• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SITUASI KOMUNIKASI SUAMI-ISTRI DALAM KELUARGA

A. Komunikasi pada Umumnya

6. Hambatan Komunikasi

Komunikasi disebut efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim. Kenyataannya, orang sering gagal saling memahami. Sumber utama kesalahpahaman dalam komunikasi adalah cara menerima menangkap makna suatu pesan berbeda dari yang dimaksud oleh pengirim, karena pengirim gagal mengkomunikasikan maksudnya dengan tepat. Kegagalan dalam komunikasi yang timbul karena adanya kesenjangan antara apa yang sebenarnya dimaksud pengirim dengan apa yang oleh penerima diduga/dimaksud oleh pengirim, bersumber dari faktor penghambat dan macam-macam hambatan komunikasi.

a. Faktor Penyebab

Faktor penghambat komunikasi yang menyebabkan kesenjangan antara pengirim dan penerima bersumber dari hambatan yang bersifat emosional dan sosial atau kultural. Ketika seseorang tidak suka pada seseorang, maka semua kata-katanya

ditafsirkan negatif. Orang tersinggung ketika seorang teman dari Eropa membelai kepalanya, ternyata bagi orang Eropa membelai kepala merupakan ungkapan keakraban. Kadang kala orang mendengarkan dengan maksud sadar maupun tidak sadar untuk memberikan penilaian dan menghakimi si pembicara, ia menjadi defensif, bersikap menutup diri dan sangat berhati-hati dalam berbicara.

Saat berkomunikasi dengan orang lain, kadang kala orang gagal menangkap maksud dibalik ucapan pengirim pesan kendati orang tersebut sepenuhnya tahu arti maksud atau kata-kata yang disampaikan oleh pembicara. Kesalahfahaman atau distorsi dalam komunikasi sering terjadi karena tidak saling mempercayai (Supratiknya, 1995: 34). Sikap tidak saling mempercayai akan sangat menghambat suatu relasi. Komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik. Untuk memperbaiki komunikasi tersebut orang harus berani percaya pada orang lain.

b. Macam-macam Hambatan Komunikasi

Komunikasi yang efektif menjadi cita-cita semua orang, di mana pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya. Namun, komunikasi yang ideal tidak selalu terjadi karena adanya halangan atau hambatan yang menghadang saat proses komunikasi. Halangan itu dapat bersifat interpersonal maupun stuktural.

1). Halangan interpersonal

Halangan interpersonal adalah halangan yang ada pada pribadi penerima pesan, seperti persepsi, status orang-orang yang berkomunikasi, sikap defensif, perasaan negatif, asumsi, bahasa, tidak mampu mendengarkan, dan lingkungan.

a). Persepsi

proses yang kompleks yang dilakukan orang untuk memilih, mengatur, dan memberi makna pada kenyataan yang dijumpai di sekelilingnya. Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan. Ada dua persepsi yang mengahalangi komunikasi, yaitu: persepsi selektif (selective perception), dan bertindak berdasarkan stereotipe (stereotype). Persepsi selektif merupakan kecenderungan orang untuk melihat orang, obyek, dan situasi bukan bagaimana adanya, tetapi bagaimana dikehendakinya. Berbuat menurut stereotipe membuat orang cendrung untuk melihat dan mengatur kenyataan menurut pola yang tetap, pasti dan dapat diramalkan, misalnya: ”perempuan suka begini atau begitu,” ”orang bule pasti...” (Hardjana, 2003: 40).

b). Status orang-orang yang berkomunikasi

Status seseorang berkaitan dengan kedudukannya di tempat kerja dan sifat-sifat pribadinya, terutama kredibilitasnya. Status seseorang mempengaruhi proses komunikasi dan dapat menjadi penghalang. Seorang yang berstatus lebih tinggi akan lebih mudah mendekati orang yang berstatus lebih rendah daripada orang yang berstatus lebih rendah mendekati orang yang berstatus lebih tinggi. Pesan yang sama dapat diterima lebih mudah jika disampaikan oleh orang yang berstatus lebih tinggi daripada oleh orang yang berstatus lebih rendah (Hardjana, 2003: 41).

c). Sikap defensif

Sikap defensif adalah sikap mental orang untuk menjaga dan melindungi diri terhadap bahaya, entah itu nyata atau hanya bayangan saja. Sikap defensif pada pengirim pesan lisan membuat raut wajah, gerak tubuh, dan cara berbicara yang membuat penerima ikut-ikutan menjadi bersikap defensip pula. Akibatnya, pesan yang diterima tidak tepat dan maksud pengirim tidak dimengerti secara benar. Jika bersikap defensip, perhatian penerima pasan yang mendengar pesan menjadi terpusat pada apa

yang mau dikatakan untuk menjawab dan bukan pada apa yang disampaikan oleh pengirim (Hardjana, 2003: 41). Dengan sikap defensif yang ada pada pengirim pesan, secara tidak langsung pengirim tidak mampu menyampaikan isi pesan yang sebenarnya.

d). Perasaan negatif

Perasaan negatif bisa berupa berbagai rasa tidak nyaman, seperti: takut,tertekan, terpaksa, enggan, agresif, menolak, dan malu. Perasaan negatif sangat mempengaruhi daya tangkap penerima dalam menerima pesan yang disampaikan. Oleh perasaan-perasan negatif itu pengirim atau penerima pesan menjadi terlalu sibuk dengan diri sendiri dan hal-hal di luar hal yang harus didengarkan. Pengirim tidak dapat mengemas dan mengirim pesannya dengan baik, dan penerima pesan tidak siap menerima pesan yang disampaikan kepadanya (Hardjana, 2003: 41).

e). Asumsi

Asumsi adalah pengandaian yang dibuat oleh penerima pesan yang diterimanya. Asumsi ini diambil oleh penerima jika pesan dirasakan terlalu sulit diterima karena memuat data dan fakta yang terlalu banyak atau terlalu berkepanjangan (Hardjana, 2003: 42). Supaya asumsi sesorang sesuai dengan yang dimaksud oleh pengirim pesan, orang yang menerima pesan tersebut harus memiliki dasar pengetahuan atau tahu benar apa yang menjadi topik dan maksud oleh pengirim pesan atau berita, sebab kalau tidak, orang tersebut akan memiliki asumsi sesuai dengan kemampuan daya tangkapnya atau sesuai dengan kemampuanya, dan pesan yang disampaikan tidak bisa diterima sesuai dengan maksud si pengirim pesan dengan baik.

f). Bahasa

Bahasa, baik verbal maupun nonverbal, merupakan wahana untuk menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima. Bahasa menjadi penghalang komunikasi antara lain karena; kata yang sama diartikan secara berbeda, kata dan kalimat kabur, kata terlalu khas dan merupakan jargon atau istilah bidang khusus atau umum dipakai, dan kalimat terlalu bertele-tele (Hardjana, 2003: 42).

g). Tidak mampu mendengarkan

Tidak mampu mendengarkan merupakan halangan komunikasi yang seriuskarena kebiasaan mendengarkan yang jelek, misalnya, hanya mendengarkan secara dangkal, tidak mendengarkan sungguh-sungguh, tidak berusaha memahami kerangka berpikir pengirim pesan (Hardjana, 2003: 42). Hal ini menyebabkan orang tidak mampu menangkap pesan yang disampaikan oleh pengirim.

h). Lingkungan

Lingkungan tempat untuk menyampaikan pesan dan menerima pesan yang tidak mendukung juga sangat mempengaruhi sampai tidaknya suatu pesan yang akan disampaikan oleh seseorang, misalnya, tempatnya terlalu bising, terlalu banyak gangguan, dan tidak nyaman (Hardjana, 2003: 43). Kebisingan bisa disebabkan oleh lalu-lalang kendaran, pabrik, dan keramaian di sekitar tepat penyampaian pesan yang mengakibatkan penerima pesan tidak bisa menangkap maksud pesan yang disampaikan. Hal seperti ini bisa menyebabkan komunikasi tidak tersampaikan dengan baik.

2). Halangan Stuktural

Halangan stuktural merupakan halangan akibat struktur lembaga. Halangan itu berupa halangan tingkat hierarkis, otoritas manajerial, dan spesialisasi kerja.

a). Tingkat hierarkis

Berdasarkan fungsinya, ada tiga tingkat hierarkis dalam lembaga, yaitu tingkat atas, menengah, dan bawah. Pesan yang disampaikan dari tingkat atas ke bawah, yang melewati beberapa tingkat, mengalami beberapa kali penyaringan. Karena setiap penerima pada setiap tingkat menyaring pesan menurut persepsi, motif, kepentingan dan kebutuhan masing-masing. Penerima pada setiap tingkat dapat menambah, mengurangi, menyesuaikan, atau mengubah sama sekali maksud pesan yang diterimanya. Pesan dari atas pada umumnya bersifat lebih luas. Setiap tingkat hierarkis berusaha menyesuaikan pesan itu dengan lingkup dan pokok kerjanya (Hardjana, 2003: 42).

b). Otoritas manajerial

Otoritas atau wewenang adalah hak yang ada pada seseorang karena jabatannya atau tugasnya untuk memerintah orang lain agar berbuat atau bertindak sesuatu guna mencapai tujuan lembaga (Hardjana, 2003: 41). Otoritas dapat menjadi penghalang komunikasi karena dari pihak atasan kebanyakan sulit untuk menerima keadaan, masalah yang mereka rasa dapat membuat mereka tampak lemah atau tidak cakap.

Dari pihak bawahan ada kecendrungan untuk menghindari situasi yang Dari pihak bawahan ada kecendrungan untuk menghindari situasi yang menuntut mereka untuk mengungkapkan informasi yang mereka tahu, informasi yang mereka rasa membuat mereka tampak tidak baik di mata atasan. Sikap saling terus terang, terbuka dan tansparan tidak ada antara bawahan dan atasan. Informasi dari atas ke bawah cenderung menjadi semakin lemah dan baik-baik saja. Kedua akibat itu sama-sama membuat komunikasi menyampaikan pesan yang bukan sebenarnya sehingga pesan yang diterima tidak benar juga adanya. Hasilnya adalah komunikasi yang benar-benar tidak berjalan dan terhalang.

c). Spesialisasi kerja

Spesialisasi kerja diperlukan agar kerja dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Dalam bidang kerja khusus itu para spesialis yang memegang pekerjaan khusus memiliki kepentingan sendiri dan mempunyai istilah-istilah sendiri. Keadaan itu membuat jurang antar spesialis dan antara spesialis dengan petugas nonspesialis. Sulit menciptakan kesamaan rasa dan pengertian antar para petugas dalam lembaga (Hardjana, 2003: 41).

3). Halangan-halangan lain dalam Komunikasi a). Melamun

Bila melamun atau tidak fokus pada apa yang sedang dikerjakan atau saat mendengarkan pembicaraan, pendengar atau penerima pesan tidak banyak informasi yang akan didapat. Untuk bisa menerima pesan dengan benar, dibutuhkan sikap batin yang terbuka, sungguh-sungguh mendengarkan, membuka telinga dan mata hati untuk menerima informasi yang disampaikan (Kuntaraf & Kuntaraf, 2003: 67).

b). Penggemar Fakta

Banyak orang mendengarkan hanya untuk mencari fakta, namun tidak mengerti akan arti dan maksud dari fakta tersebut (Kuntaraf & Kuntaraf, 2003: 67). Orang penggemar fakta seperti ini sebenarnya tidak tahu kebenaran atau fakta dari yang ada. Pada umumnya mereka hanya ingin tahu sejauh mana orang yang menyampaikan pesan tersebut menguasai materi atau bahan yang disampaikan, dan seolah-olah dia tahu apa yang disampaikan. Kenyataannya orang tersebut tidak mengetahui apapun dari apa yang disampaikan oleh pengirim pesan.

c). Loyo

Sceorang yang loyo, dapat terlihat dari cara duduknya di atas kursi, seakan-akan tidak memiliki tenaga atau dalam keadaan kurang tidur, seperti tidak tertarik dengan topik yang sedang disampaikan, sehingga tidak bisa mendengarkan dengan baik. Seorang pendengar yang baik, bila ia mempunyai sikap yang waspada, apabila ia duduk atau berdiri, dengan mata terpusat pada pembicaraan. Suatu sikap yang tegak menunjukkan perhatian yang penuh dengan keadaan yang cukup sadar, tertarik untuk mendengarkan dengan sungguh juga suatu sikap hormat atau menghargai pengirim pesan (Kuntaraf & Kuntaraf, 2003: 67).

d). Emosi

Emosi menyoroti kebiasaan jelek lainnya dari pendengar, seperti menjadi terlalu gelisah tentang hal-hal yang didengarnya. Tingkah laku marah atau cepat marah sama sekali tidak membantu komunikasi, bahkan menghalangi komunikasi. Bertengkar dan berdebat tidak mencapai komunikasi yang baik, justru hanya akan membuang-buang tenaga dan memutuskan hubungan dengan orang lain. Sebab dalam komunikasi diperoleh sikap yang tenang (Kuntaraf & Kuntaraf, 2003: 69). Dalam komunikasi dibutuhkan juga sikap mau terbuka dan mau mendengarkan, bukan hanya sekedar mendengar apalagi menunjukkan emosi. Dengan.mau mendengarkan orang akan tahu maksud pesan yang disampaikan oleh pengirim, sebab yang mendengarkan bukan hanya panca indra saja tapi hati juga yang mendengarkan bukan hanya panca indra saja tapi hati juga.

e). Pura-pura

Sikap pura-pura ini adalah satu penghalang komunikasi yang lain, sikap seperti pura-pura memperhatikan atau pura-pura mengerti yang dimaksudkan. Dengan

tersenyum, mengangguk-angguk kepala, dan terus memandang kepada orang yang berbicara, tetapi pikirannya berputar-putar dan mungkin sedang membuat rencana pribadi. Berpura-pura memberikan perhatian hanya membuang-buang waktu saja dalam komunikasi, sebab itu, hal tersebut harus dihindarkan (Kuntaraf & Kuntaraf, 2003: 67). Dengan bersikap pura-pura seperti di atas, tidak hanya membohongi orang lain tapi juga membohongi diri sendiri, sebab dengan sikap tersebut tidak akan mendapat informasi yang sebenarnya dan membuang waktu dengan percuma.

Dokumen terkait