BAB II KAJIAN TEORITIK
B. Hakekat Sekolah Non Formal
Pengertian pendidikan secara umum mengacu pada dua sumber pendidikan islam, yaitu al quran dan al hadis yang memuat kata – kata rabba dari kata kerja tarbiyah,’ alama kata kerja dari ta’lim, dan addba dari kata kerja ta’dib. Ketiga istilah itu mengandung makna amat dalam karena pendidikan adalah tindakann yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi ( sumber daya ) insan menuju terbentuknya manusia seutuhnya ( insani kamil ). 17
Esensi pendidikan secara substansial adalah upaya normative untuk mengembangkan fitrah manusia melalui konsep dasar pendidikan, yaitu nilai intrsitik yang menjadi landasan pendidikan dalam memelihara aspek – aspek yang berkaitankn dengan perubahan tingkah laku dan perbaikan moral anak didik. 18
Pendidikan dalam konteks kekinian adalah upaya untuk mengembangkan, mendorong, dan mengajak manusia agar trampil lebih progresif dengan berdasarkan pada nilai yang tinggi dan
16
Vina Yusriana, Hasil wawancara langsung kepada ketua Madani Community, Pancoran: selasa 17 Febuari 2015. Pukul 17 : 00
17
Ilahi,Takdir Muhammad, Revitalisasi Pendidikan Berbasis Moral, ( Depok : Ar-Ruzz Media, 2012), cet. 1, H. 25
18
13
kehidupan yang mulia agar terbentuk pribadi yang sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuataan.19
b. Komponen Terpenting Dalam Pendidikan
Prof. Dr. Nana Syaodik Sukmadinata mengatakan bahwa pendidikan pada dasarnya adalah berinteraksi antara pendidik dan peserta didik. Pendidik atau yang disebut guru memegang peranan kunci bagi kelangsungan kegiatan pendidikan. Pendidikan tetap berjalan tanpa kelas, tanpa gedung, atau dalam keadaan darurat serba minim fasilitas. Namun tanpa guru proses pendidikan hampir tak mungkin bisa berjalan.20
Guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti orang yang mengajar. Dengan demikian orang – orang yang profesinya mengajar disebut guru. Dalam Peraturan Mentri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru menjelaskan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan mengengah.21
Dan dalam penelitian ini penulis menggunakan kata “TUTOR” sebagai pengganti kata “GURU” hal ini karena sekolah yang diteliti bersifat non formal. Secara etimologi, tutor adalah guru pribadi, tenaga pengajar ekstra atau memberi les/pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta bpartisipasi dalam penyelenggara pendidikan. Dimana tutor merupakan sebutan bagi orang yang mengajar dalam
19
ibid
20
sulhan, Najib, Karakter Guru Masa Depan, (Surabaya: Jaring Pena, 2011),h. 2
21
14
pendidikan non formal.22
c. Pengertian Sekolah Non Formal ( Pendidikan Luar Sekolah )
Abad terakhir ini, kemajuan bidang pendidikan mencapai puncaknya, dengan timbulnya konsepsi pendiidkan baru yang berbeda dengan konsep pendidikan yang sudah ada dan telah lama berlangsung.
Dalam konsepsi tersebut diketengahan tentang pendidikan luar sekolah yang merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan. Pembahasan tentang pendidikan luar sekolah memang sangat menarik karena : pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan pelaksannya berbeda dengan sistem sekolah yang sudah ada.
Dalam pendidikan luar sekolah terdapat hal – hal yang sama – sama pentingnya bila dibandingkan dengan luar sekolah sepeerti: bentuk pendidikan, tujuan, sasaran pelaksanaannnya, dan sebagainya.
