• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

A. Hakikat Stres pada Mahasiswa

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini, peneliti menguraikan hakikat stres, hakikat resiliensi, segi-segi kehidupan mahasiswa, dan program peningkatan resiliensi.

A. Hakikat Stres pada Mahasiswa 1. Pengertian Stres

Yusuf dan Nurihsan (2005) menyatakan bahwa stres merupakan fenomena psikofisik. Stres dialami oleh setiap orang, dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status social ekonomi. Stres dapat berpengaruh positif maupun negative terhadap individu. Pengaruh positif yaitu mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negative yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi, dan memicu berjangkitnya sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.

Menurut Dadang Hawari (1997: 44-45) stres tidak dapat dipisahkan dari distres dan depresi, karena satu sama lainnya saling terkait. Stres merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan kehidupan yang dialaminya. Apabila fungsi organ tubuh sampai terganggu dinamakan distres. Sedangkan depresi merupakan reaksi kejiwaan terhadap stressor yang dialaminya. Dalam

banyak hal manusia akan cukup cepat untuk pulih kembali dari pengaruh-pengaruh pengalaman stres. Manusia mempunyai suplai yang baik dan energy penyesuaian diri untuk dipakai dan diisi kembali bilamana perlu.

Stres dapat diartikan sebagai respon (reaksi) fisik dan psikis, yang berupa perasaan yang tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan terhadap tekanan atau tuntutan yang dihadapi. Diartikan juga reaksi fisik yang dirasakannya tidak nyaman sebagai dampak dari persepsi yang kurang tepat terhadap sesuatu yang mengancam keselamatan dirinya, merusak harga dirinya, menggagalkan keinginan atau kebutuhannya.

Sementara A. Baum (Shelly E. Taylor, 2003) mengartikan stres sebagai pengalaman emosional yang negative yang disertai perubahan-perubahan biokimia, fisik, kognitif, dan tingkah laku yang diarahkan untuk mengubah peristiwa stres tersebut atau mengakomodasi dampak-dampaknya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa stres adalah perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan, baik fisik maupun psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor (stimulus yang berupa peristiwa, objek, atau orang) yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidupnya.

Dunia pendidikan perguruan tinggi atau universitas merupakan masa yang penuh tekanan (stress full) bagi kebanyakan mahasiswa karena mereka

harus melalui proses adaptasi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lingkungan yang baru. Masa transisi dari lingkungan sekolah ke lingkungan kampus dapat menyebabkan kekagetan psikologis, akademik dan sosial bagi mahasiswa karena terdapat banyak perbedaan sistem pendidikan antara lain model pembelajaran, tuntutan akademik, bentuk hubungan antara mahasiswa dan dosen, dan hubungan antar mahasiswa itu sendiri.

Stres merupakan gejala yang muncul ketika ada tuntutan dari lingkungan yang melampaui kemampuan penyesuaian individu (Lazarus, 1976). Stres adalah keadaan individu yang dipengaruhi oleh rangsangan dari dalam dan dari luar individu. Keadaan inilah yang membuat individu bereaksi, baik berupa fisik maupun psikologis. Stres terjadi karena adanya faktor-faktor yang membuat individu berada dalam keadaan yang tidak nyaman dan adanya ancaman yang tidak sehat yang terjadi pada seseorang.

Greenberg (1999) secara khusus merangkum stressors yang ada pada mahasiswa baru (yang memasuki perkuliahan setelah lulus SMA), yaitu: perubahan gaya hidup (masa transisi dari SMA ke Universitas), nilai, jumlah mata kuliah yang diambil, masalah pertemanan, cinta, rasa malu, dan kecemburuan. Murphy dan Archer (dalam Duffy & Atwater, 2005) menambahkan bahwa persaingan antar mahasiswa yang tinggi merupakan salah satu pemicu stres bagi mahasiswa. Stres yang dialami oleh mahasiswa memberikan dampak yang negatif pada kondisi fisik dan psikis seseorang.

Dampak tersebut dapat berupa gejala fisiologis, emosional, kognitif, hubungan interpersonal, dan organisasional (Rice, dalam Safaria, 2005).

Stres juga dapat mempengaruhi perkembangan dan gejala-gejala penyakit seperti darah tinggi, sakit kepala, dan demam (Sarafino & Ewing, 1999). Lebih spesifik lagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hudd (Duffy & Atwater, 2005) dampak stres yang dialami oleh mahasiswa sering kali berupa tingkah laku yang negatif seperti merokok, mengkonsumsi minuman keras, mengkonsumsi junk food, dan bunuh diri. Sebagai tambahan, mahasiswa yang stres akan berpengaruh buruk terhadap nilai Indeks Prestasi (IP) dan kesehatannya.

2. Penyebab Stres pada Mahasiswa

Penyebab stres pada mahasiswa sangat beragam diantaranya tugas-tugas kuliah, kuis, ujian, tidak lulus mata kuliah, dan lain sebagainya. Adnamazida ( dalam Sehat, 2013) mengungkapkan bahwa mahasiswa banyak disibukkan dengan berbagai hal seperti urusan kuliah yang padat yang pada akhirnya menimbulkan stres pada mereka. Simak berbagai penyebab stres lainnya pada mahasiswa seperti yang dilansir dari All Women Stalk tahun 2013 berikut ini:

a. Prioritas

agak sulit menentukan prioritas. Akhirnya, semuanya terlihat berantakan dan membuat mahasiswa terserang stres.

b. Makan

Kebiasaan makan mahasiswa cenderung berantakan. Selain itu, mereka juga sering tidak memenuhi aturan pemenuhan gizi karena terlalu sibuk. Pola makan buruk akhirnya membuat mahasiswa mudah stres.

c. Kompetisi

Jika kompetisi antar siswa di sekolah bisa dibilang termasuk skala kecil, mahasiswa dihadapkan pada skala kompetisi yang lebih besar. Misalnya urusan nilai sampai dengan masalah kelulusan.

d. Tugas kuliah

Salah satu penyebab stres yang pasti dihadapi oleh setiap mahasiswa adalah adanya tugas yang tak akan ada habisnya. Pengalaman yang sebelumnya tidak dirasakan di bangku sekolah akhirnya membuat mahasiswa stres.

e. Organisasi

Jika mahasiswa memiliki aktivitas yang terlalu banyak di luar urusan akademik, misalnya terlibat aktif dalam organisasi, kesibukan akan semakin meningkat dan mereka juga semakin tertekan. Bukan berarti

mahasiswa tidak sebaiknya bergabung dalam organisasi, namun butuh kemampuan keras untuk menyeimbangkan keduanya.

f. Keuangan

Biaya kuliah bisa dibilang mahal; terutama bagi mahasiswa yang berasal dari luar kota. Usaha untuk memenuhi kebutuhan itu pun terkadang mengharuskan mahasiswa menjalani pekerjaan sampingan sembari kuliah.

g. Waktu

Kesulitan mengatur waktu juga menjadi penyebab stres pada mahasiswa. Terutama jika jadwal berantakan dan jatah tidur berkurang, mahasiswa akan semakin mudah merasa stres.

B. Hakikat Resiliensi

Dokumen terkait