KAJIAN PUSTAKA A.Panti asuhan
LAPORAN HASIL PENELITIAN
C. Hambatan Yang Diperoleh Dalam Pembentukan Kemandirian Belajar Anak Yatim Putri di Panti Asuhan Aisyiyah Kecamatan Belajar Anak Yatim Putri di Panti Asuhan Aisyiyah Kecamatan
Tuntang Kabupaten Semarang
Panti asuhan dalam memberikan kemandirian belajar kepada anak asuh bukan tanpa hambatan. Menurut Ibu EN beberapa hambatan yang dialami oleh panti asuhan diantaranya:
1. Kekurangpahaman anak asuh dalam menerima materi belajar. Anak asuh sering berpura-pura sudah mengerti tentang materi belajar yang disampaikan oleh pengurus, padahal sebenarnya belum mengerti. Sebagai contoh, ketika guru pembimbing fiqih mempraktekkan cara berwudhu yang baik, anak asuh menganggap sudah bisa dan tidak memperhatikan, ketika mereka disuruh mempraktekkannya kembali ternyata belum sempurna wudhunya.
2. Ketidakhadiran pengajar sering menjadikan hambatan dalam proses pembelajaran, seperti halnya ketika musim hujan biasanya pengajar
101
yang tidak bermukim di asrama tidak hadir, sehingga waktu anak asuh yang seharusnya melakukan kegiatan menjadi terhambat.
3. Banyaknya aktifitas anak asuh di sekolah menjadikan mereka
terkadang pulang ke asrama dengan tidak tepat waktu, sehingga ketika kegiatan belajar berlangsung mereka terlambat atau bahkan tidak mengikuti kegiatan belajar tersebut.
102 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai upaya pembentukan kemandirian belajar di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang Kabupaten Semarang, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Perkembangan sosio-emosional dan kemandirian belajar anak yatim putri panti asuhan Aisyiyah Tuntang sudah cukup baik, tetapi perlu dikembangkan terus-menerus. Perkembangan sosio-emosionalnya dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
a. Kondisi sosio-emosional anak yatim usia 6-12 (anak-anak)
1) Kondisi emosional
Pada usia ini perkembangan emosional anak belum stabil, disebabkan karena lingkungan. Keadaan yang menyebabkan ketidakstabilan adalah penyesuaian diri pada situasi baru yang ada dikehidupannya.
2) Kondisi sosial
Kondisi sosial pada masa ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial pada anak usia ini ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Anak yatim putri panti asuhan Aisyiyah
103
Tuntang mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri kepada lingkungan dan teman-temannya, sehingga terbentuknya kematangan perkembangan sosial pada diri anak. b. Kondisi sosio-emosional anak yatim usia 13-18 (remaja)
1) Kondisi emosional
Kondisi emosional pada remaja anak yatim di panti asuhan putri Aisyiyah Tuntang mereka tidak lagi mengungkapkan amarah yang meledak-ledak, tetapi ia sudah dapat menahan emosinya. Dengan demikian anak asuh mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, anak asuh yang emosinya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain.
2) Kondisi sosial
Kehidupan remaja pada umumnya berusaha untuk menemukan jati dirinya, sehingga remaja tersebut terdorong untuk berinteraksi sosial dengan orang lain guna memahami karakter individu yang menyangkut pribadinya maupun pribadi orang lain. Perkembangan sosial pada anak yatim putri panti asuhan Aisyiyah Tuntang ditandai dengan banyaknya kegiatan sosial yang diikutinya, sehingga anak asuh dapat menilai karakter sosial teman-temannya. Dengan banyaknya kegiatan sosial yang dilakukan, maka wawasan sosial semakin membaik
104
bertambah. Sehingga anak asuh dapat menilai teman-temannya dengan lebih baik, penyesuaian diri dalam situasi sosial bertambah baik dan pertengkarang menjadi berkurang. Dengan demikian anak asuh memiliki kepercayaan diri yang diungkapkan melalui sikap yang tenang dan seimbang dalam permasalahan sosial.
