KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kerangka Teoritis
4. Hakekat Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif Tipe STAD merupakan salah satu Tipe dari Tipe pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Slavin (dalam Nur, 2000: 26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Selanjutnya, Slavin dalam (Tsailing Liang : 2002: 38) mengatakan:
There were two types of motivation involved in STAD: (1) intrinsic motivation which flowed from within a person, and (2) extrinsic motivation that came from outside the person . While not denying the importance of intrinsic motivation, Slavin believed that extrinsic motivation had to be used. “Students receive about 900 hours of instruction every year. It is unrealistic to expect that intrinsic interest and internal motivation will keep them enthusiastically working day in and day out”. Slavin saw cooperative learning as a more efficient way of delivering extrinsicmotivators.
Ada dua jenis motivasi yang terlibat dalam STAD: (1) motivasi intrinsik yang mengalir dari dalam seseorang, dan (2) motivasi ekstrinsik yang datang dari luar orang tersebut. Meskipun tidak menyangkal pentingnya motivasi intrinsik,
Slavin percaya bahwa motivasi ekstrinsik harus digunakan. "Siswa menerima sekitar 900 jam instruksi setiap tahun. Tidak realistis untuk mengharapkan bahwa interest intrinsik dan motivasi internal akan membuat mereka antusias bekerja sehari-hari ". Slavin melihat pembelajaran kooperatif sebagai cara yang lebih efisien memberikan ekstrinsik.
In STAD, the teacher first lectured on the topic. Then, students were assigned to heterogeneous teams in which they studied the learning material provided by the teacher in preparation for a quiz. Each student’s grade was based on his or her own score on the quiz. But, at the same time, each student could contribute to a group score by making improvements. Each student’s contribution to their group’s score was based on how well they did on the quiz compared to their own average score on past quizzes. Thus, a relatively low achiever can contribute as much to their team as a high achiever without doing as well on the quiz as their higher-achieving teammate. Slavin dalam Tsailing Liang : 2002: 39). Dalam STAD, guru pertama mengajarkan pada topik. Kemudian, siswa ditugaskan dengan tim heterogen di mana mereka mempelajari materi pembelajaran yang diberikan oleh guru dalam persiapan untuk kuis. Setiap kelas siswa didasarkan pada nilai sendiri dalam kuis. Namun, pada saat yang sama, setiap siswa dapat memberikan kontribusi untuk skor grup dengan membuat perbaikan. Setiap kontribusi siswa untuk nilai kelompok mereka didasarkan pada seberapa baik hasil kuis mereka dibandingkan dengan skor rata-rata mereka sendiri pada kuis masa lalu. Dengan demikian, sukses yang relatif rendah dapat berkontribusi untuk tim mereka sebagai prestasi without doing as well on the quiz as their higher-achieving teammate.
The group score was used to determine which groups receive rewards, such as certificates and recognition in newsletters.
The message that students got from the positive reinforcement of STAD conformed Slavin’s view on the humanistic perspectives on cooperative learning. While Slavin stressed the importance of group contingencies, he
also saw the appeal of cooperative learning to those with a humanistic perspective, which focused on the affective benefits of cooperative learning, e.g., increases in self-esteem, improved ethnic relations. Slavin’s review of the research found that group contingencies were not necessary for achieving these goals. Humanists were attracted to cooperative learning for its other essential ingredient: group interaction. Slavin’s conclusion is that “Cooperative learning represents an odd but happy marriage between behavioral and humanistic approaches to classroom motivation”. Slavin dalam Tsailing Liang : 2002: 39).
Skor kelompok ini digunakan untuk menentukan kelompok mana yang menerima hadiah, seperti sertifikat dan pengakuan dalam newsletters. Pesan yang diperoleh siswa dari penguatan positif STAD sesuai dengan pandangan Slavin tentang perspektif humanistik pada pembelajaran kooperatif. Sementara Slavin menekankan pentingnya kontinjensi kelompok, ia juga melihat daya tarik pembelajaran kooperatif bagi mereka dengan perspektif humanistik, yang berfokus pada manfaat afektif pembelajaran kooperatif, misalnya, peningkatan harga diri, meningkatkan hubungan etnis. Ulasan Slavin's dari penelitian menemukan bahwa kelompok kontinjensi tidak diperlukan untuk mencapai tujuan ini. Humanis tertarik untuk belajar kooperatif untuk bahan lainnya terutama: interaksi kelompok. Kesimpulan Slavin adalah bahwa "pembelajaran kooperatif merupakan yang aneh tapi tapi penggabungan indah antara pendekatan perilaku dan humanistik untuk motivasi kelas.
