BAB II KAJIAN TEORI
D. Penelitian yang Relevan
Adapun perbandingan antara pengamatan penulis dengan peneliti terdahulu, yaitu:
1. Jurnal dari nuril Khasyi’in, Muhammad Saman, Ahmad Syahrani, UIN Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan,dengan judul: “Konsep Demokrasi dalam pemilihan pemimpin dalam tafsir ayat siyasah QS An-nisa ayat 83 dan Qs Al- Maidah Ayat49 dan 52”
Hasil penelitian dari jurnal ini Islam sangat memperhatikan tentang masalah pemimpin, Dalam Islam disebut sebagai Khalifah yang mana pemimpin tersebut haruslah seseorang yang memiliki sifat Shidiq, Amanah, tabliqh dan fathanah agar dapat menggunakan kekuasaannya untuk menegakkan hukum. Hukum allah kemampuan yang dimilikinya, sikapnya, nalurinya, serta ciri-ciri kepribadiannya harus sesuai dengan ajaran agama Islam, agar mampu menciptakan keadaan yang baik, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam Islam sangatlah penting memilih salah satu pemimpin diantara mereka, dalam HR Abu Dawud dari Abu Hurairah, jika ada orang tiga diantara kamu melakukan suatu perjalanan maka hendaklah membimbing rakyat menuju ke jalan yang benar.
2. Jurnal dari Neneng Yani Yuningsih, FISIP UNPAD, dengan judul:“Demokrasi dalam Pemilihan Kepala Desa (Studi Kasus Provinsi Jawa Barat)”
Hasil Penelitian jurnal ini bahwa fenomena praktek Pilkades di tiga desa itu sebagian telah memenuhi kriteria ideal dari demokrasi, namun sebagian kriteria lainnya masih belum terpenuhi. Dua kriteria yang berlaku sepenuhnya di tiga Desa itu adalah Kriteria Partisispasi efektif dan kontrol terhadap agenda sedangkan tiga kriteria lain yaitu kesetaraan pemahaman yang memadai, dan insklusif masih belum sepenuhnya tercapai. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa praktik demokrasi dalam Pilkades di tiga Desa dalam perspektif kriteria ideal sebuah demokrasi, capaiannya antara lain berkaitan dengan sejarah perkembangan praktik demokrasi pada
masa-masa sebelumnya. Pada akhirnya, konsep demokrasi dimaknai berbeda-beda dalam praktik masing-masing Pilkades yang diteliti bahwa fenomena praktek ideal di tiga Desa tersebut sudah memenuhi kriteria ideal praktik . Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa praktik demokrasi dalam Pilkades tiga desa dalam perspektif kriteria ideal dalam sebuah demokrasi, dapat dimaknai konsep demokrasi yang berbeda-beda setelah diteliti.
3. Jurnal dari Wafia silvi Dhesinta, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, dengan judul: “Calon Tunggal Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Konsep Demokrasi”
Hasil pelitian dari jurnal ini Fenomena Munculnya calon tunggal dalam pilkada serentak tahun 2015 di beberapa daerah di Indonesia bukan merupakan hal yang aneh dan baru dalam dunia internasional. Artinya, proses demokrasi politik melalui pemilu dengan satu calon atau satu kandidat bukan berarti tidak mungkin untuk dilaksanakan. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi pada tataran praktik sangatlah berkembang dan masih menjadi hal yang diperdebatkan. Perlu digarisbawahi bahwa konsep demokrasi politik harus tetap berada pada kriteria-kriteria sebagaimana diungkapkan oleh Dahl yakni kompetisi dan partisipasi. Fenomena calon tunggal, khususnya yang terjadi di Kabupaten Blitar, jika dipandang secara teoritis bukanlah merupakan hal yang dapat dikatakan tidak demokratis. Partisipasi merupakan poin yang utama pula dalam pelaksanaan demokrasi politik. Meskipun hanya ada satu pasangan calon dalam pilkada, proses pemungutan suara tetap merupakan hal yang harus dikerjakan karena hak pilih masyarakat merupakan kedaulatan rakyat yang keberadaannya dijamin oleh konstitusi.
