• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Suasana Belajar a. Hakikat Suasana

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

2. Hakikat Suasana Belajar a. Hakikat Suasana

Menurut Hartono (2005: 17) menjelaskan bahwa suasana merupakan suatu keadaan yang dialami oleh seseorang dalam menjalankan aktivitas pada waktu tertentu. Ismail (2008: 56) menjelaskan bahwa suasana adalah keadaan lingkungan sekitar, di mana lingkungan belajar merupakan salah satu aspek penilaian baik atau tidaknya dari seseorang individu yang melihat lingkungan belajar yang dirasakan.

Sanjaya (2011: 258) menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam kondisi lingkungan yang baik

28

dan sehat dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dibandingkan dengan belajar yang dilakukan pada lingkungan yang tidak baik dan tidak sehat.

Berdasarkan teori-teori tersebut, dapat kesimpulan bahwa suasana merupakan keadaan dalam suatu lingkungan yang bernilai bagus atau tidaknya dari yang melihat atau yang merasakannya. Artinya, suasana lingkungan belajar merupakan salah satu aspek penilaian baik atau tidaknya dari seorang individu yang melihat lingkungan belajar yang dirasakan.

b. Hakikat Belajar

Menurut Sadiman (2003: 2), belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Sedangkan menurut Siahaan (2005: 2), belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku yang baru berdasarkan pengalaman dan latihan.

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu Sudjana (2010: 1). Artinya, seluruh aktivitas anak memperhatikan sesuatu merupakan proses belajar.

29

Menurut Sutrisno (2011: 39) dalam Zulfa, tujuan belajar adalah memperoleh dengan suatu cara yang dapat melahirkan suatu kemampuan intelektual, merangsang keingin tahuan, dan memotivasi peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang berkualitas dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya, metode yang digunakan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia. Apabila tidak terjadi perubahan dalam diri manusia setelah belajar, maka tidaklah dikatakan bahwa telah berlangsung proses belajar padanya.

c. Hakikat Suasana Belajar

Suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menarik minat peserta didik untuk terlibat secara aktif, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai maksimal. Di samping itu, pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menjadi hadiah, reward bagi peserta didik yang pada gilirannya akan mendorong motivasinya semakin aktif dan berprestasi pada kegiatan belajar berikutnya Ismail (2008:47).

Menurut Nana Sudjana (2002: 42), mengemukakan bahwa suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil belajar yang optimal, dibandingkan dengan suasana belajar yang kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas

30

pada guru. pembelajaran di sekolah dapat dibedakan tiga jenis yaitu pertama suasana autokratis dengan sikap guru yang otoriter, ini terjadi bila guru menggunakan kekuasaannya untuk mencapai tujuannya tanpa lebih jauh mempertimbangkan akibatnya bagi anak, khususnya bagi perkembangan pribadinya. Kedua, suasana Laissez-faire dengan sikap guru yang permisif, ditandai dengan membiarkan anak berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan frustasi, larangan, perintah, atau paksaan. Ketiga, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil.

Dari ketiga jenis suasana pembelajaran tersebut, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil lebih memungkinkan untuk memberi peluang dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Dampak yang ditimbulkan dari suasana demokratis adalah tumbuhnya rasa percaya diri, saling menerima dan percaya satu sama yang lain, baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa.

Indrawati, dkk. (2009:16) dalam Zulfia menyatakan ciri-ciri suasana belajar yang menyenangkan adalah:

1) Rileks

2) Bebas dari tekanan 3) Aman

4) Menarik

31

6) Adanya keterlibatan penuh 7) Perhatian peserta didik tercurah

8) Lingkungan belajar yang menarik (misalnya, keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak)

9) Bersemangat 10) Perasaan gembira 11) Konsentrasi tinggi

Selanjutnya ciri suasana belajar yang tidak menyenangkan adalah: 1) Tertekan

2) Perasaan terancam 3) Perasaan menakutkan 4) Merasa tidak berdaya d. Suasana Belajar Kondusif

Supardi (2013:217), berpendapat bahwa suasana belajar dinyatakan kondusif apabila warga sekolah merasakan adanya kenyamanan, ketentraman, kemesraan, kegembiraan dan antusias dalam pelaksanaan pembelajaran. Sekolah memastikan sarana prasarana seperti kursi, meja, lemari yang terdapat di sekolah adalah sesuai dengan kebutuhan. Bangunan sekolah dan ruangan kelas yang dilengkapi ventilasi udara yang baik dan dilengkapi penerangan yang mencukupi dan suasana yang sunyi

32

sehingga peserta didik merasa nyaman ketika pembelajaran berlangsung di kelas.

Dalam rangka menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

1) Menyapa siswa dengan ramah dan bersemangat Menciptakan awal yang berkesan adalah penting karena akan mempengaruhi proses selanjutnya. Jika awalnya baik, menarik, dan memikat, maka proses pembelajaran akan lebih hidup dan menggairahkan. Oleh karena itu selalu awali kegiatan pembelajaran dengan memberikan sapaan hangat kepada peserta didik.

2) Menciptakan suasana rileks Ciptakanlah lingkungan yang releks, yaitu dengan menciptakan lingkungan yang nyaman. Oleh karena itu aturlah posisi tempat duduk secara berkala sesuai keinginan peserta didik. Selain itu, ciptakanlah suasana kelas dimana peserta didik tidak takut melakukan kesalahan. 3) Memotivasi siswa Motivasi adalah sebuah konsep utama

dalam banyak teori pembelajaran. Motivasi ini sangatlah dikaitkan dengan dorongan, perhatian, kecemasan, dan umpan balik/penguatan. Adanya dorongan dalam diri individu untuk belajar bukan hanya tumbuh dari dirinya secara langsung, tetapi bisa saja karena rangsangan dari luar,

33

misalnya berupa stimulus model pembelajaran yang menarik memungkinkan respon yang baik dari diri peserta didik yang akan belajar. Respon yang baik tersebut, akan berubah menjadi sebuah motivasi yang tumbuh dalam dirinya, sehingga ia merasa terdorong untuk mengikuti proses pembelajaran dengan penuh perhatian dan antusias.

Depdikbud dalam Fita musfida (2017:84) mengemukakan tujuan penciptaan iklim kelas yang kondusif yaitu :

1) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk megembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

2) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar.

3) Menyediakan dan mengatur fasilitas perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social emosional, dan intelektual dalam kelas.

Berdasarkan tujuan tersebut, Moedjiarto dalam Fita musfida (2017: 84-85) mengemukakan ciri-ciri kelas yang memiliki iklim yang baik (kondusif) sebagai berikut:

1) Suasana pembelajaran dikelas, tenang, jauh dari kegaduhan dan kekacauan.

34

2) Adanya hubungan yang akrab, penuh pengertian, dan rasa kekeluargaan antara aktifitas sekolah.

3) Disekolah tampak adanya sikap mendahulukan kepentingan sekolah dan kepentingan banyak, sedangkan kepentingan pribadi mendapatkan tempat yang paling belakang.

4) Semua kegiatan sekolah diatur dengan tertib, dilaksanakan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan merata. 5) Siswa mendapat perlakuan adil, tidak dibeda-bedakan antara

yang miskin dan kaya, pandai dan yang lamban berfikir, semuanya mendapat kesempatan yang sama untuk berprestasi sebaik-baiknya.

6) Didalam kelas dapat dilihat adanya aktvitas belajar mengajar yang tinggi.

7) Siswa aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang kurang dipahami, sedangkan guru dengan senang hati senantiasa bersedia menjawabnya. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab, dengan bijaksana guru meminta waktu untuk mencari data dan informasi lebih lanjut.

8) Siswa saling menghargai satu sama lainnya, dan terhadap gurunya siswa memiliki rasa hormat yang tinggi.

35

9) Meja dan kursi serta perlengkapan lainnya, yang terdapat di kelas senantiasa ditata dengan rapi dan dijaga kebersihannya.

10) Siswa ikut merawat kebersihan perabot sekolah dan kebersihan ruang kelas yang penugasannya dilakukan secara bergilir.

Menurut Karwati dan Priansa (Luthfiana, 2014: 49) kenyamanan belajar siswa yang berkaitan dengan pencahayaan di dalam kelas tidak hanya mempengaruhi keadaan fisik, namun juga memiliki pengaruh terhadap psikologi dan keindahan ruangan. Pencahayaan ruang kelas yang kurang akan menyebabkan kelelahan pada mata dan menyebabkan sakit kepala, sehingga dapat mempengaruhi semangat siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Pencahayaan yang baik dapat diperoleh jika tersedia jendela dan ventilasi yang cukup. Kemudian, suhu udara ruang kelas juga sangat berpengaruh terhadap konsentrasi siswa. Apabila siswa merasa kurang nyaman dalam suhu ruangan, konsentrasi dan perhatian mereka akan beralih dan tersita oleh ketidaknyamanan fisik mereka. Jika hal tersebut terjadi, maka proses pembelajaran menjadi tidak efektif, oleh karena itu sirkulasi udara dan kondisi jendela sangat penting. Menurut Karwati dan Priansa (Luthfiana, 2014: 272) menambahkan bahwa

36

untuk dapat belajar dengan efektif, diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya:

1) Ruang belajar harus bersih, tidak ada bau yang dapat mengganggu konsentrasi pikiran.

2) Ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat mengganggu mata.

3) Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat pelajaran, buku-buku, dan sebagainya.

Peneliti berpendapat bahwa suasana kondusif adalah lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan. Nyaman dalam hal jauh dari gangguan suasana dan bunyi yang dapat menganggu konsentrasi belajar, menyenangkan berarti suasana belajar yang gembira dan siswa antusiasi dalam melaksanakan pembelajaran, Suasana yang jauh dari tekanan dan target tertentu terhadap siswa yang belajar.

Dokumen terkait