BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
5. Hakikat Mengajar
Mengajar merupakan proses yang kompleks. Guru berperan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi juga berusaha agar siswa mau belajar. Oleh karena, mengajar sebagai upaya yang disengaja, maka guru terlebih dahulu harus mempersiapkan bahan yang akan disajikan kepada siswa. Upaya yang dilakukan guru tersebut agar tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai. Berkaitan dengan
commit to user
mengajar Husdarta dan Yudha M. Saputra (2000, 3) menyatakan, ”Mengajar adalah upaya guru dalam memberikan rangsangan bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Arah yang akan dituju dalam proses belajar adalah tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan guru dan diketahui oleh siswa.”
Ada banyak jalur untuk belajar. Guru pasti mengenal metod mengajar dan kegiatan belajar yang umum digunakan. Biasanya guru menyajikan informasi kepada sejumlah siswa dengan menggunakan metode ceramah, berbicara secara informal, menulis di papan tulis, memperagakan, dan menggunakan bahan pandang dengar.
Siswa belajar mandiri sesuai dengan kecepatannya dengan cara membaca, mengerjakan tugas pada lembar kerja, memecahkan masalah, menulis laporan praktikum, dan barabg kali menonton film dan menggunakan bahan pandang dengar lainnya. Interaksi antara guru dengan siswa dan antarasiswa terjadi melalui tanya jawab, diskusi, kegiatan kelompok kecil, tugas yang harus diselesaikan, dan laporan.
Ketiga pola ini – penyajian dikelas, belajar mandiri, dan interaksi guru siswa – adalah katagori yang mengolompokan sebagian besar metode pengajaran dan pembelajaran. Setiap kegiatan pengajaran, apakah yang ditentukan guru atau yang diperuntuhkan bagi murid untuk belajr mandiri, ada hubungannya dengan salah satu dari ketiga pola ini.
Guru tidak dapat menggunakan ketiga pola ini dengan serampangan ketika merencanakan program pembelajaran. Mengapa? Ada beberapa alasan.
Pertama, dari pengetahuan tentang gaya mengajar, guru tahu bahwa baik metode kelompok maupun metode mandiri harus digunakan. Banyak sisw dapat belajar mandiri, sementara siswa lainnya lebih senang belajar dalam situasi pengajaran yang beraturan dan terpimpin. Perbedaan di antara siswa ini mengharuskan guru menggunakan berbagai metode pengajaran yang berbeda pula.
commit to user
Kedua, kondisi dan asa belajar menyebabkan guru akan tanggap akan perlunya memilih metode yang peluang untuk peran serta yang aktif dari pihak siswa dalam segala kegiatan belajar. Seperti yang akan guru lihat nanti, beberapa metode nontradisional dapat memenuhi dengan baik kebutuhan tadi untuk beberapa situasi pengajaran.
Ketiga, bila guru siap untuk menggunakan teknologi pengajaran yang baru (TV, komputer, dsb), penekanan biasa diberikan pada penyajian kelompok, atau pada kegiatan belajar mandiri. Pada kedua jenis penyajian ini, tidak ada kesempatan berinteraksi antara guru-siswa secara tatap muka. Menyediakan bahan ajaran yang cukup bagi kegiatan kelompok kecil haruslah diperhatikan.
Keempat, ada persoalan keefisianan dalam penggunaan wakyu guru dan waktu siswa, sarana, dan peralatan. Untuk tujuan trtentu mungkin lebih efisien bila guru menyajikan informasi kepada seluruh kelas secara serempak (dengan jumlah siswa beberapa saja) daripada menugasi siswa untuk mempelajari bahan secara mandiri. Pengajaran kelimpok yang seperti itu tidadk hanya menghemat waktu, tetapin juga dapat mengurangi rusaknya peralatan dan bahan yang disebabkan oleh penggunaan yang berlabihan. Pengajarn semacam itu juga membarikan kepada guru waktu maksimal untuk betatap muka dengan siswa, untuk bimbingan dan konsultan perseorangan, serta untuk merencanakan pengajaran (Kemp,1994: 140 – 141)
Secara keseluruhan, metode penyajian kepada kelompok dan belajar mandiri paling berhasil mencapai sasaran dalam ranah kognitif dan psikomotor. Cara terbaik untuk mancapai sasaran dalam ranah afektif adalah melalui kegiatan kelompok kerja sama. Ketika menerima dan mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat terdorong untuk belajar, membantu menajamkan pertimbangan, dan mengembangkan kemampuan untuk bedebat.
Pengajaran efektif ditandai oleh berlangsungmya proses belajar. Proses belajar dapat dikatakan belangsung apabila seseorang sekarang
commit to user
mengetahui atau sekarang dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak dapat dilakauan olehnya. Jadi, hasil belajar akabn terlihat dengan adanya tingkah laku baru pada tingkat kemampuan berfikir atau kemampuan jasmaniah.
Karena tujuan proses perancangan pengajaran adalah membantu terjadinya proses belajar, guru harus menyadari dan memanfaatkan kondisi dan asas yang telah terbukti mendukung proses belajar itun dengan baik. Setiap teori belajar yang penting (misalnya, teori kognitif atau behaviorisme) didasarkan pada sejumlah buktiyang telah terkumpul melalui pengamatan dan penelitian eksperimental. Ada kesamaan pendapat di antara teori ini tentang cara memperoleh hasil belajar yang terbaik.
Ditinjau dari pelaksanaannya, unsur pokok dalam proses mengajar terdiri beberapa elemen, yaitu (1) guru yang berpengalaman dan terampil, (2) siswa yang sedang berkembang, (3) informasi atau keterampilan, (4) saluran atau metode penyampaian informasi atau keterampilan, dan (5) respon atau perubahan perilaku pada siswa.
a. Mengajar yang efektif
Mengajar adalah membimbing siswa agar mengalami proses belajar. Dalam belajar siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk itu guru dituntut dapat membantu siswanya, sehingga pada waktu mengajar dapat dilakukan dengan efektif. Menurut Rusli Lutan (1988: 381) menyatakan efektivitas pengajaran meliputi beberapa unsur, yaitu: ”(1) pemanfaatan waktu aktif berlatih, (2) lingkungan yang efektif, (3) karakteristik guru dan siswa, (4) pengelolaan umpan balik.”
Di antara empat elemen tersebut, elemen yang dominan pengaruhnya pada efektivitas mengajar adalah pemanfaatan waktu aktif berlatih. Lebih lanjut Rusli Lutan (1988: 381) mengemukakan ”jumlah waktu yang dihabiskan siswa untuk aktif belajar, merupakan indikator utama dan efektivitas pengajaran.” konsep jumlah waktu aktif berlatih erat dengan kemampuan manajemen guru dalam mengelola proses belajar dan
commit to user
kesediaan serta ketekunan siswa untuk melaksanakan tugas-tugas gerak yang diajarkan.
b. Unsur-Unsur yang mendukung pencapaian tujuan mengajar Perencanaan merupakan bagian integral dari belajar mengajar yang efektif. Efektivitas mengajar akibat adanya perencanaan yang jelas, jika guru ingin menerapkan model-model atau materi.mengajar yang tidak diterapkan sebelumnya atau pada saat dihadapkan dengan lingkungan belajar mengajar yang serba terbatas. Untuk itu kemampuan membuat perencanaan merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan kemampuan guru dalam keterampilan mengajarnya.
Perencanaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan belajar mengajar untuk mengembangkan kreativitas pengajaran. Seorang guru dihadapkan tugas untuk memadukan beberapa unsur penting dalam mengajar. Perpaduan unsur penting itu memerlukan pemikiran dan keputusan yang selanjutnya dituangkan ke dalam perencanaan. Sebagai contoh bagaimana agar pelaksanaan tugas ajar siswa mendapat kesempatan atau giliran secara merata dengan waktu, alat yang serba terbatas? Dalam hal ini seorang guru harus mampu menerapkan metode mengajar, membagi waktu yang tersedia dan membuat formasi belajar yang baik dan tepat agar semua siswa aktif mengikuti tugas ajar.
Proses belajar mengajar dikatakan suskes, apabila tujuan mengajar dapat dicapai dengan baik. Tujuan mengajar berkaitan dengan beberapa bagian yang saling menunjang dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui sejauhmana tujuan belajar mengajar dicapai dapat dilihat melalui evaluasi. Jika dari hasil evaluasi menunjukkan peningkatan prestasi, berarti tujuan belajar mengajar berhasil. Namun jika sebaliknya, yaitu prestasi tetap atau tidak meningkat berarti tujuan belajar tidak tercapai.
c. Penilaian hasil mengajar
Tujuan akhir dari kegiatan belajar mengajar adalah terjadinya perubahan pada diri siswa. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya
commit to user
diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa. Di samping diukur dari segi prosesnya. Hal ini dimaksudkan untuk menilai seberapa jauh hasil belajar yang dimiliki siswa. Hasil belajar ini harus tampak jelas dalam tujuan pengajaran (tujuan instruksional), sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar siswa.
Perubahan pada diri siswa akibat dari belajar dapat diketahui melalui evaluasi atau penilaian. Suharno, Sukardi, Chodijah, dan Suwalni (1998: 78) bahwa, ”... evaluasi hasil belajar adalah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan belajar dapat dicapai”. Sementara menurut Syaiful Sagala (2005) berpendapat, ”Maksud dan tujuan dari evaluasi adalah menentukan hasil yang dicapai siswa.”
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, evaluasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui evaluasi atau penilaian akan diketahui apakah materi yang diberikan dapat dikuasai dengan baik atau sebaliknya. Nana Sudjana (2005: 111) menyatakan penilaian yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar memiliki fungsi ”(1) untuk mengetahui tercapainya tidak tujuan pengajaran, (2) untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru.”
6. Gaya Mengajar