• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESISI

A. Kajian Teori

3. Hakikat Peta Pikiran (Mind Mapping)

Buzan (2003: 4) menjelaskan bahwa peta pikiran (mind mapping) merupakan cara mudah untuk menggali informasi dari dalam dan dari luar otak. Peta pikiran (mind mapping) adalah cara untuk belajar dan berlatih dengan cepat dan mudah dan dapat digunakan oleh semua orang. Membuat catatan dengan peta pikiran (mind mapping) akan menyenangkan dan tidak akan membosankan. Peta pikiran (mind mapping) adalah cara terbaik untuk mendapatkan ide baru dan merencanakan proyek. Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2004: 153) juga menjelaskan mengenai peta pikiran yang dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan dengan mudah. Peta pikiran merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan.

Martin (dalam Trianto, 2007: 159) mengungkapkan bahwa peta pikiran adalah ilustrasi grafis konkret yang mengidentifikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Dengan demikian, peta pikiran dapat mempermudah kerja seseorang karena gagasan dapat dapat tertuang secara konkrit. Ariany Syurfah (2007: IX) mengungkapkan bahwa peta pikiran (mind mapping) merupakan teknik

potensi otak dengan memanfaatkan kata-kata, image, nomer, logika, irama, dan dimensi serta disajikan dalam pola yang unik. Sistem ini merupakan metode mencatat kreatif yang memudahkan untuk mengingatkan banyak informasi dan mempresentasikan secara akurat dan menyenangkan.

Dahar (dalam Trianto, 2007: 159) mengemukakan beberapa ciri dari peta pikiran (mind mapping). Ciri-ciri peta pikiran (mind mapping), antara lain:

1) Peta pikiran (mind mapping) dapat memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, contohnya dalam bidang studi Fisika, Kimia, Biologi, Matematika. Melalui peta pikiran, siswa dapat melihat bidang studi tersebut lebih jelas dan bermakna.

2) Peta pikiran dapat berupa gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri-ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan yang proporsional antara konsep-konsep. 3) Tidak semua konsep peta pikiran mempunyai bobot yang sama. Ini

berarti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep yang lain.

4) Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut. Arends (dalam Trianto, 2007) mengemukan langkah-langkah dalam membuat peta pikiran. Langkah-langkah membuat peta pikiran adalah sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi ide atau pokok yang melingkupi sejumlah konsep. Contohnya mengenai ekosistem.

2) Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama. Contohnya seperti individu, populasi, komunitas.

3) Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta pikiran.

4) Ide-ide sekunder dikelompokkan di sekeliling ide utama secara visual, sehingga menunjukkan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Buzan (2007: 10) menjelaskan mengenai cara membuat peta pikiran (mind

map). Cara membuat pikiran tersebut, antara lain:

1) Menggunakan selembar kertas kosong tanpa garis dan beberapa pulpen berwarna. Tertas tersebut letakkan menyamping.

2) Membuat gambar yang merangkum subjek utama di tengah-tengah kertas. Gambar itu melambangkan topik utama.

3) Membuat beberapa garis tebal berlekuk-lekuk yang menyambung dari gambar di tengah kertas, masing-masing untuk setiap ide utama yang ada mengenai subjek. Cabang-cabang utama tersebut melambangkan subtopik utama.

4) Memberi nama pada setiap ide di atas dan memberi gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersebut. Kegiatan tersebut menggunakan kedua sisi otak. Setiap kata dalam mind mapping digarisbawahi jika merupakan kata-kata kunci untuk menunjukkan tingkat kepentingannya.

5) Setiap ide dapat ditarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti cabang-cabang pohon. Setiap cabang merupakan buah pikiran setiap ide tadi. Cabang-cabang tambahan ini melambangkan detail-detail yang ada.

Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2004: 156) beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat peta pikiran lebih mudah diingat:

1) Ditulis atau diketik secara rapi dengan menggunakan huruf-huruf kapital.

2) Gagasan-gagasan penting ditulis dengan huruf-huruf yang lebih besar, sehingga langsung menonjol ketika dibuka catatan kembali.

3) Gambar dalam peta pikiran akan lebih diingat jika digambar dengan hal-hal yang berhubungan diri seseorang.

4) Menggarisbawahi dan menggunakan kata-kata tebal.

5) Kreatif dan berani dalam desain karena otak lebih mudah mengingat hal yang tidak biasa.

gagasan-gagasan tertentu.

7) Menciptakan peta pikiran secara horizontal untuk memperbesar ruang bagi pekerjaan.

Dahar (dalam Anwar Holil, 2008) menjelaskan bahwa langkah-langkah menyusun peta konsep. Langkah tersebut sebagai berikut: (1) memilih suatu bahan bacaan; (2) menentukan konsep-konsep yang relevan; (3) mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif; (4) menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.

“A Mind Map is a powerful graphic technique which provides a

universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skills - word, image, number, logic, rhythm, colour and spatial awareness - in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it gives you the freedom to roam the infinite expanses of your brain. The Mind Map can be applied to every aspect of life where improved learning and clearer thinking will enhance human performance”. (Buzan 2008).

Teori Buzan (2008) tersebut dengan kata lain menyebutkan bahwa peta pikiran merupakan sebuah teknik grafik yang sangat kuat yang memberikan sebuah kunci bersama untuk membuka potensi otak. Peta pikiran menggunakan latihan penuh kemampuan selaput otak-kata, angka, gambar, logika, irama, warna, dan ruang kesadaran pada sebuah cara khusus yang sangat kuat, dan unik. Peta pikiran memberimu kebebasan untuk menjelajahi ruang tak terbatas dari otak. Peta pikiran ini bisa dipakai untuk setiap aspek kehidupan untuk memperbaiki pengetahuan dan pikiran yang akan meningkatkan kemampuan manusia.

Menurut Anton (2008) cara membuat peta pikiran atau peta konsep (mind

mapping) dengan menuliskan tema utama sebagai titik sentral/tengah dan

memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Berarti setiap mempelajari sesuatu hal, maka fokus kita diarahkan pada tema utamanya, poin-poin penting

dari tema utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.

Buzan (dalam Ida, 2008) menyatakan bahwa Mind Map merupakan alat paling hebat yang dapat membantu otak berpikir secara teratur. Mind Map memberikan kemudahan dalam mengatur segala fakta dan hasil pemikiran yang melibatkan cara kerja alami otak sejak awal. Hal ini berarti bahwa upaya untuk mengingat dan menarik kembali informasi di kemudian hari akan lebih mudah, serta lebih dapat diandalkan daripada menggunakan cara pencatatan tradisional. Mind Map didefinisikan sebagai cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut, mengembangkan cara pikir divergen, dan berpikir kreatif. Mind Map merupakan cara termudah menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan.

Aekmaga (2008) menjelaskan beberapa manfaat peta pikiran. Manfaat peta pikiran (mind mapping) antara lain mempercepat pembelajaran, melihat koneksi antartopik yang berbeda, membantu ‘brainstorming’, memudahkan ide mengalir, melihat gambaran besar, memudahkan mengingat, menyederhanakan struktur. Selanjutnya Erman ( dalam Anwar Holil, 2008) menjelaskan mengenai berbagai macam peta konsep. Peta konsep ada empat macam yaitu: (1) pohon jaringan (network tree); (2) rantai kejadian (events chain), (3) peta konsep siklus (cycle

concept map); (4) dan peta konsep laba-laba (spider concept map)”.

Anwar Holil (2008) mejelaskan bahwa peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan untuk membantu meningkatkan membantu pebelajar meningkatkan mutu bahan-bahan pelajaran yang dipelajari. Strategi-strategi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Strategi-strategi tersebut merupakan pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Selanjutnya Iwan Sugiarto (dalam R. Teti Rostikawati, 2008)

dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya.

Simpulan teori-teori tersebut, bahwa peta pikiran (mind mapping) adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

b. Pembelajaran Berbicara dengan Peta Pikiran (Mind Mapping)

Martin (dalam Trianto, 2007: 157) menjelaskan bahwa pemetaan konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Para guru yang telah menggunakan peta pikiran agar konsep yang digunakan akan memberi mereka basis logis untuk memutuskan ide-ide utama apa yang akan dimasukkan atau dihapuskan dari rencana-rencana dan pengajaran mereka. Pemahaman ini akan memperbaiki perencanaan dan instruksi guru. Pemetaan yang jelas dapat menghindari miskonsepsi yang dibentuk siswa.

Anton (2008) menjelaskan bahwa peta pikiran (mind mapping) merupakan konsep yang didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang bercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Fakta tersebut menjelaskan scara kerja otak, yaitu menyimpan informasi, sehingga semakin baik informasi tersimpan dalam otak, maka akan mempermudah proses belajar.

Dahar (dalam Anwar Holil, 2008) mengungkapkan bahwa dalam salah satu teori Ausubel menyebutkan faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Supaya

belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa (Suryadi menambahkan ini yang disebut Teknik Konstruktivisme). Peta konsep akan membantu mengemukakan cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep

Menurut Sur (2008) pembelajaran dengan peta pikiran (mind mapping) mempunyai beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan tersebut, antara lain:

1) Jika terlalu banyak menggunakan kata kunci/ gambar kunci (key word/

key image), kode (asosiasi) yang hanya dimengerti oleh si pembuat,

maka orang lain akan kesulitan untuk memahaminya.

2) Cara berpikir seseorang akan menjadi divergen dan ini bisa menjadi kelemahan dan juga sekaligus kekuatan. Kelemahan karena ia akan menjadi kurang fokus pada satu masalah. Kekuatan karena ia terus akan menggenerate ide dari apa yang sudah terlihat di kertas dan menambahkan ide-ide baru yang muncul di kepalanya (otak kanan). 3) Memerlukan 2-3 kali penggambaran ulang agar peta konsep bisa

terlihat lebih rapih dan artistik

Kelebihan peta pikiran (mind mapping) : (1) dapat mengemukakan pendapat secara bebas; (2) dapat bekerjasama dengan teman lainnya. Sedangkan kekurangannya adalah siswa yang tidak aktif yang sulit terlibat. Peta pikiran

(mind mapping) cenderung hanya dimengerti oleh si pembuat itu sendiri karena

peta pikiran (mind mapping) merupakan hasil ide seseorang. Sedangkan kelebihan peta pikiran (mind mapping) dapat membantu mempermudah seseorang menyimpan serta mengeluarkan kembali informasi yang tersimpan di otak kita.

Simpulan dari teori tersebut adalah pembelajaran berbicara dengan peta pikiran (mind mapping) akan mempermudah siswa menyerap pelajaran. Peta pikiran (mind mapping) merupakan teknik yang mempermudah siswa memahami konsep-konsep belajar agar lebih mudah. Dengan peta pikiran (mind mapping) siswa akan lebih mudah mengungkapkan ide serta gagasan karena peta pikiran

Gambar 3. Contoh Mind Mapping 3

Dokumen terkait