BAB III METODE PENELITIAN
A. Hak Warga Negara setelah diberlakukannya Perda No 7 Tahun 2018
Pemilihan Wali Nagari di Sumatra Barat merujuk pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatra Barat Nomor 2 Tahun 2007, kemudian direvisi dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatra Barat, Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari. Nagari memiliki Pemerintahan Nagari, yang pada dasarnya berfungsi untuk mengatur dan mengurusi kepentingan masyarakat di Nagari, Pemerintahan Nagari terdiri dari Wali Nagari, Sekretaris Nagari, Bandaharo Nagari, Manti Nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan perangkat lainnya.
Kerapatan adat Nagari adalah lembaga yang merupakan, perwujudan dan permusyawaratan perwakilan tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan Nagari, disebutkan dalam Perda No 7 Tahun 2018 pada pasal 6 yang menyatakan bahwa: Pada setiap Nagari dibentuk Kerapatan Adat Nagari, sebagai lembaga permusyawaratan tertinggi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Nagari. Kerapatan Adat Nagari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) keanggotaanya terdiri dari perwakilan, Niniak Mamak, dan Unsur Alim Ulama Nagari, unsur Cadiak Pandai, unsur Bundo Kanduang, dan unsuk Parik Paga dalam Nagari serta adanya Adat Salingka Nagari.
Kerapatan Adat Nagari dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh dua orang wakil ketua yang diangkat atau dipilih dari dan oleh anggota menurut ketentuan Adat Salingka nagari. Pembentukan dan pemilihan atau pengangkatan anggota, ketua dan wakil ketua Kerapatan Adat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan Adat Salingka Nagari.
Kemudian penulis melihat, setelah ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsii Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, bahwa di dalam Perda tersebut tidak adanya Badan Permusyawaratan Nagari (BAMUS Nagari), yang pada Perda sebelumnya, BAMUS ini memiliki kedudukan dan
fungsi sebagai Lembaga perwujudan demokrasi dalam unsur penyelenggaraan Pemerintah Nagari. Di dalam Perda No 7 Tahun 2018 tentang Nagari, Lembaga yang menjadi unsur penyelengaraan Pemerintahan Nagari adalah Kerapatan Adat Nagari (KAN)
Sejauh ini penulis melihat belum adanya turunan Perda dari Perda Provinsi Sumatra Barat No 7 Tahun 2018 tentang Nagari, penulis juga sudah mendatangi Kantor Bupati Tanah Datar tepatnya di bagian hukum, untuk melakukan observasi data, dengan Skretaris Daerah bahwa, di Kabupaten Tanah Datar belum menerapkan Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 dan masih mengacuh pada Peraturan Daerah sebelumnya, dikarenakan pada Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, masih dalam tahap proses, di dalam isi Perda tersebut masih banyaknya ketidaksesuaian/Perbedaan Perda dengan acuan aturan Perda sebelumnya dan menurut pendapatnya Perda ini harus banyak dilakukan perubahan sebelum di implementasikan dan perda ini sangat menarik untuk diteliti. Penulis juga melakukan observasi data dengan Bapak Dodi di bagian Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMDPPKB) menurut pendapatnya bahwa di Kabupaten Tanah Datar belum menerapkan Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari dan masih dalam tahap proses.
Dari data yang penulis dapatkan berdasarkan pendapat Drs. H.
Syafrizal, MM, Dt Nan Batuah (Kepala Dinas pemberdayaan masyarakat dan Desa Provinsi Sumatra Barat) dalam acara Lokarya yang di sampaikan oleh pada tanggal 12 Desember 2020 di Hotel Grand Rocky Bukittinggi, dalam arahannya pada pembukaan Lokarya Pembahasan petunjuk teknis Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, beliau mengatakan bahwa, sudah 3 tahun Perda Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari ini diberlakukan, namun belum adanya turunan Perda yang diterapkan oleh setiap daerah di Provinsi Sumatra Barat. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah melaksanakan, pembentukan Dewan Pembina dan pengembangan Nagari tingkat Provinsi Sumatra Barat, untuk melakukan sosialisasi Perda di
47
19 Kabupaten/Kota, membentuk Nagari percontohan dengan 10 Nagari percontohan pada 6 Kabupaten dan Kota, yaitu : Nagari Painan di Pesisir Selatan, Nagari Lawang, Pakan Sinayan, Sungai Pua, Tigo Balai, Kapau dan Garagahan di Agam, Nagari Taram di Lima Puluh Kota, Nagari andaleh Baruah Bukik di Tanah Datar, Nagari Aia Manggihdi Pasaman, dan KAN Pauah Aia IX Kuranji Kota Padang. Pada nagari percontohan telah diberikan pengawasan dan pembinaan, FGD, Bimtek serta pendampingan. Melalui DPMD Provinsi Sumatra Barat, dapat disetujui anggaran untuk penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Perda, yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Fakultas Hukum, Universitas Andalas Padang. Draf Juknis ini telah disusun dan diharapkan masukan-masukan dari peserta Lokarya demi penyempurnaan Juknis ini dan dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam implementasi Nagari menjadi Desa Adat.
