• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SITUASI KOMUNIKASI SUAMI-ISTRI DALAM KELUARGA

B. Keluarga Katolik

2. Pengertian Keluarga menurut Gereja Katolik

a. Pengertian Keluarga Menurut Kitab Suci

Pemahaman keluarga menurut Kitab suci sebagai dasar pedoman keluarga Katolik dalam menghayati hidup perkawinannya sebagai keluarga . kristiani. Keluarga adalah suatu komunitas cinta kasih, hidup dan keselamatan (Eminyan, 2001: 20).

1). Kej 2:24

Menjadi suami-istri merupakan suatu panggilan, keputusan pribadi untuk menuju suatu perubahan total dalam kehidupan pribadi seseorang. Seorang yang memutuskan untuk menikah dan berkeluarga dia harus berani meninggalkan semua kebebasan pribadinya dan mengikat diri dalam suatu ikatan perkawianan dengan pasangan hidup yang telah dipilihnya. ”Seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang dipanggil untuk saling tertarik, saling membutuhkan, bahkan hidup bersama (Martasudjita, 2003: 353).

2). Mat 5:27-32

suami-istri (Halsema, 1979: 36). Sabda Yesus menyelesaikan Taurat dan tidak membatalkannya, dengan wewenang Ilahinya Yesus memberi dimensi baru seperti yang terkutip dalam ayat 28, dimana diutarakan bahwa manusia tidak hanya berzinah dengan melanggar aturan-aturan dari hukum, melainkan justru dengan sikap batiniah dengan mana dia mendekati sesamanya. Dari Mat 5:27-32 bisa disimpulkan yang menentukan nilai dari suatu perbuatan adalah sikap manusia. Dalam hal ini Yesus mengatakan ”bahwa seorang sudah berzinah kalau dia memandangi seorang wanita dengan nafsu” (Kej 5:28). Maka di sini perbuatan lahiriah dipandang sebagai ekspresi dari hati manusia dan oleh sebab itu manusia selalu harus berusaha supaya hatinya memungkinkannya hidup secara seimbang, supaya tidak ada ketegangan antara sikap batiniah dan perbuatan lahiriah.

Zinah menurut Gereja Katolik, dalam Mat 5:27-32 adalah sebagai perbuatan zinah dan mengenai perceraian yang tidak menghentikan ikatan, bila satu pihak tidak setia, maka pihak lain yang tidak bersalah bisa bercerai (hidup berpisah), tetapi kedua-duanya tidak boleh menikah lagi, oleh karena pertalian suami-istri terus berlangsung (Halsema, 1979: 37).

3). Mrk 10:8

Dari Mrk 10, dapat disimpulkan pandangan Yesus mengenai hakikat keluarga sebagai berikut: keluarga adalah kesatuan erat antara seorang pria dan seorang wanita, yang dipersatukan oleh Allah sendiri, sedemikian erat sehingga keduanya bukan lagi dua melainkan satu (Halsema, 1979: 36). ”Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu” (Mrk 10:8), melalui pernyataan tersebut, tentunya kita langsung dapat memahami apa makna kesatuan tersebut. Kesatuan di sini merupakan suatu hubungan yang tidak dapat diceraikan, Mrk 10:2-12 menyatakan dengan jelas penolakan Yesus terhadap perceraian. Dengan perkataan lain, Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu

menurut kehendak Allah harus berciri “tak-terceraikan”. Karena itu, orang yang menceraikan suami atau istrinya lalu menikah lagi dengan orang lain pantas dianggap “berbuat zinah”. Ajaran Allah ini tidak hanya diperuntukkan pada para suami, melainkan juga pada para istri. Kesatuan yang diwujudkan dalam ikatan suami-istri, janganlah terhenti begitu saja, melainkan kesatuan itu pula diwujudkan satu ikatan keluarga kristiani. Keluarga merupakan suatu ikatan persekutuan suci yang diberkati oleh Allah. Kesatuan tersebut bukan saja semata-mata ditunjukkan kepada suami dan istri, melainkan kesatuan penting pula diwujudkan dalam suatu ikatan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak.