Pengertian Pendidikan luar sekolah (non formal) menurut Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikdas), pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat di laksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 23
Pengertian pendidikan luar sekolah menurut Philips H. Combs, mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah:
“Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang di selenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang di maksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan – tujuan belajar.” 24
22
Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2005 tentang guru dan dosen & Undang – undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,( Surabaya: Intelektual,2006)h.57
23
Alifuddin, Moh, Menyemai Pendidikan Non Formal, ( Jakarta : MAGNAS Script, 2011) Cet-1 H. 1
24
Soelaiman Joesoef, konsep dasar pendidikan luar sekolah, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), cet. Ke 4, h. 50
15
Pengertian pendidikan non formil menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebagai berikut :
“ Pendidikan non formal adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk perkembangan keperibadian serta kemampuan anak di luar sekolah atau tempatnya diluar sistem persekolahan yang kita kenal. “ 25
Dan begitu juga pengertian pendidikan luar sekolah menurut Saleh Marzuki, adalah sebagai berikut :
Pendidikan luar sekolah adalah Programnya jangka pendek, tidak dibatasi atas jenjang- jenjang, Usia didiknya tidak perlu sama/homogen, sasaran didiknya berorintasi jangka pendek dan praktis, diadakan sebaga respon kebutuhan yang mendesak, ijazah biasanya kurang memegang peranan penting, dapat diselenggarakan pemerintah atau swasta, dapat diselenggarakan dalam atau diluar kelas.26
Pendidikan non formal adalah suatu aktivitas pendidikan yang datang di luar sistem pendidikan formal yang di tunjukan untuk melayani anak didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. 27
1. Asas Sekolah Non Formal ( Pendidikan Luar Sekolah )
Seperti pendidikan formal, pendidikan non formal mempunyai asas-asas yang menjadi pedoman bagi siapa saja yang terlibat dalam kegiataan pendidikan ini. Asas- asas yang dimaksud meliputi:
1. Asas Inovasi
Asas inovasi merupakan asas penting dalam menyelengarakan pendidikan non formal, sebab setiap penyelenggaran pendidikan non formal harus merupakan kegiataan bagi si terdidik dan merupakan hal yang diperlukan atau dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan arti inovasi yakin “pemecahan masalah dengan mengubah melalui titik pemberangkatnya
25 Ibid 26
Sismanto Y, Pendidikan Luar Sekolah Dalam Upaya Mencerdaskan Bangsa, ( Jakarta : CV. Era Swasta : 1984),h. 7
27
Muhammad Amin, Maswardi. Pendidikan Karakter Anak Bangsa, ( Jakarta : Baduose Media Jakarta, 2011), H. 68
16
yang lain sama sekali dari kebiasaan yang berlaku, jadi berbeda dari cara-cara perbaikan secara-cara bertahap dalam rangka atau system yang sudah ada”. Dalam inovasi ini, maka dapat dikemukaan normal nilai, metode, teknik-teknik kerja, cara berorganisasi, cara-cara berpikir dan lain –lain yang merupakan kebutuhan bagi anak didik. Konsekuensi dari pada asas inovasi ini, perlu diadakan perubahan tentang anggapan bahwa:
1. Para perencana dan pelaksana pendidikan lebih banyak memusatkan pikirannya pada perencanaan pendidikan formal daripada pendidikan non formal.
2. Pendidikan dan perbuatan belajar hanya terbatas pada usia –usia tertentu. Sebagai akibatnyalah bahwa struktur pendidikan dalam arti prasekolahan yang ada selama ini dibatasi dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.
2. Asas Penentuan Dan Perumusan Tujuan Sekolah Non Formal ( Pendidikan Non Formal)
Perumusan tujuan untuk program pendidikan merupakan langkah yang penting dan pertama harus dikerjakan baik bagi pendidikan formal, informal, maupun non formal. Berbicara tentang perumusan tujuan, berarti mempersoalkan tuntutan minimal apa yang harus dipenuhi agar si terdidik dapat melaksanakan hak dan kewajiban sebagai manusia sehingga memiliki kehidupan yang layak. Penentuan dan perumusan tujuan, tidak bisa dilepaskan dari : “ jenis dan tingkatkan pengetahuan, sikap serta jenis dan tingkat keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang anggota masyarakat.”
