• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Tanaman Cabai Rawit ( Capsicum frutescens )

8. Hama dan Penyakit

Hama ialah semua binatang yang menganggu dan merugikan tanaman yang diusahakan manusia. Apabila asalnya bukan dari binatang gangguan itu akan disebut penyakit, misalnya gangguan dari virus, bakteri, cendawan dan lain-lain (Pracaya, 1991)

Hama yang menyerang tanaman cabai diantaranya adalah thrips, kutu daun apids, kutu daun persik, tungau, kutu kebul, lalat buah, dan ulat gerayak.

a. Thrips

Hama ini sering disebut thrips tabaci Lindeman. Spesial thrips yang umum menyerang tanaman cabai di Indonesia adalah Thrips parvispinus Karny dan Thrips tabaci. Thrips merupakan vektor virus yang dapat menyebabkan penyakit keriting. Thrips berwarna kuning kecoklatan. Hama ini berkembang biak meningkat bila kelembapan relative lebih kurang 70%. Bertelur lebih kurang 80 butir. Panjang thrips lebih kurang 1,0-1,2 mm. Berkembang secara parthenogenesis, yaitu tanpa pejantan.

b. Kutu daun

Kutu daun disebut juga apids. Hama ini terdiri dari beberapa spesies di antaranyaMyzus persicaesulz. DanAphis gossypii. Kutu ini menyerang daun dan batang tanaman. Daun yang terserang

menjadi keriput, berwarna kekuningan, dan terpuntir sehingga pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil). Kutu daun mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat ditumbuhi cendawan berwarna hitam (embun jelaga). Embun jelaga dapat menutupi permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesis.

c. Tungau

Tungau merupakan hama berukuran sangat kecil (kurang dari 1 mm, mirip laba-laba dan hidup di daun bagian bawah. Hama ini membentuk jaring-jaring halus sehingga menyulitkan pengendalian secara kimia. Hama ini termasuk kelas Arachnida dan dapat dikendalikan dengan akarisida. Beberapa spesies tungau yang menjadi hama cabai adalah Tetranycus sp. dan

Polyphagotarsonemus latus Banks. Tungau menyerang daun-daun muda. Permukaan bawah daun yang terserang menjadi berwarna cokelat mengilap. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah dan pertumbuhan pucuk menjadi terhambat.

d. Kutu kebul

Gejala serangan kutu kebul bercak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Eksresi kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan media tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam.

e. Lalat buah

Lalat buah (Bractocera dorsalis Hendel) termasuk hama utama tanaman cabai. Hama bersifat polifag (banyak inang) tersebar luas

dari India sampai ke Filipina. Gejala ditandai dengan ditemukannya titik hitam pada pangkal buah.

f. Ulat buah

Ulat buah (Helicoverpa armigera Hubner) umunya menyerang tanaman cabai saat mulai berbuah. Hama ini bersifat polifag. Gejala yang ditimbulkan adalah lubang pada buah cabai. Jika buah dibelah maka akan terdapat ulat.

g. Ulat gerayak

Hama ulat gerayak (Spodoptera litura Fabricus dan Spodoptera exigua Hbn) bersifat kosmoplitan. Ulat gerayak makan daun dan dan buah. Hejala berupa bercak-bercak putih yang menerawang karena epidermis daun bagian atas ditinggalkan. Ulat menyerang bersama-sama dalam jumlah besar dengan cara memakan daun tanaman hingga gundul dan tersisa hanya tulang daun atau daun berlubang. Serangan terjadi pada malam hari dan semakin ganas pada musim kemarau.

Sedangkan untuk penyakit yang menyerang tanaman cabai, antara lain:

a. Bercak daun cabai

Bercak daun meryupakan penyakit yang banyak menyerang tanaman cabai, baik cabai yang terdapat di dataran tinggi maupun cabai yang terdapat di dataran rendah. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cercospora capsici Heald et Wolf. Jamur membentuk konidium berbentuk gada panjang, bersekat 3-12, dengan ukuran 60-200 x 3-5 μm. Konidiofor pendek, bersekat 1-3. Cercospora

capsiciini terbawa oleh biji dan mungkin dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim (Semangun, 2004)

Pada daun terdapat bercak-bercak bulat, kecil, kebasah-basahan. Bercak dapat meluas hingga mempunyai garis tengah 0,5 cm atau lebih, pusatnya berwarna pucat sampai putih, dengan tepi yang lebih tua warnanya. Bercak-bercak yang tua dapay berlubang. Apabila pada daun terdapat banyak bercak, daun cepat menguning dan gugur, atau langsung gugur tanpa menguning terlebih dahulu. Bercak sering terdapat pada batang, tangkai daun, maupun pada tangkai b uah. Tetapi bercak sangat jarang timbul pada buah (Suhardi, 1980).