4). 1 Kor 7

Surat Paulus yang ditujukan pada umat di Korintus menegaskan bahwa perkawinan adalah tunggal yang tidak terceraikan (Halsema, 1979: 40), menjadi ciri perkawinan kristen. Maka dari itu cinta kasih suami-istri yang telah disatukan Allah dalam Sakramen Perkawinan tidak boleh diceraikan oleh manusia. Hubungan suami-istri layaknya seperti hubungan Kristus dengan Gereja. Perjanjian nikah antara laki-laki dan seorang perempuan yang sudah dibaptis menjadi lambang perjanjian persatuan antara Kristus dengan jemaat-Nya (Tim Pendamping Keluarga Brayat Minulyo, 2006: 87).

5). Ef 5:22-33

Paulus menulis surat kepada umat di Efesus supaya umat menjadikan kasih Kristus sebagai dasar hidup suami-istri. Dalam hal ini Halsema (1979: 43) mengatakan ”Hubungan suami-istri menjadi pantulan kesatuan surgawi antara Kristus dengan Gereja-Nya”. Tuhan telah mengangkat cinta kasih-Nya menjadi teladan dan ukuran cinta kasih manusia. Cinta kasih Kristus kepada Gerejanya suatu cinta yang utuh,

sempurna sebab Ia telah menyerahkan dirinya pada kematian di salib untuk keselamatan manusia.

Demikian juga cinta kasih suami-istri haruslah suatu penyerahan, pemberian diri satu sama lain seperti pemberian diri Kristus untuk Gereja-Nya. Seperti persatuan Kristus dengan Gereja-Nya, persatuan itulah yang menjadi contah sempurna cinta kasih suami-istri dalam perkawinan.

6). Flp 2:1-8

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi 2:1-11 menguraikan ciri-ciri hidup keluarga Kristen. Suami-istri kristen hendaknya memiliki penghiburan dalam Kristus, terdorong oleh kasih, berbagi roh, berbelas kasih dan kemurahan hati. Bila satu dengan yang lain memiliki kasih, mereka akan memperlalukan satu sama lain tidak dengan cinta diri dan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati, melihat yang lain lebih baik daripada dirinya sendiri. Teladan tertinggi dari cara hidup demikian adalah hidup Kristus sendiri. Sebagai keluarga kristiani suami-istri di panggil untuk meneladani dan menyesuaikan diri dengan teladan hidup Kristus itu sendiri. Seorang kristiani memperlakukan pasangannya sebagai saudara, menghargainya dan menghormatinya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Sebagai suami-istri kristiani yang sehati dan sepikiran, mengutamakan komunikasi dalam kasih, kesamaan dan pendapat sehingga saling menaruh hormat dan menghargai dalam menghadapi masalah rumah tangga, tidak saling marah, bersabar, tidak sewenang-wenang, sama-sama bertindak adil, tidak cemburu dan sama-sama-sama-sama mencari kebenaran sehingga perbedaan yang ada tidak merenggangkan melainkan memperkuat rasa saling membutuhkan satu sama lain. Melalui teladang dari suami-istri Katolik, keluarga-keluarga yang lain diharapkan mampu meneladang keluarga-keluarga Katolik. Dengan demikian

keluarga yang lain menjadi keluarga yan harmonis dan menghayati nilai-nilai keutaman kristiani (Bergant & Karris, 2002: 355-356).

Komunikasi suami-istri Kristiani ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, tulus, jujur dan saling percaya di antara kedua belah pihak. Keterbukaan dalam Flp 2:1-8 antara suami-istri memampukan keduanya menaruh pikiran dan perasaan yang sama seperti yang terdapat dalam Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa manusia (Wignyasumarta, 2000: 74),

