa yang diancam pidana mati atau lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, dengan biaya cuma-cuma (Pasal 56 KUHAP).

7. Hak tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dikenakan penahanan untuk menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya (Pasal 57 ayat (2) KUHAP).

8. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya bagi tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan (Pasal 58 KUHAP). 9. Hak pemberitahuan tentang penahanan atas diri tersangka atau terdakwa

kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya (Pasal 59 KUHAP).

10. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainnya guna mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun mendapatkan bantuan hukum (Pasal 60 KUHAP).

11. Hak untuk menghubungi dan menerima sanak keluarganya secara langsung atau dengan perantaraan penasihat hukumnya untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan (Pasal 61 KUHAP). 12. Hak untuk berhubungan melalui surat menyurat dengan penasihat

hukumnya atau dengan sanak keluarganya (Pasal 62 KUHAP).

13. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniwan (Pasal 63 KUHAP).

14. Hak untuk diadili di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum (Pasal 64 KUHAP).

15. Hak untuk mengajukan saksi atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya (a de charge) (Pasal 65 KUHAP).

16. Hak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat (Pasal 67 KUHAP).

17. Hak untuk menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi (Pasal 68 KUHAP). Dari rumusan hak-hak sebagaimana tersebut di atas setidak-tidaknya negara telah menjamin kepastian hukum perlindungan hak asasi terhadap terdakwa. Akan tetapi, apabila dilihat kembali dari asas persamaan kedudukan didalam hukum

(equality before the law) dalam proses peradilan pidana, masih terlihat kurang adanya keseimbangan perhatian khususnya bagi korban tindak pidana. Perhatian negara lebih banyak merangkum kepentingan terdakwa dalam proses peradilan pidana. Namun sebaliknya perhatian terhadap korban tindak pidana belum banyak dijamin dalam proses peradilan pidana.

Perhatian terhadap korban tindak pidana dalam KUHAP terlihat hanya mengenai permasalahan ganti kerugian seperti dirumuskan dalam Pasal 98 KUHAP, yaitu ”Jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan didalam suatu pemeriksaan perkara pidana oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka hakim ketua sidang atas permintaan orang itu dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti kerugian kepada perkara pidana itu”. Perhatian terhadap korban tindak pidana seperti itu dipandang sebagai pendekatan yang terlalu sempit. Hal tersebut karena hanya memusatkan perhatian pada penggantian kerugian yang bersifat finansial, tidak memikirkan dampak lainnya yang bersifat psikologis. Padahal, korban tindak pidana atau korban kejahatan menurut Muladi, harus diartikan sebagai seseorang yang telah menderita kerugian sebagai akibat suatu kejahatan dan atau yang rasa keadilannya secara langsung telah terganggu sebagai akibat pengalamannya sebagai target (sasaran).118

Demikian juga dalam hal pengajuan upaya hukum terhadap suatu putusan pengadilan, terdakwa atau terpidana oleh KUHAP masih diberi ruang untuk mempertahankan hak-haknya melakukan tinjauan ulang melalui upaya banding, kasasi dan bahkan pengajuan permintaan peninjauan kembali terhadap putusan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dalam hal upaya hukum di atas, memang disamping terdakwa atau terpidana, KUHAP juga memberikan hak kepada jaksa/penuntut umum untuk melakukan upaya banding maupun kasasi terhadap putusan pengadilan yang dipandang kurang tepat. Posisi jaksa/penuntut umum disini tentunya atas nama negara untuk mempertahankan kepentingan umum. Namun KUHAP tidak secara tegas menentukan apakah memberi hak kepada jaksa/penuntut umum untuk dapat mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan yang telah berkekuatan tetap atau tidak.

Menurut ketentuan Pasal 67 KUHAP, terdakwa atau penuntut umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat. Sedangkan menurut Pasal 244 KUHAP, menentukan bahwa terhadap putusan pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain dari pada Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung. Dari kedua ketentuan tersebut, jelas bahwa terhadap putusan pengadilan tingkat pertama yang dianggap kurang tepat, terdakwa atau penuntut umum diberi hak untuk melakukan banding dan terhadap putusan pengadilan tingkat banding, terdakwa atau penuntut umum diberi hak untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

Diberikannya hak yang sama kepada terdakwa dan penuntut umum oleh undang-undang dalam melakukan upaya hukum banding maupun kasasi, menunjukkan antara terdakwa dan penuntut umum didudukkan sebagai pihak yang

sama dalam kepentingan hukumnya. Namun dalam kepentingan pengajuan peninjauan kembali terhadap putusan Pengadian yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, KUHAP baru memberi peluang kepada terpidana atau ahli warisnya saja. Hal itu dapat disimpulkan dari Pasal 263 ayat (1) KUHAP. Di sini KUHAP belum mengakomodir kepentingan korban tindak pidana yang dalam hal ini diwakili oleh jaksa. Apabila dilihat dari sisi kepentingan korban tindak pidana, asas persamaan kedudukan didalam hukum dalam KUHAP terlihat belum terpenuhi.

Sejarah telah memperlihatkan bahwa terjadinya ketidaktertiban dalam masyarakat dan negara dipengaruhi oleh adanya hubungan-hubungan sosial di masyarakat yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan yang terjadi di masyarakat selalu melibatkan adanya pelaku dan adanya korban. Dalam sejarah perkembangan hukum pidana juga memperlihatkan, bahwa pada awalnya reaksi atas terjadinya suatu tindak pidana merupakan hak dari korban, sehingga berakibat adanya saling dendam yang berkelanjutan dan tidak berkesudahan. Untuk mengatasi masalah tersebut kemudian muncul gagasan ganti kerugian dengan sejumlah harta atas terjadinya tindak pidana. Namun ternyata dalam perkembangannya, atas terjadinya suatu tindak pidana dirasakan tidak hanya melibatkan pelaku dan korban saja, melainkan juga telah menimbulkan gangguan ketertiban masyarakat. Dari keadaan seperti itu menurut Marjono Reksodiputro, yang muncul adalah hubungan antara pelaku dengan masyarakat (negara) yang pada akhirnya yang perlu diperhatikan

adalah ketertiban masyarakat serta negaralah yang menuntut ganti rugi pada pelaku dan sekaligus hilanglah hak korban untuk menuntut ganti kerugian.119

Mengingat begitu luasnya dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya tindak pidana, maka dengan mempertimbangkan segi ketertiban masyarakat (social order) yang lebih besar, masalah upaya hukum dalam perkara pidana khususnya hak pengajuan peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, perlu penyelarasan kembali mengingat bahwa hak asasi bukanlah monopoli golongan tertentu, melainkan adalah milik seluruh makhluk hidup. Sehingga ke depan asas persamaan kedudukan didepan hukum (equality

before the law) betul-betul dapat menyentuh setiap golongan. Hal tersebut untuk

tujuan mencapai keseimbangan kepentingan perseorangan dan kepentingan masyarakat (negara).

119 Marjono Reksodiputro, 1994, HAM dalam Sistim Peradilan Pidana Kumpulan

Dokumen terkait