BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Hakikat Analisis Wacana Tekstual
Ricoeur dalam Sobur (2009:53) menyatakan bahwa teks adalah wacana (berarti lisan) yang difiksasikan ke dalam bentuk tulisan. Dalam definisi tersebut secara implisit terlihat bahwa terdapat hubungan antara tulisan dengan teks. Apabila tulisan adalah bahasa lisan yang difiksasikan, maka teks adalah wacana yang difiksasikan ke dalam bentuk teks.
Banyak orang mempertukarkan istilah “teks” dan “ wacana”. Sebenarnya, istilah teks lebih dekat pemaknaannya dengan bahasa tulis, dan wacana pada bahasa lisan. Guy Cook dalam Eriyanto (2009:9) berpendapat bahwa teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa titik perhatian dari analisis wacana adalah menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam suatu proses komunikasi.
Dalam tradisi tulis, teks bersifat „monolog noninteraksi‟, dan wacana lisan bersifat „dialog interaksi‟. Dalam konteks ini, teks dapat disamakan dengan naskah, yaitu semacam bahasa tulisan yang berisi materi tertentu, seperti naskah materi kuliah, pidato, atau lainnya. Sebenarnya teks adalah esensi wujud bahasa. Dengan kata lain, teks direalisasi (diucapkan) dalam bentuk „wacana‟. Mengenai hal ini Van Dyk dalam Nababan (1987:64) mengatakan bahwa teks lebih bersifat konseptual. Dari sinilah kemudian berkembang pemahaman mengenai teks lisan dan teks tulis, istilah-istilah yang sama persis dengan wacana lisan dan wacana tulis berkaitan dengan teks, didapati pula istilah koteks (co-text), yaitu teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi).
Wacana yang utuh adalah wacana yang lengkap, yaitu mengandung beberapa aspek yang terpadu dan menyatu. Aspek-aspek yang dimaksud antara lain adalah kohesi, koherensi, topik,wacana, aspek leksikal, aspek
commit to user
gramatikal, aspek fonologis, dan aspek semantis. Brown dan Yule (1996:6-9) berpendapat bahwa wacana terealisasikan dalam bentuk teks, sehingga kata eks dipakai sebagai istilah teknis yang mengacu pada rekaman verbal tindak komunikasi. Halliday (1992:13) menyatakan bahwa teks adalah bahasa yang berfungsi, yaitu bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi tertentu pula. Hal ini tentunya berbeda dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas. Oleh karena itu, bahasa yang diambil dari konteks situasi tertentu dapat pula disebut teks. Media penyampaiannya dapat berupa tuturan atau tulisan. Jadi teks adalah satuan bahasa yang memiliki keutuhan makna yang bersifat fungsional dan kontekstual.
Berkaitan dengan teks, didapati pula istilah koteks (co-text), yaitu teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya, teks yang memiliki hubungan dengan teks lainnya (Mulyana, 2005:10). Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi). Koordinat antarwacana atau ko-teks sangat penting dalam menentukan penafsiran makna ujaran. Hal ini disebabkan dalam wacana, makna sebuah teks atau bagian-bagiannya sering ditentukan oleh pengertian yang diberikan oleh teks lain. Teks di sini dapat berwujud ujaran (kalimat), paragraf, atau pun wacana. Memang benar bahwa ujaran yang berurutan saling menopang dalam penafsiran maknanya. Hal itu mungkin sekali disebabkan oleh sifat linearitas bahasa. Oleh karena itu pasangan berdekatan menunjukkan pentingnya sebuah koteks dalam memahami dan menganalis wacana.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gambaran keutuhan wacana itu adalah gambaran berbagai aspek yang terealisasikan di dalam kotes dan konteks yang perlu dikaji secara mendalam. Aspek-aspek teks antara lain adalah ragam dan bentuk bahasa, pola kalimat, dan paragraf, relasi antarkalimat dan antarparagraf, bentuk dan cirri setiap alenia, bentuk-bentuk ungkapan persuasi, dan sebagainya. Aspek-aspek teks tersebut memiliki ciri dan keragaman yang bervariasi, tergantung pada koteks dan konteks yang melingkupi wacana tersebut.
commit to user
b. Analisis Wacana Tekstual
Sebagaimana telah dikaji oleh para ahli linguistik bahwa wacana adalah satuan terlengkap. Sementara itu, dalam hierarki gramatikal wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sementara itu, Stuubs (1983: 1) mengatakan bahwa analisis wacana merujuk pada upaya mengaji pengaturan bahasa di atas kalimat atau di atas klausa, dan karenanya mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih luas, seperti pertukaran percakapan atau teks tulis. Konsekuensinya, analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu digunakan dalam konteks sosial, dan kususnya interaksi antar dialog antarpenutur.
Dengan demikian, definisi ini mencakup istilah yang ruang lingkupnya pada wacana lisan sehingga lebih sempit. Dede Oetomo (1993:5) lebih jauh menjelaskan bahwa analisis teks; hanya saja, istilah ini digunakan dalam tradisi Eropa tertentu, seperti dicontohkan oleh karya-karya Petfi, Van Dijk dan ahli-ahli lainnya tentang gramatika teks. Ahli kebahasaan seperti Halliday yang membahas teks dan konteks lebih mendalam cenderung menyamakan antara teks dan wacana. Pendapat ini tersirat pada saat ia membahas tentang konteks; menurut Halliday dan Hasan (1992:6), dalam kehidupan sesungguhnya konteks mendahului teks, situasinya ada lebih dahulu dari wacana yang berhubungan dengan situsi itu.
Analisis tekstual adalah analisis wacana yang bertumpu secara internal pada teks yang dikaji (Sumarlam, et. al, 2010). Analisis wacana tekstual mempunyai dua lingkup penganalisisan yakni analisis aspek gramatikal dan leksikal. Aspek gramatikal wacana menitikberatkan pada segi bentuk dan struktur lahir sebuah wacana. Aspek gramatikal wacana meliputi pengacuan (reference), penyulihan (subtitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjungtion). Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam, et. al, 2010). Sedangkan aspek leksikal wacana menitikberatkan pada segi makna atau struktur batin sebuah wacana. Dalam
commit to user
hal ini, aspek leksikal wacana bertumpu pada hubungan secara semantis. Aspek leksikal wacana meliputi repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas bawah), antonimi (lawan kata), dan ekuivalensi (kesepadanan). Berikut akan dijelaskan satu persatu kedua aspek tersebut:
1. Aspek Gramatikal dalam Analisis Wacana
Linguistik dalam suatu teks tidaklah terjadi secara kebetulan, namun mematuhi ketergantungan-ketergantungan dan kaidah-kaidah gramatikal. Semua fungsi yang diterapkan untuk menciptakan hubungan di antara unsur-unsur permukaan dikategorikan sebagai kohesi. Berikut ini akan dikemukakan beberapa cara yang digunakan untuk mencapai kohesi.
a) Pengacuan (reference)
Pengacuan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam et. al, 2010:23). Lebih lanjut Samsuri (1987/1988:57) mengemukakan, bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bahwa referensi ialah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang pembicara untuk mengacu ke hal-hal yang dibicarakannya itu. Kedua, jika dalam semantik formal sesuatu yang dirujuk itu mesti benar, dalam wacana apa yang dimaksud dengan referensi yang benar, ialah referensi yang dimaksud oleh pembicara. Oleh karena itu, konsep yang dipakai sebenarnya bukan referensi yang benar, melainkan lebih tepat referensi „yang berhasil‟. Untuk tujuan memahami amanat bahasa yang sedang berlaku, referensi yang berhasil bergantung pada pengenalan atau identifikasi pendengar akan referensi yang dimaksud oleh pembicara berdasarkan ungkapan yang dipakai untuk mengacunya.
Hal akhir yang melibatkan pengertian „mengenai referen yang dimaksud oleh pembicara‟, yang sangat penting dalam mempertimbangkan tiap penafsiran ungkapan acuan dalam wacana. Samsuri berpendapat “biarpun terdapat kenyataan bahwa dalam beberapa analisis diajukan gagasan, bahwa ungkapan tertentu mempunyai referensi yang unik dan
commit to user
bebas, secara umum dapat dinyatakan, bahwa, apapun bentuk ungkapan acuan itu, fungsi referensinya tentu bergantung pada maksud pembicara pada waktu pemakaiannya itu” (Samsuri, 1987/1988:57).
Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis: (1) pengacuan endofora apabila acuannya (satuan lingual yang diacu) berada atau terdapat di dalam teks wacana itu, dan (2) pengacuan eksofora apabila acuannya berada atau terdapat di luar teks wacana (Sumarlam, et. al
2010:23).
Jenis kohesi yang pertama, pengacuan endofora berdasarkan arah pengacuannya dibedakan menjadi dua jenis lagi, yaitu pengacuan anaforis (anaphoric reference) dan pengacuan kataforis (cataphoric reference). Pengacuan anaforis adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual yang lain yang mendahuluinya, atau mengacu anteseden di sebelah kiri, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Sementara itu, pengacuan kataforis merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain mengikutinya, atau mengacu anteseden di sebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang baru disebutkan kemudian. Satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain itu dapat berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi membandingkan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya) (Sumarlam,
et. al 2010:23-24). Dengan demikian, jenis kohesi gramatikal pengacuan tersebut diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu (1) pengacuan persona, (2) pengacuan demonstratif, dan (3) pengacuan komparatif. Ketiga macam pengacuan beserta contoh-contohnya dapat diperlihatkan sebagai berikut.
commit to user
(1) Pengacuan Persona
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang), yang meliputi persona pertama (persona I), kedua (persona II), dan ketiga (persona III), baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona I tunggal, II tunggal, dan III tunggal ada yang berupa bentuk bebas (morfem bebas) dan ada pula yang terikat (morfem terikat). Selanjutnya yang berupa bentuk terikat ada yang melekat di sebelah kiri (lekat kiri) dan ada yang melekat di sebelah kanan (lekat kanan). Dengan demikian satuan lingual aku, kamu, dan
dia, misalnya, masing-masing merupakan pronomina persona I, II, dan III tunggal bentuk bebas. Adapun bentuk terikatnya adalah ku-
(misalnya pada kutulis), kau- (pada kautulis), dan di- (pada ditulis) masing-masing adalah bentuk terikat lekat kiri; atau –ku (misalnya pada istriku, -mu (pada istrimu), dan –nya (pada istrinya) yang masing-masing merupakan bentuk terikat lekat kanan (Sumarlam, 2010:24-25). Beberapa contoh kepaduan wacana yang didukung oleh kohesi gramatikal yang berupa pengacuan persona dapat diamati pada contoh berikut ini:
(1) “Pak RT, saya terpaksa minta berhenti”, kata Basuki bendaharaku yang pandai mencari uang itu.
(2) Namun, seperti biasanya Bu Tlasih tidak mau menerima, ia pergi tanpa pamit. (Sumarlam, et. al, 2010:24)
Pada tuturan (1) pronominal persona I tunggal bentuk bebas saya mengacu pada unsur lain yang berada di dalam tuturan (teks) yang disebutkan kemudian, yaitu Basuki (orang yang menuturkan tuturan itu). Dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan itu maka saya (1) menuturkan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks), yang bersifat kataforis (karena acuannya disebutkan kemudian atau antesedennya berada di sebelah kanan) melalui satuan lingual berupa pronominal persona I tunggal bentuk bebas. Sementara itu, -ku pada bendaharaku pada tuturan yang sama yang mengacu pada Pak RT yang telah disebutkan terdahulu
commit to user
yang antesedennya berada di sebelah kiri. Satuan lingual –ku merupakan pronominal persona I tunggal bentuk terikat lekat kanan. Dengan ciri-ciri semacam itu, maka –ku adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang kataforis melalui pronomina persona tunggal bentuk terikat lekat kanan. Sementara itu, ia pada tuturan (2) mengacu pada Bu Tlasih (kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronominal persona III tunggal bentuk bebas)
(2) Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina demonstratif tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti: kini dan sekarang), lampau (seperti: kemarin dan dulu), akan datang (seperti: besok dan
yang akan datang), dan waktu netral (seperti: pagi dan siang). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (sini, ini), agak jauh dengan pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara (sana), dan menunjuk tempat secara eksplisit (Surakarta, Yogyakarta) (Sumarlam, et. al, 2010:26).
Pengacuan demonstratif waktu sebagaimana dijelaskan di atas dapat diamati pada contoh berikut ini.
(3) Peringatan 57 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2002 ini akan diramaikan dengan pergelaran pesta kembang api di ibu kota Jakarta.
(4) Pada tanggal 21 April 2001 kurang lebih genap setahun yang lalu, di Gedung Wanita ini juga sudah pernah diadakan seminar mengenai mengenai kewanitaan tingkat nasional (Sumarlam, et. al, 2010:26).
Pada tuturan (3) terdapat pronominal demonstratif ini yang mengacu pada waktu kini, yaitu pada tahun 2002 saat kalimat itu dituturkan oleh pembicara atau dituliskan oleh penulisnya. Pengacuan demikian termasuk jenis pengacuan endofora yang anaforis. Penggunaan satuan lingual setahun yang lalu pada tuturan (4)
commit to user
mengacu pada waktu lampau, yaitu tanggal 21 April 2001 yang juga termasuk jenis pengacuan endofora yang anaforis karena mengacu pada anteseden yang berada di sebelah kirinya. Berikut ini adalah contoh kohesi gramatikal yang didukung oleh pengacuan tempat.
(5) “Ya di kota Sala sini juga Ayah dan Ibumu mengawali usaha batik”, kata Paman sambil menggandeng saya.
(6) “Surat dari sekolahan tadi mana Bu?”
“Tadi rasanya ibu taruh di atas meja situ”, jawab Bu Partono sambil membetulkan kacamatanya yang sudah tiga mili tebalnya (Sumarlam, et. al, 2010:27)
Tampak pada contoh di atas, kata sini pada tuturan (5) mengacu pada tempat yang dekat dengan pembicara. Dengan kata lain, pembicara (dalam hal ini paman) ketika menuturkan kalimat ia sedang berada di tempat yang dekat yang dimaksudkan pada tuturan itu, yaitu berada di Kota Sala. Kata situ pada tuturan (6) mengacu pada tempat yang agak jauh dengan pembicara. Dengan kata lain, meja yang dimaksudkan oleh pembicara (Bu Partono) adalah meja yang terdapat agak jauh dari posisi pembicara.
(3) Pengacuan Komparatif
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya. Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidak berbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan (Sumarlam, et.al, 2010:27). Berikut adalah contoh pengacuan komparatif:
(7) Tidak berbeda dengan ibunya, Nita itu orangnya cantik, ramah, dan lemah lembut.
(8) Apa yang dilakukan hanya dua: jika tidak membaca buku, ya melamun entah apa yang dipikirkan, persis seperti orang yang terlalu banyak utang (Sumarlam, et. al, 2010:28).
commit to user
Satuan lingual tidak berbeda dengan pada tuturan (7) adalah pengacuan komparatif yang berfungsi membandingkan antara kecantikan, keramahan, kelemahlembutan Nita dengan ciri-ciri atau sifat-sifat yang sama yang dimiliki oleh ibunya. Sementara itu, satuan lingual persis seperti pada tuturan (8) mengacu pada perbandingan persamaan antara sikap atau perilaku orang yang melamun (duduk termenung dan pikirannya ke mana-mana) dengan sikap atau perilaku orang yang terlalu banyak utang.