3. Asas Perencanaan Dan Pengembangan Program Sekolah Non Formal Pada tahap perencanaan mempunyai nilai yang sangat penting oleh karena dapat membawa efektivitas dan efesien sesuatu kegiatan yang dilaksanakan . Dalam perencanaan maka :
a. Perencanaan harus bersifat komperensif
Hal ini berarti bahwa program atau kegiatan yang direncankan harus sesuai dengan tumuan yang telah digariskan sebelumnya. Dengan
17
kata lain berarti pula bahwa program kegiataan yang dikerjakan dapat memenuhi kebutuhan individu atau masyarakat karena tujuan-tujuan tersebut telah mencerminkan dan mencakup semua jenis kebutuhan individu, masyarakat, dan nasional.
b. Perencanaan harus bersifat integral
Perencanaan integral berarti perencanan yang memuat jenis program pendidikan formal dan non formal yang terkoordinasi dan termotivasi, sehingga jenis program pendidikan masing-masing tidak beretentangan satu sama lain. Akibat perencanan integral, maka output dari suatu program dapat merupakan input bagi suatu program lainnyya, dan akhrnya dapat menjadi output yang diharapkan dari keseslurahan sistem pendidikan.
c. Perencanaan harus menghitungkan aspek-aspek kuantitatif dan kualitatif.
Pada umumnya sementara orang banyak yang beranggapan bahwa dalam penyelengaraan pendidikan non formal cenderung untuk memperoleh jumlah pelajar ( anak didik) yang sebanyak-banyaknya. Anggapan diatas tentunya lebih baik dan lebih diterima bila “ didalam lapangan non formal pun harrus mampu meningkatkan kualitas belajar serta kualitas kerja sesorang”
d. Perencanaan harus memperhitungakn semua sumber-sumber yang ada atau yang dapat diadakan.
Di dalam penyelenggaraan pendidikan luar sekolah memerlukan berbagai fasilitas seperti : tempat belajar, tutor/fasilitator, bahan – bahan bantu dan bahan – bahan dasar lainnya. Dengan adanya fasilitas tersebut maka di dalam penyelenggaraan pendidikan luar sekolah harus dapat mencari sumber manusia maupun non manusia. Di dalam perencanaan sebetulnya sudah diperhitungkan apakah sekitar tempat kegiataan tersebut ada bahan – bahan pendudukungnya kalau tidak ada bagaimana mengadakannya. Jadi dengan adanya perencanaan yang
18
demikian ini akan mempunyai kemungkinan lancar, karena sudah diperhitungkan sebelumnya. 28
3. Sifat- Sifat Sekolah Non Formal (Pendidikan Luar Sekolah)
Disamping adanya tugas yang sama antara pendidikan formal dengan pendidikan non formal, maka pendidikan non formal mempunyai sifat yang lebih daripada pendiidkan formal. Sifat-sifaat yang di maksud : a. Sekolah Non Formal Lebih Fleksibel
Sifat fleksibel diatas dalam artian luas seperti tidak ada tuntuan syarat credential yang keras bagi anak didiknya, waktu penyelenggara disesuaikan dengan kesempatan yang ada artinya dapat beberapa bulan, bebapa tahun dan beberapa hari saja. Dari segi tujuan, maka pendiidkan non formal dapat luas tujuanny, dan bisa spesifik sesuai dengan kebutuhan. Sedangkann para pengajarannya, juga tidak perlu syarat-syarat yang ketat, hanya dalam pelajaran yang diberikan ia lebih dari murid-muridnya sedang metode dapat disesuiakan dengan besarnya kelas.
b. Sekolah Non Formal Mungkin Lebih Efektif Dan Efesien.
Bersifat efektif karena “ program pendidikan non formal bisa spesifik sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat ( guru, metode, fasilitas lain) secara ketat ”. Dan tempat penyelenggaraannya pun dapat dimana saja seperti disawah, di bengkel, dirumah, dipasar, ditempat kerja yang lain.
c. Sekolah Non Formal Bersifat Quick Yielding
Artinya dalam waktu yang singkat dapat digunakan untuk melatih tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama untuk memperoleh tenaga yang memiliki kecakapan.
d. Sekolah Non Formal Sangat Instrumental
Artinya pendidikan yang bersangkutan bersifat luwes, mudah dan murah serta dapat menghasilakan dalam waktu yang relative singkat.