Penyakit ini dapat timbul pada tanaman muda di pesemaian, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua. Penyakit dibantu oleh cuaca yang panas dan basah (MacNab et al, 1983). Penyakit becak daun dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida.

b. Antraknosa cabai

Penyakit antraknosa tersebar luas di semua daerah di seluruh dunia, penyakit ini khususnya paling banyak menyerang cabai besar. Penyakit ini disebabkan oleh Gloeosporium disebut “antraknosa”, sedangkan Colletotrichum disebut “busuk matang” (Walker, 1952)

Gloeosporium piperatum dapat menyerang buah yang masih hijau dan dapat menyerang buah yang masih hijau dan dapat juga menyebabkan mati ujung. Gejala awal munculnya penyakit ini

mula-mula berbentuk binti-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk pada buah yang masih hijau atau yang sudah masak. Bintik-bintik ini tepinya berwarna kuning, membesar dan memanjang. Bagian tengahnya menjadi semakin gelap. Dalam cuaca yang lembab jamur membentuk badan buah (aservulus). G. piperatum juga dapat menyerang daun dan batang tanpa menimbulkan kerugian yang berarti. Namun dalam keadaan ini jamur juga dapat menyerang buah (Semangun, 2004)

Jamur Colletotrichum capsici mula-mula membentuk bercak coklat kehitaman, lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mongering dan mengerut (keriput). Jamur pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dan menginfeksi buah. Menurut Budi Astuti dan Suhardi (1986) perkembangan bercak dari kedua penyakit ini paling baik terjadi pada suhu 30oC, sedang populasi jamur G. piperatum pada suhu 23oC dan C. capsicipada suhu 30oC. buah yang muda cenderung lebih rentan daripada yang setengah masak (Semangun, 2004)

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan tidak menanam biji yang terinfeksi. Buah yang terinfeksi jangan diambil bijinya. Biji dapat diobati dengan thiram 0,2% serta dapat dikendalikan dengan menyemprot fungisida.

c. Busuk buah

Pada cabai di Jawa, penyakit busuk buah disebabkan oleh jamur Phytophthora. Menurut Anon. (1987/1988) Phytophthora yang terdapat pada buah cabai adalah P. Capsici Leonian. Jamur mempunyai sporangiofor hialin, bercabang tidak menentu, bentuknya mirip dengan hifa biasa. Sporangium memiliki bentuk dan ukuran yang sangat variable, bulat sampai jorong memanjang, 35-105 x 21-56 µm. P. capsici dapat terbawa oleh biji dan juga mempertahankan diri cukup lama dalam tanah (Holliday, 1980; Walker, 1952).

Pada buah cabai mula-mula terdapat bercak kecil, kebasahan, berwarna hijau suram, yang meluas dengan cepat sehingga meliputi seluruh buah. Buah mengering dengan cepat dan menjadi biji terserang, menjadi coklat dan keriput (Semangun, 2004)

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menanam cabai dengan jarak tanam yang cukup, membersihkan gulma dan memelihara drainase, buah yang sakit dipetik dan dipendam, dan penyemprotan fungisida.

d. Layu bakteri

Penyakit layu bakteri ini tersebar luas di negara-negara tropika, khususnya menyerang cabai, kentang dan tomat. Menurut Hutagalung (1984) di Jawa lebih kurang 8% dari tanaman cabai mati karena penyakit layu. Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteriPseudomonas solanacearum.

e. Mosaik

Pada tanaman cabai sering terdapat gejala mosaic yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar. Dalam survey yang dilakukan oleh Suhardi (1980) penyakit virus terdapat di semua pertanaman cabai di dataran rendah. Gejala mosaic pada cabai ini dapat disebabkan oleh virus mosaic ketimun (Cucumber Mosaic Virus (CMV)), virus Y kentang (Potato Virus Y, (PVY)), virus becak cincin tomat (Tomato Ring Spot Virus (TRSV)). Gejala infeksi virus mosaic ketimun pada tanaman cabai mula-mula tampak menguningnya tulang daun atau terjadi jalur kuning di sepanjang tukang daun. Daun menjadi belang hijau muda dan hijau tua. Daun menjadi lebih kecil dan sempit daripada biasa. Jika tanaman terinfeksi pada waktu masih muda, tanaman dapat terhambat pertumbuhannya dan kerdil (Semangun, 2004)

Virus mosaic ketimun dapat ditularkan secara mekanis dengan gososkan maupun oleh kutu daun. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan membertansa gulma khususnya yang termasuk familia terung-terungan (Solanaceae), menangani semai dengan hati-hati, tanaman yang bergejala segera dicabut (Semangun, 2004)

f. Penyakit tepung

Pada cabai sering timbul penyakit tepung. Biasanya terletak pada sisi bawah, terdapat lapisan tepung berwarna putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Daun yang terserang menjadi pucat dan cepat rontok. Penyakit ini disebabkan oleh jamur

hialin, bersekat dan bercabang-cabang, dengan garis tengah sekitar 3,5 µm. koniofor membentuk berkas-berkas yang muncul dari mulut kulit, berukuran 60-170 x 5-7 µm (Aryuit dan Rifai, 1987)

54

Dokumen terkait