(b) Penyulihan (substitution)
Penyulihan ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsur pembeda atau menjelaskan struktur tertentu (Harimurti Kridalaksana, 2001:100). Proses substitusi merupakan hubungan gramatikal, dan lebih bersifat hubungan kata dan makna. Dilihat dari segi satuan lingualnya, substitusi dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, frasal, dan klausal (Sumarlam, et.al, 2010:28-30).
(1) Substitusi Nominal
Substitusi nominal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang berkategori nomina, misalnya kata gelar dan titel pada contoh berikut ini:
(9) Agus sekarang sudah berhasil mendapat gelar Sarjana Sastra. Titel kesarjanaan itu akan digunakan untuk mengabdi ke nusa dan bangsa melalui sastranya (Sumarlam, et. al, 2010:38).
Pada contoh (9) satuan lingual nomina gelar yang telah disebut terdahulu digantikan oleh satuan lingual nomina pula yaitu kata titel yang disebutkan kemudian.
commit to user
(2) Substitusi Verbal
Substitusi verbal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lainnya yang juga berkategori verba. Misalnya, kata ceritakan digantikan dengan kata
dongengkan. Substitusi semacam ini dapat diperhatikan pada tuturan berikut ini:
(10) Wisnu mempunyai hobi mengarang cerita pendek. Dia berkarya sejak masih di bangku sekolah menengah pertama (Sumarlam, et. al, 2010:29).
Pada contoh (10) tampak adanya penggantian satuan lingual berkategori verba mengarang dengan satuan lingual lain yang berkategori sama, yaitu berkarya.
(3) Substitusi Frasal
Substitusi frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satuan lingual lainnya yang berupa frasa. Substitusi frasal ini misalnya tampak pada contoh berikut:
(11) Aku tidak meneruskan pertanyaanku, Ibuku juga tidak berbicara. Dua orang sama-sama diam (Sumarlam, et. al,
2010:29)
Tampak pada contoh (11) kata aku pada kalimat pertama dan Ibuku pada kalimat kedua disubstitusi dengan frasa dua orang pada kalimat ketiga
(4) Substitusi Klausal
Substitusi klausal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa klausa atau kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frasa. Agar lebih jelas perhatikan contoh tuturan (12) berikut ini.
(12)S: “Jika perubahan yang dialami oleh Anang tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya; mungkin hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa orang-orang itu banyak yang tidak sukses seperti Anang”.
T: “Tampaknya memang begitu (Sumarlam, et. al,
commit to user
Pada percakapan di atas terdapat substitusi klausal, yaitu tuturan yang berupa satuan lingual klausa atau kalimat itu disubstitusi oleh satuan lingual lain pada tutura T yang berupa kata begitu. Atau sebaliknya, kata begitu pada tuturan T menggantikan klausa atau kalimat pada tuturan S.
Setelah dicermati contoh-contoh kohesi gramatikal melalui penyulihan atau substitusi, baik substitusi nominal, verba, frasal, maupun klausal, maka substitusi tersebut saling mendukung kepaduan wacana juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting. Dalam hal ini, penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana itu juga berfungsi untuk (1) menghadirkan variasi bentuk, (2) menciptakan dinamisasi narasi, (3) menghilangkan kemonotonan, dan (4) memperoleh unsur pembeda (Sumarlam, et. al, 2010:30).
