BAB I PENDAHULUAN
A. Hakikat Pendidikan Karakter
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak. Menurut Ki Hajar Dewantara (2013:407-409) karakter sama dengan watak. Karakter atau watak adalah paduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Karakter terjadi karena pengembangan dasar yang telah terkena pengaruh pengajaran. Jadi, ada unsur bakat yang dipunyai anak dan unsur pendidikan selanjutnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018) karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010). Menurut Scerenko (1997) karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Sementara itu Menurut Samani & Hariyanto (2013) karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannta dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan seharihari. Lickona (dalam Wibowo, 2012:32) mengatakan karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Lickona (2014) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior).
Berdasarkan berbagai pengertian dan definisi karakter tersebut di atas maka karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang. Terbentuk baik karena pengaruh bawaan dari individu itu sendiri maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Karakter adalah nilai-nilai dan sikap hidup yang positif, yang dimiliki seseorang sehingga mempengaruhi tingkah laku, cara berpikir dan bertindak orang itu, dan akhirnya menjadi tabiat hidupnya. 2. Pengertian Pendidikan Karakter
Dalam pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarnya. Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya (Winton, 2010). Pendidikan karakter telah menjadi sebuah
pergerakan pendidikan yang mendukung pengembangan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etik para siswa. Pendidikan karakter merupakan suatu upaya proaktif yang dilakukan, baik oleh sekolah maupun pemerintah untuk membantu siswa mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja, seperti kepedulian, kejujuran, kerajinan, keadilan (fairnes), keuletan dan ketabahan (fortitude), tanggung jawab, menghargai diri sendiri dan orang lain. Pendidikan karakter menurut Burke (2001) semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik. Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungan dengan Tuhannya.
Funderstanding (2006), Departemen Pendidikan Amerika Serikat mendefinisikan pendidikan karakter sebagai pendidikan yang mengajarkan kebiasaan berpikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang-orang hidup dan bekerja sama sebagai keluraga, sahabat, tetangga, masyarakat, dan bangsa. Pengertian tersebut diperjelas dalam brosur Pendidikan Karakter (Character Education brochure, 2006) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang memberdayakan siswa dan orang dewasa di dalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli tentang, dan berbuat berlandaskan nilai-nilai etik seperti respek, keadilan, kebajikan warga (civic vitue) dan kewarganegaraan (citizenship), dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Menurut Lickona (1991) pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona (2004) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa. Menurut Scerenko (1997) pendidikan karakter dapat dimaknai
sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari).
Jadi pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntutan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat mengambil bentuk/wujud sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
3. Hambatan-Hambatan Pelaksanaan Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP
Pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi di SMP berpedoman pada aturan yang dibuat oleh Direktorat Pembinaan SMP tahun 2010 yang dijadikan standar minimal ketentuan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Ketentuan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah tersebut melibatkan guru mata pelajaran yang menjadi subjek pelaksana pendidikan karakter. Kenyataannya, proses pelaksanaan pendidikan karakter yang dilakukan oleh guru mata pelajaran mengalami hambatan. Barus (2015) dalam penelitiannya pada 51 guru di 5 SMP memaparkan bahwa hambatan-hambatan umum dalam proses pelaksanaan pendidikan karakter antara lain:
a. Pedoman Pendidikan Karakter dari Direktorat Pembinaan SMP (2010) kurang operasional, sehingga sulit bagi guru mengimplementasikannya di sekolah.
b. Integrasi nilai karakter melalui pembelajaran masih bersifat acuan, belum dapat diterapkan.
c. Tidak tersedia alat dan cara evaluasi yang baku (terstandar) untuk mengukur ketercapaian hasil pendidikan karakter di sekolah.
d. Penanaman nilai karakter masih cenderung pada tataran kognitif (diceramahkan), belum mengarah pada afeksi dan tindakan nyata (internalisasi).
e. Komitmen dan konsistensi para guru dalam menjaga gawang karakter tidak selalu sama, cenderung rapuh; dan belum tercipta kolaborasi yang baik antara para guru dan konselor atau guru BK dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah.
4. Tujuan Pendidikan Karakter
Lickona (2012) menjelaskan bahwa pendidikan karakter dilaksanakan bertujuan untuk menghasilkan pengaruh yang baik bagi orang-orang yang terlibat seperti keluarga, sekolah dan komunitas. Pelaksanaan pendidikan karakter menjadi usaha yang benar-benar dibutuhkan untuk membentuk individu menjadi lebih adil, peduli, terhormat dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Artinya pendidikan karakter menjadi bekal bagi individu dalam menanggapi persoalan yang terjadi di masyarakat dengan prinsip nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
Kemendiknas (Zubaedi, 2011) menegaskan bahwa pendidikan karakter sebagai langkah melaksanakan tujuan pendidikan nasional di Indonesia mengemban misi untuk mengembangkan watak-watak dasar yang perlu dimiliki oleh siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan karakter memiliki esensi yang sangat penting guna membangun pribadi-pribadi berwatak baik sehingga dapat terinternalisasikan pada perilaku di masyarakat.
