BAB II LANDASAN TEORI
2. Hakikat Pemahaman Konsep Proklamasi Kemerdekaan
a. Hakikat Pemahaman Konsep
Menurut KBBI, paham berarti mengerti benar, sedangkan pemahaman memiliki arti proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan. Sedangkan Daryanto (2005:92) mengatakan Pemahaman yaitu memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain.
Selanjutnya Tim SBM PGSD (2007 : 35) mengungkapkan perilaku yang tergolong ke dalam kategori kemampuan pemahaman dapat dijabarkan ke dalam kata kerja operasional yang mencerminkan hasil belajar untuk tingkat kemampuan pemahaman diantarannya adalah membedakan, mengubah, mempersiapkan, menanyakan, mengatur, menjelaskan, mendemonstrasikan dan memberi contoh.
Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Maka dari itu diperlukan adanya hubungan antara konsep dan makna yang ada dalam konsep tersebut. Nana Sudjana (2009:24) berpendapat ada tiga kategori pemahaman yang berlaku untuk umum, yaitu (1) pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalamnya, (2) pemahaman penafsiran, yaitu menghubungkan dua konsep yang berbeda, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok, (3) pemahaman ekstrapolasi, yaitu kemampuan memahami dibalik yang tertulis dan meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan. Benyamin Bloom dalam Harsanto (2009:90), mengungkapkan bahwa dalam tingkat berpikir pemahaman, siswa harus mengubah informasi yang diterima menjadi suatu pengertian atau konsep. Selanjutnya menurut Moore dalam Tim IPS PGSD UNS (2003:2), definisi konsep adalah sesuatu yang tersimpan dalam pikiran yang berupa suatu pemikiran, ide atau gagasan. Sedangkan Sofa dalam http://massofa.wordpress.com/2007/12//konsep-dasar-ilmu-sosial diunduh tanggal 28 April 2011 konsep adalah pengertian yang tergambar dalam pikiran yang menceritakan suatu benda atau suatu gagasan baik konkrit atau abstrak. Selanjutnya pendapat Winkel dalam Riyanto (2010:54), konsep adalah satuan arti yang mewakili ciri-ciri yang sama. Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman. Parker dalam S.P Taneo (2009:1.18) mendefinisikan konsep sebagai suatu gagasan yang ada melalui contoh-contohnya. Dalam definisi menurut parker tersebut tersirat bahwa seseorang harus terlibat dalam proses berpikir, yaitu menyadari contoh-contoh konsep. Agus Suprijono (201:25) pemahaman konsep adalah tindakan memahami kategori atau konsep-konsep yang sudah ada sebelumnya.
commit to user
Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah proses mengubah informasi yang berupa data atau fakta yang diterimanya agar siswa lebih mengerti sesuatu yang tersimpan dalam pikirannya, sebagai alat untuk berpikir.
b. Pengertian IPS
Menurut Silvester Petrus Taneo (2009:1.14) mengatakan bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Sedangkan Sumantri dalam Hidayati,dkk (2008:1.3), menyatakan bahwa IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan. Hal senada di ungkapkan oleh Sofa dalam http://massofa.wordpress.com/2007/12/21/hakekat-ips-sebagai-program-studi/ di unduh tanggal 28 april 2011 IPS merupakan mata pelajaraan atau mata kuliah yang mempelajari kehidupan sosial yang kajiannya mengintegrasikan bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora. IPS adalah bidang studi yang mempelajari dan menelaah serta menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat ditinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu Http://pustaka.ut.ac.id/ di unduh tanggal 28 April 2011. Sependapat dengan para ahli di atas Jarolimek dalam S.P Taneo (2009:1.14) the social studies as a part of elementary School curriculum draw subject matter conten from social science, history, sociology, polotical science, social psychology, philoshopy, anthropology, and ekonomic. Artinya kurang lebih adalah IPS merupakan bagian dari kurikukulum sekolah dasar yang
di dalamnya terdiri dari ilmu sosial, sejarah, sisiologi, ilmu politik, psikologi sosial, filosofi, antropologi, dan ekonomi. Dengan demikian IPS itu sebenarnya adalah perpaduan dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Ilmu sosial dipergunakan untuk melakukan pemecahan sosial yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS.