(c) Pelesapan (ellipsis)
Pelesapan atau ellipsis adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Bentuk atau unsure yang dilesapkan dapat diperkirakan wujudnya dari konteks luar bahasa (Harimurti Kridalaksana, 2001:40). Ellipsis juga merupakan penggantian unsure kosong (zero), yaitu unsure yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan. Adapun fungsi pelesapan dalam wacana anatara lain ialah untuk (1) menghasilkan kalimat yang efektif (untuk efektivitas kalimat); (2) efisiensi, yaitu untuk mencapai nilai ekonomis dalam pemakaian bahasa; (3) mencapai aspek kepaduan wacana; (4) bagi pembaca atau pendengar berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahsa, dan (5) untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam berkomunikasi secara lisan. Gaya penulisan wacana yang menggunakan ellipsis biasanya
commit to user
mengandaikan bahwa pembaca atau pendengar sudah mengetahui sesuatu, meskipun sesuatu itu tidak disebutkan secara eksplisit. Untuk itu perhatikan contoh kalimat berikut ini:
(13) Budi seketika itu terbangun. Menutupi matanya karena silau, mengusap muka dengan saputangannya, lalu bertanya, “Di mana ini?” (Sumarlam, et. al, 2010:30) Pada tuturan (13) terdapat pelesapan satuan lingual yang berupa kata, yaitu Budi yang berfungsi sebagai subjek atau pelaku tindakan pada tuturan pada tuturan tersebut. Subjek yang dilesapkan sebanyak tiga kali, yaitu sebelum kata menutupi pada klausa kedua, sebelum kata mengusap
pada klausa ketiga, dan sebelum kata lalu atau di antara kata lalu dan
bertanya pada klausa keempat. Di dalam analisis wacana, unsur (konstituen) yang dilesapkan itu biasa ditandai dengan konstituen nol atau
zero (atau dengan lambang Ø) pada tempat terjadinya pelesapan unsur tersebut. Dengan cara seperti itu, maka peristiwa pelesapan pada tuturan (13) dapat direpresentasikan menjadi (13a), dan apabila tuturan itu kembali dituliskan dalam bentuknya yang lengkap tanpa adanya pelesapan maka tampak seperti (13b) sebagai berikut:
(13)a. Budi seketika itu terbangun. Ø menutupi matanya karena silau, Ø mengusap muka dengan saputangannya, lalu Ø bertanya, “Di mana ini?”
b. Budi seketika itu terbangun. Budi menutupi matanya karena silau, Budi mengusap muka dengan saputangannya, lalu Budi bertanya, “Di mana ini?” Tampak pada analisis di atas bahwa dengan terjadinya peristiwa pelesapan, seperti pada (13) atau (13a), maka tuturan itu menjadi lebih efektif, efisien, wacananya menjadi padu (kohesif), dan memotivasi pembaca untuk lebih kreatif menemukan unsur-unsur yang dilesapkan, serta praktis dalam berkomunikasi. Fungsi-fungsi semacam itu tentu tidak ditemukan pada tuturan (13b), sekalipun dari segi informasi lebih jelas atau lengkap daripada (13) dan (13a).
commit to user
(d) Perangkaian (conjunction)
Perangkaian atau konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Konjungsi (kata sambung) adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, dan seterusnya (Kridalaksana, 2001:105; Tarigan, 1987:101). Unsur yang dirangkaikan dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topik atau pemarkah disjungtif (Sumarlam, et.al, 2010:32).
Dilihat dari maknanya perangkaian unsur dalam wacana mempunyai bermacam-macam makna. Makna perangkaian beserta konjungsi yang dapat dikemukakan di sini antara lain: a) sebab-akibat yang ditandai dengan penggunaan kata sebab, karena, maka, makanya; b) pertentangan yang biasa yang ditandai dengan penggunaan kata tetapi, namun; c) kelebihan atau eksesif yang ditandai dengan penggunaan kata
malah; d) perkecualian (ekseptif) yang ditandai dengan penggunaan kata
kecuali; e) konsesif yang ditandai dengan penggunaan kata walaupun, meskipun; f) tujuan yang ditandai dengan penggunaan kata agar, supaya; g) penambahan (aditif) yang ditandai dengan penggunaan kata dan, juga, serta; h) pilihan (alternatif) yang ditandai dengan penggunaan kata atau,