• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hama Denting Tanaman Teh Perus ak D aun

Dalam dokumen BAHAN AJAR ILMU HAMA TUMBUHAN (Halaman 61-68)

DAFTAR PUSTAKA

B. Hama Denting Tanaman Teh Perus ak D aun

l. Helopeltis spp. '

Serangga ini merupakan hama utama pada tanaman teh, termasuk ordo Hemiptera Famili Miridae. Petani menyebutnya "kepik penghisap daun" atau "Leap sucking brig". Beberapa spesies yang telah dikenal antara lain H. antvnii Signoret, H. thcihora Watt. H c i n c h o r r a e Mann, H. cuneattis Dist

mempunyai penyebaran di Pulau Jawa dan Sumatra.

Serangga dewasa dicirikan adanya tanduk diatas thorax, hamper lurus dengan pentul yang jelas serta sayap yang terang, berwarna agak gelap/hitam. Apabila terbang berwarna agak hijau dan merah jambu.

H e l o p el t i s berbadan kecil, tiga pasang kaki, antena lebih panjang dari pada badan dan buka>> merupakan serangga penerbang yang balk. Dada bagian mulutnya terdapat alat penghisap makanan atau disebut stiles. Denga n cara menusu kka n stilet kedala m jaringan : tanaman yang masih muda untuk menghisap cairan makanannya. Serangga betina makanannya lebih besar dari pada yang jantan yaitu 6 mm-7,5 mm dan dapat hidup lebih dari 50 hari. Sepanjang hidupnya induk betina dapat menghsilkan kurang lebih 200 butir telur. Keperidian serangga hama ini dipengaruhi oleh musim, dimana pada musim kemarau kemampuan bertelur hanya berkisar 40-300 butir, sedangkan pada musim penghujan kemampuan bertelurnya mencapai 350 butir selama hidupnya . telur Helopeltis diletakkan di dalam jaringan batang tanaman yang masih muda dengan cara menusukkan opivositornya ke dalam jaringan tersebut. Telur yang diletakkan umumnya berjumlah 1 atau 2 dengan jarak yang berdekatan kadang-kadang dapat berkelompok sampai 6 butir. Telur yang dihasilkan bervariasi antara 1-18 butir setiap harinya. Telur berbentuk bulat panjang seperti sosis berwarna putih dan panjangnya kira-kira 1,5 mm. Tiap telur mempunyai dua rambut yang panjangnya tidak sama dan menjulang di luar epidermis. Fungsi dari rambut tersebut belum diketahui secara jelas. Telur akan menetas setelah 6-8 hari (pada ketinggian tempat lebih kurang 250 m dpl) kemudian setelah telur menetas menjadi dewasa dalam waktu 12-14 hari. Nympa instar pertama atau mikung berwarna kuning, mempunyai banyak rambut yang panjangnya tidak lebih dari 1 mm belum mempunyai tonjolan di atas seutelumnya dari nympa sampai dewasa mengalami lima kali pergantlan kulit. Tingkatan nympa yang terakhir panjangnya 5-6,5 mm yaitu 1 mm lebih kecil dari dewasanya dan mulai nampak tanduk pada bagian thorax. Selanjutnya siklus hidup Helopeltis bervariasi berdasarkan ketinggian tempat dan temperature, semakin tinggi suatu tempat, semakin lama stadia hidupr serangga tersebut. Pada ketinggian 244 m dpl, siklus hidup dari telur menjadi dewasa sekitar 17-23 hari sedangkan pada ketinggian 1097 m dpl adalah 23 - 35 hari.

Perkembangan Helopeltis banyak dipengaruhi oleh keadaan iklim dan ketersediaan makanan. Pada umumnya keadaan cuaca yang panas dengan kelembaban relative sekitar 70%-80% cocok bagi perkembangan Helopeltis sehingga populasinya bertambah banyak. Serangan hama ini banyak terjadi pada musim penghujan dan berkurang pada musim kemarau. Musim kemarau yang basah umumnya diikuti dengan serangan hama ini yang berat. Ternyata bahwa periode basah membantu perkembangan serangga hama ini. Umumnya tanaman teh di Jawa Barat banyak diserang Helopeltis pada bulan Pebruari, serangan berkurang pada bulan Juli dan bertambah kembali pada bulan berikutnya. Pada bulan Oktober dan November sewaktu banyak turun hujan, jumlah populasi kembali menurun dan bertambah banyak pada akhir bulan Desember dan Januari. Nympa dan serangga dewasa Helopeltis menyerang teh dengan menusuk dan menghisap cairan sel dari bagian tanaman yang masih muda. Disamping menghisap cairan sel serangga ini juga menghasilkan cairan (air kelenjar ludah) beracun yang mengakibatkan kerusakan jaringan disekitar tusukan. Bekas tusukan menjadi bercak¬bercak berwarna coklat kehitam-hitaman dan akhirnya daun akan kering dan menggulung. Tusukan Helopeltis yang belum dewasa kecil-kecil sedangkan yang telah dewasa lebih lebar. Helopeltis menghisap cairan sel pada waktu pagi dan sore hari.

Satu ekor serangga hama ini (yang dewasa) setiap hari membuat tusukkan sama 159 kali pada paling banyak 8 hari daun, sedangkan nympanya kadang-kadang membuat lebih kurang 100 tusukkan sehari.

Pengaruh buruk suatu serangan Helopeltis terhadap produksi, bukan lagi karena secara langsung pucuk terserang dan mungkin mati tetapi sebagian besar disebabkan oleh kanker cabang yang dapat merusak frame (kerangka) dan mempengaruhi produksi pada waktu yang akan datang.

Gejala serangan Helopeltis pada cabang atau ranting tanaman teh yang masih muda ditunjukkan oleh adanya pembengkakan pada bagian yang terkena tusukkan sehingga pada gilirannya akan menimbulkan penyakit kanker. Proses pembengkakan tersebut merupakan reaksi dari perdu teh terhadap tusukkan Helopeltis atau oleh zat yang mungkin terbawa oleh tusukkan tersebut. Penyakit kanker tersebut dalam jangka waktu tertentu akan melingkari cabang atau ranting yang terserang sampai menimbulkan kematian cabang atau ranting tersebut.

Selain tanaman teh, serangga hama ini mempunyai inang lainnya seperti kakao, kina, dadap (Erythrina orientalis), (Cantela asiatica L.), goletrak (richardia brarsiliensis gometh), babadotan (ageratumconizoides Sims), monyinyim (Erigeronsumatraensis Willd), Kirinyuh (Euphoriumodonatum

L), dan lain-lain. Pada perkebunan teh banyak ditemukan sintrong (erchtites baleridenifolia wolf) dan

crassocephalum crepidioelis, dimana serangan helopeltis lebih tinggi daripada perkebunan teh tanpa kedua tanaman penggangu itu.nympha maupun serangga dewasanya dapat hidup pada kedua tumbuhan tersebut, meletakkan telur di dalam jaringan tanaman inang. Serangga ini mudah berpindah-pindah dari kedua tumbuhan tersebut ke perdu teh dan sebaliknya tanpa akibat buruk bagi serangganya.

Pengendalian Helopeltis dapat dilakukan secara kultur teknis dengan cara memajukan daun putih kurang dari 7 hari diikuti dengan pemupukan berimbang (N, P, K, Mg), menangkap serangga hama ini dengan tangan, dimana hal ini sangat tergantung pada luas areal yang terserang disamping jumlah tenaga kerja yang tersedia. Selama itu dapat dilakukan pemangkasan tanaman terutama bagian yang ada kembar cabang, dan melakukan penyiangan gulma yang merupakan inang serangga ini.

Selain itu pengendalian secara hayati dapat diterapkan dengan konservasi musuh alami seperti

Hierodula sp atau parasitoid euphorushelopeltidus Ferr. Penggunaan spora jamur Paeccilomycesfermoso

Bremin di rumah kaca terhadap Helopeltis, memberikan potensi yang baik pada mortalitas serangga hama ini.

Akhirnya dapat juga dilakukan penyemprotanl insktisida deltametrin (dosis 0,20 L/ha), sipermetrin (dosis 0,50 L/ha), alfametrin (dosis 0,30 L/ha) atau insektisida lainnya. Insektisida yang disebutkan diatas adalah insektisida yang memiliki daya racun tinggi terhadap serangga sasaran, selektif tetapi mudah terurai.

2. Ectropis bhumitra Wlk.

Serangga hama ini merupakan perusak daun teh, termasuk ordo Lepidoptera, famili Grometidae. Petani menyebutnya ”ulat jengkal” atau ”common looper”. Ulat jengkal mempunyai daerah penyebaran di Jawa Bali Sumatera. Ngengat ini meletakkan telur secara berkelompok pada celah-celah kulit pohon pelindung. Stadium telur 8-9 hari, stadium l irva 28-35 hari, stadium pupa 17-21 hari dan dewasa 3-5 hari. Satu generasi memerlukan waktu sekitar 56-70 hari.

berjalan dengan menggerakkar. kaki depan sampai badannya lurus, kaki belakang ditarik ke depan sehingga tubuh melengkung seolah-olah seperti orang mengukur dengan jengkal. Pupanya dapat ditemukan pada tanah di bawah perdu tanaman teh.

Tanaman inang serangga hama ini antara lain kina, jambu, jeruk, pohon sambucus, sengon dan lain-lain.

Bagian tanaman teh yang diserang ulat jengkal yaitu daun teh, memperlihatkan bekas gigitan yang menghabiskan sebagian daun. Serangan berat, ranting tidak berdaun lagi sehingga produksi daun teh berkurang.

Pengendaliannya dengan membersihkan serasah dan gulma sekitar tanaman diikuti dengan pemupukan berimbang, konservasi musuh alami seperti parasitoid Charops, parasitoid larva Apanteles sp. dan parasitoid telur Telenomus periparetus Nix. Penyemprotan dapat dilakukan dengan insektisida berbahan aktif permetrin 100 g/l (Corsaer 100 EC).

3. Homona coffearia Nix.

Serangga hama ini dikenal dengan ulat penggulung daun /"tea tortex", termasuk ordo Lepidoptera, famili Tortricidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa dan Sumatera. Ulat jantan mempunyai ukuran panjang 18 mm dan ulat betina berukuran panjang 26 mm.

Stadium ulat lamanya 5-6 minggu pada ketinggian di atas 1700 m, namun hanya 26 hari pada ketinggian 400 m dpi. Dalam perkembangannya, seekor ulat dapat membuat beberapa sarang, ulat yang telah tumbuh sempurna membentuk pupa di dalam sarangnya yang terakhir. Selanjutnya pupa serangga betina umumnya berukuran lebih panjang daripada pupa serangga jantan. Warna pupa coklat dengan stadium 7 – 10 hari. 24 jam setelah keluar dari pupa sebagai ngengat dewasa, sudah dapat bertelur. Ngengat betina dewasa berwarna cokelat sedangkan yang jantan berwarna kelabu.

Ngengat penggulung daun meletakkan satu kelompok telur dengan jumlab telur 100-150 butir pada permukaan dawn tua bagian atas. Kelompok telur membentuk deretan yang rata tipis, berwarna pucat dan tampak mengkilat. Kelompok telur itu tidak mudah ditemukan kecuali bila dalam jumlah besar. Stadium telur 6-11 hari. Lama daur hidupnya bervariasi, pada perkebunan teh di Bogor memakan waktu 32-42 hari.

Ulat penggulung dawn ini pada awalnya menyerang daun muda dengan gejala yang ditandai adanya lipatan daun pada arah memanjang yang dilekatkan dengan benang sutera. Mula-mula ulat memakan epidermis daun sehingga seluruh daun dimakan. Larva akan makan daun pertama sehingga habis kemudian pindah ke daun yang lain. Selama perkembangannya, satu ulat dapat menghabiskan lebih dari 1 helai daun. Pada instar awal, kerusakan yang ditimbulkan sangat kecil karena yang dimakan adalah permukaan bawah dari daun yang tua. Setelah panjang tubuh mencapai 5 mm, ulat berpindah ke daun- daun muda. Sejak instar kedua sampai kelima, ulat membuat lorong dengan melekatkan dua helm daun atau lebih. Kadangkala sehelai daun digulungnya sehingga kedua sisi daun melekat satu sama lain. Populasi ulat tertinggi terjadi pada akhir musim kemarau atau awal musim penghujan.

Tanaman inangnya kopi, kakao, jeruk, kacang tanah, Cajamus sp., Tephrosia sp., Erythrina sp. Pengendalian ulat penggulung daun ini

 Pengambilan telur yang terdapat pada daun tua dan pemetikan daun yang terlipat, yang di dalamnya terdapat ulat kemudian dibakar.

 Konservasi musuh alarm seperti Macrocenltrus homonae Nix. , Apanteles taragamae Vui.,

Phytodietusspimipes Cam. dan Elasmushomonae Ferr.  Penangkapan ngengat dengan light trap.

 Penyemprotan insektisida berbahan aktif sipemetrin dosis 0,50 1/ha. Fenthion dosis 1,00 1/ha dan insektisida lainnya.

4. Setora nitens Wlk.

Serangga hama ini dikenal ulat bajra / ulat api atau "middle caterpillar ", ordo Lepidoptera, famili Tortricidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa dan Sumatera.. Serangga ini menyerang bagian tanaman yang berupa daun tua. Daun tua robek, pinggirannya tidak rata dan sekelilingnya berwarna kecokelatan karena pinggiran daun mengering. Serangga ini banyak ditemukan pada musim kemarau. Akibat serangan ulat api ini, pekerja kebun teh akan mengalami gangguan dalam pemetikan daun teh karena bila tersentuh akan terasa panas.

Tanaman inangnya kelapa, kina, kakao, kopi, jeruk dan tanaman lainnya. Siklus hidupnya berkisar 14-15 minggu.

Pengendalian Serangga hama ini  Penyiangan gulma sekitar tanaman teh.  Pengambilan ulat api kemudian dimusnahkan.

 Konservasi musuh alami seperti parasitoid Meteorus sp., Tranchysphyrus oxyphorus (Tosq.),

Chlorocrypthus sp., Gonyphus susoxanshus (Br.), Farmichia sp., Rogas sp.. Exorista sorbillans

(Wild), Euphethtromorpha sp., Platyphctrus orthocraspedac Fern, chatexorista, Neophctrus,

Semorwhiteaorientalis (Park)

 Penyemprotan sipermetrin (dosis 0,5 l/ha), fenthion (dosis 1 1/ha), kuinalfos (255,5 g/l) atau insektisida lainnya.

5. Cydia leucostoma Meyrick

Ulat penggulung pucuk ini "Shoot roler of tea" termasuk ordo Lepidoptera famili Tortricidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa, Sumatra ulat Cydia akan menggandeng-gandengkan daun teh yang satu dengan daun teh lainnya sehingga ulat ada dalam gulungan daun. Pada daun teh itu akan terlihat adanya benang-benang halus yang mengikat daun tersebut. Di dalam gulungan daun itu bersembunyi ulat Cydia yang berukuran kecil. Akibat serangan ulat ini pertumbuhan pucuk daun teh terhambat tidak normal. Serangan ulat ini ditemukan pada musim kemarau siklus hidupnya berkisar 8 minggu. Pengendalian ulat Cydia adalah ;

 Penyiangan gulma sekitar tanaman

 Pemetikan pucuk daun yang terserang dengan daun putih diperpendek  Pemupukan beimbang (N, P, K, Mg)

 Penyemprotan insektisida berbahan aktif metidaklorin (dosis 1,50 1/ha) Karbonil 2.0 l/ha atau insektisida lainnya.

6. Hyposidra talaca Wlk .

Serangga hama ini dikenal dengan ulat jengkal atau "twig or cooper caterpillar" termasuk ordo Lepidoptera, tamili Geometridae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa dan Sumatera.

Famii Geometri'lae ini mempunyai kira-kira 12.000 spesies banyak diantaranya merupakan hama tanaman. Dari hasil pengamatan di lapangan, ada 6 jenis ulat jengkal yang menyerang tanaman teh. Genus

Hyposidae ditandai dengan adanya bintik-bintik putih yang sejajar dan melintang pada badannya, ulat jengkal atau ulat kilan, bila berjalan seperti orang mengukur panjang sesuatu dengan memakai jari-jari tangan. Ulat jengkal memiliki 5 atau 6 generasi dalam jangka waktu satu tahun. Satu generasi (telur sampai imago) memerlukan waktu 7,5 - 9 minggu. Serangga dewasa yang ketika meletakkan telur bersembunyi dan agak sukar ditemukan seperti serasah daun, disela-sela antara kulit yang pecah atau mengelupas pada batang pohon pelindung. Kadang-kadang ditentukan di alang-alang. Telur Hypisidra

diletakkan dalam beberapa kelompok telurnya terdiri dari 50-200 butir dan ditutupi dengan bulu-bulu seperti kapas. Tiap butir telur berukuran 0,4-0,7 mm. Stadium telur berkisar 8-9 hari, ulat instar pertama akan merayap menuju tanaman inang. Warna ulat coklat buram dengan bintik-bintik putih dan garis berwarna gelap disamping badannya dengan panjang kurang lebih 2-4 cm. Pada saat akan menjadi pupa kemudian ulat turun ke tanah. Stadium ulat ini berkisar 28-35 hari. Pupa ulat jengkal ditemukan di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 2-4 cm dibawah perdu tanaman teh. Stadium teh berkisar 17,5-21 hari.

Ngengat Hyposidra berwarna kehitam-hitaman dengan daya terbang yang lemah. Ngengat aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya sedangkan pada siang hari biasanya beristirahat di tempat- tempat yang teduh. Selanjutnya ulat jengkal merupakan hama yang poliphag, selama menjadi hama tanaman teh juga menyerang tanaman kakao, kina, jeruk, sengon, gambir, dan beberapa jamur. Ulat jengkal menyerang baik daun muda maupun daun tua. Daun teh dimakan dari pinggir.terus ketengah dekat ibu tulang daun dan apabila serangan hebat maka setiap daun hanya tingal cabang dan ranting saja. Akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat untuk beberapa waktu yang lama.

Serangan berat terjadi pada musim kemarau sedangkan pada musim penghujan intensitas serangan menurun, hal ini dapat dipahami karena sebagian dari siklus hidupnya berada dalam tanah (stadium pupa), dengan adanya hujan maka stadium pupa akan banyak terganggu karena keadaan tanahnya terlalu dingin dan basah. Serangan ulat jengkla yang lebih berat ditemkan didaerah pertanaman teh tua, oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian lebih serius misalnya dengan melakukan pemangkasan. Banyak tanaman teh tidak berdaun sama sekali akibat gangguan hama ini.

Pengendalian ulat jengkal dapat dilakukan dengan:

 Pengendalian secara mekanis dilakukan pada tanaman teh yang masih muda atau belum tinggi pertumbuhannya dan serangan belum tinggi. Caranya dengan mematikan ulat jengkal yang ditemukan baik dipertanaman teh atau tanaman inang lain disekitarnya. Kemudian tanaman teh dipupuk dengan pupuk Kalium, Fosfat, Nitrogen dan Magnesium.

 Pengendalian secara biologi dengan menggunakan parasitoid larva Apanteles sp. Parasitoid telur

Telenomus sp. Predator semut rangrang Oceophyla sp., atau dengan entomopatogen

 Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida karbanil (sevin 85 S) dosis 2l / ha, Metidation (supracide 40 EC) dosis 1,50 1/ha.

7. Brevipalpus phoenicies Geijskes

Hewan hama ini dikenal dengan tunggau jingga atau "red crevice mites", termasuk ordo acarina famili tenuipalpidae/ phytoptipalpidae yang mempunyai daerah penyebaran di Jawa, Sumatera. Tungau, jingga ~berukuran sangat kecil (0,2 mm) bentuknya bulat panjang/ lonjong, berwarna jingga, bergerak sangat lamban.

Tungau jingga dapat ditemukan dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Hidupnya yang tersembunyi, yaitu pada bagian bawah daun pemeliharaan, menyebabkan tungau itu terlindung dari keadaan dan kondisi yang tidak menguntungkan seperti hujan, kekeringan dan lain- lain. Bagian tanaman yang diserang adalah permukaan bagian bawah daun pemeliharaan atau daun tua. Telur Brevipalpus

berbentuk oval dengan ukuran 0,1 mm, Setiap tungau betina meletakkan sebutir telur setiap harinya. Hewan ini umumnya menyerang tanaman teh pada musim kemarau. Populasi tertinggi terjadi pada air musim kemarau atau awal musim hujan. Pada permulaaan serangan terlihat bercak-bercak kecil pada pangkal daun, bercak tersebut terlihat seperti terkena minyak berwarna agak kecoklat-coklatan. Tungau jingga akan membentuk koloni pada pangkal daun sekitar ibu tulang daun. Pada serangan lebih lanjut, tungau jingga menyebar ke ujung daun sekitar ibu tulang daun terbentuk kalus. Selanjutnya daun berwarna coklat kemerah-merahan menjaidi kering, dan berangsur-angsur rontok. Mahkota perdu menjadi jarang dan akhirnya gundul. Siklus hidupnya berkisar 6 minggu. Kerugian yang ditimbulkan adanya daun tua yang gugur dan menurunnya produksi pucuk. Tanaman inangnya adalah jeruk, karet, ubi jalar, Hibiscus

sp., Buddleya sp.

Pengendalian hewan hama ini

 Penyiangan gulma sekitar tanaman, diikuti dengan pemupukan berimbang (Nitrogen Fosfor Kalium dan Magnesium).

 Pemangkasan pada bagian yang terserang berat.

 Konservasi musuh alami seperti predator : Phytoseiuscrinitus Swiski, Amblyseius spp, Zetzelia sp,

Agistemus sp dan lain sebagainya.

 Penyemprotan dengan insektisida Dicofol (dosis 0,75 l/ha), propargit (dosis 1,00 l/ha) dan akarisida lain.

8. Polyphagotarsonemus lotus Banks

Tungau hama ini dikenal dengan hama kuning yellow tea mite, termasuk ordo acarina famili tarsonemidae, mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Tungau kering berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Bagian tanaman yang diserang adalah, pucuk daun teh.

Telur tungau ini berukuran panjang 0,7 mm dengan stadium telur 2-3 hari. Kemudian tungau muda berada di bagian bawah daun teh. Bagian bawah daun pucuk teh terlihat berwarna coklat muda dengan garis-garis yang sejajar dengan tulang daun. Daun yang terserang sedikit keriting, akibatnya kualitas dan produksi daun teh berkurang. Pertumbuhan tanaman teh tidak normal. Serangan tungau kuning pada musim penghujan, umumnya menyerang tanaman teh yang baru dipangkas. Tanaman inangnya, tomat, cabe, karet, kina, kentang, tembakau.

Pengendalian tungau kuning dilakukan dengan :  Penyiangan gulma sekitar tanaman.

 Pemetikan pucuk daun teh ayang terserang.

 Penyemprotan akarisida dengan insektisida Dicofol (dosis 0,75 l/ha), propargit (dosis 1,00 l/ha) dan akarisida lain.

9.Toxoptera auratttii (Boyer)

Serangga hama ini dikenal dengan kutu daun atau polyphagous aphid termasuk ordo homopter, famili aphididae dan mempunyai penyebaran di Jawa dan Sumatera. Serangga dewasa berwarna hitam dengan bersayap atau tidak bersayap. Serangga betina bersayap. Kutu daun ini meenyerang tunas muda atau ranting muda. Tunas yang terserang kelihatan mengering dan kernudian mati, pada bagian yang terserang terlihat kelompok kutu daun ini yang berwarna hitam. Akibat serangannya produksi daun teh berkurang. Tanaman inang kutu ini antara lain cacao, kina, kopi, lada dan tanaman lainnya. Siklus hidupnya berkisar 7 hari pada keadaan yang normal.

Pengendalian kutu daun ini dilakukan dengan

 Penyiangan gulma sekitar tanaman teh, pemetikan tunas muda/ranting muda yang terserang.  Pemupupukan berimbang dengan NPK,Mg.

 Penyemprotan insektisida Sipermetrin (dons 0,5 l/ha), dekametrin (dosis 0,2 l/ha) atau insektisida lainnya.

Dalam dokumen BAHAN AJAR ILMU HAMA TUMBUHAN (Halaman 61-68)