Pendidikan IPS diperlukan untuk mengenalkan siswa dengan masyarakat dan lingkungannya. Dengan pembelajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya.
Menurut Hidayati,dkk (2009:4.6), dengan mengkorelasikan bahan pengajaran yang diambil dari permasalahan yang terjadi di masyarakat dengan materi yang ada pada kurikulum, diharapkan IPS menarik perhatian siswa. Hal ini dikarenakan belajar IPS tidak hanya berupa hafalan dari buku, tetapi langsung memecahkan persoalan sosial yang sedang dihadapi siswa di lingkungannya.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai masalah sosial di masyarakat dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan dari bahan kajian IPS yang meliputi ekonomi, geografi,sosial, antropologi, tata negara, dan sejarah yang merupakan perwujudan dari suatu pendekatan inter-disipliner dari pelajaran ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial dipergunakan untuk melakukan pemecahan sosial yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS.
commit to user
Setiap usaha pendidikan senantiasa memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Berdasarkan tujuan pembelajaran yang jelas, tegas terarah, barulah pendidik dapat menentukan usaha apa yang akan dilakukannya dan bahan pelajaran apa yang sebaiknya diberikan pada anak didiknya. Oemar Hamalik dalam Hidayati,dkk (2009:1.24), merumuskan bahwa tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu: (a) pengetahuan dan pemahaman, (b) sikap hidup belajar, (c) nilai-nilai sosial dan sikap, serta (d) keterampilan. Sedangkan hasil penelitian Aqib dalam Aqib (2009:133), IPS di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memilki kemampuan sebagai berikut:
1) Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan dan paedagogis yang berkaitan dengan masyarakat.
2) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inquiri, memecahkan masalah dan ketrampilan sosial. 3) Membangun komitmen dan kesadaran terhadap
nilai-nilai sosial
4) Meningkatkan kemampuan bekerjsama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global. (Depdiknas, 2008:24)
Alasan mempelajari IPS untuk pendidikan dasar dan menengah di antaranya adalah sebagai berikut:
1). Agar siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimilki menjadi lebih bermakna.
2). Agar siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab
3). Agar siswa dapat mempertinggi toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia. S.P. Taneo (2009:1.13)
Jadi dapat disimpulkan tujuan IPS adalah 1). Agar siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimilki menjadi lebih bermakna. 2). Agar siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab 3). Agar siswa dapat mempertinggi toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
d. Materi IPS
Pelajaran IPS merupakan perpaduan dari berbagai ilmu-ilmu sosial yang di dalamnya terdiri dari ilmu-ilmu sosial, sejarah, sosiologi, ilmu politik, psikologi sosial, filosofi, antropologi, dan ekonomi. Materi IPS terdiri dari berbagai macam . Menurut Mulyono Tjokrodikaryo dalam Hidayati, dkk (2008: 1.26) dari segi materi, ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
(1) Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya; (2) Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi; (3) Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh; (4) Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar. (5) Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga
Dengan begitu dapat dikatakan bahwa pelajaran IPS merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kita mulai dari manusia dengan permasalahannya, kegiatan manusia, budaya, linkungan geografi, dan kehidupan masa lampau.
