• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Ekspor

7. Hambatan Ekspor Non Migas

Adapun beberapa hambatan dalam ekspor non migas antaranya:

a. Umum

Ekspor tidak di andalkan sebagai sarana untuk pertumbuhan ekonomi nasional karena itu pembinaan secara nasional kurang memadai.

b. Peraturan

1) Kelambatan perijinan, ijin perluasan, ijin penambahan produksi, karena panjangnya mata rantai birokasi dan banyaknya peraturan.

2) Penyelesaian dokumen ekspor dan pabean memakan waktu lama, dan banyaknya punggutan liar.

commit to user

3) Belum dilakukannya check price ( harga petokan ) untuk beberapa jenis barang sehingga timbul persaingan yang tidak sehat.

4) System pengawasan mutu belum terpadu dan juga peneluaran certificate of quality.

c. Informasi

Kurang dikuasainya data, produksi, konsumsi dalam negeri sehingga sulit mengadakan proyeksi ekspor dan juga proyeksi pasaran luar negeri.

d. Promosi

Kesalahan dalam system promosi, yang sering diikutkan di Trade Fair International justru produk industry kecil dan kerajinan rakyat yang sebenarnya kurang mempunyai kemampuan ekspor ( non exportable).

e. Tarif atau Bea Masuk

Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadap barang – barang yang melewati batas suatu negara (Nopirin,1995) ditinjau dari mekanisme perhitungannya, ada beberapa jenis tarif, yakni:

1) Tarif Ad Valorem (ad valorem tariffs)

Tarif ad valorem adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya, suatu negara memungut tarif 25% atas nilai atau harga disetiap unit mobil yang diimpor).

commit to user 2) Tarif spesifik (spesific tariffs)

Tarif spesifik adalah tarif yang dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor (misalnya, pungutan US$ 3 untuk setiap barel minyak).

3) Tarif campuran ( compound tariffs)

Tarif campuran adalah gabungan dari kedua tarif ad valorem dan tarif spesifik. Di samping mengenakan pungutan dalam jumlah tertentu, tarif campuran juga memungut sekian persen lagi.

f. Kuota

Kuota ( jatah, atau pembakuan kuantitas) merupakan bentuk hambatan perdagangan non tarif yang paling penting. Kuota adalah pembatasan secara langsung terhadap jumlah impor atau ekspor (Nopirin:1995). Kuota bisa serupa pembatasan kuantitas pasokan. Sedangakan kuota impor yang didefinisikan sebagai pembatasan jumlah volume terhadap barang yang masuk ke dalam negeri. Jenis kuota impor adalah :

1) Absolute atau unilateral kuota adalah kuota yang besar atau kecilnya ditentukan sendiri oleh satu negara tanpa persetujuan dengan negara lain. Kuota semacam ini sering menimbulkan tindakan balasan oleh negara lain.

2) Negotiated atau bilateral kuota adalah kuota yang besar atau kecilnya ditentukan berdasarkan perjanjian antara 2 negara atau lebih.

commit to user

3) Tarif kuota adalah gabungan antara tarif dan kuota. Untuk sejumlah tertentu barang yang diizinkan masuk dengan tarif tertentu, tambahan impor masih diizinkan akan tetapi dikenakan tarif yang lebih tinggi.

4) Mixing kuota adalah membatasi pengunaan bahan mentah yang diimpor dalam proporsi tertentu dalam produksi barang akhir. Pembatasan ini untuk mendorong berkembangnya industri di dalam negeri.

Pembatasan barang yang masuk menyebabkan berkurangnya barang masuk tersebut di dalam pasar dalam negeri, sedangkan permintaan relatif tetap. Keadaan ini mengakibatkan harga impor di dalam pasar dalam negeri lebih tinggi daripada di pasar dunia.

g. Produksi

1) Teknologi yang di pakai masih rendah.

2) Hambatan peningkatan produksi.

3) Komoditas ekspor Indonesia kebanyakan hasil agraria dan ekstraktif yang sifatnya inelastic. Kenaikan permintaan tidak langsung bisa diikuti kenaikan penawaran dan sebaliknya kenaikan penawaran yang tidak langsung mendapat pesanan akan rusak.

4) Rehabilitas, ekstensifikasi, reboisasi, peremajaan dan lain usaha untuk melestarikan dan meningkatkan produksi tidak berjalan menurut semestinya.

commit to user

5) Excess capacity industry ( kelebihan daya terpasang ) tidak dapat dimanfaatkan untuk produksi ekspor karena high cost economy dan tidak adanya Trading House yang dapat menampung.

6) Belum dikembangkan secara sistematis outward looking industries yang bertumpu pada bahan baku unggul.

h. Pengangkutan

1) Tarif angkutan lokal yang mahal.

2) Tidak lancarnya angkutan dan lancarnya Transhipment dari outport( pelabuhan pedalaman ) ke pelabuhan transit utama.

3) Kenaikan harga BBM, kenaikan ongkos angkut ke negara konsumen, karena resesi.

4) Kurangnya muatan balik (return cargo ) dari kapal – kapal dalam negara.

i. Pemasaran

1) Sarana pemasaran dari mulai jalur – jalur pengumpulan, sortasi, grading pengepakan sampai ekspor belum terbina dengan baik.

2) Tehnik pemasaran hasil pertanian relative masih mudah tetapi pemasaran hasil kerajinan dan hasil industry membutuhkan system distribusi yang sesuai dengan system distribusi negara pembeli.

commit to user

3) Belum adanya kemampuan untuk melaksanakan uji coba penetrasi pasar karena tidak adanya perwakilan perusahaan besar di luar negeri.

4) Industry yang ada kebanyakan dimiliki perusahaan asing, sehingga sulit mendapat pasaran di luar negeri karena di halangi oleh kantor induknya.

5) Kurang tanggapnya terhadap perkembangan di negara yang menjadi competitor yang semakin lama semakin mendesak kedudukan komoditi yang menjadi andalan di pasar dunia.

j. Pembiyayaan

1) Pelayanan perbankan yang belum baik dalam hal negosiasi shipping document dan pemberian fasilitas kridit.

2) System pembayaran dalam masalah ekspor cash against document lebih baik dari system LC.

k. Tata Niaga

1) Pola tata niaga perdagangan internasional tidak jelas apakah akan dikembagkan monocomodity system atau general trading system.

2) Jalur pengumpulan hasil pertanian dan hasil hutan yang panjang tidak lagi dalam formasi yang rapi dengan usaha sortasi, grading, dan processing sampai pada eksportir

commit to user

3) Di sektor perkebunan negara di mana fungsi produksi menyatu dengan fungsi pemasaran, pengawasan atas biaya produksi sulit di lakukan karena akan selalu terselubung oleh fluktuasi harga penjualan.

4) Para eksportir terlalu kecil, sedang dan kebanyakan merupakan mono commodity exporter yang terlalu kecil untuk bisa melakukan penetrasi pasar di luar negeri.

l. Mentalitas

1) Sikap pemerintah yang ragu – ragu dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan ekspor dan impor.

2) Pengusaha Indonesia hanya pasif dan reaktif tidak dinamis.

3) Citra yang menawan merupakan tujan dari setiap eksportir nasional sesuai yang di harapkan pemerintah namun kenyataan yang timbul adalah sebaliknya karena kecurangan dan ketidak profesionalnya para pengusaha.

4) Adakalanya pemerintah tanpa sadar sering menambah buruknya citra pengusaha dengan pengeluaran kebijakan larangan ekspor yang mendadak, sehingga akhirnya orang lebih sering membeli melalui negara ketiga (Amir, 2005).

commit to user

Dokumen terkait