4. Penelitian Skripsi Ripyal Pahri Mahasiswa Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul:“Demokrasi Dalam Pemilihan Umum Dan Kriteria pemimpin perspektif Yusuf Al-Qarhadawi”
Hasil Penelitian dari jurnal ini yaitu Menurut Yusuf al-Qaradhawi, substansi demokrasi pertama, dalam demokrasi proses pemilihan melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak
39
memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh dipaksakan untuk memilih sesuatu yang mereka tidak sukai. Demikian juga halnya dalam Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya. Kedua, usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam.
Bahkan amar ma’ruf dan nahi munkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam. Ketiga, pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, siapa saja yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian saat dibutuhkan.
5. Jurnal dari Susani Triwahyuningsih, Universita merdeka Ponorogo, dengan judul: “Sistem demokrasi dalam pemilihan umum secara lansung Di Indonesia”
Hasil penelitian dari jurnal ini, makna demokrasi yang mengandung arti pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, maka demokrasi seharusya apabila berdasarkan dari rakyat juga di terapkan untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian negara mempunyai tugas sekaligus kewajiban untuk melindungi rakyatnya termasuk hak berpolitik. Pemerintah bisa membuat kebijakan untuk mengatur cara-cara tentang hak berpolitik,namun kebijakan tersebut tidak boleh bertentangan dengan hak dasar. Dalam Pemilihan Umum masyarakat berhak untuk memilih dan di pilih,baik dalam Pilpres, Pilkada maupun Pileg. Negara atau Pemerintah tidak boleh membatasi masyarakat, karena pemilu yang bersih harus diterapkan baik oleh penyelenggara pemilu, pemerintah tidak boleh interfensi baik kepada Penyelenggara pemilu maupun masyarakat
Bersasarkan penelitian dan hasil dari penelitian diatas perbedaannya dengan penelitian penulis yaitu penulis melihat bagimana Konsep Demokrasi
dalam Pemilihan Wali Nagari berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2018 Perspektif Fiqih Siyasah.
41 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan hukum normatif. Penelitian normatif ini melingkupi penelitian atas sistematika hukum, kesesuaian hukum, sejarah hukum, serta perbandingan hukum (comparative) hukum. (Putu Eva Ditayani Antari, 2017: 18)
Adapun hubungannya dengan penelitian ini adalah kesesuaian hukum, serta perbandingan hukum baik dalam undang dasar 1945, Undang-Undang pasal 1 ayat 2 tentang kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat UU No 7 tahun 2017, UU No 39 tahun 1999 dan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, dalam pemilihan wali nagari berdasarkan konsep Demokrasi.
B. Latar dan Waktu Penelitian
Adapun latar penelitian yang penulis lakukan yaitu di perpustakaan Institut agama Islam Negri Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.
Tabel 3. 1
4. Seminar Proposal 5. Melakukan Penelitian
Kepustakaan
6. menganalisa hasil penelitian
7. Munaqasah
C. Subjek Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan penulis dalam menulis skripsi ini adalah buku-buku, Undang-Undang, kamus, serta artikel-artikel. Subjek penelitian ini berdasarkan kepustakaan.
D. Instrumen Penelitian
Dalam menyiapkan bahan-bahan penelitian untuk memperoleh dan menyusun data serta untuk mengolah data, penulis menggunakan instrument pendukung seperti handphone, laptop, internet, buku, artikel, jurnal untuk mendapat informasi dan data-data yang diperlukan.
E. Sumber Data
Data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data skunder, Merupakan skunder pengumpulan data, alasan mnggunakan data skunder untuk untuk meneliti persoalan Data skunder terdapat:
1. Bahan Hukum Primer, meliputi Undang-Undang Dasar Republik indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Pasal 1 ayat (2) tentang Hak Warga Negara, Peraturan daerah Provinsi Sumatra barat No 7 Tahun 2018 tentang nagari
2. Bahan Hukum Skunder adalah pendapat ahli tentang konsep demokrasi, jurnal-jurnal terkait konsep demokrasi dalam pemilihan pemimpin.
