Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match pada siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011 selama dua siklus dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ini.
1. Model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match
terbukti dapat meningkatkan kemampuan materi pecahan siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rerata kelas dan jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM (70). Pada prasiklus, rerata kelas sebesar 49,71 dan siswa yang mencapai KKM sebanyak seorang siswa atau 7,14%. Pada siklus I, rerata kelas mencapai 72,78 dan siswa yang mencapai KKM sebanyak sembilan siswa atau 64,28%. Pada siklus II, rerata kelas mencapai 81,64 dan siswa yang berhasil mencapai KKM sebanyak 11 siswa atau 78,57%.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match terbukti dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika dalam kemampuan materi pecahan pada siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011 yaitu dibuktikan dengan adanya kenaikan kinerja guru dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. yang ditunjukkan dengan beberapa hal yang meliputi pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mata pelajaran matematika pada materi pecahan, dalam pembelajaran guru sudah mengkondisikan siswa untuk siap belajar, guru juga membangkitkan motivasi belajar dengan menggunakan media belajar konkret berupa buah-buahan dalam melakukan apersepsi materi pecahan. Dalam prakteknya, guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan kepada siswa dengan baik. Dalam menyampaikan
commit to user
materi pembelajaran, guru menerangkan dengan jelas kepada siswa. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang belum dimengerti mengenai materi pelajaran. Guru juga melakukan bimbingan secara individu jika ada siswa yang kurang paham terhadap materi pelajaran. Pada kegiatan akhir, guru beserta siswa bersama-sama menyimpulkan pelajaran yang telah dilakukan dengan baik. Dan dari segi aktivitas siswa, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match mampu Di dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match, siswa telah menyiapkan diri dengan baik untuk mengikuti pembelajaran, siswa mampu menjawab pertanyaan dari guru mengenai penyelesaian dari soal materi pecahan yang meliputi perkalian berbagai pecahan dan pembagian berbagai pecahan. Semua siswa menyimak penjelasan materi yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran siswa aktif mengikuti langkah pembelajaran dengan teknik make a match yaitu masing-masing siswa berhasil menyelesaikan tugasnya mencari pasangan dari kartu soal dan kartu jawabannya kemudian membentuk diskusi kecil bersama pasangannya lalu dilanjutkan presentasi yang berlangsung lancar.
Dari uraian tersebut, maka hipotesis yang dirumuskan telah terbukti kebenarannya yaitu pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match terbukti dapat meningkatkan kemampuan pecahan dalam matematika dan mampu meningkatkan kualitas proses dalam penguasaan materi pecahan siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011.
commit to user B. Implikasi
Berdasarkan pada hasil penelitian ini diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match dapat meningkatkan kemampuan materi pecahan siswa dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam penguasaan materi pecahan siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match ini dapat digunakan dan dikembangkan dalam pembelajaran berbagai pelajaran di sekolah.
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe strukturak dengan teknik make a match ini, siswa dapat bekerjasama, bertukar pendapat dan saling membantu dengan teman yang lain untuk memecahkan berbagai tugas yang diberikan oleh guru. Di samping itu, bimbingan serta penjelasan guru yang mampu menciptakan pembelajaran yang terstruktur dan terarah yaitu ditunjukkan dengan aktivitas siswa yang tinggi dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan rerata kemampuan materi pecahan siswa dari kondisi awal sebesar 49,71 menjadi 81,64 pada siklus akhir dan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM dari seorang siswa atau 7,14% pada kondisi awal menjadi sebelas siswa atau 78,57% pada siklus akhir (siklus II).
Menurut penelitian ini, diketahui bahwa kemampuan materi pecahan siswa dan kualitas proses pembelajaran dalam penguasaan materi pecahan siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2010/2011 meningkat di setiap siklusnya. Hal ini tidak terlepas dari proses pembelajaran yang berpengaruh langsung terhadap hasil yang dicapai siswa. Peningkatan kualitas proses pembelajaran dalam penguasaan materi pecahan tentunya juga akan meningkatkan kemampuan materi pecahan siswa.
Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian pada Bab IV, maka penelitian ini layak digunakan untuk membantu guru dalam menghadapi masalah yang sejenis, terutama untuk mengatasi masalah kemampuan materi pecahan siswa dan kualitas proses pembelajaran dalam penguasaan materi pecahan. Adanya kendala
commit to user
dalam pembelajaran Matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik make a match harus diatasi dengan maksimal. Oleh karena itu, kreativitas dan kinerja guru sangat diperlukan dalam upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran dan kemampuan materi pecahan siswa.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match pada siswa kelas V SD N Jetis 04 Sukohajo Tahun Pelajaran 2010/2011, maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
a. Siswa hendaknya lebih aktif dan kreatif dalam berbagai kegiatan pembelajaran di kelas dan lebih memberanikan diri untuk menanyakan setiap adanya kesulitan dalam menerima materi pelajaran.
2. Bagi Guru
a. Hendaknya para guru terutama guru matematika menerapkan model pembelajaran yang inovatif yang mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil yang lebih baik. Contohnya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe struktural dengan teknik make a match.
b. Guru hendaknya lebih memberikan kesempatan siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.
c. Para guru sebaiknya menunbuhkan kebiasaan untuk saling bekerjasama antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa supaya terjalin masyarakat belajar yang harmonis.
3. Bagi Sekolah
a. Hendaknya sekolah mengupayakan pelatihan pada guru untuk meningkatkan keberhasilan dari tujuan pembelajaran di sekolah.