commit to user
Maka dari itu IPS merupakan pelajaran yang penting Salah satu yang perlu diperhatikan adalah pelajaran IPS pada tingkat Sekolah Dasar. Selanjutnya kelas 5 sekolah dasar juga diberikan pelajaran IPS yang berisi berbagai macam materi. Diantaranya dari semester 1 yaitu 1) Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha dan Islam, 2) Tokoh-tokoh Sejarah Hindu-Buddha dan Islam, 3) Keragaman Kenampakan dan Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia, 4) Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia, 5) Usaha dan Kegiatan Ekonomi di Indonesia. Sedangkan pada semester 2 yaiu 1) Perjuangan Melawan Penjajahan, 2) Perjuangan Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia, 3) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 4)Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Dari berbagai macam materi kelas lima, materi semester dua akan dikaji lebih jauh khususnya pada materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Yang dipelajari dalam materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Tokoh-tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
e. Materi Proklamasi Kemedekaan Indonesia
1) Peristiwa-peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
a) Pertemuan di Dalat
Pada tanggal 12 Agustus 1945 tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Sukarno, dan Drs. Mohammad Hatta memenuhi undangan Jenderal Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Jenderal Terauchi adalah Panglima tentara Jepang di Asia Tenggara. Dalam pertemuan itu, Jenderal Terauchi mengatakan pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Keputusan itu diambil setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di
Jepang. Bom atom pertama dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Bom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibatnya, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.
b) Menanggapi berita kekalahan Jepang
Berita tentang kekalahan itu sangat dirahasiakan oleh Jepang. Semua radio disegel oleh pemerintah Jepang. Namun demikian, ada juga tokoh-tokoh pergerakan yang dengan sembunyi-sembunyi mendengar berita tentang kekalahan Jepang tersebut. Di antaranya adalah Sutan Syahrir. Pada tanggal 14 Agustus 1945 sore, Sutan Syahrir sudah menunggu kedatangan Mohammad Hatta dari Dalat. Syahrir mendesak agar proklamasi jangan dilakukan oleh PPKI. Menurut Syahrir, Negara Indonesia yang lahir dengan cara demikian akan dicap oleh Sekutu sebagai negara buatan Jepang. Syahrir mengusulkan agar proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh Bung Karno saja sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat lewat siaran radio.
c) Peristiwa Rengasdengklok
Setelah mengetahui pendirian golongan tua, golongan muda mengadakan rapat lagi menjelang pukul 24.00. Mereka melakukan rapat di Asrama Baperpi, Cikini 71, Jakarta. Rapat tersebut selain dihadiri mereka yang mengikuti rapat di Pegangsaan Timur, juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi, dan Sodancho Singgih. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengungsikan Sukarno dan Hatta
commit to user
Jepang. Untuk menghindari kecurigaan dan tindakan yang dapat diambil oleh tentara Jepang, rencana itu diserahkan kepada Sodancho Singgih. Rencana itu berhasil dengan baik berkat dukungan Cudanco Latief Hendraningrat, berupa perlengkapan tentara Peta. Pagi-pagi buta sekitar pukul 04.00, tanggal 16 Agustus 1945, Sukarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Sehari penuh kedua pemimpin di Rengasdengklok. Selain untuk menjauhkan Sukarno-Hatta dari pengaruh Jepang, para pemuda bermaksud memaksa mereka agar segera memproklamasi kemerdekaan lepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Jepang. Ternyata kedua tokoh ini cukup berwibawa. Para pemuda pun segan untuk mendesak mereka. Namun, Sodancho Singgih memberikan keterangan bahwa dalam pembicaraan berdua dengan Bung Karno, Bung Karno menyatakan bersedia melaksanakan proklamasi segera setelah kembali ke Jakarta. Berdasarkan hal itu, siang itu juga Singgih kembali ke Jakarta. Ia menyampaikan rencana Proklamasi kepada para pemimpin pemuda di Jakarta. Sementara itu, di Jakarta, golongan tua dan golongan muda sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan dilakukan di Jakarta. Golongan tua diwakili Mr. Ahmad Subarjo dan golongan muda yang diwakili Wikana. Laksamana Maeda, bersedia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Maeda adalah seorang Perwira penghubung Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang.
Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto, dari pihak Pemuda mengantar Ahmad Subarjo ke Rengasdengklok pada hari itu juga. Mereka akan menjemput Sukarno-Hatta. Semula para pemuda tidak mau melepas Sukarno-Hatta. Ahmad Subarjo memberi jaminan
bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus keesokan harinya, selambat-lambatnya pukul 12.00. Bila hal tersebut tidak terjadi, Ahmad Subarjo rela mempertaruhkan nyawanya. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta setempat, Cudanco Subeno, bersedia melepaskan Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta.
d) Perumusan teks proklamasi
Sesampai di Jakarta Sukarno-Hatta bersama Laksamana Maeda menemui Mayjen Nishimura untuk berunding. Nishimura tidak mengizinkan proklamasi kemerdekaan. Kemudian, mereka menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Di tempat inilah naskah proklamasi dirumuskan. Para pemuka Indonesia yang hadir berkumpul dalam dua ruangan, ruang makan dan serambi depan. Perumusan teks proklamasi dilakukan di dalam ruang makan oleh Sukarno, Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo. Sukarno menulis rumusan proklamasi tersebut.
e) Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi banyak orang berkumpul di kediaman Sukarno. Sekitar pukul 10.00, Ir. Sukarno didampingi Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Berikut ini teks proklamasi kemerdekaan:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai
commit to user
pemindahan kekusaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkatsingkatnya.
Atas nama Bangsa Indonesia
Sukarno/Hatta
2) Tokoh-tokoh Penting dalam Peristiwa Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia
Ada banyak tokoh yang turut terlibat dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa proklamasi dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan tua dan golongan muda. Kedua golongan ini sama-sama berjuang agar Indonesia segera merdeka.
Setelah kita mengetahui riwayat hidup para tokoh tersebut, kita bisa meneladani hal-hal positif yang telah mereka lakukan. Selanjutnya, mari kita bahas beberapa tokoh penting yang berperan dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan.
a) Ir. Sukarno (1901-1970)
Sukarno adalah tokoh sangat penting dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebagai pemimpin Indonesia yang menonjol waktu itu, Bung Karno dipilih menjadi ketua PPKI. Sebagai Ketua PPKI, beliau menemui penguasa Jepang di Indonesia, yaitu Mayjen Nishimura. Mereka membicarakan kemerdekaan Indonesia. Beliau dan para pemimpin yang lain tetap melanjutkan tekad memproklamasikan kemerdekaan meskipun tanpa persetujuan penguasa Jepang. Bung Karno bersama dengan
Bung Hatta dan Ahmad Subarjo merumuskan naskah Proklamasi. Bahkan rumusan awal naskah proklamasi adalah tulisan tangan Bung Karno. Peran Bung Karno yang sangat menonjol adalah bersama Bung Hatta bertindak sebagai Proklamator. Bung Karno lah yang akhirnya dengan penuh keberanian dan kekhidmatan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
b) Drs. Mohammad Hatta
Peran Drs. Mohammad Hatta dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan sangat penting. Waktu itu, Bung Hatta dianggap sebagai pemimpin utama Bangsa Indonesia selain Bung Karno. Karena peran beliau, pendapat golongan tua dan golongan muda bisa dipertemukan. Beliau berdialog dengan golongan muda tentang cara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
c) Ahmad Subarjo,
Ahmad Subarjo adalah Penasihat PPKI. Peran penting Subarjo adalah turut merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan. Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Beliau merumuskan naskah Proklamasi.
d) Ibu Fatmawati
Sebagai istri pemimpin Bangsa Indonesia, Fatmawati turut mendampingi Bung Karno. Beliau menjahit Bendera Pusaka, Merah Putih. Beliau menjahit Bendera Pusaka ini pada bulan Oktober 1944. Bendera ini dikibarkan setelah Bung Karno membaca Proklamasi.