28
19
3. Syarat- Syarat Pelaksaan Sekolah Non Formal
Bila diingat sifat-sifat pendidikan non formal tersebut di atas, tampaknya sangat mudah pendidikan non formal tersebut dilaksankan dan dapat mencapai hasil seperti yang diharapakan. Akan tetapi pada prakteknya, pelaksaan pendidikan non formal harus memenuhi syarat-syarat dalam pelaksanaan sebagai berikut:
a. Pendidikan non formal harus jelas tujuannya. Tujuan ini harus merupakan sesuatu yang dirasakan bermanfaat oleh pesertanya. Hal ini tentu mendapatkan dukungan dari nilai-nilai, aspirasi dan kebutuhan masyarakat sebagai peserta.
b. Ditinjau dari segi masyarkat, program pedidiikan non formal harus menarik (appealing) baik hasil yang akan dicapai maupun cara cara pelaksaannya. Appealing ini sangat diperlukan karrena didalamnya pendidikan non formal harus memperoleh dukungan daripada masyarakat serta partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat di perlukan karena dalam pelaksannya pendidikan non formal pun perlu fasilitas dan pembiayaan.
c. Adanya integarsi pendidikan non formal dengan program pembangunan dalam masyarakat pengalaman menujuan bahwa suatu program pendidikan tidak akan berhasil kalau tidak berkaitan dengan kegiatan pembangunan di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebelum diadakan perencanaan pendidika non formal disusun.
d. Organisasi kesenian, kursus kesenian, penataran pembinaan kesenian. e. Kegiatan lain-lain ( pembinaan nara pidana dan siaran perdesaan)
C. Pengertian Karakter a. Pengertian Karakter
Secara etimologis, karakter (character) berarti mengukir (verb) dan kata sifat kebijakan (noun). Secara konseptual, konsep karakter dapat di artikan sebagai usaha terus menerus seorang individu atau kelompok dengan berbagai cara untuk mengukir, mengembangkan atau
20
melambangkan sifat – sifat kebajikan pada dirinya sendiri atau kepada orang lain.
Menurut kamus Bahasa Indonesia, karakter mempunyai pengertian sifat – sifat kejiwaan, tabiat, watak, perangai, akhlak, atau budi perkerti yang membedakan sesorang dengan yang lain. Berkarakter artinya berkepribadian, bertabiat, berwatak.29
Budi Perkerti adalah suatu keluhuran dalam jiwa seorang yang merupakan unsur pribadi yang mampu memilah dan memilih apa yang baik yang sepantasnya dilakukan dan yang tidak baik yang tidak pantas dilakukan. 30
Menurut Imam Al- Ghazali akhlak adalah “ sifat yang tertanam dalam hati yang dapat menimbulkan perbuatan – perbuatan yang baik, dengan mudah dan tanpa menimbulkan pertimbangan – pertimbangan dan pemikiran – pemikiran”.31
Dan menurut Ibnu Maskawaih, akhlak adalah “ Keadaan jiwa sesorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan – perbuatan baik tanpa melalui pertimbangan – pertimbangan pemikiran terlebih dahulu”.32
Dengan demikian karakter, budi perkerti, serta akhlak dapat dikatakan sebagai jati diri sesorang dimana jati diri tersebut terbentuk dari hasil proses kehidupan. Dan karakter itu dapat berupa pola piker, sikap, dan perilaku.
b. Proses Pembentukan Karakter
Menurut Edi Waluyo, pendidikan karakter terhadap anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk berperilaku baik, sehingga ketika anak tidak melakukan kebiasaan itu, yang bersangkutan akan merasa bersalah. Dengan demikian baik sudah menjadi semacam instrik, yang secara otomatis akan membuat sesorang anak menjadi tidak nyaman
29
Listyarti, Retno. Pendidikan Karakter dalam metode Aktif, inovatif, dan kreatif, ( Jakarta : Erlangga, 2012 ), H. 8
30
Muhammad amin, Maswardi. Pendidikan Karakter Anak Bangsa, ( Jakarta : Baduose Media Jakarta, 2011), cet 1, H. 7
31 ibid 32
21
jika tidak melakukan kebiasaan baik itu. karakter yang kuat biasanya dibentuk oleh pembentukan nilai – nilai yang menekankan tentang baik dan buruk. Nilai – nilai ini di bangun melalui penghayatan dan pengalaman, membangkitkan rasa ingin dan bukan menyibukan diri dengan pengetahuan. Menurut Annis Maata dalam buku yang berjudul “ Membentuk Karakter Muslim “ menyebutkan beberapa kaidah-kaidah tentang pembentukan karakter, yaitu :
a. Kaidah bertahapan, artinya proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap. Sesorang anak dalam hal ini tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai dengan keinginan secara tiba – tiba dan instan. Namun ada tahapan – tahapan yang harus di lalui dengan sabar dan tidak terburu – buru. Adapun orientasi dari kegiatan ini terletak pada proses bukan hasil. Sebab proses pendidikan itu tidak langsung dapat di ketahui hasilnya akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga hasilnya nanti akan paten.
b. Kaidah Kesinambungan, artinya perlu adama latihan yang harus dilakukan secara terus – menerus. Seberapa pun kecilnya latihan, yang terpenting latihan itu berkesinambungan.
c. Kaidah Momentum, artinya mempergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalkan pada bulan Ramadan di gunakan untuk mengembangkan dan melatih sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawaan, dan lain – lain.
d. Kaidah Motivasi Instristik, artinya karakter anak terbentuk secara kuat dan sempurna jika didorong oleh keinginan sendiri dan melakukan sendiri.
e. Kaidah Pembimbing, artinya perlunya bantuan orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada dilakukan seorang diri. Pemebentukan karakter ini di tidak bisa dilakukan tanpa seorang diri.
22
Pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa seoarang guru atau pembimbing. 33
c. Dasar Hukum Pendidikan Karakter
Dasar hukum pembinaan pendidikan karakter adalah sebagai berikut :
1) Undang – undang 1945
2) UU No 20 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3) Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
4) Permendiknas No 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan
5) Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang standar isi
6) Permendiknas No 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi
7) Renstra Pemerintah jangka menengah tahun 2010 – 2014 8) Renstra Kemdiknas tahun 2010 – 2014
9) Renstra Diktorat Pembinaan SD tahun 2010 – 2014
d. Karakter Bangsa
Menurut Sigmund Freud, charakter is striving system with underly beheviur, karakter merupakan tata nilai yang terwujud dalam suatu system daya dorong yang melandasi pikiran, sikap dan perilaku yang bisa ditampilkan secara mantap. Karakter juga merupakan interaksi nilai – nilai yang semua berasal dari lingkungan menjadi bagian dari kepribadian. Selanjutnya karakter nilai – nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan, menajadi nilai instrinstik yang melandasi sikap dan perilaku manusia, tentu karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk, dibangun, dan ditumbuh kembangan.
33
Dian Susila Wijaya, Upaya pembentukan karakter siswa di SD Muhammadiyah Al Mujahid Gunung Kidul, skripsi, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Madarasa Ibtidaiyah, UIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta, 2014. h. 10 -13
23
Menurut Anif Punto Utomo, “ Karakter Bangsa adalah sekumpulan karakter individu di sebuah Negara. Sebuah Bangsa melalui pemimpinnya dapat membentuk karakter individu yang mempuni, yang akan membawa bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan sebagai cita – cita ideal bangsa ini. “34
Sebagai bangsa yang menganut falsafah hidup pancasila, maka pancasila, nilai - nilai agama, dan kearifan budaya lokal merupakan karakter bangsa. Sebagai mana di ketahui bahwa pancasila merupakan hasil rumusan nilai – nilai luhur bangsa, yaitu :
Gambar. 2.1.
Pancasila merupakan ideologi pemersatu bangsa yang digali dari akar budaya bangsa Indoenesia yang mengandung nilai- nilai luhur yang di
34
Salahudin, Anas dan Alkrenciehie, Irwanto. Pendidikan Karakter ( Pendidikan berbasis agama dan budaya bangsa), ( Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2013) cet. 1. H. 30
PANCASILA NILAI BUDAYA
NILAI KEMANUSAIAN
NILAI ADAT ISTIADAT
NILAI PERJUANGAN NILAI KEBERSAMAAN
NILAI KESETIAN NILAI AGAMA/KETUHANAN
24
junjung tinggi hingga sekarang, baik nilai agama, adat istiadat, kebersamaan, kesejahteraan, keadilan, maupun perjuangan untuk melepas diri dari segala bentuk penajajahan.
Nilai luhur ini mengkristal dalam rumusan pancasila sebagai perwuujudan filsafah kemanusian yang mencerminkan hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Rumusan pancasila ini merupakan suatu kebenaran, oleh karena itu dijadikan falsafah hidup bangsa.
e. Nilai – Nilai Dalam Pendidikan Karakter Bangsa
Menurut koentjaninrat dan Mochtar Lubis, karakter bangsa Indonesia yaitu meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak disiplin, mengabaikan tanggung jawab, hipokrit, lemah kreativitas, etos kerja buruk, suka feodalisme, dan tak punya malu. Sedangkan menurut Winarno Suraakhmad dan pramoedya ananta toer, karakter asli bangsa Indonesia adalah : nrimo, penakut, feudal, penindas, koruption, dan tak logis. 35
Karakter lemah tersebut menjadi realitas dalam kehidupan bangsa Indonesia. Nilai- nilai tersebut sudah ada sejak bangsa indonesia masih dijajah bangsa asing beratus tahun yang lalu. Karakter tersebut akhirnya mengkritaslisasi pada masyarakat Indonesia. Mulai tahun 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter. Hal ini di dukung dengan salah satu kutipan dari Mantan Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudoyono pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istana Negara Jakarta tanggal 11 Mei 2010 : “ Lima isu penting dalam dunia pendidikan . Pertama, adalah hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau dikenal dengan Character Building. “ 36
35
Listyarti, Retno. Pendidikan Karakter dalam metodeAktif, inovatif, dan kreatif, ( Jakarta : Erlangga, 2012 ), H.
36
Muhammad amin, Maswardi. Pendidikan Karakter Anak Bangsa, ( Jakarta : Baduose Media Jakarta, 2011), cet 1, H. 29
25
Bagi bangsa Indonesia, empat pilar bangsa yang merupakan nilai budaya bangsa harus dijadikan landasan atau dasar ideal pendidikan karakter, yakni37 :
1. Pancasila
2. Undang – undang Dasar 1945
3. Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) 4. Bhinneka Tunggal Ika
Adapun tujuan dari pendidikan karakter yangs sesungguhnya jika di hubungkan dengan falsafah Negara Republik Indonesia adalah mengembangkan karakter peserta didik agar mampu mewujudkan nilai – nilai luhur Pancasila. Fungsi – fungsi karakter adalah sebagai berikut :
1) Pengembangan potensi dasar, agar “ berhati baik, berpikiran baik, dan perilaku baik”.
2) Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik.
3) Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai – nilai luhur Pancasila.38
Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, nilai karakter bangsa terdiri atas sebagai berikut 39:
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melakasnakan ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Religius adalah proses mengikat kembali atau bisa dikatakan dengan tradisi, system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
2. Jujur
37
Salahudin, Anas dan Alkrenciehie, Irwanto. Pendidikan Karakter ( Pendidikan berbasis agama dan budaya bangsa), ( Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2013) cet. 1. H. 87
38
Salahudin, Anas dan Alkrenciehie, Irwanto. Pendidikan Karakter ( Pendidikan berbasis agama dan budaya bangsa), ( Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2013) cet. 1. H. 43
39
Listyarti, Retno. Pendidikan Karakter dalam metodeAktif, inovatif, dan kreatif, ( Jakarta : Erlangga, 2012 ), H. 8
26
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Disiplin
Tindakan yang menujukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
4. Kerja keras
Perilaku yang menujukan upaya sungguh – sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik- baiknya.
5. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
6. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas – tugas.
7. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak