Tonggak berlakunya HAM internasional ialah pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada 10 Desember 1948 di Paris, Prancis. Disini tonggak deklarasi universal mengenai hak asasi manusia yang mengakui hak setiap orang diseluruh dunia. Deklarasi ini ditanda tangani oleh 48 negara dari 58 negara anggota PBB dan disetujui oleh majelis umum PBB. Perumusan penghormatan dan pengakuan norma-norma HAM yang bersifat universal, nondiskriminasi, dan imparsial telah berlangsung dalam sebuah proses yang sangat panjang.
Organisasi Islam internasional yang terlembagakan dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 5 Agustus 1990 mengeluarkan deklarasi HAM.
Kemudian Islam mematahkan bahwa dalam Islam telah dibicarakan sejak empat belas tahun yang lalu (Anas Urbaningrum, 2004; 91). Fakta ini mematahkan bahwa Islam tidak memiliki konsep tentang pengakuan HAM. Ini dibuktikan oleh adanya piagam madinah (mitsaq Al-Madinah) yang terjadi pada saat Nabi Muhammad berhijrah ke kota Madinah. Dalam dokumen madinah atau piagam madinah itu berisi antara lain pengakuan dan penegasan bahwa semua kelompok di kota Nabi itu, baik umat yahudi, umat nasrani maupun umat Islam sendiri, adalah merupakan satu bangsa (Idris, 2004;102). Dalam dokumen itu dapat disimpulkan bahwa HAM sudah pernah ditegakkan oleh Islam.
Tetapi ada perbedaan mendasar antara konsep HAM dalam Islam (al-huquq al-insaniyyah fil islam) dan HAM yang diterima dunia internasional. Dunia Barat percaya bahwa pola tingkah laku hanya ditentukan oleh hukum-hukum Negara atau sejumlah otoritas demi tercapainya keamanan publik dan perdamaian universal dan manusia dilihat sebagai pemilik sepenuhnya hak-hak dasar, sementara HAM dalam Islam didasarkan pada hakikat manusia sebagai khalifah Allah di muka Bumi dan
manusia dilihat sebagai makhluk yang dititipi hak-hak dasar oleh Allah dan karena itu mereka wajib mensyukuri dan memeliharanya.
HAM adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan merupakansesuatu yang diangkat oleh Nabi Muhammad SAW. Misi Rasulullah adalah rahmatan lil alamin, di mana kemaslahatan / kesejahteraan merupakan tawaran untuk seluruh manusia dan alam semesta. Elaborasi (pengejawantahan) misi di atas disebut sebagai ushul
al-khams (lima prinsip dasar) yang melingkupi:
Hifdhud dîn memberikan jaminan hak kepada umat Islam untuk
memelihara agama dan keyakinannya (al-din). Sementara itu Islam juga menjamin sepenuhnya atas identitas (kelompok) agama yang bersifat lintas etnis, oleh karena itu Islam menjamin kebebasan beragama, dan larangan adanya pemaksaan agama yang satu dengan agama lainnya.
Hifdhun nafs wal ’irdh memberikan jaminan hak atas setiap jiwa
(nyawa) manusia, untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Dalam hal ini Islam menuntut adanya keadilan, pemenuhan kebutuhan dasar (hak atas penghidupan) pekerjaan, hak kemerdekaan, dan keselamatan, bebas dari penganiayaan dan kesewenang-wenangan.
Hifdhul ‘aql adalah adanya suatu jaminan atas kebebasan berekspresi,
kebebasan mimbar, kebebasan mengeluarkan opini, melakukan
penelitian dan berbagai aktivitas ilmiah. Dalam hal ini Islam melarang terjadinya perusakan akal dalam bentuk penyiksaan, penggunaan ekstasi, minuman keras dan lain-lain.
Hifdhun nasl merupakan jaminan atas kehidupan privasi setiap
individu, perlindungan atas profesi (pekerjaan), jaminan masa depan keturunan dan generasi penerus yang lebih baik dan berkualitas. Free sex, zinah menurut syara’, homoseksual, adalah perbuatan yang dilarang karena bertentangan dengan hifdh al-nasl.
Hifdhul mâl dimaksudkan sebagai jaminan atas pemilikan harta
benda, properti dan lain-lain. Dan larangan adanya tindakan mengambil hak dari harta orang lain, seperti mencuri, korupsi, monopoli, oligopoli, monopsoni dan lain-lain.
Lima prinsip dasar (al-huquq al-insaniyyah) di atas sangatlah relevan dan bahkan seiring dengan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia (HAM). Di samping itu, Islam sebagai agama tauhid, datang untuk menegakkan kalimat Lâ ilâha illallâh, tiada
Tuhan selain Allah. Suatu keyakinan (aqidah) yang secara transendental, dengan menisbikan tuntutan ketaatan kepada segenap kekuasaan duniawi serta segala
perbudakan manusia dengan berbagai macam jenis kelamin, status sosial, warna kulit dan lain sebagainya. Keyakinan semacam ini jelas memberikan kesuburan bagi tumbuhnya penegakan HAM melalui suatu kekuasaan yang demokratis.