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam upaya mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara :
43
Sesuai dengan sumber data yang diperlukan maka teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah dengan cara menelusuri bahan di kepustakaan dan website di internet berupa mencari buku, artikel, jurnal dan literatul lainnya yang berhubungan dengan konsep demokrasi dalam pemilihan pemimpin. Kemudian penulis mengumpulkan data-data yang ada baik dari buku, website (internet).Selanjutnya penulis membaca dan menelaah bahan tersebut yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas.
G. Teknik Analisis Data
Berdasarkan data yang telah berhasil dikumpulkan yaitu data sekunder,dapat ditarik suatu kesimpulan untuk dianalisa secara kualitatif.
Analisa kualitatif yaitu, analisa dengan megelompokkan data menurut aspek-aspek yang diteliti tanpa menggunakan angka-angka atau dengan kata lain data yang muncul berwujud kata-kata. (Miles Mattew dan Michael Huberman, 1992: 1516).
Analisis dan data dilakukan dengan cara antara lain:
1. Koleksi Data, penulis mengoleksi data-data yang diperlukan
2. Reduksi Data, reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan,menggolongkan, mengarahkan dan membuang yang tidak perlu danmengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapatdiambil. Disini penulis mengumpulkan data-data, kemudian memisahkannya, serta mengambil data-data yang penting, lalu membuat kesimpulan dari data tersebut.
3. Penyajian Data, penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisisdata kualitatif. Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulaninformasi disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanyapenarikan kesimpulan. Disini penulis mengumpulkan beberapa informasi, lalu kemudian menyusun informasi tersebut, hingga membuat kesimpulan.
4. Penarikan Kesimpulan, Kegiatan analisis yang ketiga yang penting adalahmenarik kesimpulan dan verifikasi. Penulis membuat kesimpulan dari keseluruhan data-data yang diperoleh. (Sugiono, 2014: 268-269)
Dalam penelitian ini penulis melakukan analisis data dengan cara memveritifikasi data yang menjadi sumber data, berupa data-data kasus yang didapat dari website (internet) terpecaya, kemudiandata tersebut ditelaah dan kemudian penulis mengklasifikasikan data lalu memfokuskan data sesuai dengan permasalahan yang dibahas dan menarik kesimpulan dari data yang didapatkan tersebut.
H. Teknik Penjamin Keabsahan Data
Teknik keabsahan data yang akan peneliti gunakan adalah uji kredibilitas data yang dapat dilakukan melalui triangulasi, yang bertujuan untuk mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan datadan berbagai sumber data (Sugiyono, 2012: 83).Untuk penelitian penulis sendiri penulis menggunakan teknik triangulasi data yang mana dengan menggali data dan melakukan pencocokan data yang satu dengan data yang lainnya, sehingga dapat ditarik kesimpulan.
45 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hak Warga Negara setelah diberlakukannya Perda No 7 Tahun 2018 Dalam Pemilihan Wali Nagari
Pemilihan Wali Nagari di Sumatra Barat merujuk pada Peraturan Daerah Provinsi Sumatra Barat Nomor 2 Tahun 2007, kemudian direvisi dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatra Barat, Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari. Nagari memiliki Pemerintahan Nagari, yang pada dasarnya berfungsi untuk mengatur dan mengurusi kepentingan masyarakat di Nagari, Pemerintahan Nagari terdiri dari Wali Nagari, Sekretaris Nagari, Bandaharo Nagari, Manti Nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan perangkat lainnya.
Kerapatan adat Nagari adalah lembaga yang merupakan, perwujudan dan permusyawaratan perwakilan tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan Nagari, disebutkan dalam Perda No 7 Tahun 2018 pada pasal 6 yang menyatakan bahwa: Pada setiap Nagari dibentuk Kerapatan Adat Nagari, sebagai lembaga permusyawaratan tertinggi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Nagari. Kerapatan Adat Nagari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) keanggotaanya terdiri dari perwakilan, Niniak Mamak, dan Unsur Alim Ulama Nagari, unsur Cadiak Pandai, unsur Bundo Kanduang, dan unsuk Parik Paga dalam Nagari serta adanya Adat Salingka Nagari.
