HAMBATAN DAN UPAYA DALAM PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA DITINJAU DARI ASPEK KRIMINOLOGI
A. HAMBATAN DALAM PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA
Dalam menanggulangi setiap permasalahan, timbul hambatan-hambatan yang akan dihadapi dalam proses penanggulangan masalah tersebut, dalam hal ini penulis akan memaparkan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam menanggulangi kenakalan anak, dimana secara garis besar ada 2 hambatan yang dihadapi yaitu :
1. Hambatan Internal
Hambatan internal adalah adalah hambatan yang berasal dari pribadi diri anak itu sendiri maupun dari keluarga anak itu sendiri. Adapun lingkungan tersebut adalah :
a. Dari Dalam Diri Pribadi Anak
Setiap anak memiliki kepribadian yang khusus. Keadaan khusus pada anak, bisa menjadi sumber munculnya berbagai perilaku menyimpang. Keadaan khusus itu adalah keadaan kkonstitusi, potensi, bakat atau sifat dasar pada anak yang kemudian melalui proses perkembangan, kematangan atau perangsangan dari lingkungan menjadi aktual, muncul atau berfungsi.
Adapun hambatan-hambatan yang terdapat dalam diri anak yang menimbulkan kesulitan dalam menanggulangi kenakalan remaja adalah :
a) Adanya tekanan dari keluarga diri anak tersebut. Tekanna tersebut dapat berupa tuntutan terhadap anak agar memiliki prestasi gemilang dalam mata pelajaran tertentu, sedangkan anak tersebut memiliki bakat dalam dunia musik, adanya ekspresi kekecewaan berlebihan yang ditunjukkan orang tua pada anak karena anka tidak berhasil meraih prestasi dibidang yang dikehendaki oleh orang tua, sehingga hal-hal tersebut membuat anak tertekan dan selalu berada dalam keadaan tertekan dan tidak bahagia.
b) Tidak adanya perhatian, dorongan, dan tuntutan untuk berbuat baik. Hal ini menimbulkan pemikiran pada benak anak bahwa semua hal yang dilakukannya adalah sia-sia. Karena apapun yang dilakukan oleh anak tidak mendapat perhatian dari siapapun, sehingga anak tidak memiliki keharusan untuk berbuat baik kepada siapapun termasuk kepada diri sendiri.
c) Tidak adanya pengetahuan yang cukup tentang hal yang buruk dan hal yang baik, hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta hal yang merugikan maupun hal yang menguntungkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
b. Lingkungan Keluarga (ayah, ibu, dan saudara)
Keluarga adalah unit sosial paling kecil yang peranannya besar sekali terhadap perkembangan anak. Anak yang baru dilahirkan berada dalam kondisi lemah dan tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Jadi anak tergantung sepenuhnya pada keluarganya. Keluarga sangat berperan besar pada
kehidupan anak, karena keluargalah yang langsung dan tidak langsung berhubungan terus menerus dengan anak, memberikan perangsangan melalui berbagai corak komunikasi antara orang tua dan anak.76
Keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas pada penerus keturunan saja. Dalam bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri. Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang dan pangan.77
Lingkungan keluarga acap kali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal yang mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. Adakalanya hal ini berlangsung melalui ucapan-ucapan, perintah-perintah yang diberikan secara langsung untuk menunjukkan apa yang seharusnya diperlihatkan atau dilakukan oleh anak. Adakalanya orang tua bertindak atau bersikap sebagai patokan, untuk ditiru oleh anak dan meresap dalam diri anak tersebut dan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku atau bagian dari kepribadiannya.78
Dasar kepribadian seseorang berbentuk sebagai hasil perpaduan antar warisan. Penyaluran emosi banyak ditiru dan dipelajari dari angggota-anggota keluarga, sehingga dapat dikatakan anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari keluarga juga tidak dapat menyatakan kasih sayang kepada orang lain.
76
Singgih D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis; Anak Remaja dan Keluarga, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000, hal 185.
77
Ny. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk keluarga, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003, hal 1.
78
Keluarga masa kini sudah banyak kehilangan fungsi dan artinya sebagai keluarga. Seperti fungsi pendidikan yang sudah diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, membuat orang tua tidak berperan lagi dalam perkembangan intelek anak. Fungsi rekreasi yang juga sudah berpindah dari pusatnya dalam keluarga ke tempat-tempat hiburan diluar rumah, baik bagi anak maupun bagi orang tuanya.79
Perubahan- perubahan fungsi tersebut secara tidak langsung menimbulkan jarak diantara anggota keluarga. Anggota keluarga baik orang tua maupun anak tidak lagi memiliki intensitas waktu yang cukup untuk saling bertemu, berbicara atau hanya sekedar tatap muka sekalipun.