Selanjutnya Slavin mengatakan :
As a way to enhance the interdependence and individual accountability of all the students, the Student Teams-Achievement Divisions (STAD) was introduced to measure students’ academic achievement. The participants were given a weekly quiz by way of STAD, which was a method to account for individual achievement and group contingency at the same time. In order to be able to grade the quiz quickly and recognize the team accomplishments, the weekly quizzes were short and limited to one language skill at a time. A typical procedure for STAD was the group preparation for the quiz first and then individual quiz taking. Before taking the quiz individually, Ms. Lee gave all the students some worksheets to work on. They had to tutor each other until all the team members knew
how to solve the problems and got the correct answers or spelling. Then, the students took the quiz individually. Slavin dalam Tsailing Liang (2002:71).
Sebagai cara untuk meningkatkan saling ketergantungan dan akuntabilitas individu semua siswa, STAD diperkenalkan untuk mengukur prestasi akademik siswa. Para peserta diberi kuis mingguan dengan cara STAD, yang merupakan metode untuk memperhitungkan prestasi individu dan kelompok kontinjensi pada saat yang sama. Untuk dapat grade kuis dengan cepat dan mengakui prestasi tim, kuis mingguan yang pendek dan terbatas pada satu keterampilan berbahasa pada suatu waktu. Sebuah prosedur yang khas untuk STAD adalah persiapan kelompok untuk kuis pertama dan kemudian mengambil kuis individu. Sebelum mengambil kuis secara individu. Guru memberikan semua siswa beberapa lembar kerja untuk dikerjakan. Mereka harus menjadi tutor satu sama lain sampai semua anggota tim mengetahui bagaimana untuk memecahkan masalah dan mendapatkan jawaban yang benar atau ejaan. Kemudian, para siswa mengambil kuis secara individual.
Pada kesempatan yang sama Slavin mengatakan :
Each student’s grade was based on his or her own score on the quiz. But, at the same time, they also contributed to their group score by being better than their own previous scores. In other words, each student’s contribution to their group’s score was based on how well they did on the quiz compared to their own average score on past quizzes. Thus, a relatively low achiever could contribute as much to their team as a high achiever without doing as well on the quiz. How well one did on the quiz would affect their group score. Therefore, they had to study hard for themselves as well as for their group members. The difference between this individual quiz taking and a traditional individual test lied in the way that one’s individual score could contribute to his or her group scores. Students could earn points for their teams based on the degree to which their quiz scores exceeded their first base scores.
The first base score for each of them was derived from their previous semester’s final grades. The second base scores were from the first quiz,
the third base scores from the second quiz, and so forth. This humanistic way of quiz taking and personal contribution to team points emphasized individual accountability and respect for individual uniqueness at the same time. (Slavin dalam Tsailing Liang : 2002:72).
Posisi perolehan setiap siswa didasarkan pada nilai sendiri dalam kuis. Namun, pada saat yang sama, mereka juga memberikan kontribusi terhadap nilai kelompok mereka dengan menjadi lebih baik daripada nilai mereka sendiri sebelumnya. Dengan kata lain, kontribusi masing-masing siswa untuk nilai kelompok mereka didasarkan pada seberapa baik mereka bekerja pada kuis dibandingkan dengan skor rata-rata mereka sendiri pada kuis masa lalu. Dengan demikian, sukses yang relatif rendah dapat berkontribusi banyak untuk tim mereka sebagai berprestasi tanpa melakukan serta dalam kuis. Seberapa baik lakukan pada salah satu kuis akan mempengaruhi nilai kelompok mereka. Oleh karena itu, mereka harus belajar keras untuk diri sendiri maupun bagi para anggota kelompok mereka. Perbedaan antara pemberian kuis individual ini dan satu tes individu tradisional terletak sepenuhnya dalam bahwa nilai seseorang individu dapat berkontribusi pada atau skor kelompoknya. Siswa bisa mendapatkan poin untuk tim mereka berdasarkan sejauh mana nilai kuis mereka melampaui skor dasar pertama mereka.
Nilai dasar pertama untuk masing-masing berasal dari nilai-nilai akhir semester mereka sebelumnya. Nilai dasar kedua dari kuis pertama, skor base ketiga dari kuis kedua, dan seterusnya. Dengan cara ini humanistik kuis mengambil dan sumbangan pribadi untuk poin tim menekankan tanggung jawab individu dan menghormati keunikan individu pada waktu yang sama.
matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain:
1) Perangkat Pembelajaran;
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya, yang meliputi Rencana Pembelajaran (RP), Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beserta lembar jawabannya.