Kemudian jika dilihat dalam Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari terkait mekanisme pemilihan Wali Nagari, pada pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa, Wali Nagari dipilih dan diangkat oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) melalui musyawarah mufakat, dalam Peraturan daerah tersebut tidak ada menyebutkan masyarakat ikut serta dalam pemilihan Wali Nagari, Jadi Kerapatan Adat Nagarilah yang nanti akan menentukan siapa yang akan menjadi Wali Nagari, berarti dalam pemilihan Wali Nagari berada dalam sistem perwakilan (tidak langsung).
Sedangkan mekanisme pemilihan pada Peraturan Daerah No 2 Tahun 2007 dalam pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa “pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari dipilih dan diangkat secara langsung oleh warga masyarakat Nagari.
Berarti dalam pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari dipilih secara langsung tanpa adanya perwakilan.
Jika dilihat dari dua Peraturan daerah diatas terdapat perbedaan dalam sitem pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari, bahwa dalam Peraturan Daerah sebelumnya Pemilihan Wali Nagari dipilih dan diangkat secara langsung oleh warga masyarakat Nagari, masyarakat ikut berpatisipasi secara langsung dalam pemilihan Wali Nagari, sedangkan dalam Peraturan Daerah
baru pemilihan Wali Nagari dipilih dan diangkat oleh lembaga Kerapatan Adat Nagari, bukan dipilih secara langsung oleh masyarakat Nagari, akan tetapi diwakili oleh Kerapatan Adat Nagari.
Kemudian penulis melihat kedudukan hak warga negara dalam Peraturan Perundang-Undangan yang merujuk pada UUD 1945 yaitu pada pasal 1 ayat (2) menjelaskan, “Bentuk dan Kedaulatan” bahwa “Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat” artinya bahwa sumber dari segala Kekuasaan Negara berasal dari kedaulatan Rakyat, karena tanpa ada pemberian kedaulatan rakyat maka negara tidak memiliki kekuasaan. Teori Kedaulatan adalah “dari, oleh dan untuk”, maka kedaulatan rakyat berarti
“dari, oleh dan untuk rakyat”. Konstitusi negara ini menjunjung tinggi nilai kerakyatan dalam sistem politik. Hal ini karena Indonesia sangat mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan pemimpin.
Pemimpin hanyalah bertugas yang menjalankan keputusan-keputusan yang dibuat atau dipilih oleh rakyat.
Selanjutnya pada UUD 1945 Pasal 28, menjelaskan bahwa rakyat atau Warga Negara Indonesia mempunyai kebebasan untuk berkumpul bertukar fikiran mengeluarkan pendapat baik dengan lisan, tulisan ataupun bentuk lainya. Hal ini dimaksud memberi akses pada rakyat untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan dan pembangunan negara. Kebebasan mengeluarkan pendapat tersebut juga dimaksudkan, agar Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi dengan menerima dan mengoreksi kritik dari mayarakat.
Senada dengan UUD 1945 ayat 3 Rincian dari pasal 28 UUD 1945 sebagai landasan hukum demokrasi memberikan landasan tertulis.Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah “kemerdekaaan, berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan fikiran dengan lisan atau tulisan sebagaimana ditetapkan dalam undang-undang. Maksudnya disini yaitu setiap warga negara memiliki kesempatan dalam mengeluarkan pikiran dengan lisan baik tulisan kepada subtansi jalannya pemerintahan.
Pada Pasal 22 (C) UUD 1945 yaitu ketentuan dalam pemilihan umum dilaksanakan secrta langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Bahwa
49
maksud dalam pasal ini adalah Jaminan yuridis yang melekat bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan hak pilihnya berdasarkan azas LUBERJURDL. Sehigga dalam Pasal ini warga negara memiliki secara langsung hak pilihnya.
Kemudian pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (PEMILU). Sesuai dengan pasal 1 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih Presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil sesuai (LUBERJURDIL) dengan ketentuan perundang-undangan.
Maksudnya adalah warga negara memiliki hak atas kebebasan dalam hal pemilihan pemimpin secara langsung, tanpa adanya perwakilan berdasarkan azas LUBERJURDIL.
Selanjutnya diperkuat oleh UU No 7 Tahun 2017 pasal 19 ayat (1) dan 6 (a) ayat (1) menyatakan bahwa Jaminan yuridis yang melekat bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan hak pilihnya, ketentuan tersebut menegaskan bahwa segala bentuk produk hukum Perundang-Undangan, yang mengatur mengenai pemilihan umum, sudah seharusnya membuka ruang yang seluas-luasnya bagi setia warga negara untuk dapat menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum.
Berikut juga dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pada pasal 43 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang berdasarkan azas langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil (LUBERJURDIL) dengan ketentuan peraturan-perundangan. Berarti setiap warga negara memiliki persamaan hak atas kebebasan dalam melakukan pemilihan melalui pemungutan suara secara langsung tanpa adanya perwakilan.
Jika dilihat tinjauan dari aspek hukum normatif diatas, ini merupakan bentuk implementasi bahwa ada hak penuh dari rakyat untuk memilih pemimpin dan hak atas kebebasan dalam memilih pemimpin, tanpa adanya
sistem perwakilan atau memerlukan demokrasi perwakilan. Dengan penjelasan tersebut sehingga dapat dilihat hak warga negara belum terpenuhi melalui Perda No 7 Tahun 2018 dalam pemilihan seorang Wali Nagari karena masih menggunakan sistem pemilihan demokrasi secara tidak langsung dan ini merupakan salah satu bentuk dibatasinya hak kebebasan masyarakat dalam pemilihan pemimpin
Kemudian jika dilihat dari pelaksanaan demokrasi yang telah penulis jelaskan di bab sebelumnya dalam demokrasi langsung, masyarakat ikut serta secara langsung dalam berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, setiap rakyat memberikan aspirasinya melalui pendapat atau suara dalam menentukan sebuah keputusan dan setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih kebijakan, sehingga secara langsung keadaan politik berada di tangan rakyat.
Keikutsertaan rakyat berperan penting dalam segala bentuk atau proses pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh dalam kebijakan-kebijakan yang diambil dan nantinya akan dijalankan oleh pemerintah, serta dalam setiap kegiatan pemerintah lebih bersifat transparan terhadap masyarakat karena dijalani langsung oleh masyarakat. Namun demokrasi tidak langsung dalam hal pemilihan, masyarakat tidak secara langsung berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, akan tetapi diwakili oleh lembaga perwakilan, hingga tak terpenuhi hak masyarakat sebagai hak warga negara yang memiliki hak atas kebebasan dalam pemilihan pemimpin.
Sebagaimana konsep di dalam demokrasi, bahwasannya prinsip-prinsip demokrasi menurut Undang-Undang mencakup 7 hal : pertama, Negara berdasarkan Konstitusi, kedua jaminan perlindungan Hak Asasi Manusia, ketiga kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat, keempat adanya peradilan bebas yang tidak memihak, kelima pemilihan yang Bebas Adil dan Jujur, keenam penegakan hukum dan persamaan kedududukan setiap warga negara di depan hukum, ketujuh jaminan kebebasan pers, diantara prinsip-prinsip demokrasi terkait hak warga negara ialah prinsip kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat dan pemilihan yang bebas, jujur dan adil, yang mana prinsip ini mengakui dan memberikan kebebasan setiap orang
51
untuk mengeluarkan pendapat, berserikat, dan setiap orang diperbolehkan untuk berkumpul dalam suatu organisasi untuk memperjuangkan hak sekaligus kewajibannya. Pemilihan yang bebas adil dan jujurlah merupakan salah satu prinsip demokrasi yang sangat penting, dalam hal pemilihan masyarakat diberikan kebebasan dalam pemilihan, tidak adanya pembatasan bagi hak pilih untuk masyarakat dalam proses pemilihan pemimpin, (Lukman hakim,2011:14)
Dilihat pada azas-azas demokrasi yang penulis jelaskan pada bab ii, ada dua azas demokrasi berdasarkan Undang-Undang yaitu: pertama pengakuan partisipan rakyat dalam pemerintahan, dalam negara demokrasi, setiap warga negara memiliki hak untuk turut andil di dalam proses pemerintahan, rakyat juga memiliki hak dalam mengawasi jalannya sistem pemerintahan. Partisipasi rakyat digunakan pada berbagai bidang seperti politik, yaitu dalam pemililihan pemimpin, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Keduapengakuan hakikat serta martabat manusia. Dalam negara demokrasi, setiap warga negara memiliki persamaan haknya, pemerintah harus melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman, pemerintah harus melindungi Hak Asasi Manusia dari tiap warga negaranya. Selain itu pemerintahan juga harus memperlakukan rakyatnya secara adil tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongannya. Bearati dalam azas-azas demokrasi diatas bahwa rakyat harus ikut berpatisipasi dalam sitem pemerintahan, serta mengawasi jalannya pemerintahan, hal ini adanya keharusan partisipan masyarakat dalam sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pemerintah (Gaffar,2005:10)
Selanjut dilihat pada pelaksanaan demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung terdapat dampak positif dan dampak negatif dari keduanya demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung.
Adapun dampak positif pemilihan secara langsung dalam pendapat Wastiono sebagai berikut:
1. Demokrasi langsung makna kedaulatan ditangan rakyat akan nampak secara nyata.
2. Melalui pemilihan langsung, suara rakyat menjadi lebih berharga
3. Kedekatan calon kepada masyarakat dan penguasaan medan gonografi, SDA dan SDM, dan berbagai permasalahan dalam masyarakat, merupakan prasyaratan mutlak yang harus dikuasai calon pemimpin,
4. Kehidupan politik yang demokratis di daerahakan dapat dibangun secara bertahap dan berkesinambungan. Hal tersebut akan memberi andil besar bagi terbangunnya sistem politis demokratis secara nasional ;
5. Kepercayaan masyarakat pada pemerintahan akan meningkat karena prinsip kedaulatan ditangan rakyat dapat diwujudkan secara faktual.
Pemerintahan adalah bisnis kepercayaan dengan adanya kepercayaan dari masyarakat maka partisipasi akan lebih mudah digalang;
6. Pemimpin yang dipilih langsung oleh pemilihan akan memiliki legitimasi yang kuat, sehingga tidak mudah digoyahkan. Dengan pemerintahan yang stabil, tujuan sosial ekonomi dari desentralisasi yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat akan dapat diwujudkan secara bertahap;
7. Apabila birokrasi pemerintahan bersifat netral dalam arti tidak memihak atau terpaksa harus memihak salah satu kontestan pemilihan sehingga salah satu prinsip Negara demokrasi yakni: publicservice
8. Pada sisi lain pemimpin terpilih harus menempatkan birokrasi pemerintahan Nagari sebagai mesin pemberian pelayanan pada masyarakat, bukan sebagai bagian dari mesin politik mereka (Sadu Wasistisiono,2005)
Kemudian Adapun dampak negatif dari demokrasi langsungdari pemilihan langsung menurut Kertapradja Djohermansyah Djohan dan Made Suwandi adalah:
Dampak Negatif pemilihan langsung menurut Kertapradja dalam Djohermansyah Djohan dan Made Suwandi adalah
1. Dalam penyelenggalan pemilihan secara langsung, terbuka kemungkinan terjadinya kolusi, dan money politics atau bentuk-bentuk semacamnya.
2. Apabila pemilihan secara langsung tidak benar, tidak jujur dan penuh kecurangan, maka rakyat tidak akan percaya pada sistem yang ada,
53
sehingga akan terbentuk sikap saling curiga, tidak percaya bahkan saling konflik antar pendukung.
3. Konflik pada tataran birokrasi secara langsung maupun tidak langsung, akan berdampak pada masyarakat, antara lain pelayanan menjadi tidak egaliter, mayarakat juga akan mudah akan tersulut konflik oleh masalah yang sederhana.
Adapun dampak positif dari demokrasi tidak langsung ialah: Efesiensi, biaya dalam pemilihan tidak langsung lebih sedikit, Efektifitas, masyarakat tidak harus ikut dalam pemilihan (Mulyana, 1999:82)
Adapun Dampak Negatif dari pemilihan tidak langsung: Peningkatan Korupsi, menurut Firdaus Ilyas,
1. melalui mekanisme pemilihan bisa melahirkan modus actor dan pola korupsi baru, Politik Uang ( Money Politik),
2. Mundurnya Demokrasi, tujuan demokrasi adalah memberikan rakyat kewenangan mutlak untuk memilih pemimpinnya,
3. Merampas Daulat Rakyat,
4. Maraknya Nepotisme, terjadi dikalangan pejabat public, membuat masyarakat menjadi apatis terhadap pejabat publik (leoagustino,2009:17)
Jadi dapat dilihat dari aspek secara teoritis diatas, bahwa, dampak positif dari demokrasi langsung lebih banyak, ketimbang demokrasi tidak langsung. Dengan penerapan Demokrasi langsung bisa mengurangi “money politic” serta dapat mengurangi nepotisme dankorupsi.Dampak negatif dari demokrasi langsung juga lebih sedikit daripada demokrasi tidak langsung. Hal ini membuktikan demokrasi langsung sangat menguntungkan bagi masyarakat dengan keadaan politik langsung berada di tangan rakyat.
Kemudian penulis melihat dari aspek empris (praktik), bahwa peneliti melihat dari tatanan pelaksanaan demokrasi modern, dalam pandangan Mohammat Hattadan diperkuat oleh pendapat Roesseau bahwa demokrasi langsung dilakukan oleh wilayah yang cakupannya tidak luas, dan jumlah warga negara yang sedikit. Sedangkan demokrasi perwakilan dilaksanakan oleh wilayah negara yang cakupannya luas dan jumlah warga negara yang
lebih banyak. Dilihat realita yang terjadi di Indonesia, bahwa dalam pemilihan Presiden/Kepala Negara hingga pemilihan Kepala Daerah Kabupaten/Kota yang cakupannya begitu luas, juga dilakukan dalam bentuk Demokrasi langsung. Sedangkan dalam pemilihan Wali Nagari yang cakupannya kecil/tidak luas dipilih secara tidak langsung, yang diwakilkan oleh Kerapatan Adat Nagari. Ini merupakan suatu bentuk ketimpangan yang terjadi antara negara dengan nagari, yang mana dalam pemilihan Wali Nagari yang cakupan wilayahnya kecil seharusnya dipilih secara langsung oleh masyarakat nagari.
Melihat dari ketiga aspek ini sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2018 pada pasal 12 dalam pemenuhan hak-hak warga negara, untuk pemilihan pemimpin, khususnya pemilihan Wali Nagari belum terpenuhi secara langsung, dilihat dari penjelasan diatas bahwa masyarakat tidak ikut berpartisipasi secara langsung dalam pemilihan Wali Nagari, akan tetapi diwakilkan oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN), sehingga masyarakat tidak memiliki hak kebebasan dalam pemilihan Wali Nagari. Sebab melalui teori demokrasi yang di kembangkan dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa
“kedaulatan tertinggi berada ditangan rakyat”. Kemudian pada pasal 28E UUD 1945 ayat 3 yang berbunyi “setiap orang berhak atas kebebasan, berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”. Ini merupakan bentuk implementasi bahwasanya ada hak penuh dari rakyat untuk memilih pemimpin tanpa adanya sistem perwakilan, atau memerlukan demokrasi perwakilan, maka dari itu melalui sistem demokrasi langsung yang sudah lama dikembangkan di Indonesia agar dapat mewujudkan hak atas kebebasan warga negara dalam pemilihan pemimpin.
B. Tinjauan Fiqih Siyasah Dust uriyah Terhadap Perda No 7 Tahun 2018