HAMBATAN YANG DIALAMI OLEH PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK) DALAM
1 Hambatan Polisi dalam melakukan Investigasi terhadap
3. Hambatan Hakim dalam Memutuskan Perkara Pencucian Uang
Berkenaan dengan karakteristik yang unik dari tindak pidana pencucian uang, peranan hakim sangat menentukan untuk tujuan pemberantasan kejahatan ini. Hakim harus mempunyai sifat visioner yang didasarkan pada
150
pemahaman bahwa pembuktian kejahatan ini sangat sulit karena harus membuktikan kejahatan sekaligus. Profesionalitas hakim sangat diperlukan untuk mengikuti semua sistem acara peradilan yang banyak menggunakan pendekatan pragmatic, misalnya, adanya perlindungan saksi dan adanya praktik acara pembalikan beban pembuktian (the shifting of the burden of proof).
Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang belum mengatur secara rinci tentang acara persidangan khususnya untuk pembalikan beban pembuktian ini, tetapi pada masa depan hal ini harus dilakukan. Selain tata cara yang ditentukan, hakim juga harus sangat memahami bahwa mengingat penerapan pembalikan beban pembuktian pada dasarnya melanggar prinsip nonself incrimination, maka harus ditekankan bahwa penerapan ini sangat terbatas pada tahap persidangan dan hanya untuk satu unsur. Unsur yang dibuktikan oleh terdakwa adalah bahwa harta kekayaan bukan berasal dari kejahatan. Artinya, apabila unsur ini tidak bisa dibuktikan oleh terdakwa, jaksa tetap harus membuktikan unsur lainnya, baik itu unsur objektif maupun subjektif, sepanjang itu merupakan inti delik (bestandelen).151
Selanjutnya, yang tidak kalah pentingnya adalah sikap hakim apabila ide tentang bukti pendukung (circumstancial evidence) akan diterapkan. Pemikiran tentang pembuktian unsur (intended), yaitu dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil kejahatan dan seterusnya, yang harus dianggap terbukti sepanjang semua unsur di depannya telah dibuktikan oleh
151
logika hukum, yaitu di mana terdakwa yang telah terbukti sengaja melakukan transfer misalnya dan ke mudian dia juga terbukti mengetahui atau paling tidak patut menduga bahwa harta kekayaan yang ditransfer berasal dari kejahatan, maka seharusnya dapat disimpulkan tujuan transfer tersebut untuk hal yang tidak baik, yaitu menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil kekayaan. Terhadap ide ini hakim harus benar-benar mempunyai keberaniar yang dilandasi keyakinannya atau logika hukum yang ditawarkan tersebut Untuk mencapai profesionalitas yang memadai serta inovatif tersebut, sangat diperlukan wawasan yang luas terutama dalam mempelajari teori pembuktian yang telah dilakukan di berbagai negara yang telah banyak pengalaman dalam pengungkapan perkara pencucian uang di pengadilan.152
Penegakan hukum terhadap kasus dugaan pencucian uang sampai saat ini relatif sedikit sampai di pengadilan. Dari sisi penegak hukum Indonesia masih banyak menghadapi kendala, misalnya, antara. PPATK dan kepolisiah tampaknya belum bisa bekerja secara simultan. Dalam praktik di lapangan sering terjadi ketidakharmonisan dalam menjalankan masing-masing peran sehingga dapat merugikan penegakan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Misalnya, belum ada kesamaan persepsi antara PPATK dan polisi tentang transaksi yang mencurigakan, kemudian antara polisi dan jaksa pun tampaknya
152 Ibid
masih muncul persepsi yang berbeda sehubungan dengan telah terjadinya pencucian uang. Sebagai contoh, adalah suatu perkara sudah cukup bukti, tetapi jaksa memanclang tidak cukup bukti. Dengan demikian, kendala terbesar tampaknya muncul dari sudut pembuktian yang harus dilakukan oleh jaksa.153
Kendala lain yang pasti akan timbul, antara lain, belum diatur mekanis- me dan kerja sama yang langsung mengatur dalam hal bagaimana apabila terjadi korupsi yang ditangani KPK yang juga terlibat pencucian uang. Dalam hal ini ada kekosongan hukum karena KPK tidak berwenang menangani masalah pencucian uang, sedangkan seharusnya antara korupsi dan pencucian uang di sidang secara bersamaan dengan dakwaan kumulatif.
Pada akhirnya profesionalitas hakim juga harus mem.egang peranan penting
dalam pengungkapan perkara pencucian uang, mengingat terdapat pendekatan pragmatik dan inovatif yang terpaksa harus dilakukan sehubungan dengan sulitnya pembuktian.154
C. Hambatan Dari Segi Budaya Hukum
Kerjasama dan koordinasi yang baik antar pihak-pihak terkait merupakan salah satu pilar terpenting di dalam pembangunan rezim anti pencucian uang yang efektif dan sekaligus merupakan prasyaratan utama di dalam upaya pencegahan dan
153 Ibid 154
Pemahaman masyarakat tentang penggunaan rekening bank sebagai kepemilikan pribadi yang tidak memperhatikan clausa dalam pembukaan rekening dan menggunakannya tidak sesuai dengan profil menjadikan banyak transaksi yang dikategorikan mencurigakan oleh pihak pelapor.156 Di sisi lain orientasi penyedia jasa keuangan atau penyedia barang dan jasa lainnya yang cenderung lebih mengedepankan profit, sehingga tidak melaksanakan kepatuhan terhadap aturan yang seharusnya dipedomani. Sementara itu, masyarakat selalu menginginkan kemudahan dalam bertransaksi, sehingga menjadi titik temu/akumulasi bagi berbagai penyimpangan yang berakibat tindak pidana pencucian uang semakin sulit dilacak.
Hal ini bisa membantu institusi kepolisian dan lembaga lain untuk meneruskan pengusutan pencucian uang ke tahap penyidikan dan penuntutan. Terutama, karakter kejahatan ini sangat bersifat spesifik, butuh keahlian, dan rentan penyimpangan. Jika PPATK berwenang menyelidiki dan ini akan membantu kepolisian. Atau, semacam strategi multi investigator dan investgasi silang antara lembaga penegak hukum dalam menangani pencucian uang tersebut.
Mengenai hukum dan ketertiban, khususnya mengenai hakekat perbedaannya,
155
Naskah Akademik, Rancangan Undang-Undang Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, (Jakarta:2006), hlm 62ik
156
Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indinesia Kepala Badan Reserse Kriminal, Optimalisasi Peran Kepolisian Dalam Meningkatkan Efektifitas Kerjasama Penanganan Tindak Pidana Pencucian Uang, Makalah Seminar “Sosialisasi Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering), Di Hotel Grand Angkasa Medan, Tanggal 14 April 2011, hlm 8
merupakan suatu keharusan apabila ingin membicarakan masalah penegakan hukum secara sosiologis.157 Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), juga mengalami beberapa kesulitan penerapan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang yaitu:158
1. Fungsi PPATK hanya
bersifat administratif, yaitu untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi informasi yang diperoleh PPATK (Pasal 26 huruf a) dan bilamana dari hasil analisis ditemukan transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang maka PPATK baru melaporkan kepada kepolisian dan kejaksaan (Pasal 26 huruf g), atau paling lambat 3(tiga) hari kerja sejak ditemukan adanya petunjuk atas dugaan transaksi keuangan yang mencurigakan, PPATK wajib menyerahkan hasil analisis kepada penyidik untuk ditindaklanjuti (Pasal 31). Selain itu PPATK tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan pemblokiran atas dana yang diduga merupakan hasil tindak pidana.
2. Pihak kepolisian dan penuntut umum
memiliki kesulitan dalam membuktikan terjadinya tindak pidana pencucian uang karena modusnya yang bervariasi dan biasanya tidak ditemukan adanya cukup alat bukti.