Kerapatan Adat Nagari dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh dua orang wakil ketua yang diangkat atau dipilih dari dan oleh anggota menurut ketentuan Adat Salingka nagari. Pembentukan dan pemilihan atau pengangkatan anggota, ketua dan wakil ketua Kerapatan Adat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan Adat Salingka Nagari.
Kemudian penulis melihat, setelah ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsii Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, bahwa di dalam Perda tersebut tidak adanya Badan Permusyawaratan Nagari (BAMUS Nagari), yang pada Perda sebelumnya, BAMUS ini memiliki kedudukan dan
fungsi sebagai Lembaga perwujudan demokrasi dalam unsur penyelenggaraan Pemerintah Nagari. Di dalam Perda No 7 Tahun 2018 tentang Nagari, Lembaga yang menjadi unsur penyelengaraan Pemerintahan Nagari adalah Kerapatan Adat Nagari (KAN)
Sejauh ini penulis melihat belum adanya turunan Perda dari Perda Provinsi Sumatra Barat No 7 Tahun 2018 tentang Nagari, penulis juga sudah mendatangi Kantor Bupati Tanah Datar tepatnya di bagian hukum, untuk melakukan observasi data, dengan Skretaris Daerah bahwa, di Kabupaten Tanah Datar belum menerapkan Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 dan masih mengacuh pada Peraturan Daerah sebelumnya, dikarenakan pada Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, masih dalam tahap proses, di dalam isi Perda tersebut masih banyaknya ketidaksesuaian/Perbedaan Perda dengan acuan aturan Perda sebelumnya dan menurut pendapatnya Perda ini harus banyak dilakukan perubahan sebelum di implementasikan dan perda ini sangat menarik untuk diteliti. Penulis juga melakukan observasi data dengan Bapak Dodi di bagian Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMDPPKB) menurut pendapatnya bahwa di Kabupaten Tanah Datar belum menerapkan Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari dan masih dalam tahap proses.
Dari data yang penulis dapatkan berdasarkan pendapat Drs. H.
Syafrizal, MM, Dt Nan Batuah (Kepala Dinas pemberdayaan masyarakat dan Desa Provinsi Sumatra Barat) dalam acara Lokarya yang di sampaikan oleh pada tanggal 12 Desember 2020 di Hotel Grand Rocky Bukittinggi, dalam arahannya pada pembukaan Lokarya Pembahasan petunjuk teknis Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari, beliau mengatakan bahwa, sudah 3 tahun Perda Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari ini diberlakukan, namun belum adanya turunan Perda yang diterapkan oleh setiap daerah di Provinsi Sumatra Barat. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah melaksanakan, pembentukan Dewan Pembina dan pengembangan Nagari tingkat Provinsi Sumatra Barat, untuk melakukan sosialisasi Perda di
47
19 Kabupaten/Kota, membentuk Nagari percontohan dengan 10 Nagari percontohan pada 6 Kabupaten dan Kota, yaitu : Nagari Painan di Pesisir Selatan, Nagari Lawang, Pakan Sinayan, Sungai Pua, Tigo Balai, Kapau dan Garagahan di Agam, Nagari Taram di Lima Puluh Kota, Nagari andaleh Baruah Bukik di Tanah Datar, Nagari Aia Manggihdi Pasaman, dan KAN Pauah Aia IX Kuranji Kota Padang. Pada nagari percontohan telah diberikan pengawasan dan pembinaan, FGD, Bimtek serta pendampingan. Melalui DPMD Provinsi Sumatra Barat, dapat disetujui anggaran untuk penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Perda, yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Fakultas Hukum, Universitas Andalas Padang. Draf Juknis ini telah disusun dan diharapkan masukan-masukan dari peserta Lokarya demi penyempurnaan Juknis ini dan dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam implementasi Nagari menjadi Desa Adat.
