TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres Kerja
2. Hambatan Belajar Anak Tunagrahita a Hambatan dalam belajar
Hambatan dalam belajar merupakan masalah yang nyata pada anak tunagrahita, ini disebabkan keterbatasan mereka dalam berpikir. Kesulitan belajar pada anak tunagrahita nampak nyata ketika berhadapan dengan bidang pengajaran akademik di sekolah, seperti berhitung, membaca, atau pelajaran lain yang memerlukan pemikiran. Tapi bukan berarti mereka tidak dapat belajar, mereka dapat belajar tapi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Untuk mengatasi kesulitan belajar ini guru harus kreatif menciptakan kondisi supaya anak mau untuk belajar, selain itu materi pembelajaran harus aplikatif dalam kehidupan anak.
b. Hambatan penyesuaian diri
Penyesuaian diri ada kaitannya dengan perilaku adaptif, perilaku adaptif digambarkan sebagai keefektifan individu dalam memenuhi standar kemandirian
pribadi (personal independence) dan tanggung jawab sosial yang diharapkan dari umurnya dan kultur setempat (Payne dan Patton 1981), dengan kata lain bahwa perilaku adaptif seorang anak berkaitan dengan kemampuannya dan kultur atau norma lingkungan setempat disadari atau tidak masalah perilaku adaptif atau masalah penyesuaian diri ada kaitannya dengan sikap dan pola asuh orang tua serta perlakuan dari orang-orang di lingkungannya. Oleh karena itu perlakuan orang tua akan memberi warna pada pola perilaku anak tunagrahita. Ketika orang tua mau menerima anak apa adanya maka orang tua akan berusaha untuk memahami kekurangan anak dan mempelakukan mereka seperti anak-anak lainnya yang tidak tunagrahita.
c. Masalah gangguan kepribadian dan emosi
Kepuasan secara fisik dan kebutuhan akan kesehatan adalah pokok untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan emosi dan sosial seorang anak yang sangat penting untuk perkembangan anak secara keseluruhan. Pertumbuhan psikososial anak di bantu oleh perasaan dicintai dan diterima oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan sekitarnya. Keamanan secara emosi dan fisik memberikan dasar untuk mengembangkan kepercayaan, yang mana mengizinkan anak untuk mengeksplor dan menguji aspek-aspek lingkungan dan berusaha untuk mengembangkan pemahaman terhadap diri sendiri (sense of self). (Ericson 1968 dalam Payne dan Patton 1981).
Anak-anak tunagrahita memiliki dasar psikologis, sosial dan emosi yang sama dengan anak-anak yang bukan tunagrahita. Tetapi sebab mereka mengalami keunikan
dalam berhubungan dengan lingkungan sekitar, yang mana mereka kurang mampu untuk mengatasinya, mereka sering mengembangkan pola-pola perilaku yang kurang produktif (counterproduktive) untuk merealisasikan potensi mereka sepenuhnya.
2.3. Guru
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU No. 14 Tahun 2005).
Guru pendidikan khusus adalah tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikasi pendidik bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial dan/atau potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum dan/atau satuan pendidikan kejuruan (Permendiknas No.32 Tahun 2008). 2.3.1. Klasifikasi Guru Pendidikan Khusus
Guru pendidikan khusus terdiri dari : a. Guru Kelas TKLB
b. Guru Kelas SDLB
c. Guru Mata Pelajaran SDLB, SMPLB, SMALB
d. Guru Pendidikan Khusus pada satuan pendidikan umum dan kejuruan 2.3.2. Standar Kompetensi Guru Pendidikan Khusus
Standar kompetensi guru pendidikan khusus dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru pendidikan khusus.
Standar kompetensi guru pendidikan khusus mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru kelas TKLB, guru kelas SDLB, guru mata pelajaran SDLB, SMPLB, SMALB dan guru pendidikan khusus pada satuan pendidikan umum dan kejuruan.
Kompetensi inti guru pendidikan khusus menyesuaikan kompetensi inti guru sekolah umum sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007.
1. Kompetensi Pedagogik
a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual
b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang
pengembangan yang diampu
d. Menyelenggarakan pembelajaran/pengembangan yang mendidik
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran/pengembangan yang mendidik f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran 2. Kompetensi Kepribadian
a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia
b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang sabar, tekun, mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
d. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri
e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru 3. Kompetensi Sosial
a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi
b. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat
c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain
4. Kompetensi Profesional
a. Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri
Kompetensi untuk guru pendidikan khusus dibagi-bagi lagi sesuai dengan ABK yang ditangani. Kompetensi untuk guru tunarungu tidak sama dengan kompetensi untuk guru tunagrahita.
Kompetensi yang harus dimiliki guru tunarungu yaitu:
1. Guru tunarungu harus menguasai pendidikan khusus anak didik. 2. Guru tunarungu harus menguasai artikulasi.
3. Guru tunarungu harus mampu mengenalkan dan mengajarkan kosa kata kepada anak didik.
4. Guru tunarungu harus mampu mengajarkan terapi bicara.
5. Guru tunarungu harus mampu mengajarkan Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI)
6. Guru tunarungu harus mencapai target kurikulum sehingga anak didik dapat melewati UAS BN dan melanjutkan pendidikannya di SMP inklusi. Kompetensi yang harus dimiliki guru tunagrahita yaitu:
1. Guru tunagrahita harus mampu merancang jaring-jaring tematik sebagai metode dalam mengajar anak didik.
3. Guru tunagrahita harus mampu mengajarkan Program Menolong Diri Sendiri (PMDS) atau bina diri sehingga anak didik dapat mandiri
4. Guru tunagrahita harus mengembangkan kemampuan anak didik
5. Guru tunagrahita harus mampu mengajarkan lab skill seperti memasak, menjahit dan otomotif kepada anak didik
2.4. Kerangka Konsep
2.5 Hipoptesis Penelitian
Ha : Ada perbedaan stres kerja antara guru tunarungu dengan guru tunagrahita di SLB-E Negeri Pembina Medan Tahun 2011.
Guru SLB-E Negeri Pembina Medan - Guru Tunarungu - Guru Tunagrahita STRES KERJA Karakteristik Guru SLB - Jenis Kelamin - Umur - Pendidikan - Masa Kerja - Status Pernikahan
BAB III