2. Upaya yang dilakukan pengurus dalam pembentukan kemandirian
belajar anak yatim di panti asuhan putri Aisyiyah Tuntang
Upaya panti untuk membentuk kemandirian anak yatim putri ada berbagai cara yaitu dengan memberikan pendidikan agama Islam dan keterampilan kepada anak yatim putri sebagai usaha untuk menciptakan pribadi yang mandiri dan mempunyai kecakapan hidup (life skill) dengan harapan anak yatim putri agar dapat meraih masa depan yang lebih baik. Adapun pendidikan dan keterampilan yang diberikan kepada anak yatim putri sebagai berikut:
a. Pendidikan agama Islam
Pendidikan agama harus diberikan dan diajarkan kepada anak sejak dini, karena agama merupakan pegangan dan pedoman hidup manusia. Pendidikan agama Islam yang diberikan meliputi aqidah dan akhlak, karena pendidikan akhlak sangatlah penting bagi kehidupan anak sebagai pondasi sekaligus bekal bagi kehidupan anak ke depannya. Selain mengajarkan pendidikan moral secara teori (melalui pengajian) pengurus juga memberikan contoh yang
105
nyata dengan tingkah laku dan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji.
b. Keterampilan
Anak yatim putri di panti asuhan selain mendapatkan pendidikan agama, pendidikan moral (akhlak) dan pendidikan formal (sekolah) juga mendapatkan berbagai macam keterampilan. Adapun tujuan dari keterampilan anak yatim putri adalah dengan adanya kecakapan yang dimiliki anak asuh diharapkan mereka dapat hidup mandiri dengan bekerja sesuai dengan keterampilan dan bakat yang mereka miliki setelah keluar dari panti asuhan. Di sini pembinaan anak sebagai bagian dari proses sosialisasi yang paling penting dan mendasar karena fungsi utama pembinaan anak adalah mempersiapkan anak menjadi warga masyarakat yang mandiri. 3. Hambatan yang diperoleh pengurus dalam pembentukan kemandirian
belajar anak yatim di panti asuhan putri Aisyiyah Tuntang antara lain: a. Kurangnya pemahaman pada anak yatim putri dalam menerima
materi belajar
b. Ketidakhadiran pengajar menjadikan hambatan dalam proses
pembelajaran
c. Kurangnya efisiensi waktu dalam beraktifitas sehingga anak yatim putri seringkali kegiatan yang ada di panti asuhan tersita dengan kegiatan yang ada di sekolahan. Dengan adanya hambatan tersebut,
106
pengurus panti belum bisa sepenuhnya menuntaskan, sehingga kurang terbentuknya kemandirian belajar yang sempurna.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang penulis uraikan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran guna perkembangan selanjutnya kearah yang lebih baik, kepada:
1. Pengurus Yayasan Aisyiyah Tuntang diharapkan dapat meningkatkan profesionalitasnya agar mampu membimbing anak yatim putri dan mencetak anak yatim putri yang lebih mandiri dan berkwalitas.
2. Anak yatim putri panti asuhan Aisyiyah Tuntang hendaknya lebih giat, sungguh-sungguh, dan tekun dalam belajar baik di panti maupun di sekolah formal dan mematuhi semua tata tertib dan aturan yang ada dalam panti asuhan, karena semua itu untuk kebaikan anak asuh.
3. Pihak keluarga diharapkan untuk lebih memperhatikan tumbuh
kembang anak yang dititipkan di panti asuhan dengan ikut berperan aktif dengan pengurus dalam merawat dan mendidik anak, sehingga cita-cita untuk mewujudkan anak yang cerdas dan berakhlaqul karimah dapat terwujud, karena bagaimanapun juga keluarga adalah pihak yang bertanggung jawab atas kehidupan anak.
4. Pemerintah diharapkan lebih memperhatikan nasib anak-anak yang kurang beruntung serta mengambil kebijakan guna meningkatkan pendidikan, kelayakan dan kesejahteraan anak-anak, khususnya anak yatim yang hidup di panti asuhan.
107