157
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, (Yogyakarta: Genta Publishing, 2009), hlm 71
158
http://yunushusein.files.wordpress.com/2007/07/33_pembangunan-rezim-aml-dan-profesi-
akuntan_x.pdf, Hasil Wawancara Dengan Ketua PPATK, diakses pada hari senin, tanggal 21 Februari
Transaksi Keuangan) tindak pidana pencucian uang yang berasal dari korupsi merupakan yang tertinggi. Data hingga Maret 2010, tindak pidana dalam Laporan Keuangan Transaksi Mencurigakan (LKTM) yang tertinggi ada korupsi, sebesar 42 persen dari 2.442 atau sebanyak 1.030. Kemudian baru Penipuan sebanyak 571 (23, 38 persen), Pemalsuan Dokumen sebanyak 162 (6,63 persen), Kejahatan Perbankan sebanyak 136 (5,57 persen), dan Tindak Pidana lain sebanyak 375 (15,36 persen ) sisanya tidak terindentifikasi sebanyak 168 (6,88 persen).159
Pencucian uang merupakan kejahatan yang luar biasa dan menjadi bagian dari kejahatan kerah putih, yang mempunya akses terhadap sarana perbankan. Kendala terbesar dalam menangani pencucian uang, satu-satunya lembaga menangani pencucian uang atau menginvestigasi laporan PPATK adalah kepolisian. Berdasarkan peraturan, PPATK dapat melaporkan dua hal, LKTM dan Laporan Hasil Analisis.
Berbagai kejahatan, baik yang dilakukan oleh orang perseorangan maupun oleh korporasi dalam batas wilayah suatu negara maupun yang dilakukan melintasi batas wilayah negara lain makin meningkat. Kejahatan tersebut, antara lain, berupa tindak pidana korupsi penyuapan
(bribery); penyelundupan barang; penyelundupan tenaga kerja;
penyelundupan imigran; perbankan; perdagangan gelap narkotik dan
159 Ibid
gelap; penculikan; terorisme; pencucian; penggelapan; penipuaan dan berbagai kejahatan kerah putih lainnya. Kejahatan-kejahatan tersebut telah melibatkan ataupun menghasilkan harta kekayaan yang sangat besar jumlahnya.160
Harta kekayaan yang berasal dari berbagai kejahatan atau tindak pidana tersebut, pada umumnya tidak langsung dibelanjakan atau digunakan oleh para pelaku kejahatan karena apabila langsung digunakan akan mudah dilacak oleh penegak hukum mengenai sumber diperolehnya harta kekayaan tersebut. Biasanya para pelaku kejahatan terlebih dahulu mengupayakan agar harta kekayaan yang diperoleh dari kejahatan tersebut masuk ke dalam sistem keuangan (financial system), terutama ke dalam sistem perbankan (banking system). Dengan cara demikian, asal usul harta kekayaan. tersebut diharapkan tidak dapat dilacak oleh para
penegak hukum. Upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini dikenal sebagai pencucian uang (money laundering).161
Bagi organisasi kejahatan, harta kekayaan sebagai hasil kejahatan ibarat darah dalam satu tubuh, dalam pengertian apabila aliran harta
124
160
Andrian Sutedi, Op.,cit, hlm 131-132 161
harta kekayaan merupakan bagian yang sangat penting bagi suatu organisasi kejahatan. Untuk itu, terdapat suatu dorongan bagi organisasi kejahatan melakukan pencucian uang agar asal usul harta kekayaan yang sangat dibutuhkan tersebut sulit atau tidak dapat dilacak oleh penegak hukum.
Perbuatan pencucian uang di samping sangat merugikan masyarakat, juga sangat merugikan negara karena dapat memengaruhi atau merusak s t a b i l i t a s p e r e k o n o m i a n n a s i o n a l a t a u k e u a n g a n n e g a r a d e n g a n m e n i n g k a t n y a berbagai kejahatan. Sehubungan dengan hal tersebut. Upaya untuk mencegah dan memberantas praktik pencucian uang telah menjadi perhatian internasional. Berbagai upaya telah ditempuh oleh masing-masing negara untuk mencegah dan memberantas praktik pencucian uang, termasuk dengan cara melakukan kerja sama internasional, baik melalui forum secara bilateral maupun multilateral.
Konteks kepentingan nasional, ditetapkannya Undang-Undang ten- tang Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan penegasan bahwa pemerintah dan sektor swasta bukan merupakan bagian dari masalah, melainkan bagian dari penyelesaian masalah, baik di sektor ekonomi, keuangan, maupun perbankan.