BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS
2.2 Landasan Teoretis
2.2.1 Hakikat Menulis Kreatif
Dalam hakikat menulis kreatif ini akan dijelaskan pengertian menulis kreatif cerpen, tujuan menulis kreatif dan langkah-langkah menulis cerpen.
2.2.1.1 Pengertian Menulis Kreatif Cerpen
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Selain itu keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur (Tarigan 1983: 3-4).
Menurut Subyantoro (2001: 3), “Menulis adalah suatu proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tulis. Ide atau gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam wujud rangkaian kalimat-kalimat”. Bila menulis dikaitkan dengan kegiatan membaca pada prinsipnya menulis adalah untuk dibaca orang lain. Debbi Depotter dalam Komaidi (2007: 19) menyebutkan bahwa menulis adalah aktifitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Jadi menurutnya, tulisan yang baik adalah tulisan seorang yang memanfaatkan kedua belahan otak tersebut.
Menurut Wiyanto (2004: 1-2), menulis mempunyai dua arti. Pertama, menulis berarti mengubah tanda-tanda yang data didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat. Bunyi-bunyi yang diubah itu bunyi bahasa, yaitu bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia (mulut dan perangkat kelengkapannya = bibir, lidah gigi dan langit-langit). Bunyi bahasa itu sebenarnya menjadi lambang atau sesuatu yang lain. Yang diwakili dapat berupa benda, perbuatan, sifat, dll. Kedua, kata menulis mempunyai arti mengungkapkan gagasan secara terulis. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut penulis dan hasil kegiatan ini adalah tulisan.
Roekhan dalam Wahdah (2008: 23) menyatakan beberapa pengertian kreativitas. Kreativitas merupakan kecenderungan jiwa dan batin seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru dan lain dari umum. Kreativitas merupakan bentuk berpikir yang cenderung jlimet dan menentang arus (menentang pemikiran umum). Kreativitas merupakan hasil kerja yang cenderung kebaruan.
Menurut Komaidi (2008: 6) Proses menulis kreatif adalah suatu proses bagaimana gagasan lahir dan diciptakan oleh seorang penulis menjadi sebuah karya tulis. Laksana (2007 :1-3) mengungkapkan bahwa menulis kreatif merupakan sebuah upaya untuk melatih kita berpikir lebih baik dan dengan demikian menulis kreatif juga merupakan latihan terus menerus untuk memelihara akal sehat.
Menurut Suharianto (2005: 2) dalam menulis kreatif ada dua hal yang sangat penting yang dominan dalam setiap kerja kepengarangan kedua hal tersebut adalah daya imajinasi dan daya kreasi. Daya imajinasi adalah daya membayangkan atau mengkhayalkan segala sesuatu yang pernah menyentuh perasaan atau singgah dalam pikirannya, suatu kemampuan mengembalikan segala sesuatu yang pernah dialaminya tersebut sehingga tampak lebih jelas.
Sedangkan daya kreasi adalah daya menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan menghasilkan sesuatu yang asli yang lain daripada yang pernah ada.
Dalam penulisan kreatif sastra terdapat tiga unsur penting yakni (1) kreativitas, (2) bekal kemampuan bahasa, dan (3) bekal kemampuan sastra.
Kreativitas sangat penting untuk memacu munculnya ide-ide baru, menagkap dan mematangkan ide, mendayagunakan bahasa secara optimal, dan mendayagunakan bekal sastra untuk dapat menghasilkan karya-karya sastra yang berwarna baru.
Bekal bahasa sangat penting artinya, karena bahasa merupakan sarana untuk menulis. Tanpa bahasa tidak akan lahir karya sastra. Tanpa memiliki bekal bahasa yang memadai, baik tentang kaidah bahasa ataupun keterampilan berbahasa sulit bagi penulis dalam memanfaatkan bahasa tersebut dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan proses kreatifnya.
Bekal sastra juga amat penting bagi penulis untuk memehami apa faktor-faktor penting dalam sastra, pada aspek kebaruan karya sastra itu dapat dikenali dan untuk memahami letak kekuatan karya sastra. Bekal karya sastra ini mencakup pengetahuan tentang sastra dan pengalaman bersastra, baik pengalaman apresiasi sastra maupun pengalaman menulis sastra.
Jadi dapat disimpulkan bahwa menulis kreatif adalah suatu kegiatan atau proses mengungkapkan gagasan, yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang bersifat imajinatif dan kreatif yaitu karya sastra sebagai sesuatu yang bermakna dengan memanfaatkan berbagai pengalaman dalam kehidupan nyata.
Menulis kreatif cerpen adalah penciptaan karya sastra yang didasarkan pada kehidupan manusia yang mempunyai nilai-nilai yang bermakna dalam
kehidupan, yang mengarahkan, dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerpen hanya rekayasa pengarangnya, demikian juga pelaku yang terlibat dalam peristiwa itu. Cerita dalam cerpen masuk akal namun hanya sebuah cerita fiksi atau khayal.
2.2.1.2 Tujuan Menulis Kreatif
Tujuan menulis kreatif adalah untuk mencapai nilai artistik dan nilai-nilai keserasian. Terdapat dua unsur yang dapat dicapai melalui kegiatan menulis kreatif, yakni yang bersifat apresiatif dan yang bersifat ekspresif. Apresiatif maksudnya bahwa malalui kegiatan penulisan kreatif orang dapat mengenal, menyenangi, menikmati, dan mungkin menciptakan kembali secara kritis sebagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan cara sendiri. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang mengganjal dalam diri kita untuk dikomunikasikan kepada orang lain dalam dan melalui tulisan kreatif, sebagai sesuatu yang bermakna.
Kedua tujuan tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pembentukan pribadi kreatif. Dalam kaitan ini, kepribadian hendaknya dipahami tidak hanya sebagai kumpulan sejumlah unsur kepribadian. Berdasarkan kenyataan harus diakui bahwa ciri-ciri yang melekat pada pribadi yang kreatif antara ciri yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan secara tegas.
Ciri-ciri pribadi kreatif tersebut adalah (1) keterbukaan terhadap pengalaman baru, (2) keluwesan dalam berpikir, (3) kebebasan dalam
mengemukakan pendapat, (4) kaya imajinasi, (5) perhatian yang besar terhadap kegiatan cipta mencipta, (6) keteguhan dalam mengajukan pendapat atau pandangan, dan (7) kemandirian dalam mengambil keputusan (Sayuti 2002:2-3)
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa menulis kreatif bertujuan untuk mengekspresikan perasaan, memberi informasi kepada pembaca, meyakinkan pembaca, untuk memberikan hiburan dan melatih untuk terampil menulis kreatif.
2.2.1.3 Langkah-langkah Menulis Cerpen
Menurut Komaidi (2008: 183-185), terdapat lima langkah menulis cerpen: 1. Mencari ide, gagasan, atau inspirasi
Ide sebenarnya sangat banyak sekali ketika seseorang mau kritis dan peka pada kehidupan sekitarnya. Ide bisa diperoleh dari membaca buku, koran, berbincang-bincang dengan orang lain, melihat alam sekitar, dan masih banyak sekali cara untuk mendapatkan ide. Namun tidak semua ide dapat ditulis karena begitu banyaknya, untuk itu bawalah catatalah setiap ide yang muncul dalam pikiran, jadi ketika sewaktu-waktu membutuhkannya dapat dilihat dengan mudah dalam catatan atau juga dapat mengingatnya dengan membuat mind mapping.
2. Membuat kerangka karangan
Kerangka karangan adalah berisi garis besar cerita atau poin-poin penting cerita pada bagian awal, tengah dan akhir. Seperti setting, tokoh, alur cerita, masalah atau konflik, dan solusi atau pemecahan. Dengan kerangka tersebut
akan sangat membantu bagi penulis menyusun cerita lebih detail dan mau dibawa ke mana cerpennya.
3. Menulis cerita
Menuliskannya dengan mesin ketik atau komputer (menuangkannya dalam bentuk tulisan). Kiat awal adalah selesaikan dulu cerita apapun bentuknya hingga selesai. Dengan selesainya cerita kita bisa membaca dan menemukan kelebihan dan kekurangannya lalu kemudian baru memperbaikinya.
4. Mengoreksi naskah
Setelah sebuah cerita selesai ditulis dari awal hingga akhir, cobalah endapkan dulu beberapa saat atau sehari dua hari, lalu cobalah baca dan koreksi, nanti akan kelihatan dengan sendirinya apa yang kurang sehingga bisa diperbaiki. Setelah itu barulah perbaiki tulisan.
5. Mengirim ke media massa.
Dengan mengirim naskah cerpen ke media massa, kita dapat menguji kualitas cerpen kita. Lebih dari itu mungkin cerpen tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain, setidaknya menghibur, memberi inspirasi, pelajaran baik bagi orang lain. Jadi setelah naskah cerpen dikoreksi secara sempurna, coba kirim naskah cerpen ke media massa.