b. Pengertian Keluarga Menurut Gaudium et Spes

Keluarga adalah persekutuan antar pribadi yang saling memberi, saling mencintai, saling melengkapi, dan berpengharapan dalam kasih yang tak terbatas (GS, art. 48). Gereja mengajarkan bahwa keluarga adalah persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami-istri, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumNya, dibangun oleh perjanjian perkawinan yang tak dapat ditarik kembali (GS, art. 48). Jadi keluarga merupakan suatu ikatan suci yang dapat memberikan kesejahteraan kepada suami istri dan anak. Hal ini bukan saja semata-mata merupakan kehendak manusiawi, melainkan juga merupakan kehendak Allah. Cinta kasih itu secara istimewa diungkapkan dan disempurnakan dengan tindakan yang khas bagi perkawinan. Maka dari itu, tindakan-tindakan, yang secara mesra dan murni menyatukan suami istri, harus dipandang luhur dan terhormat. Bila dijalankan secara sungguh manusiawi, tindakan-tindakan itu dapat memupuk sikap penyerahan diri serta memperkaya satu sama lain dengan hati gembira dan rasa syukur (GS, art. 49).

Pada hakikatnya, perkawinan dan cinta kasih suami istri tertujukan kepada anak-anak serta pendidikannya. Anak-anak-anak merupakan karunia perkawinan yang paling

luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri (GS, art. 50). Hendaknya keluarga kristiani, dalam cara mereka bertindak, menyadari bahwa mereka tidak dapat mengambil langkah-langkah semaunya saja, tetapi harus dituntun oleh suara hati yang harus disesuaikan dengan hukum Allah sendiri (GS, art. 50). Begitulah keluarga kristiani meluhurkan Sang Pencipta dengan semangat berkorban atas tanggung jawab dalam menunaikan tugas mereka sebagai keluarga kristiani.

Kepedulian terhadap anak-anak berlangsung sebelum anak dilahirkan sampai anak menjadi dewasa. Suami-istri perlu kerja sama yang tekun dalam mendampingi dan mendidik perkembangan iman anak sehingga bila nanti dewasa mereka mampu bertanggung jawab mengikuti panggilan hidup mereka, baik itu sebagai religius maupun dalam hidup berkeluarga dengan mengikat diri dalam perkawinan (GS, art. 52). Dengan memperhatikan perkembangan anak, suami-istri sebenarnya belajar untuk menjadi orang tua yang baik dan berjanggung jawab terhadap anaknya. Sebab hal ini akan membantu pertumbuhan anak dan perkembangan baik secara

fisik, psikologi maupun kehidupan rohaninya.

Pengembangan keluarga merupakan tugas semua orang. Keluarga merupakan suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan. Keluarga mampu mencapai kepenuhan hidup dan misinya, diperlukan komunikasi hati penuh kebaikan, kesepakatan suami istri, dan kerja sama orang tua yang tekun dalam pendidikan anak-anak (GS, art. 52). Kehadiran aktif seorang ayah sangat membantu pembinaan anak-anak, tetapi juga urusan rumah tangga merupakan tugas ibu, terutama dibutuhkan oleh anak-anak yang masih kecil.

Pendidikan tersebut bertujuan agar anak-anak dapat membentuk sikap tanggung jawab mereka dalam menjawab panggilan hidup mereka serta mereka juga dapat membangun keluarga sendiri dengan penuh tanggung jawab. Tetapi perlu untuk diperhatikan bagi para pendidik untuk ikut serta menjaga, jangan sampai mendorong

mereka melalui paksaan secara langsung ataupun tidak langsung untuk megikat pernikahan mereka atau memilih orang tertentu untuk menjadi jodoh mereka. Mempengaruhi kelangsungan hidup keluarga, dan akan menjadi penghambat dalam mewujudkan keharmonisan keluarga kristiani (GS, art. 52).

c. Pengertian Keluarga Menurut Familiaris Consortio

Pernikahan dan keluarga dibentuk oleh suatu relasiyang bersifat kompleks antar pribadi-pribadi, artinya hidup sebagai suami-istri, kebapaan dan keibuan, hubungan dengan anak dan mengutamakan persaudaraan. Melalui relasi-relasi itu setiap anggota diintegrasikan ke dalam “keluarga manusia” dan “keluarga Allah”, yakni Gereja (FC, art. 15). Pada dasarnya cinta kasih merupakan kekuatan keluarga yang utama, karena tanpa “cinta kasih” keluarga tidak akan mengalami atau merasakan suatu kesatuan dan keharmonisan dalam hidup dan tidak berkembang serta tidak dapat menyempurnakan diri sebagai persekutuan-persekutuan pribadi (FC, art. 15).

