• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

E. Hakikat Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan

Makhrifah & Nuryono, (2014:1) mengemukakan bimbingan klasikal merupakan suatu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik oleh guru bimbingan dan konseling (Guru BK) atau konselor kepada sejumlah peserta didik dalam satuan kelas yang dilaksanakan di dalam kelas. Kemudian Depdiknas (2008:25) mengemukakan Konselor atau guru BK berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Suatu program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas.

Menurut Kolb (dalam Sinaga, 2013), mengatakan Experiential Learning merupakan tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan

pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektivan dari hasil belajar. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mempengaruhi siswa dalam tiga cara, yaitu (1) mengubah struktur kognitif siswa, (2) mengubah sikap siswa, dan (3) memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang telah ada. Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah- pisah, karena apabila satu elemen tidak ada, maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning merupakan model bimbingan yang dilakukan secara kerjasama antara konselor/guru BK dengan mitra kolaboratif dalam hal ini guru mata pelajaran, untuk membantu mengoptimalkan proses belajar siswa baik dari segi pribadi, sosial, belajar maupun kariernya. Di mana menurut Barus (2015), Guru BK telah dibekali kompetensi dalam mendesain dan melaksanakan program pengembangan diri bidang-bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier, termasuk di dalamnya kemahiran dalam mendesain dan melaksanakan pendidikan nilai-nilai atau pendidikan karakter melalui layanan bimbingan klasikal yang dilakukan secara kolaboratif (antara konselor/guru BK dengan guru mata pelajaran) dengan mengaplikasikan pendekatan experiential learning.

Supratiknya (2011) mengatakan, experiential learning menekankan pada keinginan kuat dari dalam diri siswa untuk berhasil dalam belajar. Keinginan untuk berhasil tersebut dapat meningkatkan tanggung jawab siswa

terhadap perilaku belajarnya dan mereka akan merasa dapat mengontrol perilaku tersebut. Adapun Prinsip-prinsip belajar yang berlaku bagi peserta didik adalah sebagai berikut (Ortigas dalam Supratiknya, 2011):

a. Belajar adalah pengalaman yang terjadi dalam diri pembelajar.

b. Belajar adalah penemuan makna dan relevansi dari ide, konsep, atau prinsip bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat luas.

c. Belajar sebagai perubahan tingkah laku adalah hasil pengalaman.

d. Belajar berlangsung lewat proses bekerja sama dan berperan serta dalam suatu aktivitas.

e. Belajar adalah proses yang bersifat evolusioner atau perubahan yang berlangsung secara pelan-pelan dan berkesinambungan.

f. Belajar kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan.

g. Sumber belajar yang sangat kaya adalah diri pembelajar sendiri.

h. Proses belajar melibatkan baik pikiran maupun emosi atau perasaan.

i. Proses belajar bersifat sangat pribadi dan unik.

Kualitas belajar experiential learning mencakup: keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri dan adanya efek yang membekas pada siswa. David Kolb (1984) menyampaikan pendekatan Experiential Learning adalah sebuah proses yang melingkar dan terdiri dari empat fase sebagai berikut:

a. Concrete Experience

Merupakan fase menggunakan pengalaman yang sudah dilalui peserta atau pengalaman yang disediakan untuk pembelajaran yang lebih lanjut.

b. Reflective Observation

Merupakan fase mendiskusikan pengalaman para peserta yang telah dilalui atau saling berbagi reaksi dan observasi yang telah dilalui.

c. Abstract Conceptualization

Merupakan fase dimana proses menemukan tren yang umum dan kebenaran dalam pengalaman yang telah dilalui peserta atau membentuk reaksi pada pengalaman yang baru menjadi sebuah kesimpulan atau konsep yang baru.

d. Active Experimentation

Merupakan fase modifikasi perilaku lama dan mempraktikkan pada situasi keseharian para peserta.

Efektivitas proses pembelajaran experiential learning akan terdukung apabila peserta didik memiliki kemampuan mengikuti proses dari masing-masing fase tersebut. Keempat fase tersebut divisualisasikan seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2. Fase Pendekatan Experiential Learning Kolb

Sejalan dengan pendapat David Kolb tersebut, Pfeiffer & Jones, (dalam Supratiknya, 2011), juga mengatakan bahwa dalam belajar experiential learning peserta didik memiliki pengalaman yang bertahap yakni:

a. Mengalami

Peserta didik terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan tertentu, seperti melakukan tugas tertentu atau mengamati objek atau rekaman kejadian tertentu, entah secara sendiri-sendiri atau bersama satu atau lebih peserta atau anggota kelompok lain.

b. Membagikan pengalaman

Peserta didik membagikan hasil pelaksanaan tugas atau hasil pengamatannya terhadap objek atau kejadian tertentu pada tahap

sebelumnya termasuk reaksi pribadianya baik berupa tanggapan pikiran maupun tanggapan perasaannya, kepada peserta lain baik dalam kelompok-kelompok kecil maupun kepada seluruh peserta. c. Memroses pengalaman

Peserta mengolah data yang baru dibagikan dengan cara mendiskusikan atau memikirkannya bersama, memaknai atau menafsirkannya, membandingkan tanggapan peserta yang satu dengan peserta yang lain, menemukan hubungan antar makna atau tanggapan yang muncul, dan sebagainya.

d. Merumuskan kesimpulan

Peserta didik diajak dan dibantu untuk menyimpulkan prinsip-prinsip, merumuskan hipotesis-hipotesis, dan merumuskan hikmat-manfaat untuk didiskusikan atau dipikirkan bersama.

e. Menerapkan

Peserta didik sungguh-sungguh menangkap relevansi atau makna- manfaat dari pelatihan atau bimbingan yang baru dijalaninya, serta memiliki tekad untuk menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penjelasan di atas, bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning merupakan kegiatan bimbingan yang diperuntukan peserta didik, dirancang dan dilaksanakan oleh konselor/guru BK bekerja sama dengan guru mata pelajaran dengan tujuan membantu perkembangan peserta didik secara optimal baik dari segi pribadi, sosial, belajar dan kariernya. Secara jelas proses bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning dalam penelitian ini divisualisasikan dalam gambar sebagai berikut:

F. Hakikat Remaja sebagai Peserta Didik SMP

Dokumen terkait