Kemudian jika dilihat dalam Perda Provinsi Sumatra Barat Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari terkait mekanisme pemilihan Wali Nagari, pada pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa, Wali Nagari dipilih dan diangkat oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) melalui musyawarah mufakat, dalam Peraturan daerah tersebut tidak ada menyebutkan masyarakat ikut serta dalam pemilihan Wali Nagari, Jadi Kerapatan Adat Nagarilah yang nanti akan menentukan siapa yang akan menjadi Wali Nagari, berarti dalam pemilihan Wali Nagari berada dalam sistem perwakilan (tidak langsung).
Sedangkan mekanisme pemilihan pada Peraturan Daerah No 2 Tahun 2007 dalam pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa “pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari dipilih dan diangkat secara langsung oleh warga masyarakat Nagari.
Berarti dalam pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari dipilih secara langsung tanpa adanya perwakilan.
Jika dilihat dari dua Peraturan daerah diatas terdapat perbedaan dalam sitem pemilihan dan pengangkatan Wali Nagari, bahwa dalam Peraturan Daerah sebelumnya Pemilihan Wali Nagari dipilih dan diangkat secara langsung oleh warga masyarakat Nagari, masyarakat ikut berpatisipasi secara langsung dalam pemilihan Wali Nagari, sedangkan dalam Peraturan Daerah
baru pemilihan Wali Nagari dipilih dan diangkat oleh lembaga Kerapatan Adat Nagari, bukan dipilih secara langsung oleh masyarakat Nagari, akan tetapi diwakili oleh Kerapatan Adat Nagari.
Kemudian penulis melihat kedudukan hak warga negara dalam Peraturan Perundang-Undangan yang merujuk pada UUD 1945 yaitu pada pasal 1 ayat (2) menjelaskan, “Bentuk dan Kedaulatan” bahwa “Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat” artinya bahwa sumber dari segala Kekuasaan Negara berasal dari kedaulatan Rakyat, karena tanpa ada pemberian kedaulatan rakyat maka negara tidak memiliki kekuasaan. Teori Kedaulatan adalah “dari, oleh dan untuk”, maka kedaulatan rakyat berarti
“dari, oleh dan untuk rakyat”. Konstitusi negara ini menjunjung tinggi nilai kerakyatan dalam sistem politik. Hal ini karena Indonesia sangat mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan pemimpin.
Pemimpin hanyalah bertugas yang menjalankan keputusan-keputusan yang dibuat atau dipilih oleh rakyat.
Selanjutnya pada UUD 1945 Pasal 28, menjelaskan bahwa rakyat atau Warga Negara Indonesia mempunyai kebebasan untuk berkumpul bertukar fikiran mengeluarkan pendapat baik dengan lisan, tulisan ataupun bentuk lainya. Hal ini dimaksud memberi akses pada rakyat untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan dan pembangunan negara. Kebebasan mengeluarkan pendapat tersebut juga dimaksudkan, agar Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi dengan menerima dan mengoreksi kritik dari mayarakat.
Senada dengan UUD 1945 ayat 3 Rincian dari pasal 28 UUD 1945 sebagai landasan hukum demokrasi memberikan landasan tertulis.Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah “kemerdekaaan, berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan fikiran dengan lisan atau tulisan sebagaimana ditetapkan dalam undang-undang. Maksudnya disini yaitu setiap warga negara memiliki kesempatan dalam mengeluarkan pikiran dengan lisan baik tulisan kepada subtansi jalannya pemerintahan.
Pada Pasal 22 (C) UUD 1945 yaitu ketentuan dalam pemilihan umum dilaksanakan secrta langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Bahwa
49
maksud dalam pasal ini adalah Jaminan yuridis yang melekat bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan hak pilihnya berdasarkan azas LUBERJURDL. Sehigga dalam Pasal ini warga negara memiliki secara langsung hak pilihnya.
Kemudian pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (PEMILU). Sesuai dengan pasal 1 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih Presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil sesuai (LUBERJURDIL) dengan ketentuan perundang-undangan.
Maksudnya adalah warga negara memiliki hak atas kebebasan dalam hal pemilihan pemimpin secara langsung, tanpa adanya perwakilan berdasarkan azas LUBERJURDIL.
Selanjutnya diperkuat oleh UU No 7 Tahun 2017 pasal 19 ayat (1) dan 6 (a) ayat (1) menyatakan bahwa Jaminan yuridis yang melekat bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan hak pilihnya, ketentuan tersebut menegaskan bahwa segala bentuk produk hukum Perundang-Undangan, yang mengatur mengenai pemilihan umum, sudah seharusnya membuka ruang yang seluas-luasnya bagi setia warga negara untuk dapat menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum.
Berikut juga dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pada pasal 43 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang berdasarkan azas langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil (LUBERJURDIL) dengan ketentuan peraturan-perundangan. Berarti setiap warga negara memiliki persamaan hak atas kebebasan dalam melakukan pemilihan melalui pemungutan suara secara langsung tanpa adanya perwakilan.
Jika dilihat tinjauan dari aspek hukum normatif diatas, ini merupakan bentuk implementasi bahwa ada hak penuh dari rakyat untuk memilih pemimpin dan hak atas kebebasan dalam memilih pemimpin, tanpa adanya
sistem perwakilan atau memerlukan demokrasi perwakilan. Dengan penjelasan tersebut sehingga dapat dilihat hak warga negara belum terpenuhi melalui Perda No 7 Tahun 2018 dalam pemilihan seorang Wali Nagari karena masih menggunakan sistem pemilihan demokrasi secara tidak langsung dan ini merupakan salah satu bentuk dibatasinya hak kebebasan masyarakat dalam pemilihan pemimpin
Kemudian jika dilihat dari pelaksanaan demokrasi yang telah penulis jelaskan di bab sebelumnya dalam demokrasi langsung, masyarakat ikut serta secara langsung dalam berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, setiap rakyat memberikan aspirasinya melalui pendapat atau suara dalam menentukan sebuah keputusan dan setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih kebijakan, sehingga secara langsung keadaan politik berada di tangan rakyat.
Keikutsertaan rakyat berperan penting dalam segala bentuk atau proses pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh dalam kebijakan-kebijakan yang diambil dan nantinya akan dijalankan oleh pemerintah, serta dalam setiap kegiatan pemerintah lebih bersifat transparan terhadap masyarakat karena dijalani langsung oleh masyarakat. Namun demokrasi tidak langsung dalam hal pemilihan, masyarakat tidak secara langsung berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, akan tetapi diwakili oleh lembaga perwakilan, hingga tak terpenuhi hak masyarakat sebagai hak warga negara yang memiliki hak atas kebebasan dalam pemilihan pemimpin.
Sebagaimana konsep di dalam demokrasi, bahwasannya prinsip-prinsip demokrasi menurut Undang-Undang mencakup 7 hal : pertama, Negara berdasarkan Konstitusi, kedua jaminan perlindungan Hak Asasi Manusia, ketiga kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat, keempat adanya peradilan bebas yang tidak memihak, kelima pemilihan yang Bebas Adil dan Jujur, keenam penegakan hukum dan persamaan kedududukan setiap warga negara di depan hukum, ketujuh jaminan kebebasan pers, diantara prinsip-prinsip demokrasi terkait hak warga negara ialah prinsip kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat dan pemilihan yang bebas, jujur dan adil, yang mana prinsip ini mengakui dan memberikan kebebasan setiap orang
51
untuk mengeluarkan pendapat, berserikat, dan setiap orang diperbolehkan untuk berkumpul dalam suatu organisasi untuk memperjuangkan hak
untuk mengeluarkan pendapat, berserikat, dan setiap orang diperbolehkan untuk berkumpul dalam suatu organisasi untuk memperjuangkan hak