• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI DAN RUMUSAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

2. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Struktural Dengan Teknik Make A Match

a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Toeti Sukamto dan Udin Saripudin Winataputera dalam Anton Sukarno (2006: 1440), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang, pembelajar dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan belajar mengajar. Senada dengan pendapat tersebut, Arends dalam Trianto (2007: 4) mengemukakan, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Slavin dalam Isjoni (2010: 22), “In

cooperative learning methods, students work together in four member teams to

master material initially presented by the theacher”, dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah empat orang, secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta siswa lebih bergairah dalam belajar. Selaras dengan pendapat tersebut, menurut Johnson dalam Isjoni dan Mohd. Arif Ismail (2008: 150), pembelajaran kooperatif mengandung arti bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif siswa mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok.

Anita Lie dalam Isjoni dan Mohd. Arif Ismail (2008: 150) menyebut pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong-royong, yaitu kelompok pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Senada dengan pendapat Anita Lie, Sugiyanto (2009: 37) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

commit to user

Menurut Johnson & Johnson dalam Isjoni dan Mohd. Arif Ismail (2008: 152) pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang berkelompok, sama dengan pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Senada dengan pendapat tersebut, Sunal dan Hans dalam Isjoni (2010: 15) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberikan dorongan pada siswa agar bekerja sama selama pembelajaran.

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara membentuk berkelompok-kelompok kecil, dalam proses pembelajaran anggota kelompok bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain dalam tugas-tugas yang terstruktur sehingga setiap siswa mendapatkan pengalaman yang sama. Hal ini didasarkan pada manusia yang memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta masa depan yang berbeda-beda. Dengan perbedaan itulah manusia dapat saling asah, asih dan asuh atau dengan kata lain saling mencerdaskan.

b. Elemen Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang

mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. elemen pembelajaran kooperatif menurut Lie dalam Sugiyanto (2009: 40) adalah sebagai berikut.

1). Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan ketergantungan positif, yang meliputi saling ketergantungan dalam mencapai tujuan, saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.

2). Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa siswa untuk saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka saling berdialog. Interaksi tersebut sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari teman sebaya.

3). Akuntabilitas individual

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujud dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi

commit to user

pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan. Penilaian kelompok didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.

4). Keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi

Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan sosial, akan memperoleh teguran dari guru dan sesama siswa.

c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Adapun tujuan dari pembelajaran kooperatif menurut Agus Suprijono (2010: 54) adalah sebagai berikut ini.

1). Hasil belajar akademik, yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit.

2). Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang.

3). Pengembangan keterampilan sosial, yaitu untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.

d. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Lungdren dalam Isjoni (2010: 16) sebagai berikut:

1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.

2. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

commit to user

4. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota kelompok.

5. Para siswa diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

7. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual meteri yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

e. Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif

Fase-fase model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Fase-fase model pembelajaran kooperatif

Fase Indikator Aktivitas Guru

1 Menyampaikan tujuan dan

memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang

ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan

memotivasi siswa

2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan

jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

3 Mengorganisasikan siswa

ke dalam

kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien

4 Membimbing kelompok

bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas

5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang

telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.

commit to user f. Metode Pembelajaran Kooperatif

Dalam Sugiyanto (2009: 44), disebutkan bahwa metode pembelajaran kooperatif diantaranya adalah sebagai berikut ini.

1). Metode STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan dari Universitas John Hopkins. Metode ini dipandang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif.

2). Metode Jigsaw

Metode Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan.

3). Metode GI (Group Investigation)

Dasar-dasar metode GI dirancang oleh Herbert Thelen kemudian diperluas dan diperbaiki oleh Sharn dan kawan-kawan dari Universitas Tel Aviv. Metode GI dipandang paling kompleks dan paling sulit pelaksanaannya dalam pembelajaran. 4). Metode Struktural

Metode struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawan. Metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Menurut Sugiyanto (2009: 49) beberapa teknik dalam metode struktural adalah sebagai berikut:

a). teknik make a match

b). teknik bertukar pasangan c). teknik berkirim salam dan soal d). teknik bercerita pasangan

e). teknik dua tinggal dua tamu (Two Stay Two Stray) f). teknik keliling kelompok

g). teknik kancing gemerincing h). teknik tebak pelajaran i). teknik TQ (Team Quiz).

commit to user

Dalam penelitian ini, metode pembelajaran yang digunakan adalah metode struktural dengan teknik make a match.

g. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Cilibert Macmilan dalam Isjoni dan Muhd. Arif Ismail (2008: 157) kelebihan dari model pembelajaran kooperatif yaitu lebih memberi peluang kepada siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan dan pengalaman yang diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah suatu pandangan kelompok. Sedangkan menurut Sharan dalam Isjoni dan Muhd. Arif Ismail (2008: 157) siswa yang belajar dengan menggunakan jenis pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena dibantu dari rekan sebaya.

Menurut Sugiyanto (2009: 43), kelebihan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

1. meningkatnya kepekaan dan kesetiakawanan sosial

2. memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan

3. memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial

4. memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen 5. menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois

6. membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa

7. berbagai ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan

8. meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia

9. meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif

10. meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik 11. meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan,

jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas. Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran ini adalah adanya kemungkinan siswa tidak aktif dalam kegiatan diskusi kelompok sehingga perlu adanya tindakan guru untuk mengkondisikan siswa.

commit to user

h. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match

Menurut Isjoni (2009: 34), pembelajaran kooperatif teknik make a match

adalah teknik pembelajaran yang dikembangkan oleh Loma Curran. Yaitu dalam pembelajaran siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu topik dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Seiring dengan pendapat tersebut, Agus Suprijono (2010: 120) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif teknik make a match adalah suatu pembelajaran yang di dalamnya terdapat kegiatan mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban mengenai materi pelajaran.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif teknik make a match adalah suatu pembelajaran yang di dalamnya terdapat kegiatan siswa mencari pasangan dari kartu soal atau kartu jawaban mengenai suatu materi pelajaran dalam suasana yang menyenangkan.

i. Langkah Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match

Menurut Hanafiah dan Cucu Suhana (2009: 46) langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah sebagai berikut ini.

1). Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

2). Setiap siswa mendapat satu buah kartu.

3). Setiap siswa memikirkan jawaban atas soal dari kartu yang dipegang.

4). Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban).

5). Setiap siswa yang dapat menjodohkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6). Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang

berbeda dari sebelumnya. 7). Pembahasan dan kesimpulan.

Sedangkan menurut Tarmizi (http://tarmizi.wordpress.com, 14 Desember 2010) langkah pembelajaran dengan make a match adalah sebagai berikut ini:

commit to user

1). Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

2). Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 3). Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

4). Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).

5). Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6). Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat

menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.

7). Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

8). Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.

9). Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

Kedua pendapat tersebut pada dasarnya memiliki langkah yang sama, hanya saja pendapat dari Tarmizi menggunakan hukuman bagi siswa yang melewati batas waktu dalam mencari pasangan dari soal atau jawabannya.

Seiring dengan kedua pendapat tersebut di atas, menurut Agus Suprijono (2010:120), langkah pembelajaran dengan teknik make a match adalah sebagai berikut ini:

1). Guru membagi siswa menjadi dua kelompok, yaitu kelompok soal dan kelompok jawaban.

2). Setiap siswa diberi satu kartu soal/ kartu jawaban yang telah disiapkan guru. 3). Setiap siswa diharapkan mampu menemukan pasangan dari kartu yang

didapatnya.

commit to user

5). Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, setiap pasangan membacakan dengan keras soal yang diperoleh pada teman-temannya yang lainnya. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya.

6). Akhir pembelajaran dilakukan klarifikasi dan kesimpulan.

Dalam penelitian ini, langkah pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif teknik make a match yang digunakan sebagai berikut ini:

1). Guru membagi jumlah siswa menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pertama sebagai kelompok soal dan kelompok kedua sebagai kelompok jawaban.

2). Guru membagikan kartu soal pada tiap-tiap siswa di kelompok 1 (kelompok soal), dan membagikan kartu jawaban pada kelompok kedua (kelompok jawaban). 3). Masing-masing siswa segera mencari pasangan dari kartu yang didapatnya. 4). Setelah berhasil menemukan pasangan dari kartunya, siswa melapor pada guru. 5). Siswa beserta pasangannya berdiskusi mengenai penyelesaian dari soal yang

didapat (dari kartu soal) sehingga diketemukan kartu jawaban pada pasangannya tersebut.

6). Siswa beserta pasangannya secara bergantian mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.

7). Siswa yang berhasil menemukan pasangan dari kartu yang didapatnya dan dapat mempresentasikan hasil diskusinya dengan baik mendapatkan poin (reward) dari guru.

8). Guru beserta siswa membuat kesimpulan dari pelajaran.

j. Keunggulan dan Kelemahan Teknik Make A Match

Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Pada penerapan teknik make a match, diperoleh beberapa temuan bahwa teknik make a match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Sedangkan kelemahan dari metode ini ialah jika kelas

commit to user

termasuk kelas gemuk (lebih dari 30 orang/kelas) karena jika guru kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali. Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri kanannya.

k. Penerapan Teknik Make A Match pada Pelajaran Matematika

Penerapan teknik make a match dalam mata pelajaran matematika tentunya tidak bisa disamakan dengan mata pelajaran yang lain. Pelajaran matematika pada penelitian ini menitik beratkan pada kemampuan operasi hitung pecahan yang terdiri dari perkalian berbagai bentuk pecahan dan pembagian berbagai bentuk pecahan. Dalam pembelajaran dengan teknik make a match ini, dalam mencari kartu jawaban dari kartu soal yang didapatnya, siswa terlebih dahulu menghitung dan mencari penyelesaian dari soal yang didapatnya. Kemudian juga terdapat sesi diskusi dengan pasangannya guna memecahkan penyelesaian soal pada kartu soal sehingga didapatkan jawaban pada kartu jawaban. Dalam kegiatan ini terjadi transfer knowledge dari satu siswa ke siswa yang lain.

Pada sesi presentasi masing-masing pasangan mengemukakan hasil diskusi mereka pada teman-teman sekelas mengenai penyelesaian dari soal yang didapatnya sehingga dapat didapat jawaban dari kartu pasangannya.

l. Pengertian Pembelajaran

Menurut Winarno Surakhmad (2009: 346), pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan konsep tersebut, dalam kata “pembelajaran” terkandung dua

kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Kedua kegiatan itu berkaitan dengan upaya membelajarkan siswa agar berkembang potensi intelektualnya. Pembelajaran ini menuntut komunikasi dua arah dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru.

Seiring dengan pendapat tersebut, Sudirwo dalam Sambas Ali. M (http://sambasalim.com /pendidikan/ kualitas-proses-pembelajaran.html, 17 Maret 2011) pembelajaran adalah interaksi belajar mengajar dalam suasana interaktif yang terarah pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. E. Mulyasa dalam Sambas Ali. M (http://sambasalim.com/pendidikan/kualitas-proses-pembelajaran. html, 17

commit to user

Maret 2011) juga menyatakan bahwa pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Berdasarkan ketiga definisi pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada lingkungan belajar yang terarah pada tujuan pembelajaran.

m. Pembelajaran yang Berkualitas

Menurut Winarno Surakhmad (2009: 354), pembelajaran yang berkualitas sekurang-kurangnya mendudukkan peserta didik sebagai pembelajar yang berkualitas, yang difasilitasi oleh guru yang berkualitas, dengan didukung ekosistem pembelajaran berkualitas di dalam konteks lembaga pembelajaran yang berkualitas. Hanya pembelajaran yang berkualitas yang mampu menghasilkan pembelajaran lebih baik. Jadi, komponen penentu kualitas pembelajaran terletak pada pembelajar (siswa), program pengajaran, ekosistem pembelajaran, lembaga pembelajaran, dan fasilitator pembelajaran.

