BAB VI HAMBATAN DAN CAPAIAN PENINDAKAN PELANGGARAN PADA
A. HAMBATAN DAN KENDALA PENINDAKAN PELANGGARAN DI
Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan bentuk nyata dari konsep demokrasi yang diyakini sebagai salah satu asas penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Pemilihan umum (Pemilu) merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran politik rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam pemilihan umum demi terwujudnya cita-cita masyarakat Indonesia yang demokratis. Dalam pelaksanaannya masih banyak hambatan-hambatan dalam pelaksanaan Pemilihan Umum. Seringkali dalam Pemilu yang terjebak pada kepentingan-kepentingan sesaat dan tidak sejalan dengan ideologi Pancasila yang merupakan komitmen bangsa sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Guna memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pemilihan umum yang baik pemerintah telah membuat Undang-Undang Pemilu yang didalamnya mengatur dari mulai poroses pendaftaran dan penetapan peserta Pemilu, Kampanye, pemungutan dan penghitungan perolehan suara, serta larangan dan sanksi baik administrasi maupun pidana.
Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2019 merupakan Pemilu serentak pertama di Indonesia atau dengan kata lain pelaksanaan pemilihan umum DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Dalam pelaksanaannya banyak terjadi penyimpangan dan pelanggaran Pemilu. Bawaslu berkewajiban untuk menindaklanjuti laporan dan temuan pelanggaran Pemilu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar memberikan rasa keadilan bagi semua pihak.
Bawaslu Provinsi Banten dan Bawaslu Kabupaten/Kota di Provinsi Banten telah menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum beserta peraturan-peraturan lain dibawahnya Peraturan Bawaslu maupun Peraturan
61
Komisi Pemilihan Umum (KPU). Untuk mencapai tujuan tersebut ada beberapa hal yang menghambat dan hal itu harus segera diperbaiki. Pengertian hambatan yaitu usaha yang ada dan berasal dari dalam atau dari luar dan memiliki sifat atau tujuan untuk melemahkan dan menghalangi tujuan tersebut yaitu diantaranya:
a. Regulasi
Masalah:
1. Dalam pelaksanaan penerimaan laporan dugaan pelanggaran administrasi Pemilu, jangka waktu antara laporan diregister dengan pelaksanaan pemeriksaan pendahuluan tidak diatur secara terperinci.
2. Ada ketidak jelasan dalam pasal 41 ayat (4) huruf a dalam Perbawaslu Nomor 8 tahun 2018 tentang Penyelesaian Pelanggaran Administratif Pemilu terkait ayat yang dituju, disebutkan dalam pasal 41 ayat (4) huruf a: “Temuan atau laporan dugaan Pelanggaran Administratif Pemilu TSM tidak dapat diterima dan tidak ditindaklanjuti karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)”. Sedangkan dalam pasal 41 ayat (2) menyebutkan “Dalam melakukan pemeriksaan pendahuluan, majelis pemeriksa dapat mengundang pelapor untuk hadir dalam pemeriksaan pendahuluan”. Seharusnya bukan dikaitkan dengan pasal 41 ayat (2) tetapi pasal 41 ayat (1) yang menyebutkan “Majelis pemeriksa melakukan pemeriksaan atas dokumen Temuan atau Laporan untuk memutuskan keterpenuhan persyaratan laporan yakni:
a. Syarat formil dan syarat materil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (6) dan ayat (7);
b. Kewenangan untuk menyelesaikan laporan dugaan Pelanggaran Administratif Pemilu atau Pelanggaran Administratif Pemilu TSM;
c. Kedudukan atau status pelapor dan terlapor; dan
d. Tenggang waktu temuan atau laporan dugaan Pelanggaran Administratif Pemilu”.
3. Syarat laporan cukup memberatkan pelapor untuk penggandaan bukti sebanyak 7 (tujuh) rangkap, yaitu 1 (satu) asli leges dan 6 (enam) rangkap kopi;
4. Pelapor dari unsur masyarakat apakah memungkinkan mendapatkan pendampingan bantuan hukum;
62
6. Penomoran pelanggaran administrasi sebaiknya dimasukan dalam peraturan Bawaslu tentang pelanggaran adminstrasi atau pelanggaran administrasi Pemilu TSM;
7. Hukum acara dalam sidang pelanggaran administrasi mengacu kerumpun mana (harus dipertegas);
8. Buku register kuasa hukum dalam administrasi penanganan pelanggaran adminstrasi harus diatur;
9. Standar majelis dalam memutus perkara menggunakan berapa alat bukti 1 (satu) atau 2 (dua);
10. Isian form laporan antara lampiran dengan isi dalam Perbawaslu nomor 8 tahun 2018 tentang Penyelesaian Pelanggaran Administratif Pemilu pasal 41 tidak saling mengcover dimana dalam lampiran laporan tidak mencantumkan outline terkait kewenangan Bawaslu untuk menyelesaikan laporan administrasi.
