DAFTAR PUSTAKA
C. Perusak daun
1. Tonoptera auraniii Bayn.
Serangga hama ini dikenal dengan kutu daun atau "polypllagous aphid", termasuk ordo Homoptera, famili Aphididae dan mempunyai penyebaran di Jawa, Sumatera.
Kutu daun berwarna hitam kehijauan dengan bersayap dan tidak bersayap. Kutu betina melahirkan nimfa yang berwarna coklat. Kutu mengisap cairan daun tanaman kakao yang masih muda, buah muda atau tangkai bunga. Akibat serangannya bunga gugur dan daun mengering. Inang kutu ini antara lain teh, kina, kopi, lada dan tanaman iainnya.
- Penyiangan gulma pada tanaman kakao yang masih muda. - Pemetikan daun kakao yang terserang.
- Penyemprotan insektisida sipermetrin (dosis 0,5 L.a), deltametrin (dosis 0,20 1/ha) atau insektisida lainnya.
2. Setora nitens Wlk.
Serangga hama ini dikenal dengan ulat bajra/ulat api atau "nittle caterpillar" termasuk ordo Lepidoptera, famili Limacocidae, mempunyai daerah penyebaran di Jawa, Sumatera.
Serangga hama ini banyak ditemukan pada musim kemarau. Larva serangga ini berwarna hijau dengan bercak-bercak kuning, merahl dan biru. Tubuhnya berbentuk persegi panjang. Pada keempat sudut badannya terdapat duni daging yang berambut api. Rambut api ini terdapat juga pada kedua sisi badannya. Bila tersentuh menyebabkan rasa pedih, papas dan gatal.
Akibat serangan ulat api ini, pekerja kebun kakao akan mengalami gangguan dalam pemetikan buah kakao karena bila tersentuh akan terasa panas.
Tanaman ulangnya kelapa, kina, teh. kopi, jeruk dan tanaman lainnya. Pengendaliannya dapat dilakukan :
- Penyiangan gulma sekitar tanaman kakao yang merupakan inang serangga ini. - Konservasi musuh aiami seperti Hirodala sp. predator yang berupa laba-luba. - Penyemprotan insektisida deltametrin, sipermetrin dan insektisida lainnya.
3. Adoritus conrpressus Wab.
Serangga hama ini dikenal dengai kumbang daun atau "leaf eating beetle termasuk ordo Coleoptera, famili Rutelidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Kumbang ini berukuran panjang 1 cm, berwarna coklat yang sebelumnya berwarna keabu-abuan. Pada malam hari kumbang ini ditemukan pada berbagai tanaman seperti kelapa, tebu, nenas, kopi, gambir, kapok, mawar, Tephrosia dan tanaman lainnya.
Telur diletakkan dalam kulit ranting atau tulang daun yang disusun berjajar. Tubuh nimfa ditutupi lilin putih. Nimfa hidup dan memakan pucuk daun atau tangkai bunga. Serangga ini bilamana didekati selalu menyembunyikan dini di belakang daun atau ranting.
Pengendalian serangga hama ini
- Konservasi musuh alami seperti predator Ommatius, parasitoid Prosena dan Phitia - Penyemprotan insektisida dalam bentuk tepung.
4. Clania spp. dan Mahacena spp.
Serangga hama ini dikenal dengan ulat kantong atau "polyphagous caterpillar" termasuk ordo Lepidoptera, famili Psychidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa dan Sumatera.
Ulat ini membuat kantong sebagai pelindung badannya, dibuat dari zat yang keluar dari kelenjar sutera. Umumnya pada bagian luar kantong dilekatkan bagian-bagian tanaman seperti daun atau potongan ranting. Ujung kantong selalu terbuka untuk membuang kotorannya. Kantong dilekatkan pada bagian- bagian tanaman yang dimakannya. Bila pada bagian ini makanan telah habis, ulat akan berpindah bersama kantongnya. Ulat berkepompong di dalam kantong itu dan berubah letaknya sehingga kepompong berada di ujung kantong. Sesudah keluar dari kepompong, ngengat betina tidak bersayap, tetap tinggal dalam
kantong. Ngengat jantan bersayap dan sesudah keluar, segera mencari ngengat betina. Perkawinan terjadi melalui ujung kantong yang terbuka dan ngengat betina kemudian bertelur di dalam kantong. Siklus hidup
Clania sp. Berkisar 3-5 bulan. Tipe kantong merupakan ciri khas bagi setiap spesies seperti C. cramerii
menutupi kantongnya dengan potongan ranting dan tangkai daun. C. wallacei biasanya kantong diselubungi dengan daun yang lebar, hampir sama dengan C. variegara. Pagodiella hekmeyeri membentuk kantong berbentuk pagoda dengan garis tengah 2 cm. Kantong Cremastopsychependula ukurannya lebih kecil dengan atau tanpa dilekati potongan daun. Kantong Mahacena nlenliiiki bermacam-macaml ukuran dan bentuk dengan potongan helai daun yang dilekatkannya.
Pengendalian serangga hama dapat dilakukan
- Konservasi musuh alami seperti parasitoid Exorista quadrimaculata dan Exorista psychidarum Bar. - Penggunaan insektisida sistemik seperti karbofuran dan insektisida lainnya.
5. Hyposidra talaca Wlk.
Serangga hama ini dikenal dengan ulat jengkal atau "polyphagous caterpillar", termasuk ordo Lepidoptera, famili Geometridae dan illempunyai penyebaran di Jawa dan Sumatera. Ngengat Hyposidra
berwarna kehitam-hitaman dengan daya terbang yang lemah; aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya sedangkan siang hari biasanya beristirahat di tempat yang teduh. Serangga dewasa yang betina meletakkan telur tersembunyi dan agak sukar ditemukan seperti serasah daun, di sela-seta atau kulit yang pecah atau mengelupas pada batang pohon pelindung. Kadang-kadang ditemukan di alang-alang. Telur
Hyposidra diletakkan dalam beberapa kelompok umumnya terdiri 50-200 butir dan ditutupi dengan bulu- bulu seperti kapas. Stadium telur berkisar 8-9 hari. Ulat instar pertama akan merayap menuju tanaman inang. Warna ulat coklat buram dengan bintik-bintik putih dan garis berwarna gelap di samping badannya dengan panjang kurang lebih 2-4 cm. Pada saat akan mcnjadi pupa kemudian ulat turun ke bawah. Stadium ulat ini berkisar 28-35 hari. Pupa ulat jengkal ditemukan di dalanl tanah dengan kedalaman sekitar 2-4 cm di bawah perdu atau serasah. Stadium pupa 17,5-21 hari. Siklus hidupnya berkisar 2,5-3,5 bulan. Selanjutnya ulat jengkal akan memakan daun kakao baik yang masih muda dan bahkan daun yang telah tua. Serangan yang berat menyebabkan habisnya helaian daun sehingga yang tertinggal hanya tulang daunnya saja. Tanaman yang masih muda akan lebih menderita kerusakan yang lebih berat.
Tanaman inangnya kopi, teh, kina, rosela, rambutan, Albizzia dan lain-lainnya. Pengendalian ulat jengkal dapat dilakukan dengan ;
- Konservasi musuh alarm seperti parasitoid larva Apanteles sp.
DAFTAR PUSTAKA
Conway, G.L. 1971. Pest of Cocoa in Sabah and Their Control. Kementerian Pertanian dan Perikanan Sabah, Malaysia. 125 P.
Departemen Pertanian. 1983. Pedoman Pengenalan, Pengamatan dan Penbendalian Hama Cacao Moth pada Tanaman Coklat. Direktorat Perlindundan Tanaman. Jakarta. 24 Halaman.
1984. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Kopi. Direktorat Perlindungan Tanaman. Jakarta
. 1984. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian hama dan Penyaklt Tanaman Coklat Direktorat Perlindungan Tanaman. Jakarta. 45 Halaman.
Dharmadi, A. 1977.hlama Ulat pada Tanaman The. Lokarakarya Proteksi Tanaman. BPTK Gambung. 13 Ha1aman.
____________ . 1986. Peranan Kultur Teknis Terhadap Populasi Helolpeltis antonii di Perkebunan Teh. Temu Ilmiah Entomologi perkebunan Indonesia di Medan.
Gaad, C. H. 1946. Macrocentrus homonae - A. Poliembrionic Parasite of Tea tortrix (Homonacoffearia). Ceylon. J. Sc. (B) 23 ; 67 - 79.
Hill, Dennis S. 1979. Agricultural Insect Pest of the Tropic and Their Control. Cembridbe Univercity. Press London.
Kalshoven, L. G. E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ikhtiar Baru. Van Hoeve. Jakarta. 71 P.
King. C. B. R. 1839. Tortrix Control. Tea Quart. 12 ; 86-91.
Nara dan bunyamin. 1972. Helopeltis antonii pada Teh Dilihat dari Segi Biologi dan Pengaruh Lingkungan. Majalah Menara Perkebunan. 40 (4) : 167 - 174
Subiakto dan Sutaryanto. 1977. Masalah Ulat Jengkal pada Tanaman Teh Lokakarya Proteksi Tanaman Gambung. 6 Halaman.
Sukamto. 1979. Hama ulat pada tanaman teh. Lokakarya Proteksi Tanaman Gambung. 6 halaman
Sutaryanto. 1978. Pengendalian Hama Ulat Jengkal. Symposium The II. Parapat. 16 pp.
Wahyu, Widayat. 1989. Hama-hama Penting tanaman dan cara pengendaliannya. Gambung. 23 hal.
1.990. Memantau Populasi Hama penggulung Daun dengan Seks Pheromon di Perkebunan The. Symposium The V. Bandung 10 Halaman.