LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
3. Hakikat Pembelajaran Menulis Argumentasi SMA
a. Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, bukan hanya mengingat melainkan juga mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan perilaku. Dengan kata lain, bukti bahwa seseorang telah melakukan kegiatan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada orang tersebut ke arah yang lebih baik. Hasil belajar terlihat dari perubahan pada aspek-aspek tingkah laku manusia seperti pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap, dan lain-lain.
Biggs dan Telfer (dalam Dimyati, 2002: 33) belajar sebagai sebuah proses yang kompleks dan berkesinambungan memiliki unsur-unsur dinamis di dalamnya, antara lain:
1) Motivasi siswa
Motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Motivasi belajar dapat bersumber dari diri siswa dan rangsangan dari luar siswa. Motivasi yang berasal dari dalam diri siswa lebih baik daripada rangsangan dari luar. Akan tetapi, sering kali untuk menumbuhkan motivasi dari dalam butuh rangsangan dari luar sehingga muncul motivasi yang tinggi untuk belajar.
2) Bahan belajar
Bahan belajar merupakan hal-hal yang diajarkan kepada siswa. Dalam menentukan bahan belajar, guru harus memerhatikan dan menyesuaikan dengan tujuan belajar. Tujuan tersebut meliputi
commit to user
pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang diharapkan ada pada diri siswa setelah mengalami proses belajar.
3) Alat bantu belajar
Alat bantu belajar dapat disebut alat peraga atau media belajar. Media belajar merupakan peralatan yang digunakan selama proses belajar supaya proses tersebut dapat berjalan dengan baik. Pemakaian media dimaksudkan agar proses belajar lebih menarik, materi menjadi konkret dan mudah dipahami, menghemat waktu dan tenaga, serta menjadikan hasil belajar lebih bermakna. Media yang dapat digunakan bisa berupa media yang dilihat saja (visual), yang dapat didengar saja (audio), yang dapat dilihat dan didengar (audiovisual), ataupun media yang bersumber dari peristiwa yang terjadi di masyarakat.
4) Suasana belajar
Suasana belajar merupakan kondisi yang tercipta selama proses belajar. Suasana sangat mendukung keberhasilan belajar siswa dan dapat menimbulakan motivasi siswa. Suasana yang menyenangkan dapat memunculkan kegairahan belajar dan menunjang kegiatan belajar yang efektif. Begitu pula sebaliknya, suasana yang membosankan menjadikan siswa jenuh dan tidak bersemangat dalam belajar. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu bekerja sama untuk menciptakan suasana belajar yang baik dan menyenangkan.
5) Kondisi subjek belajar
Subjek belajar tidak lain adalah siswa itu sendiri. Kondisi siswa turut membantu keberhasilan pembelajaran sebab dalam proses pembelajaran terdapat tiga hal pokok yakni input, proses, output. Suatu pembelajaran akan menghasilkan output yang baik manakala memiliki input dan proses yang baik pula, termasuk di dalam lingkungan dan kelengkapan pembelajaran yang lain. Kondisi subjek belajar disini meliputi kondisi jasmani dan rohani yang turut mempengaruhi kelancaran dan mendukung keberhasilan proses belajar.
commit to user
Pembelajaran merupakan peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dari belajar meskipun sebenarnya kedua hal tersebut adalah peristiwa yang berbeda. sering kali orang menyamakan istilah pembelajaran dengan istilah pengajaran karena tidak memahami hakikat kedua hal itu,memberikan batasan yang berbeda tentang istilah pembelajaran dan pengajaran. Dalam pengajaran, guru dan murid berada di kelas (ruang) formal sedangkan dalam pembelajaran, kegiatan belajar mengajar dapat terjadi meski tanpa kehadiran guru. Secara lebih lengkap, Dewi Salma Prawiradilaga (2008: 136) menyatakan bahwa pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. Dalam hal ini, proses belajar menjadi hal yang lebih ditekankan daripada hasil.
Oemar Hamalik (2001: 57) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Batasan tersebut membawa pengertian bahwa pembelajaran tidak terbatas di dalam ruang saja tetapi juga diselenggarakan di luar kelas bahkan luar sekolah. Pengertian pembelajaran yang lain didasarkan teori-teori belajar yang telah ada.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar guna mengubah perilaku yang lebih baik. Dalam usahanya guru didukung oleh adanya materi pelajaran yang sesuai metode dan penggunaan media yang tepat.
b. Pembelajaran Menulis Argumentasi
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra manusia Indonesia. Pada jenjang SMA, standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi minimal peserta didik yang menggambarkan pengguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra
commit to user
Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 260)
Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan satu aspek yang harus diajarkan kepada siswa yang terangkum dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Di dalam kurikulum saat ini, untuk siswa kelas X ada beberapa keterampilan menulis yang harus dikuasai oleh siswa baik menulis dalam ranah kebahasaan maupun dalam ranah sastra. Salah satu kemampuan yang menulis yang yang harus dikuasai oleh siswa kelas X SMA adalah menulis paragraf argumentasi. Berdasarkan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), menulis argumentasi diberikan pada semester kedua dengan standar kompetensi, mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato. Adapun kompetensi dasarnya adalah menulis gagasan untuk mendukung pendapat dalam bentuk paragraf argumentasi.
Materi yang harus disampaikan guru dalam membelajarakan keterampilan menulis argumentasi meliputi ciri-ciri paragraf argumentasi, topi-topik paragraf argumentasi, kerangka paragraf argumentasi, dan penggunaan kata penghubung antar klausa dalam paragraf argumentasi. Untuk memperjelas materi tersebut, guru perlu memberikan contoh paragraf argumentasi.
Selama pembelajaran menulis argumentasi berlangsung, kegiatan yang diharapkan antara lain: (1) membaca paragraf argumentasi, (2) mengidentifikasi karakteristik paragraf argumentasi, (3) menulis paragraf argumentasi, (4) menggunakan kata penghubung antar klausa dalam paragraf argumentasi, dan (5) menyunting paragraf argumentasi yang ditulis teman.
Di akhir pembelajaran menulis argumentasi diharapkan siswa mampu: (1) mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentasi, (2) menyusun kerangka paragraf argumentasi, (3) mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf argumentasi,
commit to user
(4) menggunakan kata penghubung antar klausa dalam paragraf argumentasi, dan (5) menyunting paragraf argumentasi yang ditulis teman.
Menulis argumentasi sendiri merupakan suatu proses merangkai ide atau gagasan, menyampaikannya dalam bahasa tulis dan bertujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam tulisan tersebut harus termuat ajakan agar pembaca percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis. Supaya mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal, guru harus memberi pemahaman yang jelas tentang tulisan argumentasi yang benar serta menggunakan metode mengajar yang tepat atau dengan memanfaatkan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan menggairahkan belajar siswa.
c. Penilaian Keterampilan Menulis Argumentasi
Menulis sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksudkan pengarang. Dalam aktivitas menulis tersebut, yang pertama menekankan unsur bahasa, sedangkan yang kedua gagasan. Kedua unsur tersebut dalam tugas-tugas menulis yang dilakukan di sekolah hendaknya diberi penekanan yang sama. Artinya, walaupun tugas itu diberikan dalam rangka mengukur kemampuan berbahasa, penilaian yang dilakukan sebaiknya mempertimbangkan ketepatan bahasa dalam kaitannya dengan konteks dan isi. Jadi, penilaian ditekankan pada kemampuan siswa mengorganisasikan dan mengemukakan gagasan dalam bentuk bahasa secara tepat (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 298).
Lebih lanjut, diungkapkan bahwa penilaian terhadap karangan bebas mempunyai kelemahan pokok, yaitu rendahnya kadar objektivitas Toto Sutarto G. Utari (2006: 18). Dalam hal ini, unsur subjektivitas penilai pasti berpengaruh. Sebuah karangan yang dinilai oleh dua orang atau lebih biasanya tidak akan sama skornya. Bahkan, sebuah karangan dinilai oleh hanya seorang penilai pun kondisinya berlainan. Ada kemungkinan skor yang diberikan berbeda. Masalah yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara memilih
commit to user
model penilaian yang memungkinkan penilai untuk memperkecil kadar subjektivitas dirinya.
Sementara itu, Zaini Machmoed (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2001: 305) menyatakan bahwa penilaian yang bersifat holistik memang diperlukan. Akan tetapi, guru dapat menilai secara lebih objektif dan dapat memeroleh informasi yang lebih terinci tentang kemampuan siswa untuk keperluan diagnostik-edukatif, penilaian hendaknya sekaligus disertai dengan penilaian yang bersifat analitis. Penilaian dengan pendekatan analisis merinci karangan ke dalam aspek-aspek atau kategori-kategori tertentu, merinci karangan ke dalam kategori-kategori tersebut antara karangan yang satu dengan yang lain dapat berbeda tergantung jenis karangan itu sendiri. Walaupun pengkategorian itu bervariasi hendaknya kategori tersebut meliputi 5 pokok, yaitu (1) kualitas dan ruang lingkup isi, (2) organisasi dan penyajian isi, (3) gaya dan bentuk bahasa, (4) mekanik: tata bahasa, ejaan, tanda baca, kerapian tulisan, dan kebersihan, dan (5) respon afektif guru terhadap karya tulis. Toto Sutarto G. Utari (2006: 19) menyatakan penilaian merupakan tindakan untuk menetapkan keberhasilan suatu program pendidikan yang diikuti. Selain itu beliau juga menyatakan penilaian merupakan proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Hartfield (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2001: 307) mengemukakan salah satu model yang lebih rinci dalam melakukan penyekoran, yaitu dengan mengunakan model skala interval untuk tiap tingkat tertentu pada tiap aspek yang dinilai. Model penilaian ini lebih rinci dan teliti dalam memberikan skor, Model Penilaian Tugas Menulis dengan Skala Interval kiranya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Model tersebut adalah model penilaian yang banyak digunakan pada program ESL (English as a Second Language), yaitu sebagai berikut.
commit to user
Tabel 3. Model Penilaian Tugas Menulis Argumentasi dengan Skala Interval
Aspek Skor Kriteria
I S I 27-30 22-26 17-21 13-16 Sangat baik Baik Cukup Kurang
Pengembangan ide argumen tuntas * isi karikatur dikembangkan dengan baik * substansif argumen relevan dengan permasalahan dan tuntas
Pengembangan ide argumen terbatas * isi karikatur dikembangkan dengan tidak lengkap * substansi cukup relevan dengan masalah tetapi tak lengkap
Pengembangan ide argumen kurang * isi karikatur kurang dikembangkan * substansi kurang * fakta pendukung argumen kurang.
Tak berisi argumen* tak ada substansi argumen * tak ada pengembangan argumen * tak ada fakta argumen
O R G A N I S A S I 18 -20 14-17 10 –13 7 – 9 Sangat baik Baik Cukup Kurang
Gagasan diungkapkan dengan baik* padat tertata urutan argumen yang logis *urutan logis kohesif dan koheren Argumen kurang terorganisasi tetapi ide utama terlihat* bahan pendukung argumen terbatas*urutan logis tetapi tidak lengkap.
Gagasan kacau terpotong-potong* urutan dan pengembangan argumen tidak logis.
Argumen tidak terorganisir dengan baik *tidak layak nilai.
commit to user K O S A K A T A 18 -20 14-17 10– 13 7 – 9 Sangat baik Baik Cukup Kurang
Pemanfaatan potensi kata maksimal * pilihan dan ungkapan kata tepat * menguasai pembentukan kata.
Pemanfaatan potensi kata cukup * pilihan dan ungkapan kata kadang-kadang kurang tepat tapi tidak mengganggu.
Pemanfaatan potensi kata terbatas * sering terjadi kesalahan penggunaan kata dan dapat merusak makna.
Pemanfataan potensi kata asal-asalan * pengetahuan tentang kosa-kata rendah *tidak layak nilai
P E N G E B A H A S A 22 -25 18 - 21 11– 17 5 – 10 Sangat baik Baik Cukup Kurang
Konstruksi kompleks tetapi efektif * hanya terdapat sedikit kesalahan penggunaan bentuk bahasa.
Konstruksi sederhana tetapi efektif * kesalahan kecil pada kontruksi kompleks *terjadi sejumlah kesalahan tetapi makna tidak kabur
Terjadi kesalahan serius dalam konstruksi kalimat * makna membingungkan atau kabur.
Tidak menguasai aturan sintaksis * terdapat banyak kesalahan * tidak komunikatif * tidak layak nilai.
commit to user M E K A N I K 5