LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
5. Hakikat Belajar dan Hasil Belajar a.Pengertian Belajar
Sardiman, dalam bukunya yang berjudul “Interaksi dan
Motivasi belajar mengajar” mengemukakan beberapa definisi
tentang belajar menurut para ahli, antara lain sebagai berikut: 1) Cronbach memberikan definisi: “Learning is shown by a
change in behavior as a result of experience”
2) Harold Spears memberikan batasan : “Learning is to observer, to read, to imitate, to try something themselves, to
listen, to follow direction”.
3) Geoch, mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice 25.
Dari ketiga definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan perubahan tingkah laku atau penampilan melalui berbagai aktivitas, seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Proses belajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang lebih baik jika sesorang tersebut belajar langsung dari pengalaman atau melakukannya langsung26.
Menurut pendapat ahli pendidikan modern yang merumuskan perbuatan belajar dalam buku Psikologi suatu pengantar dalam
24
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.
25
Sardiman, A.M, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2000), h.20
26 ibid
Persfektif Islam karya Abdul Rahman Shaleh, “belajar adalah suatu
bentuk pertumbuhan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”27
. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, belajar merupakan perubahan aspek kepribadian individu, perubahan itu dapat berkenaan dengan penguasaan dan penambahan pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai, motivasi, kebiasaan, minat, apresiasi dan lain sebagainya. Begitu juga dengan pengalaman atau hal – hal yang pernah dialami oleh orang tersebut28.
Menurut Crow and Crow dan Hilgard, Dikutip dari buku Nana Syaodih Sukmadinata yang berjudul Landasan Psikologi Proses Pendidikan “belajar adalah diperolehnya dari kebiasaan –
kebiasaan pengetahuan dan sikap baru” sedangkan menurut Hilgard “belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”29
. Menurut Oemar Hamalik “belajar adalah modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman”30
. Belajar merupakan proses untuk membuat perubahan dalam diri seseorang dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan perilaku. Perubahan itu akan membuat seseorang menjadi lebih baik.
Menurut Wasty Soemanto dalam buku Psikologi Pendidikan
Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, “belajar merupakan proses
dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia
27
Abdul Rahman Shaleh , Psikologi suatu pengantar dalam persfektif islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009) cet ke 4, h. 207
28
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2009) cet ke 5, h. 156
29 Ibid 30
melakukan perubahan – perubahan kualitatif individu sehingga
tingkah lakunya berkembang”31 .
Berdasarkan definisi belajar yang diungkapkan oleh Wasty Soemanto di atas dapatlah memberi sebuah gambaran bahwa belajar adalah proses perubahan-perubahan kualitatif individu manusia selama hidupnya sehingga tingkah lakunya berkembang.
Pengertian belajar lain juga diungkapkan oleh Muhibbin Syah, belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis pendidikan32.
Dari beberapa definisi belajar menurut para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi pada diri seseorang setelah melakukan aktivitas atau berinteraksi dengan lingkungannya untuk mendapatkan perubahan perilaku yang lebih baik. Perilaku tersebut akan lebih baik hasilnya manakala seseorang tersebut belajar dari pengalaman dan melakukannya sendiri.
Hal yang paling penting dalam pembelajaran bukan hanya sekedar pengalaman dan hasil semata, melainkan proses belajar itu sendiri. Karena dari proses itulah seseorang dapat menerima berbagai pengalaman penting yang dapat mengubah tingkah laku serta pola pikir seseorang.
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan – kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang33. Hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,
31
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006) cet ke 5, h. 104 32
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010) h. 63 33
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2009) cet ke 5, h. 102
keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah hasil belajar dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menguasai berbagai mata pelajaran yang ditempuhnya.
Hasil dari proses pembelajaran ialah perubahan perilaku individu. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran ialah perilaku keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif dan motorik.
Menurut Ngalim Purwanto, “Hasil belajar adalah hasil – hasil pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu”34
. Hasil belajar yang dimaksud dapat berupa tes, ulangan harian, atau evaluasi akhir.
Nana Sudjana mengatakan “Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”35
. Hasil belajar yang dimaksud dapat berupa pemahaman siswa mengenai pelajaran yang telah diberikan atau dapat berupa analisis terhadap suatu hal dan dapat pula dalam bentuk pemecahan masalah yang dilakukan siswa terhadap suatu hal.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil dari pencapaian kemampuan belajar yang dilakukan oleh peserta didik melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk mengukur kemampuan belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Dalam buku Nana Sudjana, “Horward Kingsley membagi tiga
macam hasil belajar, yakni:
1) Keterampilan dan kebiasaan 2) Pengetahuan dan pengertian 3) Sikap dan cita – cita36
34
Ngalim Purwanto, Prinsip – prinsipdan tekhnik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,1994) h. 33
35
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h.22
36 ibid
Sedangkan, dalam buku penilaian hasil belajar mengajar, Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni:
a) informasi verbal
b) keterampilan intelektual c) strategi kognitif
d) sikap, dan
e) keterampilan motoris37
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik dalam tujuan kulikuler maupun maupun tujuan instruksional untuk menentukan objek penilaian hasil belajar menggunakan klasifikasi yang diungkapkan oleh Benyamin S. Bloom yang secara garis besar membagi menjadi tiga ranah yaitu :
1) Ranah Kognitif, ranah ini berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yang berupa pengetahuan atau ingatan dan pemahaman, kedua aspek ini sering disebut dengan kognitif tingkat rendah sedangkan aplikasi, analisis, sintensis dan evaluasi termasuk kognitif tingkat tinggi.
2) Ranah Afektif, ranah ini berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3) Ranah Psikomotorik, ranah ini berkaitan dengan hasil belajar yang berupa keterampilan dan kemampuan bertindak. Dalam ranah ini ada enam aspek penilaian yaitu, gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretative.
Dari ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
37 ibid