2) Membentuk Kelompok Kooperatif
Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogen. Apabila memungkinkan kelompok kooperatif perlu memerhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang sosial.
3) Menentukan Skor Awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya pada pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka hasil tes masing- masing individu dapat dijadikan skor awal.
4) Pengaturan Tempat Duduk
Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan baik, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran pada-kelas kooperatif.
5) Kerja Kelompok
STAD, terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama kelompok. Hal ini bertujuan untuk lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam pembelajaran ini seperti tersajikan dalam tabel 2.4 berikut ini:
Tabel 2.4 Fase-fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase Kegiatan Guru
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi
Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Fase 2 Menyajikan dan
menyampaikan informasi
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan Fase 3 Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok- kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok transisi secara efisien
Fase 4 Membimbing kelompok kerja dan belajar
Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5 Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 Memberikan Penghargaan
Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok Sumber : Trianto. (2009:71)
Secara lebih rinci Riyanto (2010:269-270) mengemukakan ada 8 fase Tipe Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD :
Fase 1: Guru presentasi, memberikan materi yang akan dipelajari secara garis besar dan prosedur kegiatan, juga tata cara kerja kelompok.
Fase 2 : Guru membentuk kelompok, berdasar kemampuan, jenis kelamin, ras, suku , jumlah antara 3-5 siswa.
Fase 3 : Siswa bekerja dalam kelompok, siswa belajar bersama, diskusi atau mengerjakan tugas yang diberikan guru sesuai LKS.
Fase 4 : Scafolding, guru memberi bimbingan.
kesimpulan tugas kelompok.
Fase 6 : Quizzes, guru mengadakan kuis secara individu, hasil nilai dikumpulkan, dirata-rata dalam kelompok, selisih skor awal (base score) individu dengan skor hasil kuis (skor perkembangan) dengan perhitungan sebagai berikut:
Tabel 2.5 Perhitungan Skor Perkembangan
No. Skor Tes Nilai
Perkembangan 1. Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5 2. Sepuluh hingga 1 point di bawah skor awal 10 3. Skor awal hingga 10 point di atasnya 20 4. Lebih dari 20 poin di atas skor awal 30
Sumber : Riyanto.(2010:269)
Fase 7 : Penghargaan kelompok, berdasarkan skor perhitungan yang diperoleh anggota, hasilnya dirata-ratakan dengan predikat tim, seperti disajikan pada tabel 2.6 berikit ini:
Tabel 2.6 Perolehan Skor dan Penghargaan Tim Tipe STAD
No. PerolehanSkor Predikat
1. 15-19 Good team
2. 20-24 Great team
3. 25- 30 Super team
Sumber : Riyanto.(2010:270)
Fase 8 Evaluasi yang dilakukan oleh guru.
Berdasarkan uraian di atas, langkah-langkah pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe STAD dikaitkan dengan hakekat strategi pembelajaran, strategi pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dalam pelelitian ini disajikan pada tabel 2.7 di bawah ini:
Tabel 2.7 Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Uraian Kegiatan Instruksional
Metode Media Waktu Dalam Menit
Guru Siswa Guru Siswa Jlh
1 2 3 4 5 6 7 8 PEND AHUl UAN Persiapan dan Deskripsi Singkat PENY AJIAN
Menyajikan dan menyampaikan Informasi
Membentuk kelompok Kerja kelompok
Presentasi kerja kelompok
Kuis dan Pemeriksaannya
Penghargaan/Pengakuan Kelompok PENU T UP Tindak Lanjut Evaluasi J U M L A H
Slavin dalam Soewarso (1998) mengatakan adanya beberapa masalah dalam menerapkan strategi belajar bersama di kelas yaitu ramai, gagal untuk saling mengenal, perilaku yang salah dan penggunaan waktu yang kurang efektif. Selain itu kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi pada pembelajaran STAD adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran kooperatif Tipe STAD bukanlah obat yang paling mujarab untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil; (2) Adanya ketergantungan sehingga siswa yang lambat berpikir tidak dapat berlatih belajar mandiri; (3) Memerlukan waktu yang lama sehingga target pencapaian kurikulum tidak dapat dipenuhi; (4) Tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat; (5) Penilaian terhadap individu dan kelompok serta
pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya.
Meskipun ada banyak kelemahan yang timbul, menurut Soewarso (1998) pembelajaran kooperatif Tipe STAD juga memiliki keuntungan yakni: (1) Membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas; (2) Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapatkan nilai rendah, karena dalam pengetesan lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya; (3) Menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama; (4) Menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi serta menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya; (5) Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi; (6) Siswa yang lambat berpikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuannya; (7) Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama.