• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Manfaat Penelitian

2. Hakikat Metode Kombinasi

Untuk menentukan metode yang tepat dalam mencapai tujuan, seperti halnya guling belakang, maka dalam proses pembelajaran gulin belakang akan dikembangkan dalam beban kerja, lamanya aktivitas dan intensitas latihan yang memenuhi ketentuan. Tipe kegiatan untuk meningkatkan guling belakang juga harus sesuai dengan perkembangan dengan kelentukan, dimana kelentukan akan meningkatkan pula tahanan dan daya tahan dalam melakukan gerakan yang dibutuhkan. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran. Saylor (1981 : 227) dalam Mulyasa 2006 : 246 menyatakan bahwa :

“Instruction is dus the implementationof curiculum plan, usually but not neccessarily involving teaching interaction in and educational setting”

.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran dan penilaian adalah opreasionalisasi konsep KTSP yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Mosston (1993) dalam Mahendra (2000 : 99) menguraikan bahwa :

Gaya mengajar bersifat continue terdiri dari 11 gaya dimana masing-masing gaya memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahannya oleh karena itu untuk memanfaatkan kelebihan dari setiap gaya guru harus mampu menggunakan gaya yang bervariasi dalam pembelajarannya artinya ketika guru mengajar, guru harus mengkombinasikan gaya-gaya mengajar yang berbeda untuk mencari kemungkinan terbaik serta mencari kesesuaian dengan gaya belajar murid.

Pengembangan pembelajaran adalah usaha memberikan masukan tentang kecakupan komponen-komponen belajar yang menghidupkan implementasi kurikulum melalui satuan pelajaran agar lebih bermakna bagi murid secara terarah dan terintegretit.

Dalam Arma Abdullah dan Agus Manadji (1994 : 179) :

Diuraikan teori Gestalt yang paling mempunyai implikasi-implikasi untuk pendidikan jasmani adalah metode keseluruhan. Teori ini didasarkan pada dasar pikiran bahwa seorang bereaksi sebagai keseluruhan terhadap situasi apapun. Konsep-konsep penting kaitannya dengan metode keseluruhan adalah : a). Suatu keseluruhan lebih besar dari pada jumlah bagian-bagiannya. b). Suatu keseluruhan tidak semata-mata sebagai penjumlahan dari bagian-bagiannya. c). Keseluruhan pola dari suatu keseluruhan memiliki karakteristiknya.

Selanjutnya Magill (1993 : 297), menjelaskan bahwa :

“Metode kombinasi adalah dimana bagian-bagian atau komponen-komponen gerak tertentu saling dikombinasikan”.

seperti halnya dengan gerakan guling belakang dalam senam lantai, karena tidak bisa diajarkan secara bagian maupun keseluruhan saja.

Menurut Supandi (1992 : 20) terdapat dua masalah pokok yang menjadi masalah model pembelajaran melalui gerakan bagian yaitu :

“’Pertama, urutan bagian-bagian yang harus dikuasai murid, yang kedua ialah menganalisis bahan menjadi bagian-bagian yang membangun keutuhan bahan’. Bagian-bagian yang tidak mempunyai hubungan dengan utuh justru akan menyimpang dari tujuan instruksional yang ditetapkan”.

Prinsip global dan parsial bukanlah suatu perbedaan yang hakiki. Tujuan dan bahan pelajaran itu sama, yang berbeda ialah urutan pemberian bahan tersebut. Oleh karena itu setiap guru hendaknya mampu menyusun strategi belajar pembelajaran dengan dua pendekatan ini. Selain itu, ada

juga yang menggabungkan kedua prinsip ini dalam satu metode yang disebut metode global parsial.

Selanjutnya Menurut Supandi dijelaskan pula tentang penyajian konsep bahwa :

“Pada langkah ini konsep gerakan atau keterampilan gerak itu disampaikan melalui pelbagai media pembelajaran”.