Oleh karena itu tugas tugas suami-istri pertama dan utama dari keluarga adalah membentuk komunitas pribadi-pribadi (FC, art. 18-27). Dengan dasar cinta yang begitu mendalam di antara mereka, maka setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab untuk membangun keluarga sebagai komunitas pribadi-pribadi (FC, art. 18). Tanggung jawab itu dibangun atas kesadaran bahwa membutuhkan orang lain agar bisa hidup sebagai suami-istri yang berdasarkan kasih. Setiap anggota saling membutuhkan untuk hidup, bertumbuh dan berkembang sebagai pribadi manusia yang berbudi luhur.

Keluarga yang dibangun atas dasar persekutuan ialah yang dijalin dan berkembang antara suami-istri berdasarkan perjanjian pernikahan pria dan wanita. Mereka dipanggil untuk tetap bertumbuh dalam persekutuan mereka melalui kesetian dari hari kehari terhadap janji pernikahan mereka untuk saling menyerahkan diri seutuhnya (FC, art. 19). Persekutuan suami-istri berakar dalam sifat saling melengkapi

secara alamiah, yang terdapat antara pria dan wanita, dan makin dikukuhkan oleh kerelaan pribadi suami-istri untuk bersama-sama melaksanakan seluruh rencana hidup mereka, saling berbagi apa yang mereka miliki dan seluruh rencana hidup mereka. Karunia Roh Kudus menjadi perintah seumur hidup bagi suami-istri, sekaligus juga menjadi daya-kekuatan yang mendorong, sehingga setiap hari mereka maju menuju persatuan yang makin kaya antar mereka disegala taraf, tubuh, watak-perangai, hati, budi dan kehendak serta jiwa (FC, art. 19).

Cinta kasih yang sejati antara suami-istri mengandaikan serta meminta adanya sikap hormat yang mendalam dari pihak suami terhadap kesamaan martabat istrinya. Suami tanggap terhadap kepekaan hati istri, berterima kasih terhadap dia atas cinta kasihnya. Suami-istri menghayati persahabatan yang pribadi, mengembangkan cintakasih yang lembut terhadap istrinya (FC, art. 25). Melalui kehidupan kristiani yang dewasa seorang suami memperkenalkan anak-anak kepada iman kristiani dam Gereja. Seorang istri dalam keluarga dipanggil untuk menghormati, mendampingi suaminya, rela memakai semua bakat dan kemampuannya demi kebaikan suami dan anak-anaknya dalam kerjasama dengan suami. Seorang istri dipanggil untuk memelihara, menjaga dan membesarkan anak-anak sebagai seorang pribadi manusia sejak dalam kandungannya sampai mereka bisa mandiri, melayaninya suaminya secara total dan personal. Begitu pun seorang seorang anak dipanggil untuk menghargai dan menghormati orang tuanya.

Gereja mengakui bahwa keluarga adalah sel terkecil dalam masyarakat, karena di dalam lingkungan masyarakat seluruh jaringan hubungan sosial dibangun dan dibentuk. Melalui kehadiran dan peran anggota-anggotanya, keluarga menjadi tempat asal dan upaya efektif untuk membangun masyarakat yang manusiawi dan rukun (FC, art. 43). Keluarga kristiani dapat menyumbangkan keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai Katolik yang dimiliki dan dihayatinya dalam kehidupan bermasyarakat lewat kesaksian hidup

berkeluarga, hidup bermasyarakat. Keluarga Katolik ikut terlibat dalam kegiatan masyarakat, sehingga kehadiran keluarga Katolik membawa konstribusi dalam perkembangan masyarakat sekitarnya.

Dokumen terkait