Fathurrohman, dkk (2013) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan karakter secara khusus, yaitu untuk:
a. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi karakter bangsa yang religious.
b. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik
sebagai generasi penerus bangsa.
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
e. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh ketakutan.
5. Faktor-Faktor Pendukung Pendidikan Karakter
Menurut Suparno (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter individu, yaitu:
a. Keluarga
Anak mengalami sosialisasi pertama kali dalam lingkup keluarga. Di sini anak juga pertama kali mengenal karakter. Peranan orang tua dalam hal ini sangat penting, karena sejak lahir anak sudah belajar karakter tertentu dari orang tua. Ketika anak berada di dalam kandungan pun anak sudah belajar bersikap dari orang tuanya, terutama ibu yang mengandung. Selain itu, suasana keluarga merupakan hal yang sangat penting bagi perkembngan karakter anak. Orang tua perlu dilibatkan agar pendidikan karakter di sekolah dapat berjalan lancar dan efektif.
b. Guru
Selain di rumah, waktu anak banyak dihabiskan di sekolah. Maka guru mempunyai andil yang sangat besar dalam pendidikan karakter anak. Pendidikan karakter bisa dilakukan melalui pengajaran dan juga sikap guru terhadap anak, karena melalui pembelajaran guru bisa mengajarkan anak mengenai berbagai hal baik.
Karakter remaja sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya. Secara psikologis, remaja sedang dalam proses pencarian jati diri sehingga remaja ingin bergabung dengan teman sebayanya dalam pencarian jati dirinya. Oleh karena itu teman dalam pergaulan sangat bepengaruh dalam membentuk karakter anak.
d. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah serta suasana sekolah mempunyai pengaruh pada pendidikan dan pengembangan karakter anak. Suasana sekolah perlu diatur dan ditata sesuai dengan nilai karakter yang akan ditanamkan pada diri anak. Maka, perlu adanya kerjasama dari seluruh pihak yang ada dilingkungan sekolah agar penanaman karakter sungguh nyata dan efektif dalam pengembangan karakter anak maupun semua pihak yang ada di sekolah.
e. Lingkungan masyarakat
Keadaan, situasi, dan karakter lingkungan masyarakat berpengaruh pada pembentukan karakter remaja. Remaja akan melihat serta meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Lingkungan yang mendukung pengembangan karakter positif remaja tentunya situasi lingkungan juga memiliki karakter yang positif. Bila lingkungan sekitar kurang mendukung pengembangan karakter positif, maka karakter baik yang sudah ditanamkan di sekolah maupun di keluarga akan luntur karena pengaruh lingkungan tersebut.
f. Media
Perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat mempengaruhiremaja. Banyak remaja yang meniru sesuatu yang dilihatnya pada mediatanpa menyaring hal tersebut. Kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat akses anak dalam mengoperasikan Gadget sangat mudah. Banyak remaja SMP yang memiliki Gadget. Apabila dalam penggunaannya tidak dapat
terkontrol dengan baik, maka Gadget yang fungsi dan tujuannya untuk hal-hal yang baik justru menjadi perusak karakter remaja. 6. Nilai-Nilai Karakter Utama yang Dikembangkan di SMP
Berdasarkan Pusat Kurikulum Balitbang Diknas (Suparno, 2015) terdapat 18 nilai karakter yang perlu dikembangkan untuk peserta didik. Kedelapan belas nilai beserta deskripsi untuk masing-masing nilai dijelaskan sebagai berikut:
a. Nilai religious
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Jujur
Perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, gender, jenis kelamin, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
f. Kreatif
Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
b. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
c. Rasa ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
d. Semangat kebangsaan
Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
e. Cinta tanah air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat pada diri seseorang yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, serta penghargaan tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. f. Menghargai prestasi
Sikap dan tindakan mendorong diri untuk menghasilkan sesuatu berguna bagi masyarakat, serta menghormati keberhasilan orang lain. g. Bersahabat atau komunikatif
Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
h. Cinta damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
i. Gemar membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
k. Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan tanpa melihat pengkotakan sosial, baik agama, budaya, gender, jenis kelamin, dan status sosial. l. Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas serta kewajiban yang seharusnya dilakukan.
7. Penilain Hasil Pendidikan Karakter
Menurut Marzuki (2010) indikator keberhasilan pendidikan karakter seiring dengan pencapaian kriteria pada SKL SMP yaitu:
a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
b. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. c. Menunjukkan sikap percaya diri.
d. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
e. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
f. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.
g. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. h. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
i. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
j. Mendeskripsikan gejala alam dan social.
l. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
m. Menghargai karya seni dan budaya nasional.
n. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. o. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan
waktu luang dengan baik.
p. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.
q. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
r. Menghargai adanya perbedaan pendapat.
s. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
t. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
u. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
v. Memiliki jiwa kewirausahaan.
B. Pergaulan Teman Sebaya dalam Pendidikan Karakter