e) Sutan Syahrir
Sutan Syahrir adalah tokoh politik, pejuang kemerdekaan, dan perdana menteri pertama RI. Syahrir
commit to user
adalah salah satu tokoh yang paling awal mengetahui berita Jepang menyerah kepada Sekutu. Setelah beliau mengetahui berita tersebut beliau mendesak Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di luar rapat PPKI.
f) Laksamana Takasi Maeda
Laksamana Maeda adalah seorang perwira penghubung Jepang. Beliau mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau menjamin keselamatan perencanaan proklamasi. Perumusan teks Proklamasi dilakukan di rumah beliau.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini diantaranya:
1. Penelitian dari Indrayati yang berjudul peningkatkan hasil belajar IPS tentang Keragaman Kenampakan Alam dan Suku Bangsa Serta Budaya melalui penerapan pembelajaran kooperatif learning model Team Games Tournament bagi siswa kelas V SD Negeri Tunggulsari 1 Surakarta. Penelitian ini berbentuk PTK dan dilaksanakan pada tahun 2008. Dari hasil penelitian tersebut telah disimpulkan bahwa hasil belajar IPS tentang Keragaman Kenampakan Alam Dan Suku Bangsa Serta Budaya melalui penerapan pembelajaran kooperatif learning model Team Games Tournament bagi siswa kelas V SD Negeri Tunggulsari 1 Surakarta mengalami peningkatan. Tujuan pembelajaran dapat tercapai telah tercapai. Terbukti dengan nilai rata-rata kelas 65,36 pada siklus pertama menjadi 77,48 pada siklus kedua. Penelitian ini memiliki persamaan pada variabelnya yaitu penggunaan kooperatif lerning model Teams Games Tournament. Selain itu persamaan lainnya
adalah sama-sama pelajaran IPS kelas V akan tetapi beda materinya. Penelitian dari Indrayati menggunakan variabel hasil belajar sedangkan penelitian ini menggunakan pemahaman konsep
2. Penelitian dari Maria Yosiana Dwi Anggraeni dengan Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournament) untuk Meningkatkan Motivasi, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Malang. Penelitian berbentuk skripsi yang dilakukan pada tahun 2009Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournament) dapat Meningkatkan Motivasi, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif model TGT hasil belajar siswa setiap siklusnya mengalami peningkatan, dari yang kurang baik menjadi baik. Terbukti dengan prestasi rata-rata kelas 67,71 pada siklus 1 dan prestasi rata-rata kelas 79,76 pada siklus 2. Selanjutnya dari hasil observasi didapatkan kesimpulan bahwa motivasi dan aktivitas siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Penelitian ini memiliki persamaan pada variabelnya yaitu penggunaan kooperatif lerning model Teams games tournament. Sedangkan perbedaannya adalalah penelitian dari Maria Yosiana Dwi Anggraeni meneliti tentang motivasi, aktivitas dan hasil belajar. Selain itu penelian Maria Yosiana Dwi Anggraeni dilakukan pada kelas X SMA Negeri 9 Malang. 3. Penelitian dari
Kemampuan Berbicara dengan Pembelajaran Kooperatif Model TGT pada Siswa Kelas IV SD Negeri Pilangsari 1 Kec. Penelitian ini berbentuk skripsi yang dilakukan pada tahun 2009. Berdasarkan hasil
commit to user
penelitian tindakan kelas menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model TGT mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif model TGT hasil belajar siswa setiap siklusnya mengalami peningkatan, dari yang kurang baik menjadi baik. Secara berturut-turut (berdasar siklus I, II, dan III) hasil belajar kemampuan berbicara kelas IV SD Negeri Pilangsari 1 Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen dengan rata-rata prestasi kelas sebesar 64,3 pada siklus I, siklus II sebesar 65,8. Penelitian ini juga terdapat persamaannya taitu penggunaan pembelajaran kooperatif tipe TGT, perbedannya penelitian dari Sumarni meneliti tentang kemempuan berbicara.