• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

2. Hakikat Menulis Argumentasi

2. Hakikat Menulis Argumentasi

a. Pengertian Argumentasi

Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk memengaruhi sikap dan pandangan orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Gorys Keraf, 2007: 3). Melalui argumentasi penulis berusaha merangkai fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menyampaikan apakah suatu pendapat atau suatu hal itu benar atau tidak. Argumentasi berbeda dengan empat bentuk wacana yang lain karena fungsi utamanya adalah membuktikan. Bentuk wacana yang lain dapat juga dijumpai unsur-unsur pembuktian tetapi pembuktian dalam keempat wacana lain (eksposisi, persuasi, deskripsi, dan narasi) sangat berbeda dengan sifat pembuktian argumentasi. Dapat diuraikan secara singkat, bahwa tulisan argumentasi merupakan bentuk wacana tulis yang bertujuan mengubah pikiran, sikap, pandangan dan perasaan seseorang dengan memberikan pembuktian (Dadot, 2009:1).

Lakhsmi (2009: 1) menyatakan bahwa argumentasi adalah tulisan yang ditulis bertujuan untuk meyakinkan pembaca, kebenaran fakta-fakta yang dipergunakan dapat menunjukan suatu peraturan yang logis menuju kepada suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas peneliti menarik kesimpulkan bahwa menulis argumentasi merupakan suatu bentuk menurunkan atau melukiskan lambang-lambang bahasa atau grafik untuk

commit to user

menuangkan ide ke dalam bahasa tulis secara jelas dan sistematis sebagai proses bernalar secara logis dan kritis untuk memberikan kebenaran guna meyakinkan, mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain (pembaca).

b. Dasar Penulisan Argumentasi

Argumentasi yang baik biasanya menggunakan kaidah-kaidah logika yang benar (Gorys Keraf, 2007: 101-102). Silogisme sering digunakan dalam mengungkapkan atau membentuk suatu paragraf argumentasi. Demikian juga kesesuaian isi dengan realitas kehidupan sehari-hari merupakan suatu landasan yang berguna dalam menyusun paragraf argumentasi. Dasar yang harus diperhatikan sebagai titik tolak argumentasi adalah:

1) Pembicaraan atau pengarang harus mengetahui sedikit tentang subyek yang akan dikemukakannya, sekurang-kurangnya mengetahui prinsip-prinsip ilmiahnya. Karena argumentasi pertama-tama didasarkan pada fakta, informasi, evidensi, dan jalan pikiran yang menghubungkan fakta-fakta dan informasi tersebut.

2) Pengarang harus bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Mempertimbangkan pendapat lawan adalah dengan tujuan untuk mengetahui apakah diantara fakta-fakta yang diajukan lawan ada yang dapat dipergunakannya, sehingga akan memperlemah pendapat lawan tadi. dan dapat juga terjadi bahwa fakta dan evidensi lawanlah yang benar, sehingga pendapat lawanlah yang harus diterima.

3) Pembicara atau penulis argumentasi harus berusaha untuk mengemukakan pokok persoalannya yang jelas. Ia juga harus mengemukakan pola konsep-konsep dan istilah yang tepat.

4) Pembicara atau penulis harus menyelidiki persyaratan mana yang masih diperlukan bagi tujuan-tujuan lain yang tercakup dalam persoalan yang dibahas itu, dan sampai dimana kebenaran dari pernyataan yang telah dirumuskannya.

commit to user

5) Dari semua maksud dan tujuan yang terkandung dalam persoalan itu, maksud yang mana lebih memuaskan pembicara atau penulis untuk menyampaikan masalahnya.

c. Mengemukakan Argumen

Sebagai bentuk tulisan yang paling umum digarap, argumentasi selalu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, tubuh argumentasi, dan kesimpulan (Gorys Keraf, 2007: 104 ).

1) Pendahuluan

Pendahuluan berfungsi menarik perhatian pembaca dengan menyajikan fakta-fakta pendahuluan memusatkan perhatian dan memahami argumentasi yang akan disampaikan pada bagian isi karangan. Dibagian pendahuluan ini dijelaskan latar belakang permasalahan. Secara ideal pendahuluan mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian pembaca yang tidak ahli sekalipun, serta memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta yang diperlukan untuk memahami argumentasinya. Kebanyakan penulis pemula menganggap pembaca sudah mengetahui sebagian besar permasalahan yang dibicarakan. sikap ini kurang menguntungkan dan hanya akan menggagalkan argumentasinya. 2) Tubuh Argumentasi

Seluruh isi argumentasi diarahkan kepada usaha penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran dari permasalahan yang dikemukakan sehingga kesimpulanya juga benar. Hal terpenting pada bagian tubuh argumentasi adalah mengajukan pembuktian mengenai benar tidaknya data dan informasi yang diperoleh berkaitan dengan permasalahan yang dikemukakan. Kebenaran faktual ini harus didukung proses penalaran yang sahih dan logis sehingga pendapat atau kesimpulan yang diturunkan tidak dapat dibantah oleh siapapun. Kebenaran dalam penalaran dan konklusi itu mencakup beberapa kemahiran: kecermatan menyeleksi fakta yang benar, kekritisan dalam memberikan penilaian, penyajian atau penyusunan bahan secara baik dan teratur. Penyajian fakta, kesaksian, perumusan premis-premis, dan sebagainya dengan benar.

commit to user 3) Kesimpulan

Penulis harus memerhatikan bahwa kesimpulan yang diturunkan tetap menjaga pencapaian tujuan, yaitu membuktikan kebenaran untuk mengubah sikap dan pendapat pembaca. Kesimpulan dapat berupa dalil yang telah teruji kebenarannya dalam isi argumentasi, atau berupa rangkuman umum dari materi yang telah dikemukakan.

Sementara itu, keberhasilan tulisan argumentasi terletak pada penulis dalam membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian. Saran yang harus ditetapkan oleh setiap pengarang argumentasi untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian menurut Amiruddin Aliah (2009: 1) adalah sebagai berikut:

1) Tulisan argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan. Untuk menunjukkan kebenaran tersebut, seorang penulis harus menyusun fakta-fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat diterima sehingga lawan tidak bisa mengajukan kesimpulan yang bertentangan dengan kesimpulannya itu.

2) Pengarang harus berusaha menghindari istilah yang dapat menimbulkan prasangka tertentu. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa istilah harus mewakili satu makna secara jelas dan tegas, terhindar dari perbedaan penafsiran antara proposisi yang dikemukakannya dengan harus terhindar dari makna yang diragukan.

3) Penulis harus membatasi pengertian istilah-istilah yang akan digunakan agar dapat meminimalkan kemungkinan timbulnya ketidaksesuaian pendapat karena perbedaan pengertian. Pembatasan definisi atau pengertian sebuah istilah hanya sekedar merupakan proses pembentukan makna untuk meletakkan dasar-dasar persamaan pengertian bagi istilah yang akan digunakan. Pembatasan itu sangat penting supaya tujuan utama jangan diabaikan atau terganggu hanya karena timbul ketidaksepakatan baru mengenai istilah itu.

commit to user

4) Penulis harus menetapkan secara tepat ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting sebab seperti analisis yang dipaparkan harus tampak jelas di mana letak perbedaan-perbedaan persoalan yang akan di argumentasikan itu. Dengan demikian, arah dan sasaran tulisan hanya dipusatkan kepada titik perbedaan itu.