• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.2 Landasan Teori

2.2.12 Hakikat Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur

yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan

belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran

(Wiranataputra 2001:3). Jadi, aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan

bertujuan yang tertata secara sistematis.

Model pembelajaran adalah suatu rencana atau suatu pola yang digunakan

sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran

dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di

dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce 2009:5).

Menurut Dahlan (1990:21), model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu

rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi

pengajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran

ataupun setting lainnya.

Berbeda dengan strategi pembelajaran bersifat umum bahkan bisa untuk berbagai

mata pelajaran. Menurut Karli dan Nur (2005:9) model pembelajaran mempunyai

empat ciri, yaitu 1) rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau

pengembangnya, 2) tujuan pembelajaran apa yang akan dicapai, 3) tingkah laku

pengajar yang diperlukan agar metode tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil,

4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Joyce

dan Weil (1986:97) mejelaskan bahwa setiap model pembelajaran memiliki

unsur-unsur 1) sintakmatik, 2) sistem sosial, 3) prinsip reaksi, 4) sistem pendukung, dan 5)

dampak instruksional dan penggiring.

Sintakmatik merupakan tahap-tahap kegiatan dari model itu. Sistem sosial,

yaitu situasi atau suasana, dan norma-norma yang berlaku dalam model tersebut.

Prinsip reaksi, yaitu pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru

melihat dan memperlakukan para pelajar, termasuk bagai-mana seharusnya pengajar

memberikan rerspon terhadap mereka. Prinsip ini memberi petunjuk bagaimana

seharusnya para pengajar menggunakan aturan permainan yang berlaku pada setiap

model. Sistem pendukung merupakan segala sarana, bahan, dan alat yang diperlukan

untuk mnelaksanakan model trersebut. Dampak instruksional dan pengiring adalah

hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan peserta didik pada

tujuan yang diharapkan, sedangkan dampak pengiring, yaitu hasil belajar lainnya

yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajaran, sebagai akibat terciptanya suasana

belajar yang dialami langsung oleh peserta didik yang pengarahan langsung dari

pengajar.

Model-model pembelajaran dikembangkan utamanya berpijak dari adanya

perbedaan berkaitan dengan berbagai karakteristik siswa. Karakteristik siswa yang

harus diperhatikan dalam pembelajaran terkait berbagai aspek. Berbagai aspek itu

antara lain aspek 1) jasmani atau fisik, 2) intelektual, 3) emosi, 4) sosial, 5) bahasa, 6)

bakat khusus, dan 7) nilai, moral, dan sikap. Kepribadian, kebiasaan-kebiasaan,

modalitas belajar yang bervariasi antara individu satu dengan yang lain, maka model

pembelajaran guru juga harus selayaknya tidak terpaku hanya pada model tertentu,

akan tetapi harus bervariasi.

Di samping didasari pertimbangan keragaman siswa, pengembangan berbagai

model pembelajaran juga dimaksudkan untuk menumbuhkan dan meningkatkan

motivasi belajar siswa, agar mereka tidak jenuh dengan proses belajar yang sedang

berlangsung. Itulah sebabnya di dalam menentukan model pembelajaran yang akan

dikembangkan, guru harus memiliki pemahaman yang baik tentang siswa-siswanya,

keragaman kemampuan, motivasi, minat dan karakteristik pribadi lainnya.

Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya

rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi

dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami

pelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Sebagaimana sebelumnya sudah kita bahas bersama bahwa ukuran keberhasilan

mengajar guru utamanya adalah terletak pada terjadi tidaknya peningkatan hasil

belajar siswa. Karena itu, melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat guru

dapat memilih atau menyesuaikan jenis pendekatan dan metode pembelajaran dengan

karakteristik materi pelajaran yang disajikan.

Hal penting yang harus selalu diingat bahwa tidak ada satu strategi

pembelajaran yang paling ampuh untuk segala situasi. Oleh sebab itu, guru dituntut

untuk memiliki pemahaman yang komprehensip serta mampu mengambil keputusan

yang rasional kapan waktu yang tepat untuk menerapkan salah satu atau beberapa

strategi secara efektif. Kecermatan guru di dalam menentukan model pembelajaran

menjadi semakin penting, karena pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks

yang di dalamnya melibatkan berbagai unsur yang dinamis.

Dalam pemanfaatan model yang telah ada, Joyce dan Weil (2009:87) telah

menyajikan berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan dan dites

keterpakaiannya oleh para pakar kependidikan. Walaupun judul buku yang memuat

tentang model-model tersebut adalah Models of Teaching, tetapi isinya secara

mendasar bukan semata-mata menyangkut kegiatan guru mengajar, akan tetapi lebih

menitik beratkan pada aktivitas belajar siswa. Sebagaimana ditegaskan Joyce dan

Weil, hakikat mengajar atau teaching adalah membantu siswa memperoleh informasi,

ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan

cara-cara belajar.

Dalam kenyataan sesungguhnya, hasil akhir atau hasil jangka panjang dari

proses pembelajaran ialah ... the student's increased capabilities to learn more easily

and effectively in the future, yaitu kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar

lebih mudah dan lebih efektif di masa yang akan datang (Joyce dan Weil 2009:1).

Karena itu, proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian,

akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorientasi masa depan.

Dari hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah

dikembangkan dan dites oleh para pakar kependidikan di bidang itu, Joyce dan Weil

(2009:31) mengelompokkan model-model tersebut ke dalam empat kategori, yakni

(1) kelompok model pemrosesan informasi (the information processing family), (2)

kelompok model personal (the personal family), (3) kelompok model sosial (the

social family), dan (4) kelompok model sistem perilaku (the behavioral system

family).

Dokumen terkait