1. Pandangan Ulama Fikih, Ahli Sufi/Tasawuf dan Kutipan Al-Qur’an mengenai HAM
a. Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu." (HR. Bukhari dan Muslim)
b. Al-Farabi
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Quzalq bin Turkhan al-Farabi. Ia lahir pada tahun 259 H./827 M. di kotaa Farab yang sekarang dikelan dengan nama kota Atraz yang terletak di wilayah Khurasan (Turki) dan meninggal pada tahun 339 H./950 M. Dalam buku-buku yang ditulisnya, Farabi tidak menyebut Aristoteles, tetapi memanggilnya dengan gelar al-Mu'allim al-Awwal (Guru pertama). karena sangat mendalam pengetahuannya dalam bidang filsafat Aristoteles, terutama komentar dan ulasannya terhadap berbagai karangan Aristoteles, maka Farabi memperoleh gelar sebagai al-Mu'allim al-Tsani (Guru kedua). Al-Farabi diketahui banyak menulis buku, tetapi yang masih dijumpai dalam bahasa Arab hanya ada tigapuluh buah saja. dan diantaranya sangat terkenal adalah: Maqalah fi Aghradhi Ma Ba'da
al-Thabi'ah, Ihsa al-Ulum, kitab Arau ahl al-Madinah al-fadhilah , Kitab Tahshil Sa'adah, Uyun Masail, Risalah fi'Aql, Kitab Jami' BainRa'yi al-Hakimain , Aflathun wa Aristhu, Risalah fi Masail Mutafarriqah dan Risalah fi Itsbat al-Mufarraqat.
“Jika kepala manusia harus sehat maka kepala pemerintahan juga harus sehat, kuat, pintar, cinta pada ilmu pengetahuan dan keadilan. Pimpinan dalam masyarakat harus mempunyai akal mustafad yang telah mampu berkomunikasi dengan Akal kesepuluh, dan orang yang mempunyai kemampuan seperti para nabi atau Rasul. Oleh karna itu, kepala suatu pemerintahan harus dipegang oleh Nabi, atau Rasul dan jika Nabi atau Rasul itu sudah tidak ada, maka pimpinan harus diserahkan ke tangan para filosof, karena para filosof telah dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh. Tugas kepala negara bukan hanya mengatur negara, tetapi mendidik manusia agar memiliki akhlak yang mulia. Hal ini dapat terlaksana apabila negara
dipimpin oleh Nabi atau Rasul.” c. Muslim اننثنددنحن رفععجن نبع دمدحنمم اننثنددنحن ىندثنمملا دمدنحنمم اننثنددنحن نايفعشم نععن ععيعككون اننثنددنحن ةبنيعشن نبع رككعبن وبمأ انثنددنحن أندنبن نمن لمودنأن لناقن رركعبن يبكأن ثميعدكحن اذنهنون بكاهنشك نبع قكركاطن نععن ملكسعمم نكبع سكيعقن نععن امنهملنكك ةبنععشم وعبمأن لناقنفن كنلكاننهم امن كنركتم دعقن لناقنفن ةكبنطعخملا لنبعقن ةملنصدنلا لناقنفن ناونرعمن ةكلنصدنلا لنبعقن دكيععكلعا منوعين ةكبنطعخملعابك رركننعمم معكمنعمك أنرننعمن لموعقمين منلدنسنون هكيعلنعن هملدلا ىلدنصن هكلدلا لنوعسمرن تمععمكسن هكيعلنعن امن ىضنقن دعقنفن اذنهن امدنان دكيععكسن نكامنيعلا فمعنضعان كنلكذنون هكبكلعقنبكفن ععطكتنسعين معلننعإكفن هكنكاسنلكبكفن ععطكتنسعين معلننعإكفن هكدكينبك همرعيدكغيملعفن.
“Hadits diriwayatkan dari Abu bakar bin Abi syaibah, waqi’ dari Syufyan, Muhammad bin Matsna, dari Muhammad bin Ja’far dan Syu’bah dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab dan ini adalah hadits Abi bakar yang berkata :”Orang yang pertamaa melaksanakan khutbah ‘Id sebelum shalat adalah Marwan. Maka seorang laki-laki berdiri dan berkata :”shalat dilaksanakan sebelum khutbah....Maka berkata Abu Sa’id bahwa masalah tersebut telah ditetapkan sebelumnya. Saya telah mendengar Rasulaullah saw bersabda “Barang siapa yang diantara yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganya (kekuasaannya), apabila tidak mampu (merubah dengan tangan), maka rubahlah dengan lidahnya, jika tidak juga sanggup (merubah dengan lidah), maka tolaklah dalam hati. Yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman.” (H.R.Muslim, Abu daud, dan Ahmad dengan redaksi hadits dari Muslim).
d. Surah Al-An’am: 164-165 (The Cattle)
“Apakah aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah sesorang membuat dosa melainkan
kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” e. Surah Fatir: 18 (Originator)
“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika sesorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan
barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu). ”
f. Surah Al-Isra’: 70 (The Night Journey)
اننقعلنخن نعمدنمك رريثككن ىىلنعن معهماننلعضدنفنون تكابنيدكطدنلا ننمك معهماننقعزنرنون ركحعبنلعاون ردكبنلعا يفك معهماننلعمنحنون مندنآ ينكبن اننمعردنكن دعقنلنون
الريضكفعتن
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. al-Isra’: 70)
g. Surah An-Nisa: 58
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
h. Surah Al-Hujurat: 6
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
i. Surah Al-Hujurat: 13
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tau kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu
memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
j. Surah Al-Hujurat: 135
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjdaikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu
barangsiapa yang ingkar kepada yang thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” l. Surah Al-Ankabut: 46
“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka, dan katakanlah: “kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”
m. Surah An-Nisa: 1
“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciotakan dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
n. Surah An-Nisa: 148
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
o. Surah Al-Maidah 78-79
“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa Putera Maryam. Yang demikian itu. Disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang
tindakan yang munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
p. Surah Ali Imran: 110
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”
q. Surah Ad-Dzariyat: 19
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
s. Surah Yunus: 101
“Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah
bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.
t. Surah Al-Alaq: 1-5
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:berdirilah kamu, maka berdirilah kamu, niscaya Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Apakah kamu hai orang yang musyrik) ataukah orang-orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhrat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.