Tujuannya ialah membentuk persepsi yang utuh dan jelas, slide, film dan demonstrasi bisa dipergunakan dalam langkah ini :

a). Praktek secara keseluruhan

Gerakan atau keterampilan fisik yang menjadi pokok bahasan itu dipraktekkan secara utuh, maksudnya ialah menanamkan kesan motorik atau gerak secara umum kepada murid.

b). Berlatih bagian

Langkah ini berisi latihan-latihan yang menekankan pada bagian-bagian dari gerak atau keterampilan motorik yang menjadi pokok bahasan. Tujuannya ialah agar murid menguasai bagian ini dengan tepat.

c). Praktek secara keseluruhan

Setelah berlatih bagian-bagian, murid kembali mempraktekkan gerakan atau keterampilan motorik yang dipelajarinya secara utuh. d). Berlatih bagian

Setelah praktek secara keseluruhan, murid kembali dengan latihan bagian.

“Langkah praktek global dan parsial itu dapat dilakukan silih berganti sampai dianggap cukup” (Supandi, 1992 : 20).

Langkah-langkah tersebut di atas tentu saja dapat bervariasi dan diubah-ubah, dimodifikasi dan dikembangkan lebih lanjut, berkaitan dengan keterampilan yang terkait suatu tugas majemuk, tentunya memiliki banyak komponen gerak yang harus dipertimbangkan.

“Sedangkan ‘tatanan tugas’ (task organization) adalah menunjukkan bagaimana komponen gerak bersifat saling berhubungan atau saling bertalian antara satu dengan lain, berarti bahwa keterampilan bersangkutan memiliki intensitas tatanan tinggi” (Magill, 1993 : 298).

Dari uraian di atas maka jelas bahwa gerakan guling belakang 7 tahap termasuk memiliki kemajemukan gerakan yang tinggi, disamping itu gerakan-gerakan didalamnya saling memiliki ketergantungan antara satu dengan lain dan saling berdiri sendiri berarti memiliki tatanan tugas berintensitas sedang, maka penerapan pengajarannya melalui metode kombinasi dimana bagian-bagian atau komponen-komponen gerak tertentu saling dikombinasikan, tetapi komponen-komponen gerak tertentu harus dilaksanakan sendiri-sendiri.

Selanjutnya Wightman dan Lintern (1985) dalam Magill (1993 : 299), mengemukakan 3 jenis metode, antara lain :

a) Fractionization, cara ini mempraktekkan setiap komponen gerak secara sendiri-sendiri. b) Segmentation, cara ini membagi komponen-komponen gerak, dan setelah satu komponen-komponen telah dipraktekkan, kemudian akan dipraktekkan lagi bersama-sama dengan komponen berikutnya. Cara ini disebut “progressive part”. c) Simplification (penyederhanaan), cara ini sifatnya mengurangi intensitas kesulitan setiap komponen gerak, yang sulit dapat disederhanakan intensitas kesulitannya.

Jika murid-murid telah mampu mempraktekkan bentuk ini, baru dimintakan untuk mempraktekkan komponen gerak yang memiliki intensitas kesulitan yang sesungguhnya.

Hal ini jelas bahwa komponen-komponen gerakan mana harus dipraktekkan secara sendiri-sendiri dan komponen-komponen mana harus dilaksanakan secara kombinasi, sedangkan komponen-komponen sifatnya saling memiliki ketergantungan atau saling berhubungan harus dipraktekkan bersama-sama dan komponen-komponen yang tidak saling berhubungan harus dipraktekkan sendiri-sendiri.

Dari penjelasan di atas maka metode kombinasi 4 tahap sebagai taraf pertama, dan metode kombinasi 7 tahap sebagai taraf kedua dalam penelitian ini. Dari teori diatas peneliti ingin menetapkan metode kombinasi itu yang terpenting adalah tahapnya. Maka penelitian ini membagi menjadi metode kombinasi 4 tahap dan 7 tahap.