Hambatan terkait ketentuan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum antara lain:
1. Pasal 492 unsur kampanye di luar jadwal yang dimaknai berlaku setelah KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota menetapkan jadwal dalam bentuk Surat Keputusan hal ini tidak sejalan dengan Pasal 276 ayat (1) dan (2); 2. Pasal 547 Pejabat Negara yang dengan sengaja membuat keputusan yang
menguntungkan atau merugikan merupakan delik formil yang harus diikuti dengan perbuatan atau tindakan serta merujuk terhadap undang-undang lain seperti ASN dan Administrasi Negara;
3. Ketentuan pasal 525 sd pasal 528 hanya dapat diterapkan apabila penerima sumbangan tidak melaporkan kelebihan sumbangan dan tidak mengembalikan kelebihan sumbangan paling lama 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye;
4. Pasal 521 jo Pasal 280 ayat (1) tidak selaras dengan Pasal 280 ayat (4); 5. Pasal 268 Kampanye dilaksanakan oleh Pelaksana Kampanye;
6. Pasal 272 pelaksana kampanye dan tim kampanye yang harus terdaftar di KPU/ KPU Provinsi dan/ atau KPU Kabupaten/Kota;
7. Pasal 283 tidak ada sanksi pidananya;
8. Pasal 533 dimaknai apabila saat pemungutan suara si pelaku telah datang ke TPS dengan membawa C6 milik orang lain dan mengikuti proses pendaftaran
63
untuk menggunakan hak pilih sebagai orang lain, sekalipun surat suara belum sempat digunakan;
9. Pasal 480 terkait yang mengatur in Absentia yang harus dimaknai dari tahapan penyidikan;
10. Pasal 530 yang sulit penerapanya;
11. Pasal 550, Pasal 524 ayat (1) dan (2), Pasal 527 terkait rumusan terbukti dengan sengaja atau terbukti harus dimaknai proses pembuktian.
b. Sumber Daya Manusia
Masalah:
1. Pemahaman dari tim penanganan pelanggaran terkait mekanisme dan alur penanganan pelanggaran adminstrasi atau pelanggaran adminisrasi Pemilu TSM yang masih perlu ditingkatkan;
2. Terbatasnya personil yang berlatar belakang hukum.
Kewenangan:
Kewenangan Bawaslu dalam menangani dugaan Pelanggaran Pidana Pemilu yang masih terbatas sehingga dalam kegiatannya yang terkait dengan penanganan pelanggaran pidana Pemilu Bawaslu harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan kepolisian dan kejaksaan yang tergabung dalam Sentra Gakkumdu (Penegakan Hukum Terpadu). Pada prakteknya, diforum koordinasi itulah sering kali terjadi perbedaan pendapat mengenai definisi pelanggaran Pemilu. Untuk itu, diperlukan pengaturan hukum yang memberi kewenangan lebih luas kepada Lembaga pengawas Pemilu, sehingga penanganan pelanggaran pidana Pemilu bisa lebih optimal.
Mengenai penanganan pelanggaran administrasi dan pelanggaran kode etik, kewenangan Bawaslu hanya terbatas pada memberikan rekomendasi, dan menyampaikannya kepada instansi yang berwenang menindaklanjutinya, yakni penyidik Polri untuk selanjutnya ditangani dalam sistem peradilan pidana. Rekomendasi pelanggaran administrasi disampaikan ke KPU, dan rekomendasi pelanggaran kode etik disampaikan ke DKPP. Mekanisme penegakan hukum yang melibatkan pihak lain, seperti kejaksanaan dan kepolisian, sebagai bentuk respon terhadap pelaksanaan Pemilu serentak, belum terbangun secara sistematis.
64
Secara teoritis dan empiris masih banyak ditemui hambatan-hambatan yang mengganggu proses dan hasil Pemilu. Akibat dari adanya gangguan tersebut, substansi atau kualitas demokrasi menjadi tidak atau belum terwujud dengan ideal. Untuk itu, untuk mewujudkan demokrasi berintegritas, diperlukan langkah-langkah serius dari berbagai pihak dalam menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilu khususnya penindakan pelanggaran di wilayah Provinsi serta Kabupaten/Kota.
c. Gakkumdu
1. Semuan Laporan yang berunsur pidana baik Bawaslu Provinsi atau Bawaslu Kabupaten/Kota berhenti di SG 2 dikarenakan tidak cukup bukti yang menurut pihak kepolisian dan kejaksaan susah untuk ditindak.
2. Perbedaan pandangan dalam menangani Pidana Pemilu antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Mereka memiliki dan mengacu terhadap standar operasional tersendiri yang kadangkala tidak sepaham dengan Bawaslu sehingga hasilnya menjadi tidak maksimal.
B. KEBERHASILAN (CAPAIAN) PENINDAKAN PELANGGARAN OLEH BAWASLU