1). Pembelajar (siswa)

Siswa sebagai pelaku proses pembelajaran seringkali dianggap sebagi tokoh yang paling utama dalam penentu kualitas pembelajaran. Padahal hal tersebut sangat tidak tepat karena siswa bukanlah satu-satunya alat ukur dari kualitas pembelajaran. Siswa yang berkualitas adalah siswa yang siap secara jasmani dan rohani.

2). Program Pembelajaran

Program pembelajaran meliputi materi pembelajaran yang digunakan. materi yang berkualitas dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut ini: a). materi pembelajaran harus selaras dengan kurukulum yang berlaku.

b).materi pembelajaran harus sesuai dengan perkembangan teknologi dan komunikasi.

c). materi pembelajaran harus sesuai dengan tuntutan masyarakat. d). materi pembelajaran harus sesuai dengan kehidupan peserta didik.

commit to user

3). Ekosistem Pembelajaran

Ekosistem pembelajaran mencakup tiga hal yaitu ekosistem keluarga, ekosistem sekolah dan ekosistem masyarakat. Ketiga ekosistem tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga peran ketiganya sangat penting dan mempengaruhi kualitas pembelajaran. Keluarga yang tingkat kesadaran akan pendidikan tinggi, tentu akan mengarahkan anggota keluarganya untuk berprestasi dalam pembelajaran di sekolah. Keluarga yang seperti ini mempunyai andil yang besar pada kualitas peserta didik (siswa). Sedangkan dari segi ekosistem sekolah, tentunya sekolah yang menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran itu sendiri. Dari sisi ekosistem masyarakat, masyarakat kebanyakan beranggapan bahwa sekolah adalah tempat penampungan anak sebelum anak bekerja. Hal ini sangat tidak tepat, karena sekolah adalah tempat yang digunakan untuk “transfer knowledge” sehingga anak yang belum tahu menjadi tahu sehingga pengalaman, pengetahuan, serta pengalaman anak meningkat atau bertambah.

4).Lembaga Pembelajaran

Lembaga pembelajaran yang berkualitas adalah lembaga pembelajaran yang didukung oleh berbagai sarana dan prasarana yang memadai, tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya, serta sistem yang solid.

5). Fasilitator Pembelajaran

Guru sebagai fasilitator pembelajaran, harus menguasai berbagai kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

a). kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran siswa yang sekurang-kurangnya meliputi: pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap siswa, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil pembelajaran, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasi potensi yang dimilikinya.

commit to user

b). kompetensi kepribadian yang mencakup kepribadian yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, stabil, dewasa, berwibawa, jujur, sportif, secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

c). kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang meliputi berkomunikasi lisan atau tulis secara santun, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungisional, bergaul secara efektif dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan atuan pendidikan, wali siswa.

d). kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni budaya yang diampunya yang meliputi materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan dan mata pelajaran, konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevanyang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

Sedangkan menurut Sambas Ali (http://sambasalim.com

/pendidikan/kualitas-proses-pembelajaran.html, 17 Maret 2011) dijelaskan bahwa paradigma mutu atau kualitas dalam konteks pembelajaran mencakup input, proses dan output. Input pembelajaran adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena merupakan kebutuhan dari proses pembelajaran yang meliputi sumberdaya serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi keberlangsungan proses pembelajaran. Input sumber daya manusia meliputi siswa dan guru. Sedangkan sumber daya selebihnya

Dokumen terkait