• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI

2. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT)

a. Hakikat Model Pembelajaran

Menurut Joice dan Weil seperti dikutip dalam Isjoni (2010: 50), mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Ada banyak model pembelajaran yang dikembangkan dalam usaha

commit to user

mengoptimalkan hasil belajar siswa. Di antaranya adalah model pembelajaran kontekstual, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran quantum, model pembelajaran terpadu, dan lain sebagainya. Selain itu, juga ada model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT). Banyaknya model pembelajaran yang dikembangkan tidaklah berarti semua pengajar menerapkan semuanya untuk setiap mata pelajaran karena tidak semua model cocok untuk setiap topik atau mata pelajaran. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model pembelajaran, yaitu: 1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 2) materi ajar, 3) kondisi siswa, serta 4) ketersediaan sarana prasarana belajar.

Oemar Hamalik (1994: 57) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dalam Jurnal Internasional, learning is how a person or group comes to know, and knowig consist of variety types action in learning, a knower positions themselves in relation to the knowble, and engages (Bill Cope, 2007: http://ijl.cgpubluiher.com/about.html, diakses tanggal 1 Maret 2011). Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa belajar adalah bagaimana seseorang atau kelompok yang datang untuk mengetahui dan akhirnya mengetahui bermacam-macam tindakan dalam pembelajaran, dalam pembelajaran siswa menempatkan dirinya dalam hubungan saling mengetahui (yang dipengaruhi oleh pengalaman, konsep, analisis, atau penerapan).

Dari berbagai pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

commit to user b. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Anita Lie dalam Isjoni (2010: 16), menyebut cooperatif learning (pembelajaran kooperatif) dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Isjoni (2010: 20), mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) setiap anggota memiliki peran, 2) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, 3) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, 4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan 5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.

Selanjutnya, Slavin (2005: 4) menyatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen (Isjoni, 2010: 12).

Dalam Jurnal Internasional yang ditulis Jacob&Hannah, menyatakan bahwa cooperative learning, also known as collaborative learning, is a body of concepts and techniques for helping to maximize the benefits of cooperation among student (dalam http://www.gorgejacobs.net/cooperative.html, diakses 4 Januari 2011). Artinya, pembelajaran kooperatif yang juga dikenal sebagaipembelajaran kolaboratif, adalah suatu bentuk dari konsep dan teknik untuk membantu memaksimalkan keuntungan-keuntungan kerja sama di antara siswa.

Terdapat beberapa model pembelajaran yang berbeda dalam pembelajaran kooperatif, dan langkah-langkah pembelajarannya sedikit bervariasi bergantung pada model pembelajaran yang digunakan. Beberapa model pembelajaran kooperatif telah dikembangkan oleh para ahli, di antaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT), dalam metode ini siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok dengan kemampuan berbeda untuk saling memahami materi dan mengerjakan tugas sebagai sebuah kelompok, dan dipadukan dengan permainan yang berupa kompetisi antarkelompok dengan

commit to user

kemampuan setara. Penjelasan mengenai TGT akan disampaikan pada bagian lain dari bab ini.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam kelompok kecil atau tim untuk saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi dalam menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama dalam pembelajaran.

c. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT)

Menurut Fengfeng Ke dan Barbara Grabowski menyatakan bahwa “TGT

cooperation is more effective than interpersonal competition in facilitating positive maths attitudes, but not in promoting maths performance.” (Dalam http://www.proquest.com.pqdweb.html, diakses 4 Januari 2011). Pembelajaran kooperatif TGT sangat efektif untuk bersaing antarindividu dan juga untuk memudahkan siswa berpikir positif dalam Matematika tetapi tidak dapat memelihara pekerjaannya dalam pembelajaran Matematika.

Pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT) pada awalnya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards di Universitas John Hopkins.

David DeVries (1974) dalam laporan nomor 173, menyatakan bahwa “TGT proved to have significant positive effects on academic achievement, student attitudes, and cognitive beliefs”. TGT terbukti mempunyai efek positif

signifikan terhadap prestasi akademik, sikap siswa, dan kepercayaan kognitif. Dalam laporan nomor 212, Burma Hulten dan David DeVries

(1976) menyatakan bahwa “...TGT effects using an expectancy-value theory

of student motivation”. Efek TGT dengan menggunakan teori nilai pengharapan dari motivasi siswa. Team-Games-Tournament (TGT) diharapkan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa melalui peningkatan motivasi dan partisipasi siswa. (Dalam http://www.eric.ed.gov, diakses 2 Januari 2011).

Isjoni (2010: 83), berpendapat “TGT adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang

commit to user

beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin,

dan suku kata atau ras yang berbeda”.

Pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT) adalah

“Salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan,

melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan dan reinforcement”. (Dalam http://nadhirin.blogspot.com/2011/01/metode-pembelajaran-efektif.html, diakses 2 Januari 2011).

Slavin (2005: 143), menyatakan Team-Games-Tournament (TGT) adalah bentuk pembelajaran yang menggunakan turnamen akademik, menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. TGT merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang paling banyak digunakan dalam penelitian pendidikan, termasuk juga dalam penyampaian materi di kelas.

Team-Games-Tournament (TGT) menggunakan turnamen akademik dengan sistem skor kemajuan individu, siswa memainkan permainan akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. Siswa memainkan games ini bersama tiga sampai lima orang pada “meja-turnamen”, di

mana peserta dalam satu meja turnamen ini adalah siswa yang memiliki kemampuan yang setara atau homogen. Team-Games-Tournament (TGT) mengharuskan teman satu tim saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam games temannya tidak boleh membantu, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual. Permainan Team-Games-Tournament (TGT) berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka yang tertera. Turnamen ini memungkinkan bagi siswa untuk menyumbangkan skor maksimal bagi kelompoknya. Turnamen ini juga dapat digunakan sebagai review materi pelajaran. Sebuah prosedur “menggeser

commit to user

kedudukan” membuat permainan ini cukup adil. Peraih skor tertinggi dalam tiap

meja turnamen akan mendapatkan poin untuk timnya. Kemudian, ia akan “naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi. Siswa dengan skor terendah akan

“diturunkan”. Ini berarti bahwa mereka yang berprestasi rendah akan bermain

dengan yang berprestasi rendah juga dan yang berprestasi tinggi juga akan bermain dengan yang berprestasi tinggi, kedua-duanya memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Dengan cara ini, jika pada awalnya siswa sudah salah ditempatkan, untuk seterusnya mereka akan dinaikkan atau diturunkan sampai mereka mencapai tingkat kinerja mereka yang sesungguhnya. Tim dengan tingkat kinerja tertinggi mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lainnya. Aktivitas belajar dengan permainan dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Metode pembelajaran TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan dan reinforcement. Pada pembelajaran kooperatif, siswa dikelompokkan dalam beberapa tim yang terdiri dari 4 anggota atau lebih yang ditinjau dari tingkat kinerja, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Sesuai dengan namanya, model TGT ini mengandung kegiatan-kegiatan yang bersifat permainan. Permainan dalam TGT didesain untuk menguji pengetahuan yang dicapai siswa dan disusun dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi dan latihan soal. TGT menekankan kerja sama kelompok dalam mengumpulkan skor, keaktifan siswa dalam mencari jawaban sendiri dengan cepat sehingga diperlukan pengetahuan yang cukup sebelum bermain. Suasana pertandingan cenderung lebih menyenangkan karena dalam bermain anak tidak selalu dituntut untuk berpikir keras. Secara umum, peran guru dalam model ini adalah memacu siswa agar lebih serius dan semangat kemudian membandingkannya dengan prestasi siswa (kelompok) lain. Dengan demikian,

commit to user

dapat ditentukan kelompok mana yang berhasil mencapai prestasi yang paling baik.

Menurut Slavin (2005: 7), Team-Games-Tournament memiliki kelemahan yaitu memerlukan persiapan yang rumit untuk melaksanakan, bila terjadi persaingan yang negatif maka hasilnya akan buruk, bila ada siswa yang malas atau ada yang ingin berkuasa dalam kelompok maka pembelajaran tidak berjalan dengan semestinya, dan adanya siswa yang tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam kelompok belajar. Namun, Team-Games-Tournament juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode yang lainnya karena mudah divariasikan dengan berbagai media pembelajaran seperti komik, VCD, teka – teki silang, scrabble, dan kartu bernomor. Kelebihan dari TGT yang lain yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri, kekompakan hubungan antaranggota kelompok, seluruh siswa menjadi lebih siap dan dapat menumbuhkan motivasi siswa untuk saling membantu dalam menguasai pelajaran waktu kegiatan belajar mengajar lebih singkat dan keterlibatan siswa lebih optimal.

Secara umum, TGT sama saja dengan STAD kecuali satu hal: TGT menggunakan turnamen akademik, menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kemampuan akademiknya setara. Hasilnya, siswa-siswa yang berprestasi paling rendah pada setiap kelompok memiliki peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi kelompoknya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan kelompok tetap sama, tetapi siswa yang mewakili kelompok untuk bertanding dapat berubah-ubah atas dasar penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Misalnya, mereka yang berprestasi rendah, yang mula-mula bertanding melawan siswa-siswa kemampuannya sama dapat bertanding melawan siswa-siswa yang berprestasi tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu.

Penerapan metode ini dengan cara mengelompokkan siswa secara heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi

commit to user

antarkelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, dan santun. Setelah selesai kerja kelompok, hasil kerja kelompok dipresentasikan sehingga terjadi diskusi kelas.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT) adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan dan reinforcement.

d. Komponen-komponen dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Menurut Slavin (2005: 166-167), komponen-komponen dalam TGT meliputi presentasi kelas, belajar kelompok, permainan (games), turnamen (tournament) dan penghargaan kelompok (team recognize). Komponen-komponen dalam TGT yang perlu diperhatikan diuraikan sebagai berikut:

1) Presentasi Kelas

Dalam presentasi kelas, guru memperkenalkan materi pelajaran yang diberikan secara langsung atau mendiskusikan di dalam kelas. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan oleh guru agar nantinya dapat membantu siswa dalam mengikuti games dan tournament. Maka, para siswa akan menyadari pentingnya presentasi kelas, karena akan sangat membantu dalam games dan tournament. Pada saat presentasi kelas siswa harus memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru. Hal ini akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja tim dan pada saat turnamen karena skor turnamen akan menentukan skor tim mereka.

2) Belajar Kelompok

Kelompok terdiri empat sampai lima orang yang heterogen misalnya berdasar kemampuan akademik dan jenis kelamin, jika memungkinkan suku, ras atau kelas sosial. Diharapkan tiap anggota kelompok melakukan

commit to user

hal yang terbaik bagi kelompoknya dan adanya usaha kelompok melakukan untuk membantu anggota kelompoknya sehingga dapat meningkatkan kemampuan akademik dan menumbuhkan pentingnya kerja sama di antara siswa serta meningkatkan rasa percaya diri. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk memastikan semua anggota tim belajar, lebih khusus lagi adalah untuk menyiapkan anggotanya supaya dapat mempelajari Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mengerjakan soal-soal turnamen dengan baik. Setelah presentasi kelas kegiatan tim umumnya adalah diskusi antaranggota, saling membandingkan jawaban, memeriksa dan mengoreksi kesalahan konsep anggota tim. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat games. Selama belajar dalam kelompok masing-masing siswa bertugas untuk mempelajari lembar kerja yang diberikan oleh guru dan saling membantu apabila ada teman sekelompoknya yang belum menguasai materi pelajaran. Diskusi ini meningkatkan komunikasi dua arah antara siswa dan guru.

3) Permainan (games)

Permainan (games) dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan belajar kelompok. Games dimainkan dengan meja yang berisi tiga atau empat murid yang diwakili oleh masing-masing kelompok yang berbeda. Siswa mengambil kartu bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain. Kelengkapan permainan berupa kartu bernomor pertanyaan atau soal dan kunci jawaban bernomor. Seorang siswa mengambil kartu bernomor, membaca pertanyaan dari nomor terambil yang sesuai dan berusaha menjawab pertanyaan. Siswa lain boleh menantang apabila mempunyai jawaban yang berbeda. Contoh perhitungan poin games dan tournament dengan empat pemain menurut Slavin (2005: 175), dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

commit to user

Tabel 1. Contoh Perhitungan Poin Games dan Tournament untuk Empat Pemain

Pemain Tanpa seri Seri nilai tertinggi Seri nilai tengah Seri nilai rendah Seri nilai tertinggi 3-macam Seri nilai terendah 3-macam Seri 4-macam Seri nilai tertinggi dan terendah Skor

tertinggi 60 poin 50 poin 60 poin 60 poin 50 poin 60 poin 40 poin 50 poin

Skor menengah

teratas

40 poin 50 poin 40 poin 40 poin 50 poin 30 poin 40 poin 50 poin

Skor menengah

terendah

30 poin 30 poin 40 poin 30 poin 50 poin 30 poin 40 poin 30 poin

Skor

terendah 20 poin 20 poin 20 poin 30 poin 20 poin 30 poin 40 poin 30 poin

Contoh perhitungan poin games dan tournament dengan tiga pemain menurut Slavin (2005: 175), dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Contoh Perhitungan Poin Game dan Turnamen untuk Tiga Pemain

Pemain Tidak ada

yang seri Seri nilai tertinggi Seri nilai terendah Seri 3-macam

Peraih skor tertinggi 60 poin 50 poin 60 poin 40 poin

Peraih skor tengah 40 poin 50 poin 30 poin 40 poin

Peraih skor rendah 20 poin 20 poin 30 poin 40 poin

4) Turnamen (tournament)

Biasanya turnamen diselenggarakan akhir minggu, setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Turnamen adalah sebuah struktur di mana games berlangsung. Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau akhir setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan tim telah mengerjakan lembar kerja. Untuk turnamen pertama, guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan serupa yang mewakili tiap timnya. Kompetisi ini merupakan sistem penilaian kemampuan perorangan dalam STAD. Kompetisi ini juga memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk memaksimalkan nilai kelompok mereka menjadi terbaik. Pada

commit to user

turnamen pertama, guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II, dan seterusnya. Kompetisi yang seimbang ini memungkinkan para siswa dari semua tingkat kinerja sebelumnya berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka jika mereka melakukan yang terbaik. Alur penempatan peserta turnamen menurut Slavin (2005: 86), dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Alur Penempatan Peserta Turnamen 5) Penghargaan Kelompok (Team Recognize)

Menurut Slavin (2005: 175), berdasarkan skor rata–rata tim maka terdapat tiga kriteria penghargaan tim yaitu tim baik, tim sangat baik, dan tim super. Setelah mengikuti games dan tournament, setiap kelompok akan memperoleh poin. Rata-rata poin kelompok yang diperoleh dari games dan tournament akan digunakan sebagai penentu penghargaan kelompok. Jenis penghargaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Penghargaan kelompok dapat berupa hadiah, sertifikat, dan sebagainya. Tim yang mendapat nilai tertinggi diberikan reinforcement atau penghargaan. Dengan metode ini siswa akan terpacu untuk lebih siap belajar. Selain itu, guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang memantau kegiatan masing-masing kelompok, sehingga setiap siswa dalam kelompok dapat belajar dengan

commit to user

sungguh-sungguh. Tim super akan mendapatkan sertifikat (lampiran 44, halaman 180) atau bentuk penghargaan lainnya apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria penghargaan kelompok yaitu tim yang mendapatkan julukan super team (tim super) jika rata-rata skornya 50.

Menurut Slavin (2005: 175), penghargaan diberikan jika telah melewati kriteria. Contoh kriteria penentuan penghargaan kelompok dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3. Contoh Kriteria Penentuan Penghargaan Kelompok Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan

40 Tim Baik (Good Team)

45 Tim Sangat Baik (Great Team)

50 Tim Super (Super Team)

Berdasarkan teori-teori mengenai pembelajaran kooperatif tipe TGT di atas, penulis menggunakan teori pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dikemukakan oleh Slavin sebagai acuan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT di SD N 04 Popongan kelas IV.

Dokumen terkait