Anggota-anggota keluarga tidak lagi menempati tempat yang berarti, karena tidak lagi dirasakan ikatan yang salingg mebutuhkan antara satu dan lainnya. Dengan demikian fungsi keluarga menjadi sangat berkurang dan arti keluarga dan ikatannya seolah-olah mengalami suatu kegoncangan.80
Akhirnya kesatuan keluarga hanya dianggap sekedar pro-forma saja. Hubungan antar pribadi makin jauh dan melemah, sehingga akhirnya arti pribadi mengalami suatu perubahan. Beberapa kebutuhan dasar individu sebagai suatu pribadi, dengan suatu cara pandangan hidup yang individualistis tadi, tidak lagi dipenuhi, bahkan tidak lagi diperhitungkan sama sekali. Karena itu bisa timbul frustasi, yaitu keadaan tidak tercapainya suatu keinginan atau kebutuhan dasar yang mendorong tingkah laku seseorang. Frustasi ini dapat mempengaruhi kelakuan seseorang sedemikian mendalamnya, sehingga timbul
79
Ny. Singgih D. Gunarsa, op cit,hal 2
80
peristiwa yang tidak terduga, sekalipun lingkungan hidup sudah mencapai taraf hidup yang cukup tinggi. Peraturan-peraturan yang sudah sedemikian berakar dan mengatur seluruh seluk-beluk kehidupan, akhirnya dilanggar begitu saja. Nilai-nilai moral yang telah ratusan tahun disusun dan dibina, akhirnya hany dianggap semata-mata sebagai lambang dari masa lampau.81
Agar terjamin hubungan yang baik dalam keluarga, dibutuhkan peran aktif orang tua untuk membina hubungan-hubungan yang serasi dan harmonis antara semua pihak dalam keluarga.82 Dalam bimbingan orang tua terhadap anaknya, jelas terlihat arti hubungan orang tua dan sumbangannya secara tidak langsung bagi kepentingan umum dan tercapainya masyarakat yang aman dan sentosa. Berbagai macam masalah umum tidak akan menjadi masalah dan tidak akan menyebabkan penderitaan bilamana ditangani seawal mungkin, yakni penanganan masalah dalam keluarga masing-masing.83
2. Hambatan Eksternal
Hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal anak dan lingkungan sosial umum. Hambatan-hambatan tersebut antara lain :
a. Lingkungan Masyarakat Sekitar
Lingkungan masyarakat dengan berbagai ciri khususnya memegang peranan yang sangat besar terhadap munculnya corak dan gambaran kepribadian
81
Ibid, hal 3
82
Singgih D. Gunarsa dan Ny. Singgih D. Gunarsa, op cit, hal 187
83
pada anak. Apalagi kalau tidak didukung oleh kemantapan dari kepribadian dasar yang terbentuk dalam keluarga.
Kegoncangan memang mudah timbul, karena setiap manusia berhadapan dengan berbagai perubahan yang ada dalam masyarakat. Dalam kenyataannya pola kehidupan dalam keluarga dan masyarakat dewasa ini, jauh berbeda dibandingkan dengan pola kehidupan beberapa puluh tahun yang lalu. Terjadi berbagai pergeseran dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Bertambahnya penduduk yang sedemikian pesat, khususnya di kota-kota besar, menimbulkan ruang hidup dan ruang lingkup kehidupan menjadi bertambah sempit.84
Tanpa mengikuti dan menyesuaikan terhadap perubahan dengan corak yang baru yang mungkin jauh berbeda dengan yang lama, akan mengalami kesenjangan yang sering menimbulkan macam-macam kesulitan dan persoalan. Terlalu kaku untuk mempertahankan pola lama akan sering menimbulkan masalah dalam keluarga maupun masyarakat. Sebaliknya, terlalu megikiti arus juga bisa menimbulkan kecanggungan, disamping menunjukkan kurang adanya prinsip yang kuat, gambaran kepribadian yang mantap karena mudah mengikuti dan terpengaruh oleh rangsangan dari lingkungannya.85
Lingkungan pergaulan buat anak adalah sesuatu yang harus dimasuki karena di lingkungan pergaulan seseorang anak bisa terpengaruh ciri kepribadiannya, tentunya diharapkan terpengaruh oleh hal-hal yang baik, disamping bahwa lingkungan pergaulan adalah sesuatu kebutuhan dalam
84
Singgih D. Gunarsa dan Ny. Singgih D. Gunarsa, op cit, hal 188
85
pengembangan diri untuk hidup bermasyarakat. Karena itu, lingkungan masyarakat sewajarnya menjadi perhatian semua orang, agar bisa menjadi lingkungan yang baik yang bisa meredam dorongan-dorongan negatif atau patologis pada anak maupun remaja. Upaya perbaikan lingkungan sosial membutuhkan kerja sama yang terpadu dari berbagai pihak, termasuk peran serta masyarakat sendiri.86
B. USAHA-USAHA PENCEGAHAN